Media dan Terorisme : Bagaimana Islam Dicitrakan?

0

Oleh : Afrizal (afrizal610izal@gmail.com)

*Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Riau

Media berperan besar dalam menciptakan opini publik bahwa Islam adalah sumber kekerasan dan terorisme. Opini yang dibentuk media ini tidak terlepas dari fakta bahwa pemberitaan terorisme di dunia lebih banyak dikuasai oleh media-media Barat. Sehingga tidak heran jika kemudian muncul persepsi bahwa negara-negara Barat-lah kawasan yang paling banyak menjadi korban terorisme. Pandangan ini tentu tidak bisa diterima begitu saja, karena faktanya 84% serangan teror di seluruh dunia justru terjadi di Timur Tengah, Afrika Utara, Sub-Sahara Afrika, dan Asia Selatan. Artinya, media-media Eropa dan Amerika Utara telah meliput aksi-aksi teror secara berlebihan.

Kondisi di atas memperlihatkan bahwa media mampu menghadirkan realitas baru dengan framing berita yang disajikan. Apa yang ditampilkan media adalah konstruksi realitas yang telah mengalami penambahan, pengurangan, perbaikan, penghapusan, atau bahkan distorsi dari kondisi yang sesungguhnya. Selain itu, media juga berperan sebagai ‘aktor’ pendefinisi realitas. Melalui narasi yang disajikan, media dapat menentukan siapa yang disebut pahlawan dan siapa yang disebut penjahat, siapa yang disebut baik dan buruk, atau siapa yang disebut korban teror dan pelaku teror.

Jika dipetakan, ada beberapa alasan yang membuat para teroris membutuhkan media dan begitupun sebaliknya. Pertama, kelompok teroris memerlukan publisitas untuk meraih tujuan perjuangannya, sedangkan media membutuhkan berita yang akan meningkatkan profit yang diperolehnya. Contoh pertama dapat dilihat ketika CNN berhasil melakukan wawancara (via telepon) dengan pemimpin Al Qaeda, Osama Bin Laden, pada Mei 1997. Disatu sisi Al Qaeda mendapatkan publisitas ke ranah publik yang menyebabkan mereka merasa terwakili. Dilain pihak CNN juga diuntungkan dengan nilai rating yang diperolehnya karena berhasil menarik perhatian publik. Lebih jauh, kelompok teroris memanfaatkan publisitas ini guna mendapat legitimasi publik bahwa aksi yang mereka lakukan lebih bernuansa ideologis dan politik. 

Selanjutnya, terorisme juga memanfaatkan media untuk menyebarluaskan ketakutan kepada khalayak luas. Peran media dalam menyampaikan pesan teror –meskipun tidak dimaksudkan demikian— memunculkan jargon yang menyebut ‘the media are the terrorist’s best friends, the terrorist’s act by itself is nothing, publicity is all’. Dengan kata lain, media telah membuat tugas teroris untuk meneror menjadi lebih mudah. Tidak hanya itu, terkadang media Barat juga sangat ‘berlebihan’ dalam memberitakan aksi teror yang dilakukan ISIS, sehingga ISIS dicitrakan sebagai kelompok yang sangat digdaya. Hal ini misalnya, dapat dilihat ketika The Guardian pada 2014 membuat berita yang berjudul “How has ISIS grown so powerful and who will stop it?” dan menyatakan bahwa ISIS memiliki dana  2 miliar USD dan pasukan sebanyak 10.000 orang. Hal ini tentu saja semakin menambah kengerian di tengah publik Eropa. Bahkan, Michael Jetter menyebut bahwa liputan media tentang terorisme justru akan memicu aksi teror selanjutnya, bukan malah mengakhiri aksi teror itu sendiri.

Sebaliknya, media juga ‘memanfaatkan’ terorisme guna meningkatkan pendapatannya. Media mengkapitalisasi kebingungan dan kelumpuhan yang disebabkan oleh serangan terorisme untuk memproduksi berita-berita dramatis yang akan menarik perhatian publik sebanyak mungkin. Tak jarang jika kemudian media terkesan memberitakan aksi terorisme secara mentah-mentah tanpa mendalami berbagai hal penting dibaliknya, misalnya, apa alasan mereka melakukan aksi teror tersebut?. Penonton hanya diberi tahu bahwa telah terjadi aksi kekerasan yang menelan korban tak bersalah namun tidak pernah tahu maksud dan tujuan dibalik aksi kekerasan tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa media lebih mengutamakan aspek kecepatan daripada investigatif (menunggu semua bukti terkumpul) dalam pemberitaannya.Selanjutnya, media juga memanfaatkan terorisme untuk mempertahankan dominasi nilai atau ideologi mereka. Dominasi Barat dalam memberitakan aksi terorisme telah berhasil membius masyarakat pada stigma kekerasan dalam agama Islam. Mekanisme control of mind yang dilakukan media akhirnya membentuk opini publik bahwa Islam adalah agama teroris, akibatnya masyarakat menjadi antipati dan sentimen Islamophobia kian meningkat –terutama di Barat. Begitu juga halnya dengan kasus kekerasan yang dilakukan oleh kelompok ISIS. Kasus kekerasan dan terorisme yang dilakukan ISIS telah membuat masyarakat takut terhadap pemberlakuan syariat Islam yang dianggap tidak humanis. Padahal berbagai aksi yang dilakukan ISIS ini sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai ajaran Islam. Dapat disimpulkan bahwa media apapun sejatinya tidak bisa melepaskan diri dari keberpihakan, kepentingan, maupun ideologi yang dianutnya.

Sumber Rujukan

Ashghor, Aly. “Mediasi Massal Terorisme : Pengantar Critical Terrorism Studies.” Keamanan Nasional, 2018.

Junaedi, Fajar. “Relasi Terorisme dan Media.” ASPIKOM, Juli 2010.

Mubarok dan Diah Wulandari. “Konstruksi Media dalam Pemberitaan Kontra Terorisme di Indonesia.” INFORMASI, Juni 2018.

Rahmawati, Putri. “Tendensi dan Ideologi Aljazeera dan CNN Berbahasa Arab dalam Pemberitaan Kekerasan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS).” Tesis Magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017.

Tsauro, Muhammad Ahalla. “Media dan Terorisme di Uni Eropa : dari Teror Paris Hingga Bom Manchester.” ICMES, 2017.

The Guardian, “How has ISIS grown so powerful and who will stop it?”, Lihat : https://www.theguardian.com/world/2014/jun/16/isis-islamic-state-iraq-levant-q-and-a [Diakses pada 28 Maret 2020]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.