NOTULEN KULIAH ONLINE : MENGENAL WAJAH BARU PENDIDIKAN INDONESIA

0

Minggu, 15 Desember 2019

Pukul 20.00-21.30 WIB

Presented by:

Bidang Pendidikan ISNet

IG: @isnetofficial

FB: Isnet Id

Pembicara:

Dr. Sri Susanti Tjahya Dini, M.Pd.

Dosen Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Moderator:

Rena Kinnara Arlotas, M.Psi, Psikolog

Psikolog Pendidikan

Dosen Prodi Psikologi Islam UIN Imam Bonjol Padang

Notulis:

Dwi Wulandari, M.Pd., M.A.Ed.

Dosen PSR Universitas Negeri Yogyakarta

MATERI DARI PEMBICARA DAPAT DIDONLOAD DI:

https://drive.google.com/drive/folders/1CStQTGKAjVQQQH7gKvWhMFe0Ve_LM7I5?usp=sharing

Opening dari Moderator:

Mengenai wajah pendidikan Indonesia, banyak hal yang menjadi sorotan masyarakat. Mulai dari permasalahan murid, guru, sapras, ujian akhir, dan sebagainya. Di samping permasalahan, tentu kita juga ingin mengalihkan perhatian kita ke prestasi murid-murid. Banyak juga yang tetap bisa mengukir prestasi meski mengalami berbagai kondisi yang tampaknya kurang mendukung. Ada pula harapan-harapan baru yang dinanti-nanti masyarakat berkaitan dengan dunia pendidikan kita.

Bagaimana Ibu memandang kondisi ini?

Ibu Santi Tjahjadini:

Pendidikan sebagai sebuah sistem tentu memiliki indicator-indikator ketercapaian dan juga membutuhkan masukan antara lain dari masyarakat sebagai bahan evaluasi.

Ditambah lagi indicator-indikator capaian global yang juga menjadi bagian dari ukuran keberhasilan.

Sehingga memang akan ada hal yang butuh diapresiasi dan ada juga yang harus segera ditangani.

Di era saat ini, perubahan terjadi hmpir di semua sektor kehidupan termasuk juga di pendidikan. Change takes hold. Jika kita tidak juga bersegera untuk berubah maka akan tertinggal. Karena dunia berubah cepat dan yang tidak bersegera akan tertinggal. Kurikulum selalu berubah. Apakah diikuti juga dengan kompetensi SDMnya.

Jenis layanan pendidikan juga sudah banyak pilihan saat ini.

Perubahan tidak selalu berarti menghasilkan produk baru.

Kepedulian dimulai dari self distruption yaitu kepedulian dan kesadaran utk menciptakan perubahan dan kemajuan melalui cara-cara baru.

Sistem perlu dievaluasi bukan berarti sebelumnya tidak ada inovasi.

Msh banyak guru-guru yang berprestasi dan berdedikasi tinggi. Banyak juga sekolah-sekolah yang sudah dapat membahagiakan murid-murid yang belajar di sana.

Ragam layanan pendidikan yg memberi keleluasaan pada masyarakat untuk memilih. Ada pendidikan formal, pendidikan non formal, vokasional. Masyarakat juga harus dicerahkan dengan wawasan tentang jenis-jenis layanan pendidikn ini. Karena ini pilihan yang sangat bias disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Guru-guru harusnya juga bersemangat membekali siswanya dengan keterampilan yang dibutuhkan di abad 21 ini yaitu writing skill, technology skills, adaptability , determination and imagination serta kemampuan untuk self educate.

Sesi Tanya Jawab:

#1 Dari: Muhammad Januari – Mahasiswa Universitas Tribakti

Bagaimana pandangan narasumber tentang pernyataan: “Setiap ganti menteri, wajah pendidikan di Indonesia juga berganti atau berubah?”

Ibu Santi Tjahjadini:

Hehe… Betul… Memang ada istilah tersebut ya.

Kalau dulu memang kita boleh memandangkan perubahan sebagai sebuah rutinitas, tapi di era distrupsi sekarang ini dimana perubahan adalah keniscayaan maka mind set kita tentang perubahan juga harus bergeser.

Kita harus ikuti kronologinya, agar tahu hal penting yg berubah itu apa? Hal baru (inovasi)nya? Atau produk lama yang di perbaiki (iteracy)?

Kalau saya melihatnya demikian dari konteks era distrupsi ini.

Changing curriculum means changing your mind.

#2 Dari: Farida _ Guru SD kelas 5

1. Sebagai guru, mana yang harus saya prioritaskan antara karakter dulu yang saya benahi atau pengetahuan dulu yang saya kejar? Saya yakin idealnya adalah dua-duanya berjalan beriringan namun nyatanya sangat sulit dan anak-anak jaman sekarang daya juangnya sangat rendah inginnya serba instan.

2. Menghadapi situasi yang seperti ini, senjata apa yang seharusnya dibekalkan ke siswa sejak sekolah dasar agar berhasil di masa depan?

Ibu Santi Tjahjadini:

Salam hormat saya utk bu Farida 🙏

Mari membangun lingkungan yang bisa saling support. Kolaborasi adalah kata kunci di era ini. Ada kelas yang kita kelola bersama team teaching misalnya. Definisikn apa saja yang menjadi kebutuhan terkait pembentukan karakter. Ada orang tua juga yang mmenjadi partner guru dalam mendidik anak. Ada profesional juga yang bisa dilibatkan untuk wawasan pengasuhan dan lain-lain. Petakan semua dukungan yang bisa kita gandeng. Sehingga walaupun kecil tapi perubahan itu menghasilkan progres.

Kedua, dampingi siswa-siswa kita sesuai dengan tugas tumbuh kembangnya. Beri kesesuain aktivitas sesuai dengan yang dibutuhkannya. 4 domain fisik motorik, bahasa, sosial emosi dan kognisi harus mendapat stimulasi yang sesuai dengan usianya. Tuntas Tugas tumbuh kembang adalah modal yang harus kita rawat.

#3 Dari: Adilah Hasna

Setelah membaca materi Pdf yang dipaparkan di atas saya memandang indicator-indikator yang harus diperbaiki dari sistem pendidikan tersebut sangat menjanjikan untuk masa depan pendidikan di Indonesia. Terlebih kita hidup di zaman dimana teknologi berubah dengan cepat. Namun yang saya tanyakan, bagaimana caranya agar indicator-indikator tersebut juga dapat tersampaikan serta dilaksanakan dengan baik pula di wilayah 3T yang notabene daerah-daerah tersebut memiliki problematika yang lebih kompleks dibanding daerah perkotaan yang modern dan tentu saja selalu update dengan sistem perkembangan pendidikan di Indonesia?

Ibu Santi Tjahjadini:

Salam hormat saya untuk seluruh guru yang mengabdi di daerah 3T 🙏

Tentu ini harus menjadi bagian yang juga mendapat perhatian serius. Daerah yang tidak ada kendala informasi saja ketika lambat merespon maka akan jadi yang tertinggal, apalagi daerah yang memiliki problematika lebih kompleks tentu harus dengan prioritas yang berbeda.

Pemerintah juga harus memiliki data/pemetaan kondisi daerah yang valid sehingga guru-guru di sana akan dilengkapi dengan kompetensi tambahan serta skill khusus yang bisa digunakan di tempat tersebut. Misalnya tentang alat komunikasi yang sesuai, transportasi dan lain-lain.

Pendekatan antara departemen tentu dibutuhkan. Guru idealnya juga bisa tergabung dalam sebuah komunitas atau networking guru dengan daerah terdekat dan ada jadwal yang bisa digunakan untuk menambah wawasan secara streaming misalnya.

Closing statement Ibu Santi Tjahjadini:

Terimakasih sahabat ISNet semuanya. Mari kita berkolaborasi untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Mainkan dan optimalkan peran kita masing-masing. Guru, dosen, orang tua, mahasiswa dan siswa untuk Indonesia Maju dan menjadi SDM-SDM yang unggul. Terimakasih semuanya. Mohon maaf bila ada hal yang kurang berkenan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.