Membentuk Pemimpin Muda Berkarakter Melalui Pewarisan Nilai-Nilai Kepemimpinan Sultan Thaha Syaifuddin Pada Pertempuran Muara Tembesi Tahun 1901

0

Oleh : Turino Adi Irawan

Globalisasi menghantarkan Indonesia akan terus menghadapi tantangan ke depan yang semakin kuat dan  kompleks. Persaingan yang akan terjadi bukan hanya antar individu, antar kota, atau antar provinsi, tetapi persaingan saat ini sudah antar negara. Tantangan itu harus dijawab dengan lahirnya pemimpin baru atau pemimpin muda dengan kepemimpinan yang berkarakter. Pemimpin yang dimaksud adalah pemimpin yang dapat memberi teladan dan menjadi imam di kelompok. Makmum dapat mencontoh gerak-gerik yang dilakukan oleh imamnya. Keteladanan tersebut akan membawa makmumnya dalam arah yang benar dalam membangun bangsa. Bukan kepemimpinan yang mengajarkan ketidakjujuran, korupsi, otoriter dan tidak cakap dalam menendalikan kekuasaannya. Jangan sampai tantangan ke depan justru ditambah dengan krisis kepemimpinan akibat banyaknya teladan yang ada justru memperlihatkan gaya kepemimpinan yang korup dan tidak bermoral seperti banyaknya pemberitaan yang ada saat ini. Kepemimpinan berkarakter berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter bagi bawahannya. Hoy & Miskel (2013:427) menyebutkan arti kepemimpinan suatu proses sosial seperti mempengaruhi perilaku individual atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Untuk itu perlunya sebuah contoh keteladanan bagi calon para pemimpin muda dalam melakukan bela Negara. Salah satunya dengan mewarisi semangat kepemimpinan Sulthan Thaha syaifuddin, salah satu Pahlawan Nasional dari Jambi.

Sejak Sultan Thaha Syaifuddin menjadi sultan di kesultanan Jambi pada tahun 1855, Ia menunjukan sikap tegas dalam memperjuangkan martabat bangsanya. Jambi pada masa penjajahan termasuk salah satu daerah yang dijajah Belanda. Dengan kehadiran Belanda  sejak 1615 sampai 1942 daerah Jambi tidak pernah tenang lagi. Di Jambi banyak terjadi perebutan kekuasaan, peperangan dengan tetangga, dan perlawanan rakyat melawan belanda. Dalam dokumen Museum Nasional, perpustakaan nasional dan buku-buku mengenai perjuangan rakyat Jambi banyak dijumpai data sejarah yang menceritakan tentang perlawanan rakyat Jambi terhadap Belanda dan perlawanan dahsyatnya ialah perlawanan yang dipimpin oleh Sultan Thaha Syaifuddin.

Dalam satu tulisan orang Belanda tentang Sultan Thaha Syaifuddin menyebutkan bahwa menaklukan Sultan Thaha  Syaifuddin adalah perjuangan yang tak kenal damai atau on verbiddelijke sterijk (Mukti Nazruddin,1989). Sejak Sultan Thaha Syaifuddin menjadi sultan di Kesultanan Jambi pada tahun 1855 sikap yang diambil Sultan sudah sangat jelas yakni tidak mengakui semua isi perjanjian sebelumnya dan tidak akan ada perjanjian baru dengan Belanda. Hal inilah yang memicu  ketegangan antara dua belah pihak sehingga terjadi pertempuran. Bahkan Keraton Jambi berhasil direbut Belanda tahun 1858. Namun, Sultan Thaha Syaifuddin tetap melakukan perlawanan terhadap Belanda dengan memindahkan pemerintahan ke Muara Tembesi. Disini Sultan Thaha Syaifuddin menata ulang sistem pemerintahan, militer, taktik/strategi dan pembagian wilayah. Pertempuranpun tidak dapat dielakan lagi, Belanda mengangap bila Muara Tembesi dapat direbut, maka seluruh daerah Jambi akan mudah dikuasai.

Setelah Belanda berhasil menduduki Keraton Kesultanan di Jambi. Sultan Thaha dan keluarganya serta pembesar yang setia mundur ke pedalaman Jambi yakni menuju Muara Tembesi. Walaupun kota Jambi dan Keraton Jambi telah diduduki Belanda, namun Sultan Thaha Syaifuddin berhasil menyusun pemerintahan baru yang berpusat di Muara Tembesi dengan langkah-langakah sebagai berikut:

  1. Pangeran Hadi diangakat menjadi kepala bala tentara.
  2. Pangeran Singo diangkat menjadi kepala pemerintahan sipil.
  3. Pangeran Lamong diangkat menjadi kepala keuangan.

Sultan Thaha Syaifuddin mulai menanamkan semangat juang secara lebih intensif kepada rakyatnya. Hal seperti ini disambut baik oleh rakyatnya dengan penuh kesetiaan. Selain itu Sultan Thaha Syaifuddin dimanapun menyampaikan penerangan selalu menjelaskan tujuan perjuangannya, maka beliau dengan penuh semangat menyampaikan setih setio (sumpah setia) yang selalu diikuti oleh rakyatnya dengan setia.

Berikut ini isi dari setih setio adalah sebagai berikut:

  1. Bila keadaan memaksa untuk menyerah kepada Belanda, maka berpura-puralah kamu menyerah. Namun bila ada kesempatan, Belanda itu harus kamu lawan lagi.
  2. Bila Belanda menanyakan tempat Sultan Thaha Syaifuddin, janganlah kamu tunjukkan.
  3. Tundulah kamu ibarat pisau lipatan.
  4. Siapa yang tidak patuh maka ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berurat/ tidak berakar, ditengah-tengah dimakan kumbang.
  5. Jangan menusuk kawan seiring, menghisap darah didalam, menggunting dalam lipatan, merangkak dalam tanah, menengok dalam air, budi menyuruk akal merangakak, pepat di luar rencong di dalam, telunjuk lurus kelingking berkait.
  6. Haruslah kamu serentak galah serengkuh dayung, ibarat mengangguk udang samo menengok, tertangguk di tabun sama mengerok, dapat samo balabo, hilang sama rugi.

Dari isi setih setio dapat disimpulkan bahwa Sultan Thaha Syaifuddin mengupayakan terbentuknya persatuan dan kesatuan rakyat yang berada di bawah satu komando untuk mengusir kaum penjajah Belanda dari seluruh wilayah kerajaan Jambi.

Sultan Thaha Syaifuddin mengirim utusan ke Pangeran Wirokusumo yang berkedudukan di daerah Olak Kemang supaya bermufakat dengan Temenggung Ja’far membeli sebuah kapal perang dari Inggris yang sebelumnya sudah dihubungi oleh utusan Sultan Thaha Syaifuddin. Kapal perang Inggris dibeli oleh Pangeran Wirokusumo dan Temenggung Ja’far kemudian dirombaknya menjadi kapal dagang. Hasil hutan dan hasil bumi serta rempah-rempah terutama lada ditukar di luar negeri terutama di Inggris dengan senjata keperluan Sultan Thaha dan pasukannya, hal ini berlangsung selama 5 tahun. Setelah mendapatkan persenjataan barulah Sultan Thaha Syaifuddin membentuk pasukan yang diberi nama pasukan sabilillah.

Muara Tembesi adalah jantung pertahanan untuk menguasai Jambi Hulu. Bila Muara Tembesi dapat direbut, maka seluruh daerah Jambi akan mudah dikuasai. Belanda memandang perlu menggempur Muara Tembesi sampai dapat dikuasai. Kehendak pemerintah Belanda tidak dapat terlaksana maka Belanda akan mengambil tindakan tegas dengan mengadakan penyerbuan. Pertempuran  terjadi pada tahun 1901 disaat pasukan Belanda menyerang Muara Tembesi. Untuk mengusai Muara Tembesi maka Belanda mengarahkan pasukan infantri, artileri, zeni, kesehatan, angkutan kapal perang. Menurut Fachruddin Saudagar (2008) dalam tulisannya Sultan Thaha Syaifuddin perang tak kenal damai 1855-1904 menyebutkan pertempuran paling dahsyat terjadi pada tahun 1901 disaat pasukan Belanda menyerang Muara Tembesi. Untuk mengusai Muara Tembesi maka Belanda mengarahkan pasukan infantri, artileri, zeni, kesehatan, angkutan kapal perang yang lengkap. Sedangkan pasukan Sultan Thaha juga telah dibekali persenjataan dan semangat juang yang tinggi. Semangat juang timbul karena Sultan Thaha Syaifuddin penuh semangat menyampaikan setih setio (sumpah setia) yang selalu diikuti oleh rakyatnya dengan setia dan memberikan dakwah kepada rakyat mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist. Banyak nilai-nilai kepemimpinan yang bisa diambil dari Sultan Thaha Syaifuddin atas keberhasilannya meyakinkan rakyat Jambi untuk bersatu mengusir penjajah Belanda. Nilai-nilai tersebut sangat berguna untuk memperkuat jati diri dan membangun karakter kaum muda Indonesia

Menurut Fachruddin Saudagar (2008) dalam tulisannya Sultan Thaha Syaifuddin perang tak kenal damai 1855-1904, Sultan Thaha Syaifudin mengerahkan sebanyak lebih kurang 2000 orang. Kekuatan pasukan terdiri dari 2 kelompok besar yakni 500 orang pasukan yang bertugas mencegat Belanda di sekitar rawas, dan 1500 orang mempertahankan Muara Tembesi di sekitar Rantau Kapas. Sungai Batanghari oleh pasukan Sultan dihalangi dengan kayu besar. Pasukan sultan dilengkapi dengan bedil dan senjata lainya. Namun akhirnya Muara Tembesi tidak dapat bertahan lama dan tahun yang sama Jatuh ketangan Belanda. Semangat juang Sultan Thaha Syaifuddin bersama pasukannya tetap  berkobar dengan memindahkan pusat pertahanan di sekitar sungai tabir yakni di dusun pematang, Tanah Garo. Meskipun Muara Tembesi akhirnya diduduki Belanda tapi Sultan berhasil menyatukan rakyat.

Selama perjuangan Sultan Thaha memimpin pereperangan di Muara Tembesi banyak nilai-nilai kepemimpinan yang dapat kita pelajari dari Beliau. Beberapa nilai kepemimpinan yang tampak dari Sultan Thaha Syaifuddin selama memimpin pertempuran di Muara Tembesi tampak pada ketatan atau beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Zuraima Bustaman dalam bukunya Pahlawan Nasional Sultan Thaha Syaifuddin (1996), pada masa pemerintahan Sultan Thaha Syaifuddin ada tiga macam hukum yang berlaku yang dikenal dengan nama: hukum lamo, hukum basamo dan hukum agamo (Islam). Pada masa ini pula ungkapan “adat bersendikan syarak dan syarak bersendikan kitabullah (Al-Qur’an)” benar-benar dijadikan pedoman. Hal ini merupakan hasil pantulan sinar ketaatan dan sinar keagaamaan yang kuat dalam kehidupan Sultan Thaha Syaifuddin sehingga dapat berpengaruh terhadap kehidupan rakyatnya. Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa sangat penting karena pemimpin adalah manusia biasa dengan semua keterbatasannya secara fisik, pikiran, dan akal budi sehingga banyak masalah yang tidak akan mampu dipecahkan dengan kemampuannya sendiri.

Nilai keoemimpinan yang kedua adalah Sultan selalu memberi teladan kapada anak buah. Keteladanan Sultan Thaha Syaifudin berupa sikap dan tingkah laku yang dapat menjadi contoh bagi rakyat jambi. Keteladanan berkaitan erat dengan kehormatan,  integritas, dan moralitas pemimpin. Integritas menyangkut mutu, sifat dan keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Moralitas menyangkut ahlak, budi pekerti, susila, ajaran tentang baik dan buruk, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket, dan adat sopan santun.

Nilai kepemimpinan yang ketiga, Sultan Thaha Syaifuddin adalah sosok yang berjiwa satria, berani dan pantang menyerah. Sikap ini tampak dari pernyataan Sultan yang tidak akan ada perjanjian atau perundingan dengan pihak Belanda. Walaupun adanya ancaman maupun serangan militer Belanda tidak akan mengubah pendiriannya. Dalam mengambil keputusan, ia tidak memerintah sewenang–wenang, tapi memperhatikan nasihat bawahannya.

Menggugah semangat di tengah anak buah.  Sultan Thaha Syaifuddin dengan penuh semangat menyampaikan setih setio yang diikuti rakyatmya dengan setia. Hal ini dilakukan agar terbentuknya persatuan dan kesatuan rakyat Jambi yang mana persatuan dan kesatuan harus berada dibawah satu komando untuk mengusir kaum penjajah Belanda dari seluruh wilyah kerajaan Jambi. Selain itu setiap Beliau memberikan dakwah kapada rakyat selalu mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist. Salah satu hadist  yang tertanam bagi rakyat yaitu “hubbul wathan minal iman” yang diterjemahkan artinya “cinta kepada tanah air adalah sebagian dari iman”. Sultan Thaha Syaifuddin bermaksud menanamkan perasaan kebangsaan kepada rakyat sehingga mereka rela mati demi mempertahankan tanah air dan mengusir penjajah Belanda.

Nilai kepemimpinan berikutnya yaitu selalu waspada dan sanggup memberi koreksi termasuk dari nilai kepemimpinan Sultan Thaha Syaifuddin selama memimpin pertempuaran di Muara Tembesi. Sultan Thaha Syaifuddin adalah sosok pahlawan yang bertanggung jawab. Beliau lebih mengutamakan  kepentingan tanah air, bangsa dan agama diatas kepentingan pribadi. Sultan Thaha Syaifuddin lebih senang memilih medan juang, perang bergerilya yang sengsara bersama-sama rakyat, daripada menyepakati perjanjian dan bekerja sama dengan Belanda dengan duduk di kursi empuk di Istana dengan uang tahunan yang cukup disediakan oleh Belanda untuk membujuk diri pribadinya.

Rakyat Jambi dibawah Pimpinan Sultan Thaha Syaifuddin hidup dalam suasanan gotong royong. Sifat gotong royong itu tampak  dengan jelas dalam acara turun baumo, membangun mesjid  dan bekarang. Hal ini bisa terjadi karena beliau mau terjun langsung bersama rakyat.

Nilai-nilai kepemimpinan inilah yang membuat dimata rakyat Sultan Thaha Syaifuddin adalah seorang raja, pejuang dan juga sebagai ulama yang dekat dengan hati rakyatnya. Menurut Facrudin Saudagar dalam bukunya Sultan Thaha Syaifuddin perang tak kenal damai 1855-1904 (2008) rakyat dengan Ikhlas turut serta melawan Belanda dan membangun benteng-benteng pertahanan. Dari sinilah sebenarnya letak kekuatan pertahanan sesungguhnya pasukan Sultan Thaha Syaifuddin, sehingga rakyat memandang perjuangan melawan Belanda bukan saja untuk mempertahankan keberadaan Kerajaan Jambi melainkan juga sebagai perjuangan di jalan Allah yakni membela Negara.

DAFTAR PUSTAKA

Bustaman zuraima, Dkk. 1996. Biografi Pahlawan Nasional Sultan Taha Saifuddin. Jambi : CV. Lazuardi Indah Jambi.

Hariadi Ujang. Keris Sigenjei dalam Legenda dan Sejarah Jambi. Jambi : Kanwil Dep. P & K Prop. Jambi. Proyek Pembinaan Permusiuman Jambi.

Hoy, K.H., & Miskel, C.G. 2013. Educational Administration Theory, Research, and Practice. Ninth Edition. McGraw-Hill Companies, Inc.

Meng, Usman, H. 2006. Napak Tilas Liku-liku provinsi Jambi. Jambi: BAPPEDA JAMBI.

Saudagar, Fachruddin. 2008. Sultan Thaha syaifuddin perang tak kenal damai 1855-1904. Jambi: Yayasan FORKKAT Jambi

Tim penyusun. 2003. Sejarah Perjuangan Rakyat Jambi. Jambi: Dinas Pendidikan Propinsi Jambi.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.