Proses “Organik” dalam Pembelajaran Bahasa

0

Oleh: Ani Meitikasari

Hakikat bahasa yang terdefinisikan sebagai sarana komunikasi baik secara lisan maupun tulisan memegang fungsi krusial yakni digunakan untuk mengutarakan, menyampaikan, dan memberikan sinyal atau pesan kepada orang lain dengan maksud-maksud tertentu. Hal inilah yang menjadikan pembelajaran bahasa terutama bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional menjadi salah satu fokus utama untuk mempersiapkan peserta didik sebagai generasi masa depan yang peka dan tanggap terhadap tuntutan era revolusi industri 4.0 yang menitikberatkan pada prinsip interkoneksi dan intergrasi antara teknologi dan manusia, serta prinsip transparansi informasi untuk mendesentralisasikan keputusan atau inovasi. Dengan kata lain, pepatah yang mengatakan bahwa “Mastering a certain language is a perfect key to hold the world” menjadi benar adanya.

Lebih lanjut lagi, pada dasarnya dalam pembelajaran bahasa, terdapat beberapa kompenan utama yang saling berkaitan dan mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam menguasai sebuah bahasa yakni language/culture, learners/learning, dan teacher/teaching, [1]. Hal ini berarti bahwa pembelajaran bahasa tidak bisa terpisahkan dari hakekat bahasa itu sendiri sebagai sarana komunikasi dan interaksi dalam kehidupan.

Pertama, Komponen Bahasa dalam kaitannya dengan eksistensi Budaya. Karakteristik bahasa yang cenderung dinamis dan kontektual seyogyanya menjadi fokus utama dalam upaya penguasaan bahasa. Sebagai contoh, kosa kata (vocabulary) dalam bahasa Inggris berkembang seiring masifnya penggunaan internet. Kata “clicktivism” merujuk pada makna “The use of social media and internet to promote social causes” (Cambridge English). Selain itu, masyarakat lebih terbiasa mengucapkan kata “upload” daripada “unggah” yang memiliki makna sama dalam bahasa Indonesia. Kedua, seseorang yang mempelajari bahasa atau dalam hal ini adalah peserta didik. Mereka sebagai objek pendidikan akan tumbuh dan berkembang dalam menggunakan bahasa sesuai dengan bakat dan karakteristik yang melekat pada diri mereka berdasarkan factor genetik maupun lingkungan. Sebagai contoh, ketika seseorang ingin memberikan saran kepada orang lain dengan menggunakan bahasa Inggris, ada yang mengatakan, “I suggest you must go to the hospital right now! ” (keharusan yang absolut menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang tegas), namun ada juga yang menyampaikan dengan bahasa yang lebih santun, “In my opinion,  it is better for you to check your health up as soon as possible!”. Artinya bahwa segala proses pembelajaran bahasa harus mempertimbangkan aspek “kekhasan” peserta didik tersebut guna mencapai tujuan pembelajaran yang lebih optimal. Ketiga, Guru atau Pendidik yang menjadi aktor sentral dalam proses pembelajaran bahasa yang memfasilitasi dan memotivasi agar peserta didik mampu menguasai bahasa baik dalam tataran konsep maupun kontekstual. Dengan kata lain, jika proses pembelajaran bahasa dapat dianalogikan dalam konteks pertanian, maka ia cenderung merupakan sebuah proses “organik”  dari pada suatu proses mekanik.

Lalu apakah proses “organik” tersebut? bagaimanakah itu dilakukan? Layaknya benih tanaman yang tumbuh dan berkembang secara naluriah dan alami, sedemikian juga dengan pembelajaran “organik” dalam konteks bahasa yang berkaitan erat dengan teori kontruktivism. Teori ini berasumsi bahwa belajar merupakan sebuah proses menemukan sesuatu yang bermakna bukan suatu proses mekanik yang hanya untuk mengumpulkan fakta. Dalam proses “organik” ini, benih tersebut diarahkan untuk tidak hanya mampu peka dan beradaptasi dengan lingkungan namun juga mampu “memerdekakan diri” sesuai dengan tuntutan lingkungan dimana ia berada.

Benih tersebut ialah generasi Z atau Digital Natives merupakan generasi yang menjadikan teknologi/media sebagai sebuah sarana eksistensi diri dan cara hidup. Di Indonesia, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet mengungkapkan bahwa pada tahun 2018, sebanyak 171.176.726 (68%) dari 264.161.600 penduduk Indonesia menggunakan internet dan persentase usia pengguna internet tertinggi adalah remaja usia sekolah (15-19 tahun) yakni sebesar 91%.[2] Hal tersebut berimplikasi bahwa Generasi ini memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan menyukai tantangan yang akan menjadikan mereka memiliki self-esteem yang tinggi yakni keterbutuhan akan aktualisasi dan apresiasi dari orang lain.

Selain itu, proses “organik” juga menitikberatkan pada bagaimana para pendidik berusaha untuk melakukan perlakuan (treatments) dan menciptakan lingkungan yang kondusif agar benih tersebut dapat tumbuh dengan secara optimal sesuai dengan ciri khasnya masing-masing. Dalam konteks pembelajaran, sejatinya keberhasilan sebuah metode/pembelajaran tidaklah bersifat mutlak dan dapat digeneralisir pada konteks lingkungan yang lain (cloning system). Misalnya, bisa jadi metode Jigsaw yang cocok diterapkan di sebuah kelas tertentu akan menunjukan hasil yang sama jika diterapkan di kelas lain walaupun masih dalam lingkup sekolah yang sama. Hal tersebut berarti bahwa perlu adanya pemuktahiran dan inovasi metode/media yang kontinu dan aplikatif sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan maksimal.

Selanjutnya, dalam implementasi proses organik terutama pada pembelajaran bahasa menitikberatkan pada tiga aspek utama yakni pembelajaran kontekstual, linearitas dan inovasi.

Pertama, Pembelajaran Kontekstual. Istilah “kontekstual” merujuk pada dua poin utama: a) language input as an effort for carrying capacity; yaitu sumber materi yang berfungsi sebagai stimulus dalam pembelajaran bahasa yang diperoleh dari fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar, dengan kata lain, peserta didik diharapkan mampu mengkontruk pemahaman, menganalisa, menyimpulkan dan mensintesiskan fenomena tersebut dan menjadikannya sebagai bahan belajar yang otentik dan b) Dimensi aplikasi dari hakekat bahasa sebagai sarana komunikasi. Artinya peserta didik tidak hanya memahami aspek teoritis-konseptual (pengetahuan) seperti tata bahasa saja namun juga bagaimana mereka mampu menerapkan dan mengkomunikasikannya dalam aspek aplikatif-kontekstual (keterampilan) sesuai dengan konteks budaya/kearifan lokal lingkungan. Dengan kata lain, pembelajaran kontekstual ini dapat terejawantahkan dalam metode pembelajaran Contextual Teaching Learning dan Experience Based Learning misalnya mereka diberikan kesempatan untuk mengeksplor kearifan lokal daerah mereka berupa makanan khas yang kemudian didemonstrasikan dalam bentuk cooking contest dan hasilnya diunggah secara online.

Kedua, Linearitas.Each bean has its own skin” bahwa setiap peserta didik memiliki kemampuan dan  karakteristik yang berbeda-beda. Layaknya benih tanaman yang terus tumbuh dan berkembang, peserta didik dalam proses “organik” juga akan terus mengalami fluktuasi skill dan motivasi sesuai dengan “ciri khas” nya masing-masing. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran bahasa seyogyanya mempertimbangkan dan memfasilitasi aspek linearitas peserta didik sehingga mereka mampu mencapai “merdeka belajar” yakni kebebasan dalam mengakses dan mengaktualisasikan ide-ide kreatif guna menguasai bahasa itu sendiri secara otonom. Walaupun gen Z cenderung menyukai sesuatu yang instan namun mereka akan terdorong untuk mengekplorasi secara aktif segala sesuatu yang membuat mereka tertarik dan nyaman. Hal inilah yang menjadi titik pertimbangan utama ketika seorang pendidik akan merancang proses pembelajaran bahasa, misalnya dengan menyediakan teks-teks yang popular (newest and viral issues), mengikutsertakan mereka secara langsung dalam mendapatkan stimulus yang baru dan otentik tentang penggunaan bahasa serta mengkomunikasikannya dalam kegiatan role play atau sebuah pameran (English Expo).

Ketiga, Inovasi. Tantangan era 4.0 yang semakin kompetitif dan dinamis menuntut peserta untuk “merdeka” dalam proses belajar dan juga berinovasi. Hal tersebut berarti bahwa peserta didik diarahkan untuk menciptakan ide-ide brilian yang disaripatikan dari sebuah pengalaman dalam pengaplikasian bahasa ataupun sebuah proses konstruksi kesimpulan dari fenomena yang terjadi. Ide tersebut tidak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan saat ini namun juga antisipasi terhadap keadaan di masa depan yang belum dapat diprediksikansecara rinci. Sebagai contoh, pada kegiatan cooking contest, peserta didik diberi kesempatan untuk berinovasi mengkreasikan resep makanan tradisional yang kekinian dan mempromosikannya kepada khalayak baik secara online maupun offline.

Dengan demikian, RI-4.0 tidak hanya menjadi tantangan namun juga manfaat yang cukup signifikan dalam proses “organik” pembelajaran bahasa terutama bahasa Inggris. Internet yang begitu “lekat” dengan gen Z dapat menjadi media pembelajaran bahasa yang efektif dan aplikatif, walaupun dalam teknis pemanfaatanya masih perlu pendampingan dan juknis yang rinci dan terarah sehingga peserta didik dapat menguasai baik pengetahuan maupun keterampilan bahasa yang mumpuni guna menyongsong era RI-4.0 di masa depan.

Referensi:

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (2018). Penetrasi dan Perilaku Penggunaan Internet Indonesia 2018. Diunduh dari https://apjii.or.id/content/read/39/410/Hasil-Survei-Penetrasi-dan-Perilaku-Pengguna-Internet-Indonesia-2018

Larsen-Freeman, D and M. H. Longs. (1999). An Introduction to Second Language Acquisition Research. New York:Longman.

Fauziati, Endang. (2009). Readings on Applied Linguistics: A Handbook for Language Teachers and Teaching. Surakarta: Era Pustaka Utama

Palindungan Pardede (2019). Menjadi Guru Zaman Now & Cara Pembelajaran Siswa Memasuki Era Industri 4.0. Conference Paper.


[1] Larsen-Freeman, D and M. H. Longs. 1999. An Introduction to Second Language Acquisition Research. New York:Longman. Hal. 3

[2] Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (2018). Penetrasi dan Perilaku Penggunaan Internet Indonesia 2018. Diunduh dari https://apjii.or.id/content/read/39/410/Hasil-Survei-Penetrasi-dan-Perilaku-Pengguna-Internet-Indonesia-2018 dalam Palindungan Pardede (2019). Menjadi Guru Zaman Now & Cara Pembelajaran Siswa Memasuki Era Industri4.0.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.