Upaya Atasi Masalah Kesehatan Psikososial di Masa Pandemi COVID-19

0

Oleh: Ns. Alfian Konadi, S.Kep.

Coronavirus Disease 2019 atau yang akrab dikenal dengan sebutan COVID-19 merupakan sebuah penyakit yang diakibatkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). COVID-19 merupakan salah satu penyakit salurah pernapasan akut yang dapat menyebar dengan cepat. 11 Maret 2020 merupakan tanggal penting dalam sejarah dunia kesehatan, dimana pada tanggal tersebut World Health Organization (WHO) menetapkan COVID-19 sebagai pandemi berskala global. Berbagai kebijakan juga menyusul dalam upaya mengendalikan penyebaran COVID-19, diantaranya pemberlakukan Work From Home (WFH), Social Distancing, dan Physical Distancing. Dimana tujuan dari semua kebijakan tersebut yaitu untuk melindungi masyarakat yang berisiko tinggi terhadap paparan COVID-19.

Dengan adanya kebijakan tersebut tentunya merubah tatanan kehidupan masyarakat, terlebih lagi banyak masyarakat yang secara nyata tidak siap menghadapi kondisi ini. Ketidaksiapan masyarakat dirasakan baik secara fisik maupun secara psikologis bagi masyarakat (Safira, A.M & Candrasari, 2021). Adanya temuan bahwa pandemi COVID-19 tidak hanya memberikan dampak negatif pada fisik, melainkan juga pada psikologis individu dan masyarakat. Dampak psikologis yang umum muncul yaitu gangguan stress pasca trauma, kebinggungan, kegelisahan, frustasi, ketakutan, insomnia, tidak berdaya, kecemasan, hingga stress. Bahkan beberapa catatan medis terkait kesehatan mental dimasa pandemi COVID-19 hampir semua jenis gangguan mental ringan hingga berat dapat ditemukan diberbagai kasus (Brooks, dkk. 2020)

Setiap gangguan kesehatan mental pasti diawali dengan perasaan cemas, hal ini karena kecemasan merupakan sebuah respon terhadap suatu situasi yang mengancam atau adanya stimulus yang berbahaya (stressor), dan hal ini merupakan kondisi yang normal pada setiap individu, tetapi pada kondisi tertentu bisa mencapai tingkatan waspada (aware) dengan tujuan sebagai upaya pertahanan diri (self defence). Berbagai stressor yang dapat menyebabkan masyarakat menjadi stress yaitu stress akibat terganggunya aktivitas kelompok, stress karena beban keluarga dari keinginan dan pengendalian, serta stress karena terhambatnya hubungan sosial seperti diharuskannya bekerja dari rumah (Work From Home) (Tabroni, I., 2021).

Gejala stress, dan kecemasan ini bisa dirasakan oleh semua kalangan, tetapi tingkatan, respon, dan bentuk stes dan kecemasannya yang berbeda-beda. Sebagai contoh kecemasan yang dirasakan mahasiswa, dimana kecemasan yang mereka rasakan karena beban studi dengan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ), ujian ditengah pandemi, serta tingginya tuntukan pembelajaran yang harus dicapai (Tabroni, I., 2021). Kecemasan yang dirasakan oleh masyarakat dimasa pandemi karena masyarakat tidak mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya dengan dirinya dan keluarga, dengan kata lain pandemi COVID-19 menjadi stessor atau penyebab munculnya stress dan cemas yang mempengaruhi kesehatan mental dan psikologis masyarakat itu sendiri.

Solusi Atasi Masalah Psikososial Dimasa Pandemi COVID-19

Sehubungan dengan pandemi COVID-19 maka masalah psikososial perlu dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan kepanikan yang berlebihan dan kesehatan mental tetap dalam keadaan baik. Terdapat beberapa solusi yang dapat diterapkan dalam mengatasi atau mengurangi gejala kecemasan dan stress dimasa pandemi, yaitu:

  1. Meningkatkan Fungsi Keluarga

Keberfungsian keluarga mengarah pada bagaimana komunikasi dan interaksi antar anggota keluarga, mempertahankan hubungan, mengambil keputusan serta menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi dengan anggota keluarga (Herawati, dkk., 2020). Pengoptimalan fungsi keluarga akan memberikan sumbangsihnya dalam pembentukan ketahanan keluarga untuk menjadikan setiap anggota keluarga memiliki mental yang sehat dan kuat, sehingga mampu beradaptasi pada segala kondisi yang dihadapi keluarga baik dinternal maupun dieksternal keluarga (Replita, R., 2018).

Salah satu kontribusi keluarga dalam meminimalisir gejala kecemasan yaitu dukungan sosial keluarga terutama dari orang tua. Hal ini berfungsi dalam proses adaptasi perubahan yang dialami, keberadaan orang tua dalam rumah merupakan kunci kesuksesan dalam keluarga. Dukungan sosial ini memiliki hubungan dengan fungsi afektif dan kognitif. Hal ini terlihat dari kepuasan masing-masing anggota keluarga dalam berinteraksi. Sehingga dengan kepuasan yang dirasakan akan memenuhi kebutuhan psikososial setiap anggota keluarga (Safira, A.M & Candrasari, 2021).

Penerapan fungsi keluarga yang optimal akan mampu menurunkan tingkat kecemasan hingga mampunya anggota keluarga mengontrol kecemasan yang timbul. Dalam kesehatan mental terdapat mekanisme coping yang merupakan kebutuhan dasar, sehingga dengan optimalnya fungsi keluarga maka mekanisme koping keluarga menjadi adaptif atau sehat serta mampu melakukan adaptasi terhadap tuntutan diri dan lingkungan dimasa pandemi COVID-19.

  1. Kelola Kecemasan dengan Selektif Mencari Informasi

Pemberitaan yang sering muncul diberbagai media memiliki peran ganda, ada yang berperan sebagai edukator dan ada yang berperan sebagai stressor. Tidak jarang masyarakat menjadi semakin takut karena informasi yang diterima terkait angka kejadian COVID-19 yang terus meningkat, sehingga hal tersebut mempengaruhi respons kecemasan seseorang. Beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu kurangi menonton, membaca atau mendengarkan pemberitaan terkait COVID-19 jika hal tersebut membuat kita cemas, maka carilah informasi dari sumber terpercaya dan baik sehingga informasi yang kita terima bisa menjadi edukator bagi kita. Usahakan mencari berita hanya 1 -2 kali dalam sehari, tujuannya agar tidak terjadi misinformasi atau kesalahan informasi terkait COVID-19.

Penguatan psikologis dengan menggunakan media sosial merupakan bagian dari edukatif untuk mencegah kecemasan pada masyarakat. Untuk menangkis informasi negatif yang diterima masyarakat melalui media sosial, maka diperlukan pula adanya informasi edukasi yang diberikan. Edukasi haruslah bersifat rutin agar masyarakat terus menerus menerima informasi positif yang dapat meningkatkan pertahanan diri masyarakat itu sendiri dan meminimaliris kecemasan pada masyarakat. Selain itu edukasi psikologis sangat berperan dalam melatih kemampuan adaptasi masyarakat untuk menghindari kemungkinan kecemasan maupun gangguan stress (Murni, A.W., 2020).

  1. Kelola Stress dengan Menyalurkan Hobi

Setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengatasi stress yang dihadapi stress, diantaranya ada yang menyalurkan hobi seperti membaca buku, berkebun, mendengarkan musik dan lain sebagainya. Cara tersebut dinilai efektif dalam mematangkan koping kita dalam mengatasi stress. Strategi yang baik dan bernilai positif dalam kelola stress yaitu seperti berolahraga rutin sesuai kemampuan dan hobi, memiliki alokasi waktu untuk beristirahat serta perawatan diri sesuai kemampuan, menyeimbangkan antara pekerjaan dengan bersantai atau bermain, membuat manajemen waktu yang optimal, serta melakukan meditasi optimal seperti berdzikir, yoga, dan meditasi lainnya sesuai keyakinan dan spiritualitas masing-masing (Muslim, M. 2020).

  1. Membangun Spiritual Positif

Adanya COVID-19 akan menimbulkan perasaan takut, cemas, khawatir, dan merasakan adanya ancaman terhadap diri dan keluarga. Perasaan tersebut akan memberikan rangsangan emosi dan pikiran negatif pada diri kita sehingga meningkatkan produksi hormone kortisol yang berakibat pada penurunan imunitas tubuh. Salah satu cara yang dapat meningkatkan ketahanan kesehatan fisik khususnya kesehatan mental yaitu dengan membangun spiritual yang positif, adapun cara-caranya sebagai berikut:

  1. Kegiatan ibadah dilakukan sacara berjamaah bersama keluarga dirumah, sedangkan saat berada diluar rumah jika memungkinkan ibadah dilakukan berjamaah bersama rekan kerja dikantor, atau jika ada tempat ibadah yang buka maka lakukan dirumah ibadah dengan tetap mengikuti arahan protokol kesehatan.
  1. Rutinkan berdo’a dan berdzikir. Berdo’alah sesuai keyakinan untuk kesehatan kita, kondisi yang dialami, serta do’akan juga masyarakat pada umumnya. Mulai dari tenaga kesehatan, hingga pemerintah yang berkontribusi dalam penanganan COVID-19. Sebagaimana umat muslim ketahui bahwa do’a merupakan senjata kita, apalagi do’a yang dilakukan pada waktu tertentu dan dalam keadaan suci serta ikhlas dipanjatkan dengan mengharap ridho Allah SWT.
  1. Jadwalkan dan konsistenlah membaca Al Qur’an. Fenomena yang ada yaitu kebanyakan dari kita lebih sering membuka media sosial dan berinteraksi dengan sesama manusia, tetapi kita sering lupa berinteraksi dengan Allah SWT. Kita punya keyakinan bahwa setiap kita ingat dan dekat dengan Allah SWT maka Allah SWT jauh lebih ingat dan dekat dengan kita, setiap kita meminta kepada Allah SWT Allah pasti akan memberikan caranya dari jalan yang kita tidak duga. Maka ditengah pandemi ini mari libatkan Allah SWT dengan rutin membaca Al Qur’an agar Allah tenangkan hati kita dan berikan petunjungNya kepada kita untuk keluar dari ujian ini.
  1. Selalu Berpikir Positif

Melatih diri untuk selalu berpikir positif berkontribusi dalam meningkatkan endorfin dalam tubuh yang berguna untuk meningkatkan imunitas. Beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu dengan membayangkan kenangan terbaik dan menyenangkan yang pernah dialami. Cara lainnya yaitu dengan memikirkan dan mencatat semua pengalaman yang menyenangkan, baik pengalaman diri, keluarga, kelompok dan masyarakat. Tahap selanjutnya yaitu melakukan afirmasi, yaitu mengucapkan kepada diri sendiri semua pikiran positif, seperti kata “saya pasti bisa, saya sehat, dan saya cinta Allah SWT”. Dengan rutinnya melakukan latihan berpikir positif maka pikiran kita akan dipenuhi dengan pengalaman yang menyenangkan.

  1. Lakukan Relaksasi Rutin : Latihan Tarik Napas Dalam

Pandemi COVID-19 menimbulkan perasaan yang tidak menentu seperi ketakutan, kecemasan, stress, hingga depresi. Perasaan tersebut muncul ditandai dengan jantung berdebar, denyut nadi yang cepat, keringat dingin, pusing, mengalami kesulitan bernapas spontan, gemetaran, sering buang air kecil, wajah terlihat tegang, sulit tidur, sulit berkonsentrasi, hingga tidak mampu melakukan aktivitas apapun. Hal tersebut terjadi karena perasaan cemas yang kita alami memicu amigdala untuk menghasilkan kortisol yang dapat menurunkan imunitas tubuh kita. Akibat lanjutnya kita mudah terserah infeksi. Untuk menetralkan hormone kortisol tersebut perlu dilakukan tindakan relaksasi, salah satu yang dapat dilakukan dengan mudah yaitu relaksasi Tarik napas dalam, langkah-langkahnya yaitu:

  1. Posisikan diri senyaman mungkin, boleh dalam posisi duduk ataupun posisi berbaring.
  2. Tariklah napas melalui hidung. Selama menarik napas mata dapat ditutup jika itu membuat kita nyaman. Menutup mata juga efektif untuk mencegah pikiran lain untuk muncul dan mencegah adanya gangguan dari kondisi sekitar.
  3. Tahan napas selama 3-5 detik. Hitungan dapat dihitung dalam hati dengan hitungan yang teratur.
  4. Keluarkan udara melalui mulut dengan bentuk bibir mengkecurut. Keluarkan udara secara perlahan dengan cara dihembuskan.
  5. Lakukan tindakan Tarik napas dalam ini sebanyak 4 hingga 6 kali atau sampai kita merasa nyaman dan tenang.

Tarik napas dalam ini dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Ketika kita merasakan adanya perasaan tidak nyaman maka dapat langsung dinetralkan dengan relaksasi napas dalam. Tindakan Tarik napas dalam ini dapat dikombinasikan dengan spiritual positif, yaitu melakukan tarik napas dalam secara perlahan dan didalam hati kita berdzikir sampai pikiran kembali jernih, serta juga dapat dilakukan bersamaan dengan menghilangkan pikiran negatif dalam diri kita.


Brooks, dkk. (2020). The Psychological Impact Of Quarantine And How To Reduce It: Rapid Review Of The Evidence. Lancet, 395 (10227), 912–920. https://doi.org/10.1016/S0140- 6736(20)30460-8.

Herawati, dkk., 2020. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pelaksanaan Fungsi Keluarga di Indonesia. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, 13(3), pp. 213–227.

Murni, A. W. (2020). Penguatan Psikologis Pada Era Pandemi COVID-19 Melalui Edukasi Di Media SosiaL. LOGISTA-Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat, 4(2), 479-486.

Muslim, M. (2020). Manajemen stress pada masa pandemi COVID-19ESENSI: Jurnal Manajemen Bisnis, 23(2), 192-201.

Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Pada Pandemi Covid 19. (2020). Direktorat Jenderal Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Kesehatan RI.

Replita, R., 2018. Pengaruh Lingkungan Sosial dan Keadaan Ekonomi Keluarga terhadap Kesehatan Mental Remaja di Kelurahan Aek Tampang. Jurnal Kajian Gender dan Anak, 02(2), pp. 147–170.

Safira, A. M., & Candrasari, A. (2021). Pengaruh Fungsi Keluarga dan Pendapatan Keluarga terhadap Tingkat Kecemasan Remaja di Era Pandemi COVID-19 (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta). Tabroni, I., Nauli, F. A., & Arneliwati, A. (2021). Gambaran Tingkat Stres dan Stresor pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Negeri di Provinsi Riau. Jurnal Keperawatan, 13 (1), 149-164.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.