Mengoptimalkan Dampak Positif Keterkaitan Seni dan MIPA Melalui STEAM Education

0

Oleh: Dwi Wulandari, S.Pd., M.A.Ed.

Usulan untuk mengintegrasikan MIPA dengan Seni dalam pendidikan seringkali memunculkan kesanksian. Kedua bidang tersebut selama ini memang dianggap tidak memiliki keterkaitan. Padahal, korelasi antara Seni dan Sains atau MIPA telah menjadi diskusi panjang para pakar. Colombo (1994), Snow (1960), dan Daugherty (2013), misalnya, secara tegas menjelaskan bahwa sebenarnya Seni dan Sains serta teknologi sejak awal memiliki keterkaitan yang sangat dekat. Pemisahan kedua bidang ini baru muncul pada abad ke-17 yang ditandai dengan terjadinya two cultures, wacana pemecahan bidang-bidang yang menyebabkan proses disasosiasi antara budaya humanistik dengan budaya Sains dan teknologi sehingga pandangan atau pemahaman terhadap ilmu-ilmu tersebut menjadi parsial dan tidak komprehensif.

Pada hakikatnya, Seni dan Sains tidak bisa benar-benar dipisahkan dalam kehidupan manusia. Bercermin dari kehidupan bersejarah beberapa Seniman-saintis besar seperti Leonardo da Vinci, Kouzminov (1994) menegaskan bahwa Seni dan Sains adalah dua bidang yang saling terkait dan saling melengkapi, merupakan bagian-bagian penting dari kehidupan manusia untuk menjaga eksistensinya dan merupakan salah satu faktor terbesar bagi perkembangan manusia yang progresif. Mereka memang tidak sama, tapi kedua bidang ini saling terkoneksi satu sama lain dalam mendukung aktivitas dan produktifitas manusia. Jika kita ambil salah satu contoh kasus di Indonesia, dapat dilihat bahwa memang wajar jika kampus teknologi sebesar ITB bahkan memiliki program studi Seni Rupa dan Desain. Karena memang, bidang-bidang ini dibutuhkan dan sangat terkait dengan perkembangan teknologi dan pembangunan.

Beberapa akademisi besar dari berbagai latar belakang, termasuk Dewey, Eisner, Bohm, Wenham, Kemp, Deckert, Caranfa, Slattery dan Langerock, telah banyak mengidentifikasi kesamaan dan sisi-sisi keterkaitan antara Seni dan Sains. Robson et al (2005) merangkumnya ke dalam lima kategori, yaitu: (1) modes of inquiry, Seni dan Sains sama-sama memiliki aktivitas investigasi yaitu memilih dan mengumpulkan informasi, observasi dan perekaman, eksplorasi, serta analisis; (2) fields of study, dimana kedua bidang ini memiliki banyak area pengetahuan yang saling beririsan, tumpang tindih dan saling mempengaruhi satu sama lain; (3) experimentation, Seni dan Sains sama-sama melibatkan pekerjaan-pekerjaan berulang hingga mencapai data, hasil dan kesimpulan yang terbaik; (4) creativity and imagination, pelajar atau praktisi di kedua bidang sama-sama terbiasa bekerja dalam kondisi imajiner, dorongan imajinasi untuk memunculkan kreativitas sebagai salah satu aspek penting dalam menciptakan ide maupun produk baru; (5) aesthetic experience and artistic attitude, sikap artistik dan pengalaman artistik tidak hanya dibutuhkan oleh Seniman tetapi juga saintis untuk mengoptimalkan kualitas gagasan dan produk yang diciptakannya. Pemahaman tentang kesamaan bidang Seni dan MIPA ini dapat menjadi titik tolak pengembangan pembelajaran integratif dalam pendidikan untuk mengoptimalkan dampak positifnya bagi peserta didik.

Dalam wacana pengintegrasian Seni dan MIPA, salah satu konsep yang paling berpengaruh adalah STEAM Education. Konsep ini menggabungkan Arts (Seni) ke dalam Pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).  Wacana Pendidikan STEAM dilatar-belakangi oleh isu perubahan ekonomi global dan kebutuhan atas kreativitas dalam kehidupan manusia di era digital abad ke-21 ini.Beberapa reviu dan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kebutuhan mendesak terhadap faktor inovasi dan kreativitas yang sama pentingnya dengan bidang-bidang STEM lain untuk meningkatkan lapangan kerja yang progresif dan kompetitif. Bahkan dalam penelitiannya, Lichtenberg et al. (2008) menemukan bahwa tren lapangan kerja semakin menuntut adanya keahlian dalam bidang seni dan kreativitas. Hal inilah yang mendasari diusulkannya Arts untuk masuk ke dalam STEM Education.

STEAM Education diyakini dapat memberikan adaptabilitas yang besar untuk pengintegrasian dan kesempatan untuk memfasilitasi konsep yang lebih komprehensif dan mengurangi keterbatasan yang terjadi ketika masing-masing bidang tersebut berdiri sendiri-sendiri. Pembelajaran yang berbasis STEAM dapat mengaitkan konsep-konsep yang sebelumnya saling tumpang tindih antara masing-masing bidang sehingga dapat memberi pemahaman yang lebih kompleks dan menyeluruh. Dalam pelaksanaannya, aktivitas pembelajaran STEAM biasanya ditandai dengan proyek penciptaan yang menitik-beratkan proses pemecahan masalah secara kreatif (Wulandari, 2018). Peserta didik akan didorong untuk menghasilkan gagasan atau produk yang memiliki dampak dalam kehidupan nyata dengan mengaitkan pengetahuan dan keahlihan dari semua atau minimal dua bidang STEAM. Hal ini akan membiasakan peserta didik untuk bekerja dalam proses kreatif yang mengaitkan dan memanfaatkan beragam informasi dan potensi dari berbagai bidang untuk menghasilkan karya yang lebih inovatif dan berkualitas.

Target besar pembelajaran berbasis STEAM Education adalah memberikan pengalaman belajar yang lebih berkualitas dan bermakna kepada peserta didik. Peserta didik diharapkan mampu mengaitkan ilmu dan keahlian dari masing-masing bidang STEAM termasuk keterkaitan antara Seni dan MIPA untuk kemudian dimanfaatkan dalam pemecahan masalah yang benar-benar mereka hadapi di dunia nyata melalui solusi yang kreatif. Tugas praktisi pendidikan selanjutnya adalah memastikan tujuan ini tercapai. Pendidik diharapkan dapat terus meningkatkan pemahaman dan kemampuannya dalam mendesain dan melaksanakan pembelajaran berbasis STEAM Education sehingga siswa mendapatkan kesempatan yang besar atas pedidikan yang komprehensif dan bermakna tersebut.

Referensi:

Colombo, U. (1994) Science and art, World Futures, 40:1-3, 1-5.

Daugherty, M. K. (2013) The Prospect of an “A” in STEM Education, Journal of STEM Education, 14(2), 10-15.

Kouzminov, V. (1994) Remarks on art and science, World Futures, 40(1-3), 115-117.

Robson, D., Hickey, I., & Flanagan, M. (2005) Flights of Imagination: Synchronised Integration of Art and Science in the Primary School Curriculum, Paper presented at the British Educational Research Association Annual Conference, University of Glamorgan, 14-17 September 2005.

Snow, C.P. (1960). The two cultures and the scientific revolution. New York, NY: Cambridge University Press.

Wulandari, D. (2018) Primary School Students’ Perception of Art and Science Integration in Classroom, Paper presented at The International Conference on Art and Arts Education (ICAAE), Yogyakarta State University, 29 October 2018.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.