Plastisin Sebagai Solusi Hospitalisasi Anak Pra Sekolah

0

Oleh: Alfian Konadi*

Hospitalisasi pada Anak Pra Sekolah

Anak usia prasekolah merupakan anak yang mempunyai rentang usia 3 hingga 6 tahun1. Pada masa usia prasekolah aktifitas anak yang meningkat menyebabkan anak sering kelelahan dan rentan terserang penyakit serta akibat daya tahan tubuh yang lemah, hingga anak diharuskan untuk menjalani hospitalisasi2. Hospitalisasi pada anak merupakan proses yang terjadi karena suatu alasan yang berencana ataupun darurat, sehingga mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali kerumah. Hospitalisasi ialah salah satu penyebab stres baik pada anak maupun keluarganya, terutama disebabkan oleh cemas akibat perpisahan dengan keluarga, perlukaan tubuh dan rasa sakit (nyeri), serta kehilangan kendali2.

Berbagai respon akan diperlihatkan oleh anak, diantaranya banyak anak menolak saat menjalani perawatan dirumah sakit karena harus menyesuaikan diri dengan lingkungan rumah sakit yang asing, apalagi menjalani rawat inap dalam jangka waktu yang lama3,4. Peralatan medis yang terlihat bersih dan prosedur medis dianggap akan menyakitkan dan membahayakan karena dapat melukai bagian tubuhnya. Hal inilah yang dapat menimbulkan terjadinya kecemasan anak5.

Anak usia prasekolah biasanya mengalami separation anxiety atau kecemasan perpisahan karena anak harus berpisah dengan lingkungan yang dirasakannya aman, nyaman, penuh kasih sayang, dan menyenangkan seperti lingkungan rumah, permainan, dan teman sepermainannya6,7. Kecemasan terbesar pada anak usia prasekolah selama menjalani hospitalisasi adalah kecemasan terjadinya perlukaan pada bagian tubuhnya. Hal ini disebabkan karena keterbatasan pemahaman anak mengenai tubuh.

Prevalensi untuk kecemasan anak pada saat hospitalisasi mencapai 75%8. Berdasarkan data Survei Kesehatan Nasional (SUSENAS) tahun 2014 diperkirakan 35 per 100 anak menjalani hospitalisasi dan 45% diantaranya mengalami kecemasan9. Berdasarkan hasil studi awal yang telah penulis lakukan diruangan Lili infeksi RSUD Arifin Achmad tahun 2018 terhadap kecemasan anak, didapatkan bahwa anak prasekolah yang sedang menjalani perawatan cenderung mengalami kecemasan dan memiliki tingkat kecemasan yang berbeda-beda, tergantung dari efek hospitalisasin yang dialami.

Anak dengan tahap tumbuh kembang usia sekolah lebih mudah mengalami kecemasan, karena semakin muda usia anak semakin sulit bagi anak untuk beradaptasi sesuatu yang baru menurut anak. Seorang anak yang pernah dirawat sebelumnya akan membuat anak terhindar dari efek hospitalisasi, yaitu kecemasan. Hal ini juga tergantung dari bagaimana pengalaman anak tersebut dan tingkat keparahan anak dalam menjalani perawatan. Saat penulis melakukan studi lanjut dengan memberikan perlakuan berupa terapi bermain plastisin kepada anak yang sedang menjalani perawatan selama 2 hari, penulis menemukan tingkat kecemasan anak yang bervariasi, mulai dari ringan hingga tinggi. Tetapi setelah diberikan perlakukan dihari pertama dan kedua didapatkan hasil kecemasan anak mengalami penurunan dari hari pertama ke hari kedua.

Kecemasan yang dialami oleh anak diakibatkan dari kontak antara anak yang sedang menjadi pasien dengan tenaga kesehatan, tindakan medis seperti pemberian obat injeksi, pengambilan sampel darah, dan pemasangan infus, selain itu faktor lingkungan baru yang memaksa anak agar dapat beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit dan berpisah dengan lingkungan awalnya.

Kecemasan yang terjadi pada anak tidak dapat dibiarkan, karena hal ini dapat berdampak buruk pada proses pemulihaan kesehatan anak. Dalam mengatasi kecemasan ini salah satu hal yang dapat dilakukan ialah melalui terapi bermain. Terapi bermain yang tepat pada usia prasekolah ialah yang memiliki manfaat selain untuk kebutuhan bermainnya juga dapat mengembangkan kemampuan motorik kasar dan halus yang lebih matang dari anak usia toodler10. Salah satu permainan skill play adalah bermain lilin. Bermain lilin biasa disebut juga plastisin atau playdough, dan permainan ini merupakan jenis permainan clay. Terapi bermain dengan menggunakan lilin (plastisin) sangat tepat karena lilin tidak membutuhkan energi yang besar untuk bermain, permainan ini juga dapat dilakukan di atas tempat tidur anak, sehingga tidak mengganggu dalam proses pemulihan kesehatan anak11.   

Terapi Bermain Lilin (Plastisin) solusi mengatasi Kecemasan Anak yang Mengalami Hospitalisasi

Jika kita mempertanyakan apakah terapi bermain lilin (plastisin) memiliki efek terhadap penurunan tingkat kecemasan anak pra sekolah yang mengalami hospitalisasi ? Maka secara ilmiah dapat penulis katakan bahwa terapi lilin memiliki pengaruh terhadap penurunan kecemasan anak. Aktivitas bermain pada anak dapat mengurangi tekanan pada anak, salah satunya adalah stress pada anak akibat lingkungan sekitar. Sehingga dengan adanya aktivitas bermain akan membuat anak mengekspresikan emosi yang ada kedalam permainan tersebut.

Terapi bermain lilin (plastisin) dapat menurunkan kecemasan anak dikarenakan bermain plastisin dapat membantu anak untuk mengekspresikan perasannya melalui kegiatan bermain sehingga anak akan merasakan kenyamanan. Dalam penelitian ini terapi bermain lilin (plastisin) diberikan perlakuan selama 2 kali selama 15-20 menit, perlakuan diberikan dengan bentuk observasi selama 2 hari, sehingga penilaian dapat dilakukan secara objektif dan terukur, karena menurut Potter and Perry bahwa sifat anak bisa berubah-rubah tergantung keinginan hatinya, sehingga peneliti menyimpulkan hal ini akan mampu mempengaruhi hasil pegukuran.1

Tingkat kecemasan anak dapat berubah dalam sewaktu-waktu, dari hasil penelitian yang penulis lakukan dengan metode penelitian sederhana didapatkan bahwa kecemasan tertinggi pada anak sebelum dilakukan perlakukan adalah kecemasan berat (75%), setelah dilakuan perlakuan kecemasan tertinggi pada anak adalah kecemasan sedang (75%). Kemudian setelah diberikan perlakuan kedua dihari yang berbeda tingkat kecemasan anak tertinggi adalah tidak ada cemas (75%).

Perubahan tingkat kecemasan anak didasari oleh sifat dan kondisi anak saat diberikan perlakukan dan saat menerima perlakuan yang diberikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Potter and Perry menyatakan bahwa sifat dan kondisi anak bisa berubah dalam sewaktu-waktu, sehingga mempengaruhi tingkat kecemasan anak.1 Dari hasil penelitian dan teori yang ada penulis dapat berpendapat bahwa tingkat kecemasan anak dapat turun dan tidak akan meningkat kembali setelah diberikan lebih dari sekali perlakuan terapi bermain plastisin, sehingga hasil yang didapatkan akan optimal dalam proses adaptasi anak selama menjalani perawatan dirumah sakit.

Penutup

Hospitalisasi pada anak terutama anak pra sekolah merupakan ancaman besar bagi perkembangan anak, salah satu efek hospitalisasi adalah kecemasan yang diakibatkan karena perubahan lingkungan dan mengharuskan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit. Terapi bermain merupakan sebuah terapi yang optimal dalam mengatasi kecemasan anak, diantaranya adalah terapi bermain lilin atau plastisin. Terapi plastisin dinilai optimal Karena tidak membuat energy anak terkuras, selain itu terapi plastisin juga memiliki pengaruh terhadap penurunan kecemasan anak pra sekolah karena bermain plastisin sesuai dengan imajinasi dan kreasi anak itu sendiri. Sehingga akan membuat anak nyaman dan mudah beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit.

Referensi

  1. Potter, P, A., & Perry, A, G. (2010). Fundamentals of nursing : fundamental keperawatan, edisi 7 Buku 2, Jakarta: Salemba Medika
  2. Nursalam, Susilaningrum, R., & Utami, S. (2008). Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (untuk perawat dan bidan). Jakarta: Salemba Medika.
  3. Astarani, K., & Sukoati, S. (2013). preschool children, coping mecanism, coloring play activities, hospitalization. Jurnal Penelitian STIKES Kediri, 5(2), 223-235.
  4. Handayani, R. D., & Puspitasari, N. P. D. (2010). Pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kooperatif selama menjalani perawatan pada anak usia Pra sekolah (3–5 tahun) di rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta. Jurnal Kesehatan Surya Medika Yogyakarta.
  5. Alfiyanti, D., Hartiti, T., & Samiasih, A. (2012). Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekotah Setama Tindakan Keperawatan Di Ruang Tukman Rumah Sakit Roemani Semarang. FIKkeS, 1(1).
  6. Adiningsih, F., & Purwandari, H. (2006). Hubungan antara dukungan informasional dengan kecemasan perpisahan akibat hospitalisasi pada anak usia prasekolah. Jurnal Keperawatan Soedirman, 1(1), 20-26.
  7. Dayani, N. E. E., Budiarti, L. Y., & Lestari, D. R. (2015). Terapi bermain clay terhadap kecemasan pada anak usia prasekolah (3-6 tahun) yang menjalani hospitalisasi di RSUD Banjarbaru. Dunia Keperawatan, 3(2), 1-15.
  8. Fradianto, I. (2014). Pengaruh terapi bermain lilin terhadap penurunan tingkat kecemasan pada anak usia prasekolah yang mengalami hospitalisasi di RSUD dr. Soedarso pontianak. ProNers, 1(1).
  9. Alini, A. (2017). Pengaruh terapi bermain plastisin (playdought) terhadap kecemasan anak usia prasekolah (3-6 tahun) yang mengalami hospitalisasi di ruang perawatan anak RSUD Bangkinang tahun 2017. Jurnal Ners, 1(2), 1-10.
  10. Supartini, Y. (2012). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.
  11. Ngastiyah. Perawatan anak sakit. Edisi 2 Jakarta: EGC, 2005

*Penulis adalah Staff Laboratorium bidang Teknisi Laboratorium Fakultas Keperawatan Universitas Riau

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.