Kolaborasi dan Pengembangan Platform Teknologi Adaptif yang Terintegrasi untuk Kemajuan Pertanian Indonesia

0

Oleh : ‪Ganjar Saefurahman

Indonesian Scholars Network (ISNet) bidang Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan (PKK) menggelar Webinar Series bidang PKK 2021 seri 1 secara daring pada hari Sabtu, 21 Agustus 2021 dengan tema “Teknologi Digital dan Kecerdasan Buatan untuk Industri Pertanian dan Pangan”.

Webinar dibuka oleh Eksa Rusdiyana, S.P., M.Sc, Ketua bidang PKK ISNet. Turut hadir sebagai narasumber, yaitu Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar,  M.Sc  (IPB University), Dedi Soleman, S.T. (Kementerian Pertanian, Pangan Institute), dan Alan Soffan, Ph.D (Universitas Gadjah Mada, ISNeT Yogyakarta). Acara webinar ini dimoderatori oleh Dedi Triyanto, M.T., Ketua Bidang Sainstek ISNet, dan dihadiri oleh sekitar 150 peserta dari berbagai kalangan dan daerah.

Seiring dengan perkembangan industri 4.0 dan kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity), industri pertanian skala besar dituntut untuk mengadopsi dan menerapkan teknologi digital modern dalam rangka meningkatkan efektifitas dan efisiensi usahanya. Namun pada kondisi di lapangan, sektor pertanian tradisional yang dominan digeluti oleh petani di Indonesia masih jauh dari penerapan teknologi digital tersebut. Saat ini penerapan teknologi masih berkutat pada kebutuhan modal, infrastruktur, dan sumberdaya manusia untuk menuju pembangunan pertanian modern di Indonesia. Webinar ini bertujuan untuk sharing dan diskusi tentang peluang dan tantangan sektor pertanian di Indonesia dalam merespon kebutuhan akan teknologi digital baik pada aspek industri maupun rekayasa pangan.

Konsep Agromaritim 4.0 yang dikembangkan IPB University menurut Prof. Kudang membutuhkan pengelolaan yang kompleks secara ekonomi, ekologi dan sistem yang harus didukung oleh pendekatan digital multidisiplin dan karakteristik industri 4.0 yaitu analisis big data, monitoring dan respon secara real-time, serta pengambilan keputusan yang presisi dan cerdas. “Pertanian presisi merupakan penggunaan intensif dari sensor, satelit, drone, Internet of Things (IoTs), super komputer, cloud dalam lingkungan Cyber Physical System (CPS) untuk mengidentifikasi dan memahami variabilitas dan heterogenitas masalah pertanian untuk pengambilan keputusan secara tepat dan presisi” ungkap Kudang.

Salah satu produk yang sudah dikembangkan IPB adalah PreciPalm (Precision Agriculture Platform for Oil Palm). Platform ini merupakan aplikasi secara khusus diterapkan pada perkebunan sawit untuk mengukur variabilitas dan memberikan rekomendasi pemupukan secara presisi dan real-time dengan pemanfaatan data satelit Sentinel 2.

Dedi Soleman menyampaikan bahwa Kementerian Pertanian memiliki visi pembangunan pertanian yang maju, mandiri dan modern untuk peningkatan produksi dan produktivitas, penurunan biaya, mekanisasi dan riset, serta ekspansi pertanian. Program utama Kementan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk mencapai pembangunan pertanian modern terdiri dari 3 program utama, yaitu “satu data pertanian”, sistem pemerintahan berbasis elektronik, dan Agriculture War Room (AWR).

“Namun, saat ini pengembangan platform pertanian digital masih terpisah-pisah (silo), serta infrastruktur server dan teknologi informasi nasional menjadi isu penting terkait keamanan data pertanian karena penyimpanan data saat ini masih bergantung pada infrastruktur dan cloud di luar negeri” tambah Dedi. “Pembangunan Agriculture War Room dan Kostra Tani berperan penting sebagai pusat data dan informasi real-time terintegrasi, pusat gerakan pembangunan pertanian, pusat pembelajaran, konsultasi agribisnis, dan pengembangan jejaring kemitraan” sambungnya.

Alan Soffan dari Departemen Proteksi Tanaman, UGM, memaparkan secara spesifik pengembangan alat dan sistem monitoring hama cerdas. Permasalahan serangan hama menjadi sangat penting karena kehilangan hasil akibat serangan hama diperkirakan dari 31% hingga mencapai 43%. “Diperlukan suatu sistem cerdas yang dapat menyediakan informasi mengenai pemetaan lokasi kejadian serangan hama, jalur invasi hama, dan peramalan serangga” ungkap Alan. Permasalahan utama aplikasi dan alat monitoring hama cerdas saat ini adalah biaya yang mahal. “satu perangkap hama cerdas dijual dengan harga mencapai 20 juta rupiah, bagaimana mungkin petani-petani dapat menjangkaunya” tambah Alan. Oleh karena itu, inovasi “ITRAP” sebagai perangkat perangkap hama cerdas berbasis IoT dengan biaya yang lebih terjangkau telah dikembangkan dan diaplikasikan pada beberapa lahan pertanian di Indonesia.

Di akhir webinar, para narasumber sepakat bahwa pembangunan pertanian modern membutuhkan kolaborasi platform dari berbagai pihak dengan tujuan bersama untuk memperkaya karya anak bangsa. Kementerian Pertanian memberikan dukungan pertanian dengan berbagai format. Kehadiran teknologi digital dan kecerdasan buatan, khususnya yang dikembangkan di tanah air dapat mendukung capaian pembangunan pertanian yang semakin maju dan modern. Disamping itu, teknologi yang dikembangkan harus menyesuaikan kondisi pertanian dan kebutuhan petani di Indonesia yang cenderung kepada teknologi yang tepat guna dengan biaya terjangkau untuk menjamin keberlanjutan usaha pertanian masyarakat. Kolaborasi dan penguatan daya inovasi Indonesia sebagai negara berkembang dengan visi pertanian yang jelas akan menghasilkan karya nyata bagi pembangunan pertanian modern di Indonesia. Melalui webinar ini, lebih lanjut Indonesian Scholars Network (ISNet) sebagai organisasi ilmiah dan profesional mendorong terwujudnya kolaborasi nyata khususnya pada sektor-sektor penting di Indonesia termasuk pertanian dan pangan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.