Mengenal Ibnu Haytham: Bapak Optika Modern

0

Oleh: Rahmat Mulyawan*

Biografi

Namanya Abu Ali al-Hassan ibnu al-Haytham, lebih dikenal di dunia Barat sebagai Alhazen. Ia lahir di Basrah, Irak pada tahun 965 M dan meninggal di Kairo, Mesir pada tahun 1040 M. Tidak banyak catatan sejarah yang tersimpan mengenai kehidupan Ibnu Haytham. Sebagian besar kisah hidupnya diketahui dari tulisan sejarawan Muslim abad ke-13 bernama Ibnu Qifti (1172-1248)1.

Sewaktu masih tinggal di Basrah, Ibnu Haytham pernah menjabat sebagai Hakim di bawah pemerintahan dinasti Buwayhid. Namun karena minatnya yang amat besar pada ilmu pengetahuan, Ibnu Haytham akhirnya mengundurkan diri dari jabatan itu agar bisa fokus membaca, mengajar, dan menulis buku. Awalnya pemerintah saat itu menolak pengunduran dirinya, tapi Ibnu Haytham bersikeras dan bahkan sampai berpura-pura sakit jiwa. Siasat ini berhasil membuat dirinya diberhentikan dari jabatannya.

Walaupun begitu, namanya sudah terlanjur terkenal sebagai sosok yang cerdas di bidang matematika dan ilmu alam, tidak hanya di Irak tapi juga sampai ke Mesir dan Syiria. Belum lama bebas dari jabatannya, Ibnu Haytham lalu diundang Khalifah al-Hakim Fatimiyah untuk memimpin proyek pembendungan sungai Nil sebagai solusi masalah banjir di Mesir. Ibnu Haytham yang melihat problem tersebut sebagai peluang rekayasa teknologi (engineering) dengan senang hati menerima tawaran ini dan pindah ke Kairo.

Malang bagi Ibnu Haytham, proyek tersebut tidak berjalan lancar. Di tengah pengerjaan proyek, Ibnu Haytham menemukan bahwa rancangannya tidak akan bisa menahan banjir seperti yang diharapkan. Karenanya, ia berpikir untuk mengundurkan diri dari proyek tersebut. Namun, Khalifah al-Hakim saat itu adalah orang yang temperamen dan tidak segan-segan membunuh siapa saja yang tidak bisa memuaskannya. Khawatir akan dihukum berat bahkan dibunuh, Ibnu Haytham lalu mengulang siasat lamanya yaitu berpura-pura gila. Untuk kedua kalinya taktik ini berhasil dan menyelamatkannya dari hukuman mati. Walaupun begitu, Ibnu Haytham dipenjara dan seluruh hartanya disita. Ia menjalani hukuman tahanan selama 10 tahun sampai Khalifah al-Hakim meninggal pada tahun 1021. Setelah itu barulah Ibnu Haytham dibebaskan.

Setelah bebas dari penjara, Ibnu Haytham tetap tinggal di Kairo di dekat Masjid al-Azhar sambil mengajar ilmu matematika, fisika, dan menulis buku. Sejarah mencatatnya sebagai penulis yang produktif, dimana lebih dari 200 judul buku ditulisnya dalam berbagai bidang meliputi fisika, matematika, rekayasa teknik (engineering), astronomi, pengobatan, psikologi, anatomi, dan optalmologi (ilmu kedokteran mata). Buku-buku yang ditulisnya menjadi rujukan ilmiah di dunia dan sekitar 50 buku karyanya di bidang optika, matematika, dan astronomi masih terdokumentasi sampai sekarang.

The Book of Optics

Karya Ibnu Haytham yang paling terkenal adalah Kitab al-Manazir (dikenal pula dengan judul The Book of Optics), terdiri dari 7 jilid dan ditulisnya ketika dipenjara selama 10 tahun di Kairo. Di buku tersebut ia menjelaskan teori tentang cahaya yang revolusioner dan berbeda dengan teori yang sudah ada di dunia Islam maupun Barat pada waktu itu. Ibnu Haytham menentang teori ilmuwan besar seperti Ptolemy and Euclid yang menganggap bahwa benda dapat terlihat karena cahaya yang keluar dari mata. Menurut Ibnu Haytham yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu cahaya datang dari objek yang dilihat lalu masuk ke mata. Dari gagasan tersebut ia membuat eksperimen yang sistematis tentang konsep kamera lubang jarum (pinhole camera).

Di buku ini, Ibnu Haytham juga menjelaskan teori tentang pembiasan cahaya dan melakukan eksperimen untuk memilah cahaya putih menjadi warna pelangi. Kontribusi lainnya yang cukup penting adalah penggunaan lensa cembung (convex) untuk memperbesar objek yang dilihat (kaca pembesar), prinsip yang kemudian di abad ke-13 digunakan untuk membuat kacamata2. Dalam bidang fisika optika, Kitab al-Manazir menyaingi Opticks karya Isaac Newton -yang terbit sekitar 700 tahun kemudian- sebagai buku yang sangat berpengaruh dalam mengubah cara pandang dan pemahaman manusia mengenai cahaya3.

Pelopor Metode Ilmiah

Ibnu Haytham mempelopori penggunaan eksperimen dengan parameter terkontrol untuk melakukan verifikasi atas sebuah teori. Metode ilmiah yang digunakan Ibnu Haytham sangat mirip dengan metode ilmiah modern, yang terdiri dari siklus observasi, hipotesis, eksperimen dan verifikasi. Banyak konsep yang digagasnya tidak hanya bersifat teori abstrak, namun didukung dengan hasil eksperimen yang sistematis dan dapat diulang (repeatable). Karena metodenya yang komprehensif ini, Ibnu Haytham juga disebut sebagai “Bapak Optika Modern” dan “Saintis Pertama”4.

Penutup

Ibnu Haytham merupakan salah seorang ilmuwan penting yang meletakkan prinsip dasar dari penemuan-penemuan penting di bidang optika. Amat disayangkan jika kini banyak di kalangan umat Islam yang tidak mengenalnya, padahal nama beliau dapat disejajarkan dengan ilmuwan besar Islam lain seperti al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusydi. Jika hari ini kita memakai kacamata, menggunakan teropong saat bertamasya, atau berfoto selfie dengan kamera smartphone, patutlah kita berterima kasih kepada seorang Ibnu Haytham.

Referensi

  1. O’Connor, JJ, Robertson, EF, “Abu Ali al-Hasan ibn al-Haytham”, MacTutor History of Mathematics archive, Scotland: School of Mathematics and Statistics, University of St Andrews, November 1999
  2. Kriss TC, Kriss VM, “History of the operating miccroscope: From magnifying glass to microneurosurggery”, Neurosurgery 1998; 42(4): 899-907.
  3. Al-Khalili J, “In retrospect: Book of Optics”, Nature 2015; 518:164–165
  4. Steffens B, “Ibn al-Haytham: First Scientist”, Morggan Reynolds Publishing, Greensboro, NC, 2006.

*Penulis adalah mahasiswa S3 yang mendalami riset tentang sistem komunikasi optik nirkabel di program studi Engineering Science, University of Oxford.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.