Mengolah Air Bekas Wudhu dengan Urban Farming dan Bioremediasi di Masjid-Masjid Jakarta

0

Oleh: Firman Alamsyah, Ph.D.

Kehidupan bermula dari air dan air merupakan rahmat Allah SWT, sehingga bumi menjadi hijau dan kehidupan berlangsung melalui rantai makanan dari tanaman sebagai produsen yang menghasilkan zat glukosa dan oksigen (O2) yang berasal dari air dan karbondioksida (CO2) melalui proses fotosintesis. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Hajj ayat 63 : “Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah SWT menurunkan air hujan dari langit, sehingga bumi menjadi hijau. Sungguh Allat SWT Maha Lembut, Maha Mengetahui”. Tetapi, di Indonesia, khususnya di perkotaan, air bisa menjadi musibah karena kurangnya resapan air, sehingga mengakibatkan banjir. Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta adalah daerah metropolitan yang selalu dirundung banjir setiap tahunnya. Selain itu, eksploitasi air tanah oleh industri besar dan rumah tangga, membuat muka air tanah semakin turun, yang dapat menyebabkan intrusi air laut, yang akumulasi dari masalah-masalah tersebut, menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan, menurut data PAM Jaya tahun 2017, ketersediaan air bersih dari perusahan swasta, AETRA dan PALYJA, yang bekerjasama dengan PAM Jaya, hanya dapat melayani 59,4% warga Jakarta dengan tingkat kebocoran air mencapai 44,3%, dan ketersediaan bahan baku air sungai di Jakarta, menurut PALYJA, sudah tidak lagi ekonomis, karena penggunaan deterjen yang tinggi dan kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai.

Selain masalah ketersediaan air bersih, tingkat konsumsi dan pembuangan air sisa pakai, juga akan mempengaruhi ketersediaan air bersih berikutnya, khususnya air tanah. Menurut data Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat tahun 2007, pemakaian air rata-rata masyarakat perkotaan adalah 144 liter per hari untuk setiap orang, dimana air untuk mandi mengambil alokasi terbesar, yaitu 45% dari kebutuhan air harian tersebut. Selain untuk kebutuhan mandi, kebutuhan air juga besar adalah penggunaan untuk air wudhu. Di Jakarta, terdapat 8,6 juta masyarakat muslim (data.jakarta.go.id). Jika setiap muslim menggunakan 2 liter air untuk berwudhu, maka dalam 1 hari seorang muslim menghabiskan 10 liter air untuk berwudhu setiap harinya. Secara total terdapat 86 juta liter air digunakan untuk oleh masyarakat muslim untuk berwudhu setiap harinya. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2020, jumlah ini setara dengan lebih dari separuh kebutuhan air di Jakarta Pusat yang mencapai 158,4 juta liter air per hari dengan jumlah penduduk 1,05 juta dan kebutuhan air bersih rata-rata 150 liter per orang perhari. Jika sisa pakai air wudhu sebanyak 86 juta liter ini dibuang langsung ke selokan air dan masuk sungai yang telah tercemar, maka harus diolah dulu dan biaya pengolahan ini harus ditanggung oleh masyarakat dengan membeli air bersih dari perusahaan swasta. Tetapi, jika 86 juta liter ini dikembalikan ke tanah melalui proses pengolahan air melalui bioremediasi dengan menggunakan tanaman, maka jutaan tanaman dapat menikmati air bekas wudhu ini, sehingga dapat menghijaukan Jakarta dan dapat membersihkan udara Jakarta dengan menyerap CO2 dan menghasilkan O2, dan produk tanaman hijau dapat dinikmati langsung oleh warga dalam bentuk sayuran dan buah-buahan.

Tempat yang paling banyak menggunakan air bersih untuk berwudhu adalah masjid dan mushola. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2019, terdapat 10.739 masjid dan mushola DI Jakarta, dan masjid dan mushola ini dapat mengolah air bekas pakai wudhu secara mandiri dengan bioremediasi menggunakan tanaman yang berbiaya murah dan hasil tanamannya dapat dinikmati jama’ah masjid dan mushola. Hasil bioremediasi ini dapat digunakan kembali untuk berwudhu, baik secara langsung maupun tidak langsung (dari air tanah), sehingga masjid dan mushola dapat menghemat pengeluaran biaya untuk pengadaan air wudhu untuk jama’ahnya, sekaligus mencegah kemubaziran air bekas wudhu, mengkonservasi air tanah, dan menjadikan lingkungannya menjadi hijau dan sehat. Jika semua masjid dan mushola di Jakarta melakukan program bioremediasi air bekas pakai wudhu, maka ini akan menjadi gerakan masjid mengolah air bekas wudhu untuk penghijauan.

Gerakan masjid mengolah air bekas wudhu untuk penghijauan ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam, khususnya dalam siklus air (hidrologi) di alam, mencegah kemubaziran air bekas wudhu dan pemanfaatannya kembali, meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan udara bersih dan produk tanaman yang sehat, pemanfaatan kembali air hasil pengolahan dengan urban farming dan bioremediasi untuk air wudhu kembali. Masjid di Jakarta yang mempunyai lahan terbuka untuk urban farming dan bioremediasi dapat secara mandiri mengolah air bekas wudhu, dengan perbandingan luas dan jumlah jama’ah sebesar 2:1, misal luas 100 m2 lahan terbuka untuk mengalirkan air bekas wudhu 50 jama’ah pada sistem bioremediasi dengan tanaman (urban farming). Selain itu, masjid juga tidak boleh berhimpitan dengan rumah penduduk untuk mencegah pencemaran pada air tanah oleh bakteri E. coli yang berasal dari septic tank rumah penduduk. Kemudian, masjid yang dapat menerapkan konsep pengolahan air sisa wudhu ini adalah masjid yang mengambil air tanah untuk wudhu jama’ah, sehingga air hasil pengolahan dengan bioremediasi dapat digunakan kembali untuk berwudhu. Terakhir, masjid harus mempunyai kemampuan kas yang mencukupi untuk pemeliaraan sistem bioremediasi dan urban farming.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.