Mengoptimalkan Hasil Belajar Anak

Oleh: Rena Kinnara Arlotas (Psikolog Pendidikan, Staf Pengajar Program Studi Psikologi Islam UIN Imam Bonjol Padang)

0

Setiap orang tua menginginkan agar anaknya dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Untuk itu, biasanya orang tua akan melakukan berbagai hal yang dapat menunjang hasil belajar anaknya. Misalnya mencari guru privat, memberi jam belajar tambahan di lembaga-lembaga les atau bimbingan belajar, dan sebagainya.

Begitu juga dengan guru di sekolah. Guru berharap agar anak didiknya mampu memahami pelajaran yang disampaikan dan mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan hasil yang optimal. Namun tidak jarang guru dan orang tua mengeluhkan kondisi anak yang tampaknya belum mampu mencapai target yang diharapkan. Terkadang anak sulit untuk memahami pelajaran yang disampaikan guru, tidak mampu menyelesaikan tugas sesuai dengan hasil yang diharapkan, bahkan terdapat anak yang sama sekali tidak mau mengikuti pelajaran.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya. Secara umum, faktor-faktor tersebut dapat dibagi menjadi 2, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak, misalnya kecerdasan, perkembangan fisik, minat, dan gaya belajar. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri anak, misalnya strategi mengajar guru, kondisi lingkungan belajar, pengaruh teman, dan sebagainya.

Anak yang memiliki taraf kecerdasan rata-rata akan menunjukkan kemampuan belajar yang berbeda dengan anak yang memiliki taraf kecerdasan di bawah rata-rata. Jika menemukan anak yang tampaknya sulit memahami pelajaran, maka mungkin saja penyebabnya adalah kondisi kecerdasan anak yang berada di bawah rata-rata. Menghadapi kondisi ini, sebaiknya orang tua dan guru tidak memaksa anak untuk mampu menyelesaikan tugas yang diberikan, beri waktu yang lebih bagi anak untuk memahami pelajaran, gunakan metode yang menarik, kemudian orang tua dan guru dapat mendiskusikan sistem pendidikan yang tepat untuk anak. Misalnya dengan memberi kelas tambahan.

Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah perkembangan fisik anak. Perhatikan apakah terdapat masalah pada fungsi penglihatan, pendengaran atau pergerakan anak. Adakalanya anak yang mengalami hambatan dalam penglihatan tidak mampu menyelesaikan tugas karena tidak mampu melihat dengan jelas materi-materi yang ditulis di papan tulis atau yang terdapat di buku pelajaran. Begitu juga dengan anak yang mengalami masalah dalam pendengaran, tidak mampu menyelesaikan tugas kemudian dianggap tidak memahami informasi yang disampaikan, padahal Ia tidak mampu memahami karena memang tidak mampu mendengar dengan jelas apa yang disampaikan guru. Perkembangan pergerakan atau motorik juga sangat penting dalam proses belajar anak. Untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah, perkembangan motorik halus yang berhubungan dengan kemampuan menulis mutlak dibutuhkan. Anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan motorik halus dapat merasa kesulitan, lelah, dan pegal pada jari-jari dan pergelangan tangan, sehingga menjadi malas untuk menulis, tidak mau mengerjakan tugas bahkan tidak mau sekolah.

Faktor yang tidak kalah penting adalah minat belajar anak. Setiap anak memiliki kecenderungan minat yang berbeda-beda. Ada anak yang sangat menyukai matematika namun kurang menyukai ilmu sosial, ada anak yang sangat berminat pada seni namun kurang suka matematika, dan sebagainya. Bagaimana menghadapi kondisi ini? Saat ini, dunia kerja menuntut individu yang memiliki skill dalam bidang tertentu, bukan individu yang ahli disegala bidang. Oleh karena itu, bantulah anak untuk mengasah skill-nya agar mampu menjadi ahli untuk bidang yang diminatinya. Boleh saja anak mengikuti les tambahan untuk mata pelajaran yang mendapat nilai buruk, namun jangan lupa untuk tetap mengasah kemampuan anak pada bidang yang diminatinya.

Gaya belajar yang dimiliki anak juga akan mempengaruhi hasil belajarnya. Anak yang memiliki gaya belajar visual akan lebih mampu memahami dengan melihat, memperhatikan, dan menggunakan warna-warna. Semntara anak yang memiliki gaya belajar auditori akan lebih mudah memahami dengan mendengar, melakukan diskusi, menyampaikan sendiri materinya, dan sebagainya. Sementara anak yang memiliki gaya belajar kinestetik akan lebih mudah memahami pelajaran sambil melakukan gerakan-gerakan tertentu. Anak yang memiliki gaya belajar kinestetik akan merasa malas belajar jika dipaksa untuk menggunakan gaya belajar visual. Oleh karena itu, sesuaikan cara belajar anak dengan gaya belajar yang dimilikinya.

Faktor eksternal yang sangat menentukan hasil belajar anak adalah strategi mengajar yang digunakan oleh guru dan orang tua. Anak akan lebih senang belajar jika menggunakan strategi menarik yang dapat memunculkan emosi positif, misalnya dengan nyanyian, eksplorasi alam, kegiatan-kegiatan kreatif, dan sebagainya. Saat anak tampak bosan dan jenuh, guru dapat memberi sedikit waktu bagi anak untuk rileks, misalnya dengan memberikan ice breaker, senam otak yang singkat, dan sebagainya. Jika anak belajar dengan emosi negatif, misalnya perasaan marah atau takut, maka anak tidak akan mampu menyerap informasi dengan optimal. Oleh karena itu, saat mengajar anak, usahakan agar anak sedang tidak merasa takut atau marah.

Kondisi lingkungan belajar juga sangat mempengaruhi hasil belajar anak. Pilihlah lingkungan yang nyaman, bersih, sehat, terhindar dari kebisingan dan gangguan yang akan menghambat proses belajar anak. Misalnya TV, gadget, mainan, suara bising, dan sebagainya. Kontrol juga pertemanan anak, agar teman-temannya adalah teman-teman yang memiliki pandangan positif terhadap belajar. Jika teman-temannya rajin belajar, tentu anak akan terpengaruh juga. Karena pada usia sekolah dasar, kondisi lingkungan eksternal sangat mempengaruhi anak.

Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua dan guru agar hasil belajar anak lebih optimal? Penuhilah faktor-faktor yang telah dipaparkan diatas. Selain itu, belajar juga hendaknya dilakukan berulang-ulang, agar materi yang dipelajari semakin dipahami dan diingat oleh anak. Belajar juga dapat dilakukan sambil bersantai, sambil membahas fenomena kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan pelajaran. Misalnya proses terjadinya hujan, fotosintesis pada tanaman, dan sebagainya. Komunikasi orang tua dan guru juga hendaknya dilakukan secara intensif, untuk menyamakan persepsi antara orang tua dan guru mengenai perkembangan anak. Yang tidak kalah penting, pujilah anak untuk setiap keberhasilan yang diperolehnya. Pujian yang diberikan orang tua diharapkan dapat meningkatkan motivasi anak untuk meningkatkan kualitas kerjanya. Terakhir, senantiasalah berdoa kepada Allah agar membuka dan menjaga hati dan pikiran anak-anak kita sehingga mereka lebih mudah memahami pelajaran dan dapat menjadi generasi cerdas shalih shalihah penerus bangsa.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.