Strategi dalam Meningkatkan HOTS (High Order Thinking Skills) untuk Siswa SMK di Abad 21

0

Oleh : Sri Lasmini

Pendidikan Guru Vokasi UNS

Abad 21 menjadi topik perbincangan yang hangat, zaman yang selalu berubah menuntut siswa dan generasi baru harus mempunyai kapasitas, skill/keterampilan yang baik, perlu mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti berpikir kritis, mengambil keputusan yang tepat dan bisa memecahkan masalah (Ben Chaim, Ron, & Zoller, 2000; Zoller, 1993, 1999). Hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi kedepannya, untuk memenuhi tantangan itu harus dibutuhkan pengembangan kapasitas berpikir kritis siswa (CT), yaitu diperlukan untuk analisis situasi yang tidak dikenal, sehingga kemampuan bertanya, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan akan didasarkan pada kerangka pemikiran rasional (Ennis, 1989; Zoller, Ben-Chaim, Ron, Pentimalli, & Borsese, 2000).

Trilling dan Fadel (2009) menunjukkan bahwa tamatan sekolah menengah, diploma dan pendidikan tinggi masih kurang kompeten dalam hal: (1) komunikasi oral maupun tertulis, (2) berpikir kritis dan mengatasi masalah, (3) etika bekerja dan profesionalisme, (4) bekerja secara tim dan berkolaborasi, (5) bekerja di dalam kelompok yang berbeda, (6) menggunakan teknologi, dan (7) manajemen proyek dan kepemimpinan. ASEAN Business Outlook Survey 2014 melaporkan hasil kajiannya dan menyatakan bahwa Indonesia dianggap sebagai negara tujuan investasi asing dan bahkan menjadi salah satu tujuan utama di wilayah ASEAN. Survei tersebut juga mengindikasikan fakta yang kurang baik, bahwa Indonesia memiliki tenaga kerja dengan keahlian rendah dan murah. Jika dibandingkan dengan lulusan negara lain yang lebih ahli dan terlatih, misalnya Filipina sebagai peringkat tertinggi, bangsa Indonesia tidak akan mampu bersaing dan akan kehilangan kesempatan kerja yang baik, jika tidak didukung suatu program yang mencetak lulusan berketerampilan tinggi. Hal ini juga merupakan tantangan yang harus disikapi dengan sebaik-baiknya.

HOTS adalah salah satu komponen penting bagi seseorang untuk dapat menyelesaikan masalah baru di abad ke-21 (Brookhart, 2010; Moseley et al., 2005; Thompson, 2008). HOTS juga memainkan peran penting dalam menerapkan, menghubungkan, atau memanipulasi pengetahuan sebelumnya secara berurutan untuk secara efektif menyelesaikan masalah baru (Thomas & Thorne, 2009). HOTS adalah komponen utama dari pemikiran kreatif dan kritis dan pedagogi berpikir kreatif dapat membantu siswa mengembangkan ide-ide yang lebih inovatif, perspektif ideal dan wawasan imajinatif. HOTS berfokus pada mengembangkan kemampuan siswa untuk dapat menganalisis secara efektif, mengevaluasi dengan menggambarkan inferensi dari informasi yang ada dan membuat (mensintesis) sesuatu yang baru. Ketika siswa mampu untuk menciptakan dan memadukan keterampilan ini dalam kegiatan belajar mereka, maka siswa tersebut dapat melakukannya HOT (Rajendran and Idris, 2008). Smaldino et al, (2004) menyatakan “…rote learning leads to inert knowledge we know something but never apply it to real life”. Woolfolk (2008), menyatakan pembelajar yang memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills) mampu membedakan antara fakta dan opini, mengidentifikasi informasi yang relevan, memecahkan masalah, dan mampu menyimpulkan informasi yang telah dianalisisnya. 

Tujuan utama dari high order thinking skills adalah bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik pada level yang lebih tinggi, terutama yang berkaitan dengan kemampuan untuk berpikir secara kritis dalam menerima berbagai jenis informasi, berpikir kreatif dalam memecahkan suatu masalah menggunakan pengetahuan yang dimiliki serta membuat keputusan dalam situasi-situasi yang kompleks (Saputra, 2016). Konsep dari high order thinking skills didasari oleh beberapa pendapat, seperti bisa dilihat pada tabel berikut:

Problem Solving menurut pandangan Krulik & Rudnick adalah sebuah proses, artinya dimana setiap individu menggunakan pengetahuan yang diperoleh, keterampilan, pemahaman yang kemudian digunakan dalam situasi baru. Proses dimulai dengan membandingkan dan menyimpulkan kemudian peserta didik harus memadukan apa yang telah dipelajari dan menerapkannya pada situasi baru. Pola pemecahan masalah menurut pandangan Krulik & Rudnick dijabarkan dalam langkah-langkah yang dapat diajarkan kepada peserta didik, yaitu, (1) membaca sebuah permasalahan, (2) mengembangkan informasi, (3) memilih strategi, (4) menyelesaikan masalah, dan (5) memeriksa kembali dan meluaskan.

Dalam implementasi pembelajaran, HOTS tidak bisa diajarkan secara langsung kepada siswa. Siswa harus dilatih tentang HOTS, sebagai keterampilan, melalui kegiatan pembelajaran yang mendukung perkembangannya.  Untuk menyadari pentingnya HOTS, guru perlu mengajarkan keterampilan kepada siswa. Kegiatan pembelajaran yang dirancang harus mengembangkan HOTS siswa. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa guru perlu untuk mengubah metode pembelajaran tradisional menjadi metode pembelajaran inovatif untuk belajar HOTS. Metode inovatif tersebut adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa (Sumarmo & Nishitani, 2010), penggunaan konstruktivisme, dan pemberian kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi kemampuan mereka selama kegiatan pemecahan masalah (Apino & Retnawati, 2017; Djidu & Jailani, 2016a). Beberapa model pembelajaran yang termasuk dalam pembelajaran inovatif adalah pembelajaran berbasis masalah (Djidu & Jailani, 2016b), pembelajaran berbasis proyek (Anazifa, 2017), pembelajaran penemuan (Rochani, 2016), dan pemecahan masalah secara kreatif (Apino & Retnawati, 2017). Oleh karena itu, (Thomas & Thorne., 2009) mengemukakan bahwa pelajaran yang dirancang untuk mengajar HOTS harus mencerminkan yang berikut;

1.Konsep 

Siswa harus diajarkan untuk membangun konsep, karena konsep membantu dalam mengatur pemikiran.

2. Skema

Menurut McCarty sebagaimana dikutip dalam (Thomas & Thorne., 2009) belajar adalah membuat makna, makna membuat koneksi, dan koneksi adalah konsep. Dengan kata lain, untuk mempelajari sesuatu, siswa harus terlebih dahulu memahami makna dengan menghubungkan ide-ide baru dengan yang sudah kita miliki. Istilah skema hanyalah pola atau pengaturan pengetahuan yang dimiliki seorang individu yang tersimpan di otak dan membantu mereka memahami informasi baru. Mengintegrasikan ini ke dalam pelajaran berpikir tingkat tinggi akan membantu siswa untuk menyimpulkan tentang hal tertentu berdasarkan informasi yang telah mereka kumpulkan sebelumnya.

3. Metafora, Perumpamaan dan Analogi

Metafora, Perumpamaan dan Analogi adalah sebuah jalan/cara untuk menjelaskan sesuatu yang abstrak atau hal yang baru dengan menunjukkan bagaimana abstrak atau hal yang baru itu dibagikan dengan karakteristik objek, ide atau konsep tertentu.

4. Visualisasi

Kadang-kadang tidak semua pemikiran dapat dilakukan dengan kata-kata atau tulisan. Seseorang dapat membentuk gambar visual sebagai gambar dalam pikiran yang mempunyai makna yang sama sebagai atau lebih bermakna daripada kata-kata. Instrumen visualisasi sangat bermanfaat untuk mengembangkan HOTS, Karenanya siswa harus diajari untuk memvisualisasikan untuk mengembangkan keterampilan berpikir yang diinginkan guru.

5. Kesimpulan

Menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran yang sudah dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Anazifa, R. D. (2017). Project-based learning and problem-based learning: Are they effective to improve students’ thinking skills? Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 6 (2), 346–355. doi:10.15294/jpii. v6i2.11100

Apino, E., & Retnawati, H. (2017). Developing instructional design to improve mathematical higher order thinking skills of students. Journal of Physics: Conference Series, 812, 1–7. doi:10.1088/1742- 6596/755/1/011001

Ben-Chaim, D., Ron, S., & Zoller, U. (2000). The disposition of eleventh-grade science students toward critical thinking. Journal of Science Education and Technology, 9(2), 149–159.

Brookhart, S. M. (2010). How to assess higher-order thinking skills in your classroom. Alexandria, VA: ASCD

Djidu, H., & Jailani. (2016a). Activity in mathematics teaching and learning that fostering students’ higher order thinking skills. 

Djidu, H., & Jailani. (2016b). Fostering students’ higher-order thinking skill through problem-based learning in calculus. In Proceeding of 3rd International Conference on Research, Implementation and Education of Mathematics and Science (pp. 127–130). 

Krathwohl, D. R. 2002. A revision of Bloom’s taxonomy: An overview. Theory into practice 41(4), 212-218. Krulik, S., & Rudnick, J. A. 1999. Innovative Tasks to Improve Critical and Creative Thinking Skills. Developing Mathematical reasoning in Grades K-12, 138-145.

Rajendran, N., & Idris, P. U. P. S. (2008). Teaching & Acquiring Higher-Order Thinking Skills: Theory & Practice: Penerbit Universiti Pendidikan Sultan Idris

Retnawati, Heri., Hasan Djidu, Kartianom, Ezi Apino, Risqa D. Anazifa. (2018). Teachers’ Knowledge About Higher-Order Thinking Skills And Its Learning Strategy. Problems of Education in the 21st Century, 70 (2), 215.

Rochani, S. (2016). The effectiveness of mathematics problem-based learning and guided discovery learning viewed from the cognitive learning achievement and creative thinking skill. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3 (2), 273–283. doi:10.21831/jrpm.v3i2.5722]

Saputra, Hatta. 2016. Pengembangan Mutu Pendidikan Menuju Era Global: Penguatan Mutu Pembelajaran dengan Penerapan HOTS (High Order Thinking Skills). Bandung: SMILE’s Publishing

Smaldino, S. E., Russell, J.D., Heinich, R. & Molenda, M. 2007. Instructional Technology and Media for Learning. 8th ed. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice
Hall. Canada.

Sumarmo, U., & Nishitani, I. (2010). High level mathematical thinking: Experiments with high school and undergraduate students using various approaches and strategies. Bulletin of the Faculty of Education, Gunma University, 58 (9), 9–22. Retrieved from https://gair.media.gunma-u.ac.jp/ dspace/bitstream/10087/5130/1/03_Nishitani.pdf

Thomas, A., & Thorne, G. (2009). How to increase higher order thinking. Retrieved January 2, 2017, from http://www.readingrockets.org/article/how-increase-higher-order-thinking

Trilling, B. and Fadel, C. 2009. 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. San Francisco, Calif., Jossey-Bass/John Wiley & Sons, Inc.

Zoller, U. (1993). Lecture and learning: Are they compatible? Maybe for LOCS; Unlikely for HOCS.Journal of Chemical Education, 70(3), 195–197.

Zoller, U. (1999). Teaching tomorrow’s college science courses – Are we getting it right? Journal of College Science Teaching, 29(6), 409–414.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.