Tuberculosis (TBC)

Oleh: Arinda Puteri Pratiwi

0

Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bacterium Mycobacterium tuberculosis complex (PDPI, 2006). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (DEPKES, 2007). Myobacterium tuberculosis merupakan jenis kuman berbentuk batang berukuran panjang 1-4 mm dengan tebal 0,3-0,6 mm. Sebagian besar komponen Myobacterium tuberculosis adalah berupa lemak/lipid sehingga kuman mampu tahan terhadap asam serta sangat tahan terhadap zat kimia dan faktor fisik. Mikroorganisme ini adalah bersifat aerob yakni menyukai daerah yang banyak oksigen. Oleh karena itu, Myobacterium tuberculosis senang tinggal di daerah apeks paru-paru yang kandungan oksigennya tinggi. Daerah tersebut menjadi tempat yang kondusif untuk penyakit tuberculosis (PDPI, 2006).

Gejala dan tanda Tuberkulosis

Pasien yang terduga TB paru adalah seseorang yang mempunyai keluhan atau gejala klinis mendukung TB (sebelumnya dikenal sebagai suspek TB). Gejala utamanya adalah batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih dan gejala tambahan. Gejala tambahan yang sering dijumpai adalah (i) gejala respiratorik: dahak bercampur darah, sesak napas dan rasa nyeri dada, dan (ii) gejala sistemik: badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), pada malam hari walaupun tanpa kegiatan, demam meriang yang berulang.

Perlu diketahui bahwa gejala-gejala tersebut dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperi bronkiektasis, bronkitis kronik, asma, kanker paru, dan lain-lain. Di negara endemis TB seperti Indonesia, setiap orang yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan dengan gejala tersebut diatas, harus dianggap sebagai seorang suspek TB dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikrokopis langsung terlebih dahulu. (Kementrian Kesehatan RI, 2014; PDPI, 2006).

Diagnosis Tuberkulosis

Penegakan diagnosis TB paru harus melakukan pemeriksaan bakteriologis. Apabila pemeriksaan secara bakteriologis negatif, maka penegakkan diagnosis dapat dilakukan dengan secara klinis dengan menggunakan hasil pemeriksaan klinis penunjang (setidak-tidaknya foto toraks) yang sesuai dan ditetapkan dengan oleh dokter terlatih TB. Pada sarana terbatas penegakkan diagnosis secara klinis dilakukan setelah pemberian terapi antibiotika spektrum luas (Non OAT dan Non Kuinon) yang tidak memberikan perbaikan klinis. (Kementrian Kesehatan RI, 2014)

Tidak dibenarkan mendiagnosis TB dengan melakukan pemeriksaan serologis, berdasarkan foto toraks saja dan tes tuberkulin. Karena tidak terlalu memberikan gambaran spesifik TB paru sehingga menyebabkan terjadi overdiagnosis atau underdiagnosis. (Kementerian Kesehatan RI, 2014). Menurut Kemenkes (2014) ada beberapa pemeriksaan penunjang yang perlu diperhatikan, yaitu (i) pemeriksaan dahak mikroskopis langsung untuk kepentingan diagnosis dengan cara pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Terduga pasien TB diperiksa contoh uji dahak SPS (sewaktu – pagi – sewaktu). Terduga ditetapkan sebagai pasien TB apabila minimal 1 dari pemeriksaan contoh uji dahak SPS hasilnya BTA positif; (ii) Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 contoh uji dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS). Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan biakan untuk identifikasi Mycobacterium tuberkulosis untuk menegakkan diagnosis pasti TB pada pasien tertentu, misal pasien TB ekstra paru, pasien TB anak, dan pasien TB dengan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis langsung BTA negatif. Pemeriksaan tersebut dilakukan di sarana laboratorium yang terpantau mutunya. Apabila dimungkinkan pemeriksaan dengan menggunakan tes cepat yang direkomendasikan WHO. Untuk memastikan diagnosis dianjurkan untuk memanfaatkan tes cepat tersebut; (iii) Pemeriksaan uji kepekaan obat yaitu uji kepekaan obat bertujuan untuk menentukan ada tidaknya resistensi Mycobacterium tuberkulosis terhadap obat. Untuk menjamin kualitas hasil pemeriksaan, uji kepekaan obat tersebut harus dilakukan oleh laboratorium yang telah tersertifikasi atau lulus uji.

Gambar 1. Alur diagnosis dan tindak lanjut TB paru pada pasien dewasa (Tanpa kecurigaan : Hasil tes HIV (+) atau terduga TB Resisten Obat)

 Tatalaksana Tuberkulosis

Menurut Kemenkes (2014) pengobatan TB harus selalu meliputi pengobatan tahap awal dan tahap lanjutan. Tahap awal berupa pengobatan yang diberikan setiap hari. Paduan pengobatan pada tahap ini adalah dimaksudkan secara efektif untuk menurunkan jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien dan meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil kuman yang mungkin sudah resisten sejak sebelum pasien mendapatkan pengobatan. Pengobatan tahap awal pada semua pasien baru, harus diberikan selama 2 bulan. Pada umunya dengan pengobatan secara teratur dan tanpa adanya penyulit, daya penularan sudah sangat menurun setelah pengobatan selama 2 bulan. Tahap lanjutan merupakan tahap yang penting untuk membunuh sisa sisa kuman yang masih ada dalam tubuh khususnya kuman persister sehingga pasien dapat sembuh dan mencegah terjadinya kekambuhan. Terdapat beberapa jenis dan dosis Obat Anti Tuberkulosis (OAT), sebagai berikut :

1). Isoniazid ( H )

Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90 % populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kk BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kg BB.

2). Rifampisin ( R )

Bersifat bakterisid dapat membunuh kuman semi-dormant (persister) yang tidak dapat dibunuh oleh isoniazid dosis 10 mg/kg BB diberikan untuk mengobatan harian maupun intermiten 3 kali seminggu.

3). Pirazinamid ( Z )

Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg BB.

4). Streptomisin ( S )

Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama pada penderita umur sampai 60 tahun dosisnya 0,75 gr/hari, sedangkan untuk umur 60 tahun atau lebih diberikan 0,50 gr/hari.

5). Etambutol ( E)

Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis 30 mg/kg/BB.

Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia sesuai rekomendasi WHO dan ICTS adalah:

1). Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru :

– Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologois

– Pasien TB paru terdiagnosis klinis

– Pasien TB ekstra paru

2). Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya :

– Pasien kambuh

– Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan OAT kategori 1 sebelumnya

– Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow up)

3). Kategori anak : 2(HRZ)/4(HR) atau 2HRZA(S)/4−10HR

4). Obat yang digunakan dalam tatalaksana pasien TB resisten obat di Indonesia terdiri dari OAT lini kedua yaitu kanamisin, Kapreomisin, Levofloksasin, Etionamide, Sikloserin, Moksifloksasin, dan PAS serta OAT lini satu yaitu pirazinamid dan etambutol. Penggunaan OAT lini kedua tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. Disamping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua.

 

DAFTAR PUSTAKA

DEPKES, 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi pertama Cetakan ke 8

DEPKES, 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi Kedua Cetakan 1

Kementrian kesehatan RI (2014). Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI.

PDPI (2006). Tuberkulosis Pedomen Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia

 

*Sumber Gambar : https://www.health24.com/Medical/Tuberculosis/Overview/What-is-the-cause-of-tuberculosis-20130205

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.