Menengok Potensi Energi Surya di Nusa Tenggara Barat

0

Oleh: Muhammad Zurhalki (Mahasiswa magister Energy Management, Warsaw-Polandia)

Meningkatnya pertumbuhan penduduk mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan energi di Nusa Tenggara Barat. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat meramalkan total penduduk di wilayah NTB pada 2020 sejumlah 5,12 juta jiwa [1]. Jika prediksi ini tepat, maka dalam kurun waktu 5 tahun saja sejak 2015, terjadi penambahan penduduk sebanyak 290 ribu jiwa. Tentu angka ini harus divalidasi lagi, namun setidaknya, gambaran umum tentang peningkatan kebutuhan akan energi di masa depan sudah terlihat.

ASEAN Centre for Energy melaporkan sampai dengan akhir tahun 2019, rasio elektrifitas Indonesia mencapai 98,05% [2], dan berdasarkan laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, wilayah Nusa Tenggara Barat sudah memiliki tingkat elektrifikasi 99% [3]. Faktanya adalah rasio elektrifitas yang tinggi ini masih didominasi oleh penggunaan bahan bakar fosil. Tidak hanya di wilayah NTB, namun dominasi penggunaan bahan bakar fosil masih terjadi di wilayah lain. Masih menurut laporan Kementerian ESDM, bauran EBT sebagai pembangkit listrik di Indonesia hingga tahun 2019 baru mencapai 12,36%. Jauh lebih sedikit dari bauran pembangkit listrik bertenaga batubara (60,50%) dan Gas (23,11%).

rSelanjutnya, Dewan Energi Nasional pada 2014 lalu mengemukakan bahwa Indonesia sedang menghadapi tantangan dalam rangka menuju ketahanan energi, terutama dalam pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT): (1) Kecenderungan meningkatnya ketergantungan terhadap energi fosil yang belum dapat diimbangi secara memadai oleh peningkatan penyediaannya, sementara pemanfaatan energi non-fosil masih relatif kecil; (2) Ketergantungan impor BBM yang terus meningkat menyebabkan beban devisa negara yang sangat besar; (3) Pengelolaan energi yang belum sepenuhnya menerapkan prinsip berkelanjutan; (4) Arah riset pengembangan sektor energi belum terencana dan terintegrasi secara baik dan banyak hasil riset yang tidak bisa mendukung arah pengembangan enegi; (5) Pengembangan infrastruktur energi nasional belum didukung oleh industri komponen nasional yang kuat dan sangat tergantung pada komponen impor [4].

Untuk mengatasi hambatan tersebut, perlu dilakukan penanganan serius dalam bidang pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Diperlukan kerjasama antara pemerintah sebagai pembuat kebutuhan dan penentu kebijakan, pihak penyedia teknologi, pihak penyandang dana, serta peran aktif dan pasif masyarakat dalam mendukung penggunaan EBT.Sebagai wilayah tropis dengan garis pantai yang sangat panjang, Nusa Tenggara Barat memiliki potensi pengembangan sumber energi terbarukan yang cukup besar. Menurut data dari NASA yang diakses melalui software RETScreen, wilayah Nusa Tenggara Barat memiliki rata-rata Daily Solar Radiation (DSR) sebesar 5.47 kWh/m²/d. Detail data DSR selama 1 tahun dipresentasikan pada grafik berikut:


Grafik: Daily Solar Radiation kota Bima

Grafik: Daily Solar Radiation kota Sumbawa

Grafik: Daily Solar Radiation kota Mataram

Melihat data di atas, wilayah provinsi NTB dapat dikategorikan menyimpan potensi yang sangat besar untuk pengembangan energi surya. Durasi sinar matahari yang relatif konstan yakni 12 jam/hari sepanjang tahun, dengan intensitas radiasi cahaya matahari yang terbilang tinggi. Rata-rata radiasi sinar matahari harian sepanjang tahun di seluruh dunia adalah 4.99 kWh/m^2 atau setara dengan 17.98 MJ/m^2. Sementara NTB memiliki rata-rata sebesar 5.47 kWh/m^2 atau setara dengan 19.69 MJ/m^2. Potensi ini nantinya dapat diaplikasikan dalam berbagai sektor, misalnya penyediaan listrik pada instansi rumah sakit, sekolah, dan kantor. Teknologi energi surya seperti solar photovoltaic system (PV) dapat digunakan untuk penerangan, industri peternakan skala kecil, hingga penyediaan tenaga listrik bagi perangkat elektronik di rumah.

Hingga saat ini, pengembangan ketenagalistrikan berbasis EBT terus dilakukan pemerintah NTB. Laporan tahunan dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi NTB pada akhir 2019 menunjukkan bahwa telah terdapat pembangkit listrik tenaga surya sebanyak 7 unit yang tersebar di Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kabupaten Lombok Utara. Selain itu sejak 2017 hingga 2019 telah dikeluarkan setidaknya 4 rekomendasi teknis pengusahaan EBT di wilayah Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Lombok Timur, dan Kabupaten Bima. Masih dalam laporan yang sama, diketahui seksi Ketenagalistrikan melalui program Penerangan Jalan Umum berbasis Tenaga Surya (PJU-TS), telah melakukan pemasangan 20-unit PJU-TS di wilayah Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, dan Kabupaten Lombok Timur. Pemasangan PJU-TS ini telah dilangsungkan sejak 2016 dengan total jumlah unit terpasang sebanyak 73 unit di 7 kabupaten/kota di provinsi NTB [5].

Merujuk kepada Laporan Status Energi Bersih Indonesia oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) pada Maret 2019, NTB memiliki potensi EBT mencapai 21.991 MW [6]. Namun hingga 2019, total kemampuan produksi EBT Provinsi NTB melalui pembangkit listrik milik PT. PLN dan pengelolaan swasta baru mencapai 37,52 MW. Angka ini tentu masih sangat memungkinkan dan perlu untuk ditingkatkan di masa yang akan datang. Pemodelan penyediaan kapasitas pembangkit listrik oleh Dinas ESDM provinsi NTB misalnya, menargetkan EBT pada 2040 memiliki kontribusi sebesar 44% dari total kapasitas pembangkit listrik di NTB, atau setara dengan 916 MW. Lebih dari itu, bauran EBT sebagai pembangkit listrik di NTB ditargetkan mencapai 50% pada tahun 2050, setara dengan 1.191 MW.

Melihat tingginya potensi pengembangan EBT di Provinsi NTB, pemerintah beserta seluruh elemen di NTB perlu mulai melakukan kiat-kiat untuk melakukan percepatan pengembangan EBT sebagai pembangkit listrik. Secara garis besar terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah Provinsi NTB:

  1. Melakukan penyesuaian kebijakan pemerintah provinsi guna melakukan percepatan transisi dari bahan bakar fosil menuju pemanfaatan EBT;
  2. Meningkatkan kampanye investasi sektoral bidang energi bagi investor, entrepreneur, dan sektor rumah tangga. Termasuk dorongan kepada sektor swasta untuk mulai beralih menuju penggunaan EBT dengan penyediaan lingkungan investasi yang sehat, prosedur yang lebih fleksibel, serta pemberian edukasi kepada masyarakat;
  3. Melakukan investasi dalam hal research and development melalui lembaga terkait, serta melakukan kerjasama dalam lingkup antar pemerintah daerah hingga internasional dalam rangka pengembangan teknologi dan kebijakan pengembangan EBT yang lebih baik di masa depan;
  4. Melakukan percepatan dan pemerataan pembangunan PLTS di wilayah pulau Sumbawa. Mengingat fakta statistik menunjukkan bahwa potensi pengembangan PLTS di pulau Sumbawa dari sudut pandang kondisi lingkungan sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan pulau Lombok.

Sebagai sebuah daerah dengan penduduk yang terus bertumbuh, NTB akan terus menghadapi demand yang meningkat terhadap ketersediaan energi. Karenanya NTB dengan segala potensi yang dimiliki harus mulai menggeliat dan melakukan upaya-upaya pengembangan sektor EBT yang lebih masif lagi, seoptimal mungkin memanfaatkan potensi iklim, topografi, dan sumber daya lain yang dimiliki. 

Dunia saat ini tengah dalam pergerakan menuju Total Green Energy, menuju manajemen energi yang lebih sehat, efisien, aman, dan ramah lingkungan.

Pustaka:

[1] https://ntb.bps.go.id/dynamictable/2017/10/02/202/proyeksi-penduduk-menurut-kabupaten-kota-provinsi-nusa-tenggara-barat-2010—2020.html

[2] https://aseanenergy.org/asean-electricity-sector-2019-highlights-2/

[3] Capaian Kinerja Kementerian ESDM 2019, diakses melalui: https://www.esdm.go.id/assets/media/content/content-capaian-kinerja-2019-dan-program-2020.pdf

[4] Laporan Dewan energi Nasional 2014, diakses melalui: https://www.den.go.id/index.php/publikasi/download/23

[5] Laporan Tahunan Dinas ESDM provinsi NTB 2019, diakses melalui: https://desdm.ntbprov.go.id/dokumen_file/LAPORAN%20TAHUNAN%202019%20DESDM%20NTB.pdf

[6] IESR (2019). Laporan Status Energi Bersih Indonesia: Potensi, Kapasitas Terpasang, dan Rencana Pembangunan Pembangkit Listrik Energi Terbarukan 2019, diakses melalui: http://iesr.or.id/wp-content/uploads/2019/07/IESR_Infographic_Status-Energi-Terbarukan-Indonesia.pdf

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.