Menstimulasi Kreativitas Anak Lewat Pembelajaran Yang Open-Ended

0

Oleh: Dwi Wulandari, S.Pd., M.A.Ed.

Di era revolusi industri 4.0 ini, manusia dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks dan variatif dengan kompetitor yang tak hanya sesama manusia tetapi juga mesin dan artificial intelegency lainnya. Terkait hal ini, salah satu kemampuan penting dianggap dapat menjadi senjata utama manusia untuk dapat mempertahankan eksistensinya adalah kemampuan pemecahan masalah secara kreatif. Manusia harus mampu menciptakan berbagai kemungkinan di segala bidang, mencetuskan hal-hal unik yang tidak bisa digantikan oleh robot tercerdas sekalipun. Hingga akhirnya, kreativitas bukan lagi kemampuan istimewa para seniman atau saintis saja, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari semua orang agar mampu menjadi individu yang produktif dan independen.

Bagi dunia pendidikan, pertanyaan terbesar mungkin adalah bagaimana membentuk kreativitas ini dalam diri peserta didik. Perdebatan mendasar masih terus berjalan. Para pakar terus mencari kebenaran atas pertanyaan-pertanyaan: benarkah kreativitas dapat diajarkan? Ataukah kreativitas dapat berkembang sendiri di luar intervensi manusia? Ataukah justru kreativitas merupakan bakat alami yang diberikan oleh Tuhan hanya kepada orang-orang ‘terpilih’ saja? Meski ada beragam argumen dari yang paling membuat pesimis hingga hiper-optimistic, jawaban yang mungkin paling tepat bagi praktisi pendidikan adalah pendapat bahwa setiap peserta didik memiliki potensi untuk menjadi kreatif. Anggapan ini dapat mendorong para praktisi pendidikan untuk menciptakan kondisi pendidikan yang berkeadilan, sehingga setiap siswa dapat merasakan dampak dari setiap gagasan dan temuan baru di bidang pendidikan. Khususnya dalam wacana pengembangan kreativitas ini, setiap peserta didik memiliki hak yang sama untuk berkembang dan dikembangkan menjadi insan yang kreatif sehingga mampu berdikari di masa depan mereka masing-masing.

Salah satu pendekatan pembelajaran yang dianggap mampu menumbuhkan kreativitas adalah pendekatan open-ended. Dalam pendekatan ini, siswa dibiasakan untuk berpikir secara fleksibel dan menghasilkan solusi beragam terhadap masalah-masalah baru lewat kondisi  kegiatan belajar mengajar (KBM) dan penyajian masalah atau penugasan yang bersifat terbuka dan dengan mengedepankan pengetahuan, gagasan dan keterampilan siswa sendiri. Pendekatan semacam ini lazim digunakan dalam pendidikan seni dimana peserta didik terbiasa dihadapkan pada tantangan untuk menciptakan karya yang baru dan berbeda, dengan mengembangkan metode dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang dihadapi. Belakangan, pendekatan open-ended mulai banyak dikaji untuk diterapkan dalam pendidikan matematika sebagai upaya untuk menumbuhkan kreativitas dan kemampuan problem solving di bidang matematika yang sebelumnya dianggap terlalu kaku dan tertutup terhadap aspek kreativitas dan inovasi. Melihat perkembangan kajian ini, pembelajaran yang open-ended dianggapmemiliki potensi untuk dapat digunakan di berbagai bidang keilmuan pendidikan selain seni dan matematika.

Bentuk-bentuk keterbukaan dalam pendekatan open-ended, menurut Sullivan et al (2000), terdiri dari tiga aspek penting, yaitu openness in students’ activity, openness in the content, dan openness of interaction between students and the content. Openness in students’ activity berarti aktivitas yang terjadi selama pembelajaran berlangsung merupakan inisiatif siswa sendiri sehingga siswa termotivasi untuk menyelesainkan permasalahan yang disajikan. Openness in the content berarti konten pembelajaran tidak kaku sebagaimana yang ada dalam buku teks saja melainkan bersikap terbuka terhadap kemungkinan untuk generalisasi dan diversifikasi. Openness of interaction between students and the content berarti siswa memiliki kebebasan untuk menerima, mengolah informasi, dan memformulasikan materi pelajaran yang ada untuk memecahkan masalah yang diberikan.

Kondisi pembelajaran yang diciptakan melalui pendekatan open-ended dapat mendorong tumbuhnya inisiatif kreatif siswa. Proses berpikir kreatif terjadi ketika peserta didik memberikan beragam penafsiran terhadap dan dalam merumuskan permasalahan dan kemudian memberikan jawaban alternatif yang berbeda-beda. Ketika peserta didik dihadapkan pada penugasan-penugasan instruksional menggunakan permasalahan terbuka, yang artinya setiap permasalahan memiliki lebih dari satu solusi atau metode penyelesaian, memungkinkan diterimanya berbagai respon siswa terhadap suatu masalah sehingga juga memungkinkan munculnya temuan baru selama pembelajaran berlangsung. Pendekatan pembelajaran yang menitik-beratkan pada proses daripada sekedar hasil ini mengizinkan peserta didik untuk mencetuskan gagasannya sendiri yang unik dan berbeda untuk mencapai solusi tanpa terbelenggu dengan pendapat searah dari guru, buku paket atau pendapat umum.

Dalam pelaksanaannya, pelaksanaan pembelajaran berbasis open-ended bersifat lebih fleksibel terhadap rancangan pembelajaran yang telah dibuat. Rangkaian aktivitas belajar tidak benar-benar mengikuti rencana ataupun menghasilkan luaran atau produk yang telah ditetapkan dan ditegaskan dari awal oleh guru. Hal ini dimaksudkan untuk memberi ruang bagi siswa mencetuskan gagasan baru baik yang telah maupun tidak diprediksi sebelumnya. Hal ini yang membedakan pendekatan open-ended dengan pendekatan closed-ended atau lessons with pre-specified learning outcomes. Dalam pendekatan closed-ended, pembelajaran atau penugasan cenderung merujuk pada satu jawaban atau strategi penyelesaian yang biasanya dianggap sebagai kebenaran umum sehingga dijadikan target capaian materi yang harus dipahami siswa. Dalam pendekataan dimana keputusan guru sangat ketat seperti ini, siswa kurang didorong untuk mengeksplorasi kemampuan dan gagasannya sehingga kurang efekif dalam membangun kecakapan kreatifnya.

Contoh kasus yang menunjukkan kelemahan perndekatan closed-ended learning ditunjukkan oleh riset yang dilakukan oleh Bernadi (2017). Menganalisis hasil tes matematika peserta didik di kelas IV SD yang mendapat pembelajaran konvensional close-ended, ditemukan bahwa siswa cenderung mengerjakan soal matematika dengan satu cara sebagaimana yang diajarkan oleh guru atau contoh soal yang terdapat di buku teks. Salah satu penyebab yang mungkin adalah siswa terbiasa dikondisikan untuk menyelesaikan masalah menggunakan satu cara atau mencari satu jawaban yang dianggap paling benar. Proses pemecahan masalah yang dikerjakan secara prosedural dan menitik-beratkan pada kemampuan menghapal seperti ini cenderung menghalangi proses penalaran dan berpikir kritis peserta didik. Ketika dihadapkan pada bentuk permasalahan lain, peserta didik akhirnya cenderung mengalami kesulitan untuk memecahkannya. Lemahnya pembelajaran kontekstual seperti ini dapat menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan, dimana siswa tidak mampu menghubungkan apa yang mereka pelajari di kelas dengan permasalahan-permasalahan beragam yang ada di dunia nyata.

Pembelajaran open-ended diharapkan dapat menanggulangi permasalahn di atas. Dalam pembelajaran open-ended, peserta didik dibiasakan untuk menghadapi situasi terbuka yang memungkinkan beragam tanggapan dan beragam solusi. Siswa dibiasakan untuk memikirkan berbagai kemungkinan jawaban untuk setiap permasalahan yang dihadapi. Melalui situasi belajar yang terbuka, peserta didik memperoleh kebebasan dalam mengekspresikan diri dan mengkomukasikan gagasan hasil pemikirannya masing-masing tanpa terbebani maupun terbatasi oleh satu cara atau satu jawaban atas suatu permasalahan. Situasi belajar seperti inilah yang akan menjadi tanah subuh bagi benih-benih kreativitas untuk tumbuh, yang pada akhirnya diharapkan mampu menciptakan generasi emas yang siap menjadi kreator dan inovator di era revolusi industri 4.0.

Referensi:

Bernadi, R. M. A. (2017) Peningkatan kreativitas siswa kelas IV SD melalui pembelajaran tematik integratif dengan pendekatan open-ended. Jurnal Prima Edukasia, 5(1), 91-101.

Sullivan, P., Warren, E., & White, P. (2000) Students’ responses to content specific open-ended mathematical tasks. Mathematics Education Research Journal, 12(1), 2-17.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.