Edisi #belajarzerowaste, Memulai dari Diri Sendiri!

Oleh: Ika Feni Setiyaningrum

0

Belum lama ini tersiar kabar mengenai kematian paus sperma di perairan Wakatobi. Setelah ditelisik rupanya di dalam perut paus tersebut terdapat beraneka sampah seberat hampir 6 kg. Beraneka sampah yang ada di dalam perut paus tersebut terdiri dari penutup galon, botol plastik, tali rafia, sobekan terpal, botol parfum, sandal jepit, kresek, piring plastik, gelas plastik, dan jaring. Sedih, memprihatinkan, dan kasian. Itu hanya satu kasus saja yang baru-baru ini terjadi. Sebelumnya telah ada kasus-kasus lain yang intinya sama, yaitu tentang kasus kematian atau tersiksanya hewan-hewan laut akibat sampah yang masuk ke perairan.

Apabila kita cermati dari beraneka sampah yang masuk ke perut ikan paus tersebut, maka dapat kita ketahui bahwa jenis sampah tersebut adalah mayoritas sampah domestik alias berasal dari sampah rumah tangga. Ini seharusnya menjadi refleksi kita bersama, terutama penulis sendiri, apakah kita sudah berusaha untuk mengurangi volume sampah yang kita hasilkan setiap harinya atau justru kita masih acuh tak acuh terhadap persoalan sampah yang sebenarnya saat ini adalah persoalan yang genting?

Lalu apa yang perlu banget kita lakukan untuk bisa mengurangi persoalan sampah yang saat ini sudah genting? Apakah kita hanya akan diam saja dan membiarkan bumi kita penuh sesak dengan sampah–  lalu kita baru bergerak? Berdasarkan info dari Kompas  (19/08/2018), Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar nomor dua di dunia, dengan jumlah produksi sampah plastik sebanyak 64 juta ton per tahun, dan sebanyak 3,2 juta ton dari sampah tersebut dibuang ke laut.

Mungkin kita sudah memiliki kebiasaan baik untuk senantiasa membuang sampah pada tempatnya. Hal ini sudah mencerminkan kebersihan bagi kita, karena kita tidak mencemari tempat lain dengan sampah yang kita hasilkan. Mungkin sebagian dari kita juga sudah rutin membayar iuran sampah tiap bulannya agar sampah-sampah kita diangkut oleh petugas sampah ke TPA. Namun apakah sampai sini sudah cukup? Sebenarnya, apabila kita hanya sampai tataran ini saja, ini masih belum menyelesaikan masalah sampah-sampah di bumi kita. Why? Karena sebenarnya sampah-sampah yang kita hasilkan hanya berpindah tempat saja. Kenyataannya, sampah tersebut masih ada. Tidak hilang dan tidak lenyap. Di tempat kita bersih dari sampah-sampah  akan tetapi menjadi masalah di tempat lain, yakni di TPA.

Dengan berbagai permasalahan sampah yang ada saat ini, sudah seharusnya kita memulai  mencoba gaya hidup baru, yakni gaya hidup zero waste alias nol sampah. Kita mungkin sudah familiar dengan istilah ini, namun mungkin belum atau sedang dalam proses mengimplementasikannya (baca : termasuk penulis). Zero waste merupakan gaya hidup untuk meminimalkan penggunaan bahan sekali pakai dan memperpanjang siklus hidup sumber daya agar mampu menjadi produk yang dapat dipakai kembali (Wardhani, 2018). Dengan mempraktikkan gaya hidup ini, tentu kita akan dapat berkontribusi untuk mengurangi jumlah sampah yang sudah menumpuk di bumi ini.

Gaya hidup zero waste  menerapkan prinsip 5R (Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot) seperti yang digagas oleh Bea Johnson sejak 2008. Gaya 5R ini berarti dimulai dari menolak, mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang, dan membusukkan. Sedikit berbeda dengan yang saat ini sering dikampanyekan di Indonesia, yakni 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Gaya hidup zero waste dimulai dari refuse atau menolak, yakni menolak untuk menggunakan bahan sekali pakai seperti plastik single use. Selain itu terdapat prinsip rot yakni membusukkan. Maksudnya di sini adalah membusukkan sampah-sampah oganik yang dihasilkan agar menjadi pupuk kompos.

Membiasakan diri untuk memiliki gaya hidup zero waste ini memang tak mudah. Mengutip kata-kata dari Wardhani (2018)  bahwa “Menuju minim sampah bukan menjadikan kita malaikat, namun menjadikan kita manusia yang peduli dan bertanggungjawab”. Oleh karenanya agar menjadi problem solver dari persoalan sampah memang kuncinya adalah memulai dari diri sendiri. Mulai dari hal yang kecil dan saat ini.  Apabila masing-masing pribadi kita sudah berhasil, maka akan menular dan kita tularkan pada yang lain—orang terdekat kita; suami, anak, istri, orang tua, tetangga, murid-murid kita. Ketika ini sudah berhasil, maka bukan suatu hal yang mustahil apabila akan terwujud desa minim sampah, kota minim sampah, bahkan negara minim sampah. Kita akan mampu menjadi bagian kontributor untuk mensukseskan targetan atau komitmen dari pemerintah Indonesia di tahun 2025 bahwa Indonesia akan mengurangi sampah plastik terbuang di lautan sebanyak 70%.

Berikut ini saya tuliskan beberapa model gaya hidup zero waste yang saya sarikan dari buku Wardhani (2018) :

  1. Tolak penggunaan barang sekali pakai, seperti botol plastik, kresek, styrofoam, dan sedotan. Gunakan barang lain yang tidak hanya single use, seperti botol isi ulang, kantung belanja (ex. totebag), clodi, dan pilih peralatan elektronik yang re-chargeable. Gunakan bahan-bahan alami untuk produk yang biasa dipakai agar tidak menghasilkan residu (bungkus produk). Produk alami yang dipakai misalnya sabun lerak, kulit jeruk untuk pewangi pakaian, dan sabun mandi buatan sendiri.
  2. Melakukan pemilahan sampah yang kita hasilkan. Salurkan sampah yang kita hasilkan ke bank sampah maupun lembaga lain yang menerima sampah. Jenis sampah mana saja yang kita salurkan harus sesuai dengan kriteria sampah yang diterima oleh lembaga penerima sampah tersebut.
  3. Olah sampah yang kita hasilkan. Mengolah sampah dapat dilakukan di skala rumah tangga baik untuk jenis sampah organik maupun anorganik. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos. Cara mengolahnya dapat menggunakan komposter atau lubang biopori, tergantung ketersediaan lahan di rumah. Adapun jenis sampah anorganik, seperti plastik dapat dibuat eco-bricks. Eco-bricks ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk membuat barang serba guna lainnya, seperti meja, kursi, lemari, karya seni bahkan bahan bangunan.

 

Referensi :

Johnson, Bea. 2018. From a Blog to a Movement. Diakses dari https://zerowastehome.com/ pada 28 November 2018

Pati, Kiki Andi. 2018. Sampah Plastik 5,9 Kg Ditemukan dalam Perut Paus yang Mati di Wakatobihttps://regional.kompas.com/read/2018/11/20/14571691/sampah-plastik-59-kg-ditemukan-dalam-perut-paus-yang-mati-di-wakatobi  diakses pada 28 November 2018

Puspita, Sherly. 2018. Indonesia Penyumbang Sampah Plastik Terbesar Kedua di Dunia. Diakses dari https://megapolitan.kompas.com/read/2018/08/19/21151811/indonesia-penyumbang-sampah-plastik-terbesar-kedua-di-dunia pada 28 November 2018

Wardhani, DK. 2018. Menuju Rumah Minim Sampah. Pustaka RMA

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.