Produk Rekayasa Genetik pada Tanaman Pertanian dan Regulasinya Di Indonesia

0

Oleh : Agitha Apriliana Putri
Program Studi Biologi (Bioteknologi) -Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Al Azhar Indonesia
Email : Agithaapriliana20@gmail.com

Di zaman ini bioteknologi banyak diterapkan dalam berbagai aspek meliputi bidang pangan, pertanian, peternakan, kedokteran, maupun farmasi. Namun, bioteknologi pangan menjadi bahasan yang perlu dikaji lebih mendalam sebagai upaya pemenuhan kebutuhan manusia akan bahan pangan. Semakin berkembangnya bioteknologi memunculkan beberapa bahan pangan yang berasal dari produk hasil rekayasa genetika (Faridah & Silvia, 2019). Menurut Sutarno (2016), rekayasa genetika dalam bioteknologi modern menggunakan teknologi rekombinasi DNA dengan teknik tertentu untuk memotong, menyisipkan, maupun menyusun kembali fragmen-fragmen DNA. Teknologi ini berperan dalam menghasilkan varietas tanaman yang unggul dan memiliki produktivitas tinggi. Mikroorganisme bakteri digunakan sebagai agen pembawa gen. 

Produk Rekayasa Genetika (PRG) 

Produk Rekayasa Genetika merupakan organisme yang gen–gennya telah diubah dengan  menggunakan teknik  rekayasa genetika (Prianto & Swara, 2017). Rekayasa genetika merupakan sebuah proses pengubahan DNA suatu organisme yang dilakukan dengan menggabungkan DNA dari dua spesies yang berbeda. Keunggulan rekayasa genetik adalah mampu memindahkan materi genetik dari sumber yang sangat beragam dengan ketepatan tinggi dan terkontrol dalam waktu yang lebih singkat (Sutarno, 2016). 

Tanaman pertanian hasil rekayasa genetika diklasifikasikan berdasarkan pada struktur dan strategi yang digunakan dalam merekonstruksi transgenik, digolongkan menjadi 4 generasi (Prianto & Swara, 2017). Pada klasifikasi generasi pertama atau satu sifat, tanaman mengandung elemen transgenik yang umum digunakan. Digenerasi kedua transgenik, tanaman biasanya merupakan hasil persilangan antara generasi pertama yang komersial. Generasi ketiga, tanaman disebut sebagai near-intragenics yang elemen transgenik tidak digunakan dalam tanaman transgenik lain dan generasi keempat merupakan tanaman yang digolongkan dalam intragenik dan cisgenik. Padi Bt tahan penggerek batang, pepaya tahan penyakit papaya ringspot virus, jagung Bt dan kapas Bt tahan hama Lepidoptera, kedelai toleran herbisida, tomat Flavr Savr dengan penundaan kemasakan buah, Golden rice yang mengandung beta carotene dalam endosperma dan  pisang penghasil vaksin merupakan contoh keberhasilan dari penerapan teknologi  rekayasa genetika (Estiati & Herman, 2015)

Regulasi Produk Rekayasa Genetik di Indonesia

Di tahun 1998, 28 ha tanah ditanami tanaman transgenik di seluruh dunia dimana 74% berada di Amerika 15% lainnya berada di Argentina. Namun di Indonesia sendiri, adanya Produk Rekayasa Gentetika menimbulkan tiga kondisi yang cukup dikhawatirkan yakni adanya reaksi alergi (alergisitas), transfer gen, dan outcrossing. Peraturan perundang-undangan tentang keamanan hayati yaitu, disahkannya Konvensi Keanekaragaman Hayati (KKH) dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994. KKH ini mengatur ketentuan mengenai keamanan penerapan bioteknologi modern di dalam  klausul Pasal 8 huruf (g), Pasal 17, dan Pasal 19 ayat (3) dan ayat (4) yang mengamanatkan diterapkannya suatu Protokol di dalam KKH untuk mengatur pergerakan lintas batas, penanganan, dan pemanfaatan Produk Rekayasa Genetik (PRG) sebagai produk dari bioteknologi modern untuk mengantisipasi masalah yang mungkin terjadi di masa mendatang. Salah satunya yang mengharuskan produk bioteknologi pertanian hasil rekayasa genetik (PBPHRG) diuji terlebih dahulu sebelum dipasarkan. Pengujian dilakukan secara bertahan di fasilitas uji terbatas (biosafety containment) mulai dari tingkat laboratorium, rumah kaca hingga lapangan terbatas

Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2005 mengatur tentang pengawasan, keamanan serta regulasi dari produk rekayasa genetika. Peraturan ini mengatur dalam hal jenis dan persyaratan produk rekayasa genetika (PRG), penelitian dan pengembangan produk rekayasa genetika, pemasukan produk rekayasa genetika dari luar negeri, pengkajian, pelepasan dan peredaran serta pemanfaatan produk rekayasa genetika pengawasan dan pengendalian produk rekayasa genetika kelembagaan, dan pembiayaan. Pada pasal 6, mengatur persyaratan keamanan lingkungan yang perlu dipenuhi, di antaranya: deskripsi dan tujuan penggunaan, perubahan genetik dan fenotipe yang diharapkan harus terdeteksi, identitas jelas mengenai taksonomi, fisiologi, dan reproduksi PRG, organisme yang digunakan sebagai sumber gen harus dinyatakan secara jelas dan lengkap, metode rekayasa genetika yang digunakan mengikuti prosedur baku yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, serta karakterisasi molekuler PRG harus terinci dengan jelas, ekspresi gen yang ditransformasikan ke PRG harus stabil dan mencantumkan cara pemusnahan yang digunakan bila terjadi penyimpangan.

Referensi

Estiati A, M Herman. 2015. Regulasi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik Di Indonesia. Analisis Kebijakan Pertanian Vol 13 (2): 129-14.

Faridah HD, Silvia KS. 2019. Pemanfaatan Mikroorganisme Dalam Pengembangan Makanan Halal Berbasis Bioteknologi. Journal of Halal Product and Research Vol 2(1) : 33-43.

Mahrus. 2014. Kontroversi Produk Rekayasa Genetika Yang Dikonsumsi Masyarakat. Jurnal Biologi Tropis. Vol. 14(2):108-119.

Prianto Y, Swara Y. 2017. Tanaman Genetically Modified Organism (GMO) dan Perspektif Hukumnya Di Indonesia. Journal of Biology 10(2): 133-142

Sutarno. 2016. Rekayasa Genetik dan Perkembangan Bioteknologi Di Bidang Peternakan. Proceeding Biology Education Conference Vol 13(1): 23-27.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.