Keterlibatan Orang Tua Dalam Pendidikan Anak

Oleh: Dewi Fitriana, M.Psi., Psikolog

0

Orang tua merupakan tokoh yang sangat berperan dalam menentukan keberhasilan anak. Hasil penelitian Walker dan Hoover-Dempsey (2008) terhadap anak-anak sukses di sekolah menunjukkan bahwa peran orang tua, mencakup perhatian, dukungan, dan kesiapan untuk membantu anak merupakan ciri-ciri orang tua yang anaknya berhasil di sekolah. Pencapaian prestasi siswa di sekolah sangat dipengaruhi oleh sikap orang tua dalam menghargai prestasi dan mendorong anak untuk mencapai hasil yang baik di sekolah. Sebaliknya, orang tua yang kurang mendukung anak untuk belajar dan kurang menghargai prestasi anak di sekolah akan membuat anak kurang berprestasi.

Menurut Jeynes (dalam Hornby, 2011), keterlibatan orangtua didefinisikan sebagai partisipasi orang tua dalam proses dan pengalaman pendidikan anak-anak mereka. Hal ini meliputi keterlibatan orang tua di rumah, seperti mendengarkan anak membaca dan mendampingi anak menyelesaikan pekerjaan rumah, keterlibatan orang tua di sekolah seperti menghadiri workshop pendidikan orang tua dan pertemuan orang tua-guru. Penggunaan istilah orang tua untuk menunjukkan orang yang menjalankan peran sebagai orang tua terhadap anak-anak. Istilah tersebut meliputi ibu, ayah, kakek, nenek, dan anggota keluarga lainnya, termasuk juga orang tua angkat dan orang lain yang berperan sebagai wali. Definisi yang tidak jauh berbeda juga disampaikan oleh Desforges dan Abouchaar (2003) yang menyebutkan istilah keterlibatan orang tua (parental involvement) untuk aktivitas yang dilakukan oleh orang tua, seperti membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, berkomunikasi dengan guru, menghadiri pertemuan-pertemuan orang tua di sekolah, dan turut berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah.

Tinjauan dari penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa semakin besar keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anaknya, maka akan semakin sukses anak tersebut (Olender, Elias, dan Mastroleo, 2010; Peng dan Wright, 1993; Fejgin, 1995). Ballantine (dalam Hornby, 2000) menegaskan bahwa orang tua sangat berperan dalam kesuksesan anak selama masa sekolah. Penelitian Hattie (dalam Hornby, 2011) juga menyebutkan hal yang senada bahwa keterlibatan orang tua memiliki pengaruh yang paling besar terhadap pencapaian akademik anak. Manfaat keterlibatan orang tua meliputi meningkatnya prestasi akademik, menurunnya tingkat ketidakhadiran siswa, meningkatnya perilaku sekolah, meningkatnya motivasi akademik, dan berkurangnya tingkat putus sekolah (Olender, Elias, dan Mastroleo, 2010).

Menurut Epstein (2001) keterlibatan orang tua tidak hanya di sekolah tetapi orang tua juga sebaiknya terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka di rumah. Anak-anak tidak dapat memfokuskan perhatiannya pada pelajaran sekolah jika di rumahnya tidak ada keterlibatan orang tua dan ini akan menimbulkan rendahnya prestasi akademik (Hoover, dan Sandler, 1995; Lawson, 2003). Keterlibatan orang tua di rumah sebaiknya dilakukan secara terus menerus di semua tingkat pendidikan anak. Hasil penelitian Green et.al (2007) dalam Razak, et.all (2013) menyebutkan bahwa keterlibatan orang tua di rumah sebaiknya dilakukan secara terus menerus tidak hanya di jenjang sekolah rendah tetapi juga di jenjang berikutnya dimana anak sudah mulai berlatih untuk mandiri. Epstein (1989) dan Holmes (1989) dalam Razak, et.all (2013) menegaskan bahwa bantuan dan dukungan dari orang tua dalam pendidikan anak haruslah konsisten. Berdasarkan beberapa penelitian tersebut dapat diambil kesimpulannya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak hendaklah dilakukan secara terus menerus dan konsisten untuk semua jenjang pendidikan anak.

Menurut Hornby (2011) ada beberapa faktor yang memengaruhi keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, diantaranya adalah faktor orang tua dan keluarga, faktor anak, dan faktor orang tua-guru. Faktor orang tua dan keluarga dapat dirinci lagi antara lain, keyakinan orang tua terhadap keterlibatan mereka, persepsi orang tua terhadap ajakan keterlibatan, dan konteks kehidupan orang tua.

Menurut Walker, et.all (2005) keyakinan orang tua terhadap keterlibatan mereka dalam pendidikan anak diartikan sebagai keyakinan orang tua tentang apa yang seharusnya mereka lakukan dalam kaitannya dengan pendidikan anak. Lebih lanjut Hornby (2011) menjelaskan bahwa keyakinan orang tua tersebut dapat terlihat dalam beberapa hal, antara lain: (1). Cara orang tua memandang peran mereka dalam pendidikan anak sebagai sesuatu yang penting. Orang tua yang meyakini perannya hanya sekedar menyekolahkan anak-anaknya, maka mereka tidak akan mau terlibat aktif dalam program keterlibatan yang dilakukan di rumah maupun di sekolah. Sebaliknya orang tua yang meyakini bahwa peran mereka dalam pendidikan anak adalah sesuatu yang sangat penting dan menentukan keberhasilan anak di sekolah maka mereka akan terlibat secara aktif dalam pendidikan anak mereka. (2). Keyakinan orang tua bahwa mereka memiliki kemampuan untuk membantu kesuksesan anak mereka di sekolah. Penelitian Hoover-Dempsey dan Sadler (1997) dalam Hornby (2011) menyebutkan bahwa orang tua dengan tingkat keyakinan yang rendah terhadap kemampuan mereka dalam membantu anak-anaknya akan menghindari hubungan dengan sekolah, karena disebabkan pandangan bahwa keterlibatan tidak akan membawa hasil positif untuk anak-anak mereka. (3). Pandangan orang tua terhadap inteligensi anak. Orang tua yang meyakini bahwa inteligensi anaknya sudah menetap dan kesuksesan di sekolah hanya akan diperoleh oleh anak yang memiliki inteligensi tinggi, maka mereka memandang keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak tidaklah sesuatu yang bermanfaat.

Menurut Walker, et.all (2005) persepsi orang tua terhadap ajakan keterlibatan diartikan sebagai persepsi orang tua bahwa keterlibatan mereka dalam pendidikan anak dibutuhkan, disambut, dan dihargai oleh anak, guru, dan sekolah.  Ketika orang tua berpikir bahwa keterlibatan orang tua tidak dihargai oleh guru maupun sekolah, maka mereka menjadi kurang terlibat dalam pendidikan anak-anaknya di sekolah. Oleh karena itu, persepsi orang tua terhadap ajakan keterlibatan dari pihak sekolah dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting dalam mengembangkan keterlibatan orang tua yang efektif. Penelitian Epstein (2001) dalam Hornby (2011) menyebutkan bahwa orang tua akan sangat terlibat ketika guru secara aktif mendorong mereka. Penelitian Eccles & Harold (1993) dalam Hornby (2011) juga menyebutkan ketika guru dengan positif menerima keterlibatan orang tua dan memfasilitasi kegiatan yang melibatkan orang tua, membuat orang tua semakin terlibat dan keterlibatan orang tua semakin efektif.

Beberapa aspek dari konteks kehidupan orang tua dapat memengaruhi keterlibatan orang tua (Hornby, 2011; Walker, et.all., 2005). Dalam hal ini konteks yang akan dilihat adalah ketersediaan waktu dan tenaga yang dimiliki oleh orang tua untuk terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka.

Jika kita lihat kondisi yang ada pada saat ini, di kota-kota besar seiring dengan menjamurnya sekolah-sekolah plus, baik internasional maupun nasional, banyak orang tua berpandangan jika mereka telah menyekolahkan anaknya ke sekolah yang bergengsi atau favorit, akan mengurangi beban tanggung jawab mereka atas pendidikan anaknya. Mereka berpendapat, tugas mereka adalah membayar uang sekolah, urusan pendidikan adalah urusan sekolah. Selain itu, ada juga orang tua berpandangan jika anak mereka sudah menginjak remaja, orang tua tidak perlu mengawasi terlalu jauh pendidikan putra-putrinya, semua diserahkan kepada sekolah. Apabila ada pertemuan orang tua dengan pihak sekolah, seminar orang tua, maupun pertunjukan bakat minat anak, ada kecenderungan orang tua yang anaknya masih kecil biasanya lebih menyempatkan waktu untuk hadir, daripada mereka yang mempunyai anak remaja.

Fenomena lain yang juga dapat kita temui di tengah masyarakat sekarang yakni banyak orang tua sudah memiliki pengetahuan tentang keuntungan yang akan didapatkan jika mereka terlibat dalam pendidikan anak. Namun hal itu baru sebatas pengetahuan dan belum terlihat efeknya terhadap anak. Christenson dan Sheridan (dalam Hornby, 2011) menyatakan bahwa keluarga dan sekolah bekerja sama sebagai mitra baru sebatas teori karena kenyataannya belum seperti itu. Menjamurnya seminar-seminar parenting baik online maupun offline dan bersemangatnya orang tua mengikuti kegiatan tersebut, Akan tetapi, masih saja kita temui kenyataan anak-anak yang bermasalah di sekolah karena kurangnya keterlibatan orang tua terhadap pendidikan mereka.

Selain dua feomena diatas, ada lagi tipikal orang tua yang sudah memiliki pemahaman akan pentingnya keterlibatan dirinya dalam pendidikan anak sekaligus menerapkannya kepada anak mereka. Orang tua yang seperti ini memberi perhatian penuh kepada pendidikan anak dan siap mendukung program sekolah dan bekerja sama dengan pihak sekolah dan pihak-pihak lain yang ikut berperan dalam pendidikan anak mereka. Orang tua memiliki hubungan yang baik dengan pihak sekolah sehingga antara orang tua dan guru bisa saling berbagi informasi yang berguna untuk kesejahteraan dan kesuksesan anak di sekolah.

Berdasarkan uraian tersebut, secara garis besar ada tiga kelompok orang tua dalam keterlibatannya dengan pendidikan anak:

  1. Orang tua yang berpandangan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab sekolah, dan dirinya hanya mencari nafkah saja.
  2. Orang tua yang rajin mengikuti berbagai seminar dan diskusi mengenai parenting tetapi tidak terlibat secara penuh dalam pendidikan anak.
  3. Orang tua yang terlibat penuh dalam pendidikan anak dan selalu membangun komunikasi dengan pihak sekolah dan pihak lain yang ikut berperan dalam pendidikan anaknya.

Diantara ketiga kelompok orang tua tersebut, berada di kelompok manakah kita? Silakan dijawab dan apapun pilihan kita hari ini akan kita rasakan hasilnya di masa depan di saat anak anak kita besar nanti.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.