Surfaktan Alami sebagai Alternatif Efisiensi Pemakaian Pestisida pada Daerah Curah Hujan Tinggi

0

Oleh: Suryali

Lahan perkebunan dan pertanian yang ada di Provinsi Bengkulu bisa dikatakan luas. Menurut BPS, luas perkebunan di provinsi Bengkulu mencapai 1.970.870 Ha dan diprediksi akan mengalami peningkatan seiring semakin meningkatnya kebutuhan manusia terhadap komoditi perkebunan. Selain itu curah hujan di Provinsi Bengkulu yang rata-rata pertahun hampir mencapai 3000 mm sering membuat pengendalian gulma, hama dan patogen tidak efisien. Hal ini dikarenakan kurang melekatnya pestisida kimia maupun organik pada tanaman sehingga harus dilakukan penyemprotan berulang-ulang. Tentunya hal ini dapat memboroskan dana. Selain itu, petani sudah mulai menyadari akan dampak buruk penggunaan produk-produk kimia untuk keberlangsungan kegiatan usaha tani dan punya keinginan untuk beralih ke produk-produk organik. Akan tetapi, pengetahuan bahan dan metode, serta tidak mempunyai banyak waktu jika untuk membuat sendiri.

Pengendalian terhadap pengganggu tanaman perlu dilakukan. Hal ini dikarenakan adanya kompetisi yang terjadi antara tanaman utama dengan pengganggu tanaman. Pengganggu tanaman yang sering mengakibatkan kerugian besar adalah gulma. Persaingan yang terjadi dapat berupa unsur hara, air, cahaya, ruang dan sumber pertumbuhan lainnya. Pengendalian gulma sering tidak efisien dikarenakan beberapa faktor, yaitu adanya lapisan lilin pada daun, curah hujan yang tinggi menyebabkan pestisida tercuci(mengalir oleh air). Tentu hal ini dapat menyebabkan ketidakefisienan dalam penyemprotan sehingga harus dilakukan berulang-ulang. Salah satu alternatif yang bisa digunakan adalah penggunaan surfaktan. Surfaktan merupakan zat perekat, perata pestisida pada daun. Zat ini dapat membantu dalam menyelesaikan permasalahan diatas.

Selain itu, pemakaian surfaktan alami ini diharapkan mampu diaplikasikan pada pemakaian pestisida untuk membasmi hama dan fungi. Sedanglan produk sebelumnya yang sudah ada adalah surfaktan yang berasal dari bahan kimia. Surfaktan kimia ini memiliki dampak pencemaran pada lingkungan dan harga yang tinggi menyulitkan keadaan petani yang memiliki modal usaha yang sedikit. Konsumsi surfaktan sintesis (kimia) di bidang petrokimia sangat besar. Beberapa surfaktan sintesis bersifat toksik. Sedangkan biosurfaktan atau surfaktan alamai memiliki keuntungan yang lebih dibanding surfaktan kimia dalam hal biodegradasi, ramah lingkungan, non toksik dan struktur kimianya lebih beragam (Bayoumi et al., 2011).

Prosedur pelaksanaan

Bahan yang digunakan : kulit dalam dan daging putih kakao yang manis
Cara membuat : Kulit kulit dalam dan daging putih kakao yang manis, diperas hingga keluar lendir yang diinginkan, dan diletakkan di dalam botol kemudian didiamkan minimal 7 hari.
Aplikasi : Dosis yang digunakan adalah 100 ml pestisida pada setiap 15 liter air.

Pengujian :

Dibuat petak berukuran 1 m x 1 m. Pengujian dilakukan dengan membandingkan surfaktan alami dan surfaktan kimia bermerek. Dosis surfaktan masing-masing sebesar 5 g/l. Hamparan lahan yang disemprot berbagai macam gulma, seperti Widelia trilobata, dll. Hasil yang ditampakkan, surfaktan alami memiliki daya lekat yang baik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada hari kedua setelah penyemprotan surfaktan kakao telah menunjukkan gejala kekuning-kuningan sedangkan surfaktan kimia belum menunjukkan gejala. Menurut Setyowati (2013) gejala pada gulma yang disemprot dengan pestisida sistemik akan menunjukkan hasil pada hari ketiga dan akan habis pada minggu ke2 dan minggu ke3. Hal ini berarti penyemprotan surfaktan kakao dapat mempercepat kematian gulma dan mengefisiensi penyemprotan. 

Keunggulan surfaktan kakao ini sebagai berikut:

  • Dapat memaksimalkan pengendalian pengganggu tanaman
  • Terbuat dari bahan alami, sehingga tidak merusak lingkungan.
  • Dari sudut pandang ekologi,  biosurfaktan banyak menguntungkan karena nontoksik dan ramah lingkungan.  Biosurfaktan dan mikroba yang menghasilkannya, dapat diterapkan di berbagai sektor  industri, kesehatan dan lingkungan.

Jumlah petani yang besar hampir 75% di Provinsi Bengkulu dapat menjadi potensi tersendiri bagi penjualan produk ini. Bukan hanya di daerah Bengkulu yang menjadi satu-satunya target user pada penggunaan produk ini. Akan tetapi, di berbagai daerah di Indonesia yang memiliki daerah curah hujan tinggi akan cocok untuk pemakaian produk ini.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.