Tantangan Guru Zaman Now

0

Oleh: Ika Novira Trisna, M.Pd I

Masih segar moment peringatan Hari Guru Nasional ke 73 pada 25 November 2018 kemarin. Sekolah-sekolah di seluruh penjuru Negeri ini merayakan hari istimewa para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Ada yang merayakannya dengan sederhana, namun tak sedikit juga yang merayakan dengan ceremoni mewah. Sederhana atau mewah bukanlah ukuran kebahagiaan, sebab hari guru selalu istimewa di hati para pengemban arsitek anak bangsa ini.

Waktu terus bergulir dan tantangan yang dihadapi seorang guru semakin besar. Guru zaman now harus bisa move on, dengan tidak membanding-bandingkan zaman sekarang dengan zaman ketika ia masih menjadi siswa, serta mulai melupakan kata-kata “zaman saya dulu begini…. Ketika saya sekolah dulu begitu… dst”. Sebab indikator keberhasilan seorang guru adalah ketika ia mendidik anak bangsa ini sesuai dengan zamannya. Artinya para pendidik generasi milenial harus menguasai Teknologi Informasi dan menjadi pendidik yang terus berinovasi serta mampu mengolah kelas menjadi wadah belajar yang menarik, menyenangkan dan tidak membosankan dengan gaya mengajar yang kesannya itu-itu saja.

Dengan demikian seorang guru harus bisa masuk ke dunia peserta didiknya dan mempelajari dunia mereka yang hidup di era digital ini, agar guru menemukan strategi terbaik untuk mengantarkan peserta didik ke kereta pendidikan, hingga mereka tiba di tujuan akhir kereta tersebut yaitu menjadi generasi yang kokoh rohani, karakter dan keilmuannya.

Di era digital yang serba canggih seperti sekarang ini, dimana guru-guru difasilitasi dengan media ajar yang juga tak kalah canggih serta tersebarnya secara luas baik buku-buku maupun tulisan-tulisan di internet yang memperkaya wawasan guru tentang metode-metode pembelajaran inovatif. Tapi disamping itu tak jarang para guru masih merasa kesulitan dalam menghadapi anak didiknya.

Tentu masih segar diingatan kita semua tentang tragedi pembunuhan guru oleh muridnya sendiri beberapa waktu lalu. Dan terakhir yang terbaru beredar di sosial media video pelecehan anak didik kepada gurunya di dalam kelas. Kajadian ini hanya sample, yang sebenarnya justru terjadi di hampir setiap penjuru negeri ini. Banyaknya anak didik yang tidak lagi ihtirom kepada guru-gurunya. Yang akhirnya juga berakibat terhadap kualitas keilmuan anak bangsa.

Apa yang terjadi? Kenapa kejadian seperti ini justru semakin marak di zaman modern yang sangat canggih seperti sekarang ini?

Jika kita menilik sejarah bagaimana perjalanan para ulama-ulama terdahulu dalam menimbah ilmu, yang ketika itu belum ada teknologi informasi. Mereka harus pindah dari satu kota ke kota yang lain untuk mendapatkan ilmu-ilmu dari ulama pada saat itu. Contohnya Imam Syafi’i, Imam Syafi’i kecil dibawa ibunya ke Mekkah, tanah air nenek moyangnya. Disana sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru. Imam Syafi’i hafal Al-Qur’an pada saat berusia 7 tahun. Usai menghafal Al-Qur’an di Kuttab, ia ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu disana. Pada usia 12 tahun ia telah membaca dan menghafal kitab Al-Muwathotha’ karya Imam Malik bin Anas. Kemudian Imam Syafi’i ke Madinah menemui Imam Malik bin Anas. Demi mendapatkan ilmu dari Imam Malik, Imam Syafi’i menjalani mulazamah sampai Imam Malik wafat. Selain kepada Imam Malik, Imam Syafi’i juga menimbah ilmu kepada ulama-ulama yang lain di Madinah seperti Ibrahim bin Abu Yahya, ‘Abdul ‘Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far dan masih banyak lagi. Kemudian Imam Syafi’i melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Yaman, Baghdad, Mesir dll. Hausnya dalam menuntut ilmu membuat Imam Syafi’i terus mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mendapatkan ilmu.

Wahai guru, tak perlu berkhayal “andai murid saya seperti Imam Syafi’i yang cerdas, tekun dan gigih menimbah ilmu, andai.. dan andai….

Kehebatan seorang murid tidak lepas dari kehebatan guru dalam mendidiknya. Meneladani guru para ulama dan ilmuwan terdahulu. Bagaimana mereka mendidik hingga lahir ulama dan ilmuwan hebat yang menghantarkan Islam pada zaman keemasan, seperti Imam Syafi’i, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Kindi, Jabir bin Hayyan, Ibnu Haitham, Muhammad bin Musa al-Khawarizmi dll.

Mengapa di zaman yang masih sangat terbatas, baik teknologi maupun sarana-sarana belajar namun menghantarkan Islam ke masa kejayaannya terutama dalam bidang keilmuwan. Tentu tidak terlepas dari kehebatan guru mereka dalam mendidiknya. Bagaimana guru para ulama dan ilmuwan terdahulu mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya?

Semua itu tidak lepas dari ketaatan dan ketaqwaan sang guru kepada sang Khaliq. Hingga ketaatan dan ketaqwaannya tersebut memancarkan cahaya shudur –red hati-. Ruhiyah sang guru akan sangat mempengaruhi proses belajar muridnya. Seorang guru harus memiliki pancaran cahaya shudur, sebab Allah menurunkan Al-Qur’an ke dalam shudur bukan akal. Bukankah Al-Qur’an adalah kunci dari setiap ilmu? Jadi ilmu yang diajarkan oleh guru akan masuk ke dalam shudur anak didiknya jika shudur sang guru bersinar bagai cahaya. Karena ilmu adalah cahaya, dan shudur akan memiliki pancaran cahaya jika ia dekat dengan Allah Nuurus-samaawati wal ardhi. Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 49: “Sebenarnya, (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu”

Jika Guru para ulama dan ilmuwan dahulu selalu memperhatikan kondisi ruhiyah mereka yang selalu diliputi dengan ibadah kepada Allah, bagaimana dengan guru hari ini?

Jika Guru para ulama dan ilmuwan dahulu tidak lepas mendo’akan dan memohonkan kepada Allah agar murid-muridnya dikaruniakan cahaya ilmu oleh Allah, bagaimana dengan guru hari ini?

Jika Guru para ulama dan ilmuwan dahulu selalu memberikan keteladanan, bagaimana dengan guru hari ini?

Jika Guru para ulama dan ilmuwan dahulu selalu mengutamakan dengan mencontohkan daripada sekedar memerintahkan, bagaimana dengan guru hari ini?

Jika Guru para ulama dan ilmuwan dahulu lebih mendahulukan pendidikan adab dan kejujuran daripada nilai tes, bagaimana dengan guru hari ini?

Cukuplah Rasulullah dan para ulama menjadi sebaik-baik contoh untuk kita para guru dalam mendidik generasi bangsa ini menjadi generasi yang kokoh baik ruhiyah, karakter maupun keilmuannya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.