Keanekaragaman dan Kelangsungan Hidup Ikan Gelodok (Famili: Gobiidae) dalam Ekosistem Mangrove di Indonesia

0

Oleh : Irania Anggita
Program Studi Biologi (Bioteknologi)
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Al Azhar Indonesia

Email: irania.anggita@gmail.com

Indonesia memiliki daerah perairan yang lebih luas daripada daratan. Salah satu karakteristik daerah perairan di Indonesia adalah adanya ekosistem Mangrove yang merupakan rumah bagi berbagai jenis ikan, salah satunya adalah ikan Gelodok. Ikan Gelodok adalah ikan yang hidup pada daerah estuari dan memiliki adaptasi terhadap dua habitat yang berbeda, yaitu habitat perairan di darat dan laut. Di Indonesia, secara umum ikan Gelodok kurang mendapat perhatian, sehingga informasi tentang ikan dari famili Gobiidae ini masih sangat sedikit (Maturbongs et. al., 2018). Ikan Gelodok mempunyai ciri-ciri fisik seperti memiliki mata besar dan mencuat keluar dari kepalanya, sirip dada pada bagian pangkal berotot, sehingga sirip ini bisa ditekuk dan berfungsi seperti lengan yang dapat digunakan untuk merangkak atau melompat diatas lumpur (Gambar 1) (Sunarni et. al., 2014).

Secara taksonomi, ikan Gelodok masuk ke dalam famili Gobiidae yang terdiri dari berbagai jenis ikan yang terdistribusi di seluruh dunia yang hidup di habitat laut, estuari, dan air tawar. Kemampuan ikan dari famili Gobiidae hidup di berbagai habitat yang berbeda, dikarenakan kemampuan adaptasinya terhadap gradien salinitas (Khoncara et. al., 2018). Karena kemampuan adaptasinya ini, ikan Gelodok di Indonesia, hidup di kawasan pesisir hutan Mangrove. Ikan ini menggunakan sirip dadanya untuk merangkak naik ke darat atau bertengger pada akar Mangrove dan berjalan diatas lumpur yang kering pada saat air laut surut, sehingga disebut sebagai mudskipper. Menurut Al-Behbehani dan Ebrahim (2010), ikan mudskipper mampu bertahan di daerah pasang surut karena memiliki kemampuan bernafas melalui kulit tubuhnya dan lapisan selaput lendir di mulut serta kerongkongannya. Ikan Gelodok selain disebut sebagai mudskipper, juga dikenal sebagai filter feeder karena ikan ini mendapatkan makanan dengan cara menyaring bahan-bahan organik yang tersuspensi di dalam air, maupun yang terdeposit di dalam sedimen. Ikan Gelodok lebih banyak terlihat pada saat air laut surut, dimana saat air laut surut, kedalaman perairan berkisar antara 74,8–99 cm. Sedangkan pada saat air laut pasang, kedalaman perairan berkisar antara 147,8–178 cm, sehingga ikan Gelodok akan lebih banyak bersembunyi di lubang sarang di dalam lumpur, untuk menghindar dari predator. Sedangkan ketika air laut surut, ikan Gelodok banyak keluar dari sarang dan berjalan di atas lumpur, hingga memanjat akar mangrove (Murniati dan Hasan, 2016; Elviana dan Sunarni, 2018). 

Keanekaragaman Ikan Gelodok di Ekosistem Mangrove

Ikan Gelodok yang ditemukan di ekosistem Mangrove di Indonesia, antara lain spesies Boleophthalmus boddarti, Periophthalmus gracilis, Periophthalmus chrysospilos, dan Periophthalmonodon schlosseri yang dibedakan berdasarkan corak tubuhnya (Gambar 2). Muhtadi et. al. (2016) mendeskripsikan ciri-ciri ikan Gelodok tersebut, yaitu ikan B. boddarti memiliki ciri–ciri pada badan dan sirip punggung yang memiliki bintik-bintik berwarna biru mengkilap, kadang terlihat berwarna hitam kecoklatan, bagian kepala juga dipenuhi bintik berwarna kebiruan dan garis hitam, bagian bawah tubuh berwarna putih (Gambar 2a). Spesies P. gracilis memiliki ciri–ciri bagian punggung tubuhnya berwarna coklat keabu-abuan, bagian perutnya berwarna putih dan memiliki garis berwarna coklat gelap berbentuk miring, serta berbintik abu-abu keperakan (Gambar 2b). Spesies P. chrysospilos memiliki ciri-ciri berwarna kecoklatan, tubuhnya berbintik-bintik keemasan, pada sirip punggung pertama memiliki warna hitam di bagian atas dan warna putih pada bagian bawah, sirip punggung kedua memiliki bintik berwarna emas disertai dengan garis berwarna hitam (Gambar 2c). P. schlosseri merupakan spesies ikan Gelodok yang ditemukan paling banyak di perairan Indonesia. Ikan ini berwarna coklat muda, memiliki garis panjang berwarna gelap pada tubuhnya hingga pangkal ekor, berbintik hijau pada bagian bawah tubuhnya (Gambar 2d). 

Gambar 2. Keanekaragaman Ikan Gelodok yang Ditemukan di Perairan Indonesia,
a) P. Chrysospilos, b) P. Gracilis, c) B. boddarti, d) Pn. Schlosseri.

Parameter yang Mempengaruhi Kelangsungan Hidup Ikan Gelodok

Ikan Gelodok memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan ekstrim, sehingga dapat bertahan hidup di ekosistem Mangrove yang memiliki kondisi pasang surut air laut dan fluktuasi salinitas di perairannya. Tingkat salinitas pada perairan payau yang terdapat di ekosistem Mangrove berkisar antara 0,5–30 ppt (parts-per-trillion) yang dipengaruhi oleh masuknya air tawar dari daratan. Selain itu, ikan Gelodok dapat hidup pada perairan dengan nilai kandungan BOD (Biochemical Oxygen Demand) berkisar antara 0,42 – 0,89 mg/l, dimana pada perairan umumnya memiliki nilai BOD antara 0,5-0,7 mg/l, dan BOD lebih dari 10 mg/l dianggap telah tercemar. Biochemical Oxygen Demand adalah suatu parameter yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik di dalam suatu perairan (Atima, 2015). Karena kawasan Mangrove memiliki kandungan bahan organik yang tinggi yang berasal dari serasah tanaman Mangrove dan adanya masukan bahan organik dari muara sungai di sekitarnya, maka nilai BOD-nya pun akan tinggi yang dapat ditolerir oleh ikan Gelodok (Elviana dan Sunarni, 2018).

DAFTAR PUSTAKA

Al-Behbehani, B. E dan H. M. A. Ebrahim. 2010. Enviromental Studies on The Mudskippers In The Intertidal Zone of Kuwait Bay. Nature and Science. 8(1): 79-87.

Atima W. 2015. BOD dan COD Sebagai Parameter Pencemaran Air dan Baku Mutu Air Limbah. Juurnal Biology Science & Education, 4(1) : 83 – 93. 

Elviana S. dan Sunarni. 2018. Komposisi dan Kelimpahan Jenis Ikan Gelodok Kaitannya dengan Kandungan Bahan Organik di Perairan Estuari Kabupaten Merauke. Jurnal Agribisnis Perikanan, 11(2) : 38 – 43.

Khoncara A.C., Sulistiono, Simanjuntak C.P., dan Rahardjo M.F. 2018. Komposisi Makanan dan Strategi Makan Ikan Famili Gobiidae di Teluk Pabean, Indramayu. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI), 23(2): 137 – 147.

Maturbongs M.R., Elviana S., Sunarni, dan DeFretes D. 2018. Studi Keanekaragaman Ikan Gelodok (Famili: Gobiidae) Pada Muara Sungai Maro dan Kawasan Mangrove Pantai Kembapi, Merauke.  Jurnal Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan, 7(2) : 177 – 186.

Muhtadi A., Ramadhani S., dan Yunasfi. 2016. Identifikasi dan Tipe Habitat Ikan Gelodok (Famili: Gobiidae) di Pantai Bali Kabupaten Batu Bara Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Biospecies, 9(2)  : 1 – 6.

Murniati N. dan Hasan R. 2016. Populasi Ikan Gelodok (Periophthalamus modestus) Di Kawasan Hulu Mangrove Kualo Lingkar Barat Bengkulu. Jurnal Gradien, 12(1) : 1159 – 1164.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.