Mengelola Waktu dan Prioritas : Antara Kuliah, Dakwah dan Berkarya

0

Menjadi Muslim Produktif Bagian I

Oleh : Al Afif Muzakir (Ketua Bidang SDM Syariah ISNet)

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. Al-Qasas : 77)1 

Berapa umur produktif kita selama di dunia? Rasulullah dalam hadistnya mengatakan bahwa umur umatnya berkisar 60-70 tahun2. Berbeda dengan umur para nabi yang terdahulu, ada yang berumur 1.650 tahun seperti Nabi Nuh a.s3. Ternyata dalam kurun waktunya, umur manusia mengalami penurunan.  

Pertanyaannya sekarang, bukan hanya berapa lama umur, namun lebih kepada persiapan apa saja yang sudah dilakukan. Karya-karya apa saja yang sudah dibuat dan kontribusi apa yang sudah diberikan. Sehingga ketika pertanyaan itu diberikan oleh Allah, tentu akan percaya diri menjawab jika umur yang diberikan adalah untuk ketaan pada Allah SWT. Namun sebaliknya, bagaimana jika umur yang diberikan hanya untuk rebahan, kuliah pulang – kuliah pulang (kupu-kupu), kuliah rapat (kura-kura) yang tidak produktif dan habis dengan bermain game saja. Alangkah meruginya setiap perbuatan yang telah dilakukan tersebut. 

Kemudian, jika berbicara mengenai produktif. Produktif  adalah memanfaatkan sebaik-baiknya sesuatu yang mengandung potensi untuk digali, sehingga dapat mengeluarkan hasil tertentu. Secara sederhananya produktif itu dapat dirumuskan dengan perbandingan antara keluaran (output) dan masukan (input). Jadi segala sesuatu yang telah diusahakan agar produktif, akan menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan usaha tersebut4.  

Mungkin ada yang mengalami kejadian seperti usaha yang dilakukan sudah keras, namun mengapa hasilnya masih belum baik. Sementara ada orang yang usahanya biasa-biasa saja, namun hasilnya sangat baik. Mungkin pernah mengalami hal demikian, menurut Arryrahmawan, hal tersebut tidak menjadi dualisme dalam hal produktifitas. Sudah seharusnya perbandingan antara sisi kualitas dan kuantitas tersebut harus diperhatikan. Jadi dalam pengaturannya bisa dilakukan penambahan atau mempertahankan output dengan kualitas yang sama atau lebih baik dari sebelumnya. Selanjutnya bisa dengan meminimalkan input yang digunakan untuk menghasilkan outputnya. Contohnya, jika selama ini seseorang bisa menulis satu artikel selama 30 menit. Berikutnya bisa ditingkatkan dengan menghasilkan artikel dengan kualitas sama dalam waktu yang lebih singkat, misalnya hanya 20 menit saja. Tentu akan butuh latihan dan disiplin pada diri.  

Jika diarahkan pada topik diatas, akan timbul pertanyaan yaitu apakah selama ini kuliah hanya untuk mendapatkan nilai saja, mencari pekerjaan, mengikuti organisasi hanya sekedar ikut – ikutan dan kalau berprestasi hanya untuk dianggap hebat saja?. Sekarang coba di ubah mindset tersebut dengan menjadikan semua aktivitas menjadi produktif. Untuk mengetahui bagaimana menjaga kegiatan agar tetap produktif, berikut perlu diketahui hal-hal yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tidak produktif 5.

  1. Overwhelmed (Kewalahan)
  2. Distraction (Gangguan)
  3. Burn out (Kelelahan)

Hal diatas merupakan penyebab mengapa seseorang menjadi tidak produktif. Pertama, Overwhelmed (kewalahan) diakibatkan oleh ketidakmampuan seseorang dalam mengelola prioritas dari kegiatan yang dilakukan. Terlalu banyak agenda dan kegiatan sehingga sulit untuk mengelola aktifitas tersebut. Besok ada janji dengan si A untuk hadir seminar, tugas deadline harus dikumpulkan juga besok, ada rapat organisasi penting untuk BPH dan harus mengerjakan esai lomba yang juga deadline malam ini. Karena tidak dimanajemen dengan baik, sehingga semuanya tidak terselesaikan.

Kedua adalah Distraction (gangguan) yang merupakan gangguan dalam diri dan dari luar diri. Dari dalam diri bisa berupa alasan dan penundaan yang berakhir dengan  kemalasan mengerjakan setiap aktifitas. Begitu juga dengan gangguan dari luar yang sering dihadapi oleh banyak orang. Mulai dari ajakan teman, social media ketidak nyamanan dari lingkungan dan hal-hal lain yang membuat seseorang menjadi tidak produktif. 

Terakhir, yang Ketiga adalah Burn out (kelelahan). Terlalu banyak aktifitas, komplikasi dari beberapa poin yang sudah dijelaskan tadi akan menyebabkan kelelahan. Hal inilah yang akhinya menimbulkan kebosanan dan keputus asaan. Merasa sudah sibuk dan padat dengan agenda, namun tidak mendapatkan apa-apa. Sehingga muncul pikiran sempit yang mengatakan bahwa percuma saja ikut organisasi, percuma saja belajar rajin, percuma saja ikut lomba dan lain-lain. Karena saat itu tidak melaksanakannya dengan sungguh-sunggih dan tidak memiliki manajemen yang baik.

Kenyataannya masih banyak kekurangan pada diri yang harus diperbaiki dan segera diselesaikan. Jika dipikirkan, Kapan saatnya berbuat untuk umat? sementara diri sendiri masih kekurangan nutrisi. Sudah saatnya bangkit dan memelihara diri dari kesia-siaan akibat tidak produktifnya diri.Selanjutnya, apabila sudah mengetahui penyebab hilangnya produktifitas. Saatnya mempelajari dan menyusun langkah-langkah agar bisa produktif dalam segala urusan.  Salah seorang ulama muslim termasyur Hasan Al Banna6 mengatakan, tahapan penting dalam membentuk kepribadian muslim diantaranya adalah mengatur waktu dengan baik (harisun ala waqtihi), teratur segala pekerjaannya (munazaamun syu’uniihi) dan menjadi pribadi yang prima (qowiyyul jismi). Tiga poin ini akan membentuk konsep manajemen produktifitas berkenaan dengan prioritas, fokus dan energi. Artikel selanjutnya, InsyaAllah akan membahas mengenai konsep pengembangan manajemen produktifitas berdasarkan ketiga poin ini.

Daftar Pustaka 

  1. Alqur’an, Surat Al Qasas ayat 77
  2. Tafsir al-Thabari, juz 20
  3. Shahih Ibni Hibban. Muhammad meriwayatkannya dari Ibnu ‘Arafah, dari al-Muharibi, dari Muhammad ibn `Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah
  4. Arry Rahmawan, Simply Productive Never Waste Your Time, 2012, Cerdas Mulia Institute, Jakarta
  5. Arryrahmawan, Tips Manajemen Waktu dan Meningkatkan Produktifitas, 2016, youtube Arry Rahmawan 
  6. Lukito Budi Utomo,2017, Konsep Pemikiran Kepribadian Muslim Menurut Hasan Al Banna & Relevansinya di Indonesia, Lampung 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.