Resistensi pada Antibiotik

Oleh: Abrory Agus Cahya P.

0

Sejak penemuan antibiotik, Penicillin pada tahun 1928, dari pengamatan Insidental Alexander Flemming pada cawan petri-nya, penggunaan senyawa yang berguna ini telah menyebar cepat. Pada waktu itu Antibiotik telah muncul sebagai pengobatan utama untuk menyembuhkan banyak penyakit, terutama sekitar tahun 1940-an, perang dunia memiliki dampak kematian, dan menyebarkan penyakit menular pada orang yang terluka. Tapi kemudian, masalah baru muncul sebagai penyalahgunaan dan terlalu sering menggunakan antibiotik, resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik.

Pada 1945 dalam pidato publik pemberian hadiah nobel atas penemuannya, Flemming sudah memperingatkan akan kehadiran bakteri resisten antibiotik penyebab penyalahgunaan antibiotik. Kemudian, apa yang dikatakannya terjadi karena masalah resistensi yang dimulai dari Staphylococcus resisten terhadap penicillin1. Usaha untuk mengatasi resistensi ini kemudian dilanjutkan pada usaha dalam penemuan antibiotik baru, misalnya methicillin yang kemudian diperkenalkan pada tahun 1960. Setelah 2 tahun pengenalan antibiotik beta lactam jenis baru ini, kemunculan Staphylococcus resisten Methicillin terjadi pada tahun 1962, dan sekarang ini, masih menjadi masalah besar karena bakteri ini juga menjadi resisten terhadap berbagai antibiotik yang ditemukan oleh ilmuwan sekarang. Upaya untuk memecahkan masalah bakteri resisten sebenarnya sudah dilakukan sejak terjadinya penyebaran bakteri resisten tersebut. Namun, upaya ini menemukan kendala, terutama salah satunya berasal dari perusahaan farmasi yang tidak berkenan untuk kembali melakukan upaya dalam menemukan antibiotik baru yang disebabkan oleh biaya yang tinggi dan penemuan kembali antibiotik yang sudah ada. Sementara pengobatan dalam waktu singkat terutama pada antibiotik membuat perusahaan berpikir sedikit sekali manfaat profit yang diperoleh untuk tetap bekerja di area ini2.

Penyalahgunaan Antibiotik

Adanya dampak antibiotik yang digunakan untuk menyelamatkan ribuan jiwa manusia di masa perang dunia, antibiotik adalah hal yang berharga di masyarakat. Apakah itu penyakit menular atau tidak, antibiotik berperan sebagai pengobatan utama bagi mereka untuk menyembuhkan penyakit yang mereka derita. Penggunaan antibiotik sebagai pengobatan di masyarakat dipengaruhi oleh dogma, “Lamanya pemakaian antibiotik seharusnya menyembuhkan penyakit”3. Ini adalah apa yang kita sebut sebagai persepsi salah yang membuat mereka mengaktifkan dosis resistensi bakteri, dan membantu bakteri untuk mempertahankan sistem kekebalan terhadap antibiotik. Dogma tersebut harus diganti dengan “lebih pendek lebih baik” untuk memotong mekanisme resistensi pada bakteri, dan kemudian membunuh bakteri secara efektif tanpa memberikan kesempatan kepada bakteri untuk menjadi resisten. Sebagian besar, masalah antibiotik juga muncul pada pemberian resep yang salah kepada pasien. Pemberian antibiotik yang salah sebagai pengobatan akan memberikan masalah dalam meningkatkan resistensi antibiotik dengan mengubah gen bakteri yang selanjutnya akan mempengaruhi ekspresi gen bakteri. Protein target antibiotik dapat mengubah bentuk konformasi sehingga tidak dapat lagi dijadikan target oleh antibiotik, dan sebagian besar hal tersebut muncul sebagai indikasi bakteri tersebut mengubah susunan seluruh proteinnya1 karena diinduksi oleh salah atau tidak tepatnya dosis antibiotik yang diberikan.

Sementara itu, resistensi bakteri juga sudah diprediksi berasal dari penyalahgunaan antibiotik sebagai promotor pertumbuhan pada unggas. Penelitian yang dilakukan oleh Miles et al. menunjukkan peningkatan ukuran pada ayam broiler yang diberi antibiotik dengan kontrol broiler tanpa antibiotik4. Tidak adanya peraturan atau larangan agama pada saat itu, memberikan ide peternakan hewan menggunakan antibiotik sebagai pakan unggas mereka sebagai tujuan untuk mencegah penyebaran penyakit menular antar unggas lainnya, dan juga untuk meningkatkan kondisi pertumbuhan5. Kasus penyalahgunaan antibiotik dalam program pemberian pakan di peternakan hewan, menyebabkan adanya pelarangan yang mengatur hal tersebut di beberapa negara Eropa.

Manajemen pada Resistensi

Masalah bakteri resisten antibiotik merupakan topik hangat yang muncul sejak tahun 1960, dan hingga saat ini menjadi isu menarik bagi para ilmuwan. Usaha dalam menemukan senyawa baru dengan struktur yang unik memberikan ilmuwan untuk melihat lebih dalam pada keseluruhan gen bakteri untuk mencari gen unik yang dapat memproduksi antibiotik dengan struktur unik. Perkembangan sains dan teknologi tentu saja meningkatkan peran ilmuwan dalam usaha melakukan rekayasa dalam genom bakteri sehingga mampu membuat bakteri memproduksi antibiotik yang khusus yang dapat digunakan dalam melawan bakteri yang resisten terhadap beberapa antibiotik. Genome mining dan sintetik biologi menjadi dua alat canggih yang dapat digunakan untuk menghasilkan model bakteri seperti yang diinginkan. Selain itu, beberapa software saat ini dapat digunakan untuk melakukan deteksi terhadap gen yang mengandung modul-modul pembentuk senyawa antibiotik, sehingga dapat digunakan untuk menghindari ditemukannya senyawa antibiotik lama.

Pada bidang klinis, penggunaan antibiotik telah dibatasi dan diatur dalam regulasi pemerintah untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan. Pemberian antibiotik hanya dapat dilakukan melalui regulasi dokter dan rumah khusus yang mendapat ijin untuk mengeluarkan resep penggunaan antibiotik, dengan harapan mengurangi penyebaran bakteri resisten antibiotik. Sebagai tambahan, gerakan mencuci tangan yang masif saat ini dilakukan pemerintah, dilakukan sebagai upaya penanggulangan krisis persebaran bakteri tesisten antibiotik. Terakhir, diperlukan adanya kerja sama yang baik antara ilmuwan, pemerintah, dan industri sehingga dapat terbentuk regulasi yang baik dalam menangani masalah tersebut. Investasi yang baik dalam bidang industri dan peneliti dapat diberikan untuk mendukung upaya pengembangan metode yang cepat dan akurat dalam mencari senyawa antibiotik baru, dan bagi pemerintah serta praktisi dapat memberikan regulasi yang ketat dalam penggunaan antibiotik. Dilain hal, pemerintah dapat mendukung secara penuh proses percobaan klinis pada antibiotik baru yang ditemukan, sehingga dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan penyebaran bakteri yang tidak dapat ditangani oleh antibiotik yang lama.

Sebagai sebuah kesimpulan, bahwa masalah resistensi bakteri terhadap antibiotik bukanlah masalah yang mudah, yang hanya dapat dipecahkan dengan penemuan senyawa baru. Regulasi dan koordinasi kepemimpinan yang baik harus diimplementasikan guna menyelesaikan permasalahan ini dan mengurangi penyebaran masalah ini di masyarakat. Praktisi, peneliti, dan pemerintah, serta industri memiliki peranan penting untuk menyelesaikan masalah ini dengan memperbesar pintu kolaborasi dan membuat regulasi yang inovatif untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Referensi

  1. Ventola, C. L. The antibiotic resistance crisis: part 1: causes and threats. P T A peer-reviewed J. Formul. Manag. 40, 277–83 (2015).
  2. Wright, G. D. Something old, something new: revisiting natural products in antibiotic drug discovery. Can. J. Microbiol. 60, 147–54 (2014).
  3. Spellberg, B. & Gilbert, D. N. The future of antibiotics and resistance: A tribute to a career of leadership by John Bartlett. Clin. Infect. Dis. 59, S71–S75 (2014).
  4. Miles, R. D., Butcher, G. D., Henry, P. R. & Littell, R. C. Effect of Antibiotic Growth Promoters on Broiler Performance, Intestinal Growth Parameters, and Quantitative Morphology 1. 476–485 (2006).
  5. Carrique-mas, J. J. Antimicrobial Resistance in Bacterial Poultry Pathogens: A Review. 4, 1–17 (2017).

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.