Keistimewaan Semut Menurut Perspektif Islam dan Sains

0

Oleh : Rizky Nur Berlianni Mulyanto
Program Studi Bioteknologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Al Azhar Indonesia
E-mail: rizky.berlianni@gmail.com

Semut merupakan serangga sosial yang berasal dari famili Formicidae yang termasuk ke dalam ordo Hymenoptera bersama dengan lebah dan tawon serta kosmopolit. Jumlah spesiesnya kini mencapai sekitar 3500 spesies yang hidup di daerah beriklim tropis dan sedang. Selain itu, semut memiliki peran penting bagi ekosistem karena semut dapat menjaga aerasi dan pencampuran tanah sehingga dapat meningkatkan infiltrasi air yang membuat tanah tetap sehat. Semut juga merupakan pemangsa utama beberapa hewan invertebrata kecil dan bahkan bagi tumbuhan sekalipun (Arifin, 2014).

Semut merupakan salah satu hewan berukuran kecil yang sering dijumpai pada berbagai tempat. Di dalam Al-Qur’an seperti yang dikutip pada (Prayitno & Abdillah, 2018), semut dikisahkan dengan Nabi Sulaiman AS dan tentaranya yang akan mendekati sarang mereka. Salah satu semut dalam kawanan tersebut memperingatkan kawanannya untuk segera kembali ke sarang mereka agar tidak terinjak oleh tentara Nabi Sulaiman AS. Kisah tersebut tertuang di dalam QS. An-Naml ayat 18 yang berbunyi:

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

 “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”.    

Semut melakukan komunikasi secara kimia dengan cara memberikan alarm atau peringatan kepada kelompoknya sehingga terjadi pertukaran informasi secara cepat. Zat kimia dengan kadar yang berbeda-beda, dikeluarkan dari kelenjar-kelenjar semut bergantung pada situasi yang dihadapi. Zat kimia tersebut akan melekat pada semut lainnya apabila semut saling menyapa atau bersentuhan. Semut yang saling menyapa inilah yang akan membuat zat kimia dari tubuhnya tersebut dapat digunakan untuk memberitahu rekannya melalui antena di kepalanya, apakah di lingkungan sekitarnya terdapat makanan atau terdapat musuh (Prayitno & Abdillah, 2018).

Menurut Ibnu Katsir, semut termasuk ke dalam hewan yang hidup bermasyarakat dan berkelompok. Hewan ini mempunyai keunikan, yaitu memiliki ketajaman indra dan memiliki sikap yang sangat berhati-hati, serta memiliki etos kerja yang sangat tinggi. Semut memiliki koloni yang terbagi ke dalam beberapa kasta, yaitu Ratu semut, semut pejantan, semut tentara/prajurit, dan semut pekerja yang telah mempunyai tugasnya masing-masing. Kasta pertama ialah ratu dan pejantan, yang dimana Ratu semut bertugas untuk bereproduksi dan pejantan bertugas untuk mengawini ratu yang kemudian setelah melakukan tugasnya akan mati. Kasta kedua ialah semut prajurit yang bertugas untuk berburu, membangun sarang, dan mencari daerah baru untuk tempat tinggal. Kasta ketiga ialah semut pekerja yang terdiri dari betina yang mandul yang bertugas melayani ratu dan larva dan mencari makan sebagai tugas tambahannya (Juliawati, 2018).

Semut termasuk ke dalam serangga yang mempunyai populasi cukup stabil sepanjang musim dan tahun. Jumlahnya yang banyak dan stabil membuat semut menjadi salah satu koloni serangga yang berperan penting di dalam ekosistem. Oleh karena jumlahnya yang berlimpah, fungsinya yang penting, dan interaksi yang kompleks dengan ekosistem yang ditempatinya, semut sering kali digunakan sebagai bio-indikator dalam program penilaian lingkungan, seperti kebakaran hutan, gangguan terhadap vegetasi, adanya penebangan hutan, pertambangan, pembuangan limbah, dan faktor penggunaan lahan (Haneda & Yuniar, 2015).

Tubuh semut terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Kepala semut dilengkapi dengan organ sensor yang mempunyai keistimewaan berupa antena dan mata majemuk yang terdiri atas kumpulan lensa mata yang lebih kecil, sehingga dapat mendeteksi gerakan dengan sangat baik. Bagian toraksnya terdiri atas kaki dan sayap pada kebanyakan spesiesnya yang berfungsi sebagai penggerak. Bagian abdomennya terdiri atas organ pencernaan, pembuangan, dan reproduksi (Ulfa, 2018). 

Menurut Al-Biqa’i yang dikutip dari (Ulfa, 2018), QS. An-Naml memiliki tujuan pokok dan tema utama berupa penonjolan pengetahuan dan hikmah kebijaksanaan Allah SWT, seperti pengetahuan, ciri-ciri, dan keadaan semut. Semut dikenal dengan keistimewaannya dalam mengatur kehidupan mereka, seperti pada surah ini menyangkut ketulusannya dalam menetapkan tujuan dan kemampuannya mengekspresikan tujuan itu serta kesesuaiannya dengan kondisi yang mereka hadapi. Penjelasan oleh Al-Biqa’i ini sesuai dengan QS. An-Naml ayat 18 yang berbunyi:

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”

Di dalam ayat tersebut terdapat kata “Qâlat Namlah” yang menurut Al-Biqa’i membuat pembaca berimajinasi, seekor semut dapat berbicara dengan sesama koloninya seperti halnya dengan manusia yang berkomunikasi sesamanya. Semut dalam ayat ini dijadikan sebagai perumpamaan dan pelajaran yang berharga, seperti aspek kehidupan sosialnya. Salah satu organ tubuhnya berfungsi sebagai spion yang digunakan untuk menyelidiki dan mengintip bahaya yang akan menimpanya beserta koloninya. Saat terjadi bahaya, semut akan memperingatkan koloni semut lain untuk lekas menyingkir (Ulfa, 2018).

Pemilihan kata “Qâlat” pada QS. An-Naml ayat 18, menggambarkan seekor semut jenis betina yang sedang memberikan instruksi dan komando kepada kawanan semut yang sedang bersamanya untuk masuk ke sarang. Pernyataan seekor semut betina pada ayat tersebut menunjukan sistem kerajaan semut yang rapih karena mereka sudah mengetahui tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Sebagian Ulama ketika mencermati kata-kata pada ayat tersebut menyimpulkan bahwa semut betina/Ratu semut tersebut memiliki tingkat intelegensi yang tinggi. Kata-kata yang diucapkan tersebut tidaklah mungkin terlontar melainkan dari makhluk yang dianugerahi oleh Dzat Yang Menciptakan kemampuan intelegensi yang tinggi (Baihaqi, 2018).

Berdasarkan ilmu Sains menurut kajian ilmu serangga, semut memiliki bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sesamanya. Fenomena tersebut telah dibuktikan oleh banyak penelitian kontemporer dengan sejumlah perangkat ilmiah yang canggih, yang menyatakan bahwasannya kehidupan sosial semut terjadi berdasarkan kesepahaman diantara sesama. Kata perkata yang diucapkan oleh Ratu semut tersebut sebagaimana yang telah diabadikan di dalam Al-Qur’an, sejatinya secara faktual, kata-kata itu memang diucapkan oleh Ratu semut tersebut (Baihaqi, 2018).

Komunikasi sesama semut seperti yang ada pada QS. An-Naml dinamakan komunikasi kimiawi yang menggunakan zat kimia bernama Semiokemikal yang terdiri dari alomon dan feromon. Alomon merupakan zat yang digunakan untuk berkomunikasi antar Genus, sedangkan feromon digunakan untuk berkomunikasi antar Genus yang sama, yaitu saat feromon diekskresikan oleh seekor semut dapat tercium oleh semut lainnya. Saat semut mengekskresikan feromon ini sebagai isyarat, yang lain menangkap pesan itu lewat bau atau rasa, dan kemudian menanggapinya (Baihaqi, 2018).

Semut mempunyai keistimewaan dalam menghasilkan senyawa kimia bernama feromon. Feromon yang dikeluarkan oleh semut lain dapat dideteksi dengan antenanya untuk saling berkomunikasi dan sebagai alat peraba untuk mendeteksi segala sesuatu yang ada di hadapannya. Feromon juga digunakan oleh semut untuk meninggalkan jejak kimiawi saat menemukan sarang baru dan untuk mencari makanan. Senyawa kimia tersebut diduga diproduksi di dalam kelenjar endokrinnya dengan konsentrasi yang berbeda-beda bergantung pada kedaruratan situasi yang dihadapi. Feromon ini disekresikan terus-menerus setiap harinya dan berkat adanya senyawa ini, setiap semut yang baru menetas mampu melakukan sistem komunikasi sosial yang sempurna, yang tidak menyisakan ruang untuk meragukan adanya sang Pencipta dengan kekuasaan yang tak terbatas (Kurniawan, 2017).

KESIMPULAN

Semut merupakan salah satu dari sekian banyaknya hewan yang diciptakan oleh Allah SWT dan tertulis di dalam satu ayat pada QS. An-Naml, yaitu pada ayat 18. Semut pada ayat tersebut digambarkan sedang berkomunikasi dengan sesama kawanannya yang dalam ilmu Sains, semut memiliki senyawa kimia berupa feromon yang dapat dideteksi oleh antena semut untuk saling berkomunikasi atau yang disebut sebagai komunikasi kimiawi. Selain itu, semut memiliki sifat sosial yang tinggi, yaitu sistem kerajaannya tersusun secara rapi karena mereka akan menjalankan tugasnya sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing. Oleh karena itu, semut terbagi dalam tiga kasta, yaitu Ratu semut dan pejantan yang menempati kasta pertama, semut prajurit pada kasta kedua, dan semut pekerja pada kasta ketiga yang masing-masing kasta telah memiliki tugasnya masing-masing. Keistimewaan semut menurut perspektif Islam dengan Sains tidaklah terlepas dari kuasa Allah SWT yang telah menciptakan makhlukNya dengan sedemikian rupa yang telah diberikan karunia berupa kelebihan dan keistimewaannya masing-masing, Wallahu A’lam Bisshowab.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, I. (2014). Keanekaragaman Semut (Hymenoptera: Formicidae) Pada Berbagai Subzona Hutan Pegunungan di Sepanjang Jalur Pendakian Cibodas, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). BIOMA, 1-10.

Baihaqi, Y. (2018). Dimensi Sains Dalam Kisah Al-Qur’an dan Relevansinya Dengan Keakuratan Pemilihan Kata. Aqlam: Journal of Islam and Plurality3(2).

Haneda, N. F., & Nisfi, Y. (2015). Komunitas Semut(Hymenoptera: Formicidae) pada Empat Tipe Ekosistem yang Berbeda di Desa Bungku Provinsi Jambi. Jurnal Silvikultur Tropika6(3), 203-209.

Juliawati. (2015). Semut Dalam Perspektif Al-Qur’an (Studi Tafsir Hamka dan Ibnu Katsir) (Diploma/S1Thesis, IAN Sultan Maulana Hasanuddin Banten).

Kurniawan, A. (2017). Keanekaragaman Semut (Subfamili: Myrmicinae) di UIN Raden Intan Lampung dan Kehidupan Sosial Semut Serta Kajiannya di Dalam Al-Qur’an (Sebagai Sumber Bahan Pengembangan Petunjuk Praktikum Pada Konsep Insekta SMA Kelas X Semester Ganjil TA 2015-2016) (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).

Prayitno, & Abdillah. (2018). Metode Komunikasi Semut (Komusem) Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Trigonometri Peserta Didik. Jurnal Matematika dan Pembelajaran, 201-214.Ulfa, S. F. (2018). Semut dalam Al-Qur’an:  studi penafsiran Thantawi Jauhari dalam Tafsir al-Jawahir (Doctoral dissertation, UIN Walisongo Semarang).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.