Aplikasi Bioteknologi Berupa Terapi Gen Dalam Pengobatan Hemofilia

0

Oleh : Chairunissa Rachmawardhanie
Program Studi Biologi (Bioteknologi), Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Al Azhar Indonesia
Email: chairunissarwdhanie@gmail.com

Saat ini ilmu pengetahuan dalam bidang biologi terutama bioteknologi berkembang secara pesat dan telah membawa pengaruh besar dalam membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi manusia. Perkembangan bioteknologi ini telah memanfaatkan organisme pada tingkat molekulernya yang terkait dengan rekayasa genetika dengan memanipulasi gen pada organisme tertentu sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik seperti di bidang pertanian, kesehatan, lingkungan, industri (Smith 2009).

Terutama perkembangan bioteknologi bidang kesehatan membuat para ahli kesehatan mulai mengembangkan metode pengobatan yaitu berupa terapi gen sebagai salah satu alternatif solusi masalah kesehatan. Pengobatan dengan terapi gen dimulai dengan berhasilnya para ahli melakukan perbanyakan gen pada tahun l980an. Selanjutnya para ahli mulai mencari suatu metode untuk memproduksi protein yang ditujukan untuk pengobatan penyakit yang diakibatkan oleh ketidakmampuan tubuh dalam menyintesis protein secara alami. Terapi gen dapat digunakan untuk terapi pada penyakit genetik maupun yang tidak. Pengobatan yang berbasis pada terapi gen diyakini memiliki banyak keuntungan yang tidak dimiliki oleh pengobaran konvensional (Syahrizal 2008 dan Widyastuti 2017).

Salah satu penyakit genetik yang dapat diobati dengan metode terapi gen adalah hemofilia. Hemofilia merupakan penyakit gangguan hemostasis yang menyebabkan perdarahan abnormal yang disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah, trombosit, atau faktor koagulasi (Purwanto 2012), sehingga dapat menyebabkan sukar terjadinya proses pembekuan darah saat terjadi pendarahan. Seperti halnya dengan penyakit keturunan lainnya, hemofilia diturunkan dari gen X resesif yang dapat diturunkan dari Ibu (sebagai carrier) kepada anak laki-lakinya sejak dilahirkan. Hemofilia dapat dibagi menjadi hemofilia A dan B yang disebabkan oleh mutasi dari gen faktor koagulasi VIII dan IX (Kiswari 2014). Berdasarkan data World Federation of Hemophilia (WFH) ada sekitar 400 ribu penyandang hemofilia di dunia. Di Indonesia sendiri, jumlah kasus hemofilia diperkirakan berjumlah 25,000 orang, namun yang tercatat pada Perhimpunan Hemofilia dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) hanya 1,025 pasien per tahun 2016 (Desideria 2016).

Dalam perawatan terhadap penyakit ini, pasien diberikan pengobatan untuk mengatasi perdarahan berlebih dengan pemberian faktor koagulasi VIII dan IX. Selain pemberian faktor pembekuan tersebut dapat diberikan juga berupa DDVAP/desmopressin (hanya dapat diberikan pada hemofilia A), antifibrinolitik, dan fibrin glue. Namun, terapi gen dapat menjadi pendekatan ideal untuk pengobatan terhadap hemofilia. Pada saat ini sudah terdapat beberapa uji klinis/studi yang menunjukkan perbaikan pada pasien dengan hemofilia yang diberikan dengan metode terapi gen ini.

Sehingga dengan adanya terapi gen ini dapat memberikan pilihan bagi penderita penyakit tertentu terutama hemofilia untuk memilih metode pengobatan. Maka dari itu, penulisan makalah ini akan memaparkan mengenai penyakit hemofilia, metode terapi gen, dan mekanisme kerja aplikasi terapi gen dalam pengobatan penyakit hemofilia. Diharapkan tulisan ini dapat memberikan informasi dasar mengenai kemajuan teknologi terapi gen dalam pengobatan hemofilia sehingga dapat memberikan pengertian yang tepat dalam memahami mekanisme yang terlibat dalam terapi gen.

Penyakit Hemofilia

Darah di dalam tubuh kita memiliki regulasi hemostasis dalam melakukan pemberhentian dari pendarahan yang disebabkan oleh pembuluh darah yang cedera. Untuk memperbaiki kerusakan dinding pembuluh darah dan mencegah/mengurangi kehilangan darah yang berlebih, hemostasis melakukan tiga cara langkah utama yaitu, (1) spasme pembulu darah, (2) pembentukan platelet plug, dan (3) koagulasi darah. Koagulasi darah adalah transformasi darah dari cairan menjadi suatu gel yang solid. Proses koagulasi ini dapat terjadi melalui jalur ekstrinsik dan intrinsik. Faktor XII, XI, IX, dan VIII adalah bagian dari jalur instrinsik sedangkan faktor III dan VII adalah bagian dari ekstrinsik. Jalur ekstrinsik dan intrinsik kemudian bertemu pada faktor X (10) dan kemudian lanjut berjalan sehingga fibrinogen dapat menjadi fibrin (Susanto & Kurniawan 2016).

Gangguan hemostasis yang menyebabkan perdarahan abnormal dan sukar terjadinya proses pembekuan darah saat terjadi pendarahan dapat disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah, trombosit, atau faktor koagulasi (Purwanto 2012), gangguan ini disebut dengan hemofilia. Hemofilia adalah kelainan pendarahan genetik yang disebabkan oleh kekurangan dalam faktor koagulasi dalam pembekuan darah. Penyakit ini dapat diturunkan karena mutasi gen yang mengakibatkan perubahan dalam untaian DNA (kromosom) X resesif sehingga membuat proses pembekuan darah dalam tubuh tidak berjalan dengan normal. Sebagian besar penyakit ini diderita oleh laki-laki yang niasa diturunkan dari ibunya sebagai carrier (Kiswari 2014).

Kedua gen F8 dan F9 terletak pada kromosom X, gen F8 berada di ujung lengan panjang kromosom Xq285 dan gen F9 IX di lengan panjang kromosom Xq27. Gen F8 sangat besar (sekitar 180 kb) dan kompleks secara struktural (26 ekson), sedangkan gen F9 jauh lebih kecil (sekitar 34 kb panjangnya) dan secara struktural lebih sederhana, hanya mengandung delapan ekson, yang terbesar hanya 1.935 bp panjang (Castaman & Matino 2019).

Penyakit hemofilia dapat dikelompokkan menjadi dua tipe berdasarkan defisiensi pada faktor koagulasinya yaitu Hemofilia A (HA) dan Hemofilia B (HB),

  1. Hemofilia A : Biasa disebut juga dengan hemofilia klasik. Tipe hemofilia ini terjadi akibat kekurangan faktor koagulasi dalam pembekuan darah VIII (FVIII / faktor anti-hemofilik). Jumlah faktor VIII yang menurun ini dapat disebabkan karena memang jumlah faktor VIII yang diproduksi menurun, terdapatnya protein yang abnormal dan tidak fungsional, atau keduanya (Susanto & Kurniawan 2016 dan Purwanto 2012).
  2. Hemofilia B : Dikenal dengan Christmas Disease. Hemofilia B terjadi karena kekurangan faktor IX (FIX) yang merupakan protein pada darah yang menyebabkan masalah pada proses pembekuan darah. (Susanto & Kurniawan 2016 dan Purwanto 2012).

Ringkasan mengenai perbedaan antara hemofilia A dan B disajikan pada Gambar 1 dibawah ini,

Gambar 1 Perbedaan antara Hemofilia A dan B (Sumber : Castana & Matino 2019)

Faktor VIII dan IX dalam proses pembekuan darah ini akan berubah menjadi faktor VIIIa dan IXa yang berperan dalam mengaktifasi faktor X pada jalur campuran di proses koagulasi. Oleh sebab itu, pada hemofilia A dan B memiliki gejala klinis yang sangat mirip. Thrombin yang dibentuk pada pasien hemofilia sangat berkurang. Proses pembekuan darah yang terbentuk menjadi lemah, mudah tergerak, dan sangat rentan terhadap fibrinolysis. Sebenarnya terdapat tipe hemofilia lai yaitu Hemofilia C, namun tipe ini sangatlah jarang dan informasi mengenainya masih cukup sedikit. Hemofilia C yang diturunkan dengan cara autosomal resesif dan merupakan kekurangan pada faktor XI, dan hemofilia didapat yang terjadi disebabkan oleh sebuah proses autoimun (Susanto & Kurniawan 2016).

Kasus pada Hemofilia A dinilai lebih umum daripada hemofilia B. Hal ini dibuktikan dengan prevalensi hemofilia B lebih sedikit daripada hemofilia A yaitu kira-kira 1 per 25.000-30.000 laki-laki. Dari semua kasus hemofilia, 80-85% kasus adalah hemofilia A, 14% adalah hemofilia B, dan sisanya adalah penyakit pembekuan darah lainnya. Hemofilia C dan didapat mengenai laki-laki dan perempuan secara merata dan masing-masing memiliki prevalensi sebanyak sekitar 1 kasus per 100.000 penduduk (Susanto & Kurniawan 2016). Sedangkan menurut Castaman & Matino 2019, prevalensi hemofilia A sebesar 1 dari 5.000 kelahiran hidup laki-laki dibandingkan masing-masing dalam 30.000.

Hemofilia A dan B dapat di golongkan dalam 3 kategori, yaitu hemofilia golongan berat, sedang dan ringan yang dapat dilihat pada tabel 1. Dalam hemofilia golongan berat, penderita hanya memiliki faktor pembekuan darah FVIII/FIX kurang dari 1% dari angka normal. Penderita mengalami hemarthrosis berulang yang menyebabkan artropati hemofilik kronik. Hal ini terjadi pada saat kapiler di bawah synovium yang rusak karena trauma mekanik. Sendi yang paling sering terkena adalah lutut, siku, kaki, tangan, dan pinggang. Hemarthrosis biasanya terjadi pada saat anak mulai berjalan. Selain itu, gejala pendarahan lainnya yang dapat terjadi pada hemofilia adalah hematoma, pseudotumor (kista darah), hematuria, perdarahan intrakranial, perdarahan membran mukosa, dan perdarahan pada mulut dan akibat tindakan operasi. Pada penderita hemofilia golongan sedang memiliki 1-5% faktor pembekuan darah. Sedangkan pada penderita hemofilia dengan golongan ringan memiliki 5-40% faktor pembekuan darah dari angka normal, dimana pada penderita dengan golongan ini terjadi pendarahan karena operasi kecil seperti sunat atau cabut gigi (Susanto & Kurniawan 2016). Menurut Castaman & Matino 2019, penderita dengan defisiensi faktor ringan dan sedang jarang mengalami perdarahan spontan, dan perdarahan berlebihan sebagian besar terjadi hanya setelah trauma atau berhubungan dengan prosedur invasif.

Tabel 1 Golongan pada hemofilia A. (Sumber: Susanto & Kurniawan 2016)

Dalam mendiagnosa penyakit hemofilia dan mengklasifikasikan apakah melibatkan pembuluh darah, fungsi trombosit, atau pembekuan protein darah, atau bahkan kombinasi, maka perlu dilakukan skrining tes hemostasis. Tes-tes ini termasuk pemeriksaan darah lengkap (jumlah trombosit), waktu protrombin (PT), waktu tromboplastin parsial teraktivasi (APTT), studi campuran, dan estimasi fibrinogen. PT mengukur faktor VII, V, X, II dan I, sementara APTT mengevaluasi faktor XII, XI, IX, dan VIII di samping faktor X, V, II, dan I (Purwanto 2012). Hal ini juga dikemukakan oleh Susanto & Kurniawan 2016, bahwa penderita dengan hemofilia dapat didiagnosa dengan assay faktor, pola perdarahan, dan sejarah keluarga (apabila ada).

Terapi Gen

Teknologi terapi gen tidak terlepas dari prinsip rekayasa genetika untuk menghasilkan GMO (Genetically Modified Organism) atau organisme transgenik. Proses rekayasa genetik dilakukan dengan cara memanipulasi gen-gen tertentu sehingga ekspresi gen dapat dikontrol dan produknya dapat dimanfaatkan untuk tujuan tertentu, salah satunya untuk pengobatan dengan terapi gen. Terapi gen merupakan metode pengobatan terbaru yang dilakukan dengan mentransfer atau menyisipkan gen fungsional tertentu yang dapat menggantikan fungsi gen abnormal yang terkait dengan penyakit target (Widyastuti 2017). Hal ini juga dikemukakan oleh Syahrizal (2008), bahwa Terapi gen adalah teknik untuk mengoreksi gen-gen yang cacat yang bertanggungjawab terhadap suatu penyakit. Transfer gen fungsional pada terapi gen memanfaatkan vektor tertentu, baik berupa vektor virus, seperti adenovirus, retrovirus, dan adeno-assosiated virus (AAV) maupun vektor non viral menggunakan senyawa-senyawa organik tertentu.

Terapi gen hadir untuk menjadi solusi pengobatan terbaru pada penyakit genetik maupun yang tidak. Jackson & Naber (2017) menyatakan bahwa hingga bulan Desember 2016 telah ada sebanyak 802 percobaan klinis menggunakan terapi gen di seluruh dunia. Sebagian besar percobaan klinis terapi gen dilakukan pada pasien-pasien kanker dan penyakit kardiovaskuler. Banyaknya penelitian dalam bidang terapi gen memungkinkan pengembangan metode terapi ini sebagai salah satu alternatif pengobatan yang efektif.

Terapi gen dapat dibagi menjadi dua bentuk yaitu terapi gen sel embrionik (Germ Line Gene Therapy) dan terapi gen sel tubuh (Somatic Gene Therapy),

1.   Terapi gen sel embrional

Pada terapi gen sel kelamin ini, digunakan sel kelamin jantan (sperma) maupun sel kelamin betina (ovum) yang dimodifikasi dengan adanya penyisipan gen fungsional yang terintegrasi dengan genomnya. Bentuk terapi ini diperkirakan dapat dipertahankan sepanjang garis keturunan. Meskipun bentuk terapi ini sangat potensial dalam mencegah penyakit keturunan, namun masih banyak terdapat kontroversi mengenai bentul terapi ini. Ditambah lagi sampai sekarang masih sangat sedikit penelitian di bidang ini karena alasan segi teknik maupun etika (Misra 2013 dan Syahrizal 2008).

2.   Terapi gen sel tubuh

Bentuk terapi ini paling umum yang dilakukan dibanding dengan terapi gen sel embrionik. Pada terapi gen sel tubuh ini, dilakukan transfer gen fungsional ke dalam sel tubuh pasien sehingga kerusakan pada organ dapat diperbaiki. Singh et al. (2016) menyatakan bahwa terapi gen sel tubuh spesifik untuk setiap pasien dan tidak diturunkan ke generasi berikutnya. Terapi gen somatik secara umum dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu In Vivo Gene Therapy dan Ex Vivo Gene Therapy yang ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2 Perbedaan terapi gen somatik berdasarkan gen yang diintroduksi pada pasien
(Sumber : https://www.differencebetween.com/difference-between-ex-vivo-and-vs-in-vivo-gene-therapy/amp/)

Pada In Vivo, gen yang telah dimodifikasi diintroduksi secara langsung ke dalam sel-sel jaringan tertentu di dalam tubuh pasien untuk mengobati penyakit genetik. Sedangkan pada Ex Vivo, sel pasien dimodifikasi di luar tubuh dengan cara dikultur di laboratorium dan gen fungsional dimasukkan ke dalam vektor untuk mengobati penyakit. Kemudian sel yang telah dimodifikasi tersebut diintroduksi kembali ke dalam tubuh pasien. Terapi gen ex vivo hanya dapat diterapkan untuk jenis sel tertentu atau jaringan tertentu. Sel sumsum tulang adalah sel yang sering digunakan untuk terapi gen ex vivo (Syahrizal 2008).

Aplikasi Terapi Gen Dalam Pengobatan Hemofilia

Dalam artikel Gene Therapy (2010) dijelaskan bahwa terapi gen dapat dijadikan sebagai pengobatan penyakit cacat genetik. Terapi ini akan mengintroduksi gen secara langsung ke sel manusia, dengan fokus pada penyakit yang disebabkan oleh cacat gen tunggal, seperti cystic fibrosis, distrofi otot, anemia sel sabit, dan termasuk juga hemofilia. Pemberian infus protein telah menjadi pengobatan andalan bagi para penderita hemofilia saat ini. Para ahli juga telah menjalani uji klinis terhadap pengobatan terbaru yang dapat memperbaiki cacat genetik oleh penderita. Oleh karena itu, dengan adanya terapi gen, penderita dapat menerima infusi gen faktor koagulasi yang fungsional. Hasilnya, gen tersebut akan terekspresi dengan normal dan menjadi bagian dari tubuh penderita. Terapi Gen ini masih akan terus dikembangkan dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Terapi pada pasien hemofilia dilakukan dengan penggantian faktor koagulasi yang diberikan secara intravena (intravenous factor replacement therapy). Terapi ini dapat diberikan saat perdarahan ataupun sebagai profilaksis untuk mencegah terjadinya perdarahan. Konsentrat faktor VIII dapat diberikan berupa plasma cryoprecipitate dari darah donor atau rekombinan FVIII (Sysmex Indonesia 2019).

Uji klinis awal untuk pengobatan transfer gen hemofilia Antara tahun 1998 dan 2001, lima uji klinis fase I yang berbeda dimulai untuk pengobatan hemofilia dengan transfer gen (Kay et al, 2000; Roth et al, 2001; Manno et al, 2003; Powell et al, 2003 dalam Murphy & High 2008). Beberapa vektor gen yang berbeda digunakan dalam uji klinis ini, yaitu vektor retrovirus, adenovirus, adeno-assosiated virus dan metode non-viral. Retrovirus adalah RNA virus yang menggunakan transkripsi terbalik untuk menghasilkan intermediet DNA beruntai ganda selama replikasi. Vektor retroviral ini mengandung genom RNA yang ditranskripsi terbalik dan diintegrasikan ke dalam genom DNA sel inang/pasien. Dibandingkan dengan vektor sebelumnya, adenovirus biasanya sering digunakan dalam studi transfer gen praklinis hemofilia. Keuntungan dari vektor DNA untai ganda ini adalah tingkat ekspresi transgen yang tinggi dan kemampuan untuk mentransduksi hepatosit yang sangat efisien dalam proses terapi gen in vivo. Tetapi biasanya generasi awal dari vektor ini hanya terekspresi secara sementara saja, karena adanya sifat imunogenik dari vektor adenoviral itu sendiri. Selanjutnya, vektor ketiga yang digunakan dalam kelompok uji klinis pertama ini adalah vektor adeno-associated virus (AAV). AAV adalah virus DNA kecil beruntai tunggal yang bereplikasi secara alami. Itu bergantung pada fungsi produk gen virus penolong, seperti adenovirus atau herpesvirus untuk menyelesaikan siklus replikasinya. Tidak ada gejala atau penyakit yang diketahui terkait dengan infeksi AAV (Murphy & High 2008).

Dalam uji klinis yang dilakukan di Amerika Serikat, gen terapeutik diintroduksi ke organ hati pasien, yang kemudian memperoleh kemampuan untuk memiliki waktu pembekuan darah yang normal. Namun efek terapeutiknya bersifat sementara karena sel-sel hati yang dikoreksi secara genetik diakui sebagai zat asing dan ditolak oleh sistem kekebalan tubuh yang sehat pada pasien. Masalah yang sama yang dihadapi oleh pasien setelah melakukan transplantasi organ. Oleh karena itu, terapi gen merupakan salah satu cara pengobatan penyakit hemofilia dengan memperbaiki kerusakan genetik yaitu melalui penyisipan gen yang fungsional. Pengobatan melalui terapi gen ini tidak dapat secara menyembuhkan penyakit secara permanen dan masih harus dilakukan secara perkembangan secara berkala dengan uji klinis terhadap penderita hemofilia.

Pada uji klinis ini, tim ahli Rangarajan  et al. (2017) menginfus 1 dosis intravena tunggal dengan vektor adeno-associated serotipe 5 yang mengkodekan gen faktor VIII (AAV5-hFVIII-SQ) pada 9 pria dengan hemofilia A golongan berat. Peserta terdaftar secara berurutan menjadi satu dari tiga kelompok dosis yaitu dosis rendah (diikuti satu partisipan], dosis sedang (satu partisipan) dan dosis tinggi (tujuh partisipan) yang diikuti sampai 52 minggu. Hasilnya yaitu tingkat aktivitas faktor VIII tetap pada 3 IU atau kurang per desiliter di penerima dosis rendah atau menengah. Dalam kelompok dosis tinggi, tingkat aktivitas faktor VIII dinilai lebih dari 5 IU per desiliter antara minggu 2 dan 9 setelah transfer gen di semua 7 partisipan, dan tingkat dalam 6 partisipan meningkat ke nilai normal (> 50 IU per desiliter) yang dipertahankan pada 1 tahun setelah menerima dosis. Efek samping yang terjadi setelah dilakukan terapi gen yaitu peningkatan kadar alanine aminotransferase menjadi 1,5 kali lebih atau kurang dari kisaran normal. Perkembangan artropati kronis sudah ada dalam satu pasien adalah satu-satunya efek samping yang serius. Tidak ada antibodi penawar terhadap faktor VIII yang terdeteksi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Infus berupa AAV5-hFVIII-SQ selama periode 1 tahun, dimana 6 dari 7 partisipan yang menerima dosis tinggi, mengalami stabilisasi hemostasis dan pengurangan berat pada Faktor VIII pada ketujuh partisipan. Maka dari itu infus gen dengan dosis tinggi yang digunakan pada uji klinis ini dapat mengurangi pendarahan berlebih karena regulasi hemostasis dalam darah partisipan sudah lebih stabil dari pada sebelum dilakukan terapi gen tersebut.

Selanjutnya uji klinis yang dilakukan pada penderita hemofilia B. Uji klinis ini bertujuan untuk menyelidiki penggunaan metode terapi gen baru pada penderita (Nathwani et al. 2011), menentukan daya tahan ekspresi transgen, hubungan dosis-respons vektor, dan tingkat toksisitas persisten atau terlambat pada hemofilia B (Nathwani et al. 2014). Pada uji klinis yang dilakukan oleh Nathwani et al. (2011), 6 partisipan diberikan dosis tunggal serotype-8–pseudotyped AAV yang mengekspresikan FIX transgen (scAAV2 / 8-LP1-hFIXco) melalui vena perifer dengan 3 kelompok dosis yang berbeda selama 6 samapi 16 bulan tanpa pemberian imunosupresif. Sedangkan, pada uji klinis Nathwani et al. (2014), 6 partisipan diberikan 3 kelompok dosis yang berbeda dan 4 partisipan tambahan diberikan dosis yang tinggi. Kemudia seluruh partisipan menjalani pemantauan klinis. Hasilnya, infus perifer dari vena scAAV2 / 8-LP1-hFIXco menghasilkan ekspresi transgen FIX pada tingkat yang cukup untuk meningkatkan fenotip perdarahan, dengan sedikit efek samping (Nathwani et al. 2011). Hal yang sama juga terlihat pada partisipan dalam uji klinis Nathwani et al. (2014). 10 partisipan yang terlibat mengalami peningkatan dosis yang tergantung pada faktor IX yang bersirkulasi ke tingkat 1 sampai 6% dari nilai normal selama periode rata-rata 3,2 tahun dengan pengamatan berkelanjutan. Maka dsri itu infus vektor AAV8 dosis tunggal menghasilkan ekspresi faktor IX terapi jangka panjang terkait dengan perbaikan klinis. Dengan masa tindak lanjut hingga 3 tahun, tidak ada efek toksik yang terlambat dari terapi yang dilaporkan.

Kemudian uji klinis pada hemofilia B lainnya juga dilakukan oleh George et al. (2017).  Sepuluh Partisipan yang mengikuti uji klinis ini diintroduksi vektor AAV yang telah dimodifikasi dengan transgen FIX Padua (FIX-R338L) dengan dosis 5 x 1011 genom vektor per kilogram berat badan.  Kemudian hasil laboratorium, frekuensi perdarahan, dan konsumsi konsentrat faktor IX secara prospektif dievaluasi setelah infus vektor dan dibandingkan dengan nilai awal. Hasilnya tidak ada efek samping serius yang terjadi selama atau setelah infus vektor. Aktivitas koagulan faktor IX yang diturunkan dari vektor dipertahankan pada semua partisipan, dengan rata-rata (± SD) aktivitas koagulan faktor IX 33,7 ± 18,5% (kisaran, 14 hingga 81). Sebanyak 9 dari 10 tidak memiliki perdarahan setelah pemberian vektor. Peningkatan kadar enzim hati yang asimptomatik berkembang pada 2 partisipan dan diselesaikan dengan terapi prednison jangka pendek. Maka pada uji klinis ini, terapi gen dilakukan pada 10 partisipan tersebut mengalami peningkatan aktivitas FIX yang diturunkan dari transgen memungkinkan penghentian profilaksis dasar dan hampir tidak ada pendarahan.

Dari semua uji klinis yang telah dilakukan oleh para ahli terhadap penderita hemofilia A dan hemofilia B dengan menggunakan metode terapi gen dinilai cukup berhasil dalam mengekspresikan maupun meningkatkan aktivitas faktor koagulan FVIII dan FIX untuk melakukan regulasi hemostasis saat terjadi pendarahan. Kebanyakan dari uji klinis yang dilakukan menggunakan adeno-associated virus sebagai vektor gen fungsional yang diintroduksikan kepada penderita. Hal ini menjadi sebuah bukti bahwa terapi gen dapat dijadikan pengobatan yang cukup efektif terhadap penyakit hemofilia walaupun tidak dapat menyembuhkan penyakit secara keseluruhan. Sehingga para penderita hemofilia tidak perlu takut lagi untuk memilih metode terapi gen sebagai pengobatan atau terapi yang baik agar para penderita dapat hidup normal seperti yang lainnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih terapi gen sebagai pengobatan yaitu kita harus mengetahui prosedur atau mekanisme yang dilakukan oleh para ahli. Selain itu, perlu adanya penelitian lebih lanjut dari para ahli agar terapi gen dapat dijadikan pengobatan jangka panjang bagi penderita hemofilia.

DAFTAR PUSTAKA

Castaman G. & Matino D. 2019. Hemophilia A and B: molecular and clinical similarities and differences. Haematologica 104(9):1702-1709.

Desideria B. 2016. Prediksi penyandang hemofilia di Indonesia sekitar 25 ribu (Liputan 6). Diakses melalui https://www.liputan6.com/health/read/2675564/prediksi-penyandang-hemofilia-di-indonesia-sekitar-25-ribu/ (10 Juni 2020).

Gene Therapy. Diakses melalui http://www.genetherapynet.com/JoomlaTest2/index.php?option=com_content&view=article&id=164:diseases-treated-with-gene-therapy-&catid=97:patient-information&Itemid=14 (10 Juni 2020).

George LA, Sullivan SK, Giermasz A, et al. 2017. Hemophilia B Gene Therapy with a High-Specific-Activity Factor IX Variant. N Engl J Med 377(23): 2215–2227.

Hematology Advisor. 2019. Diakses melalui https://www.hematologyadvisor.com/home/topics/bleeding-disorders/ overview-of-and-challenges-in-gene-therapy-for-hemophilia/ (10 Juni 2020).

Hemophilia News. Diakses melalui https://hemophilianewstoday.com/ gene-therapy/#:~:text=What%20is%20gene%20therapy%3F,their%20own%20clotting%20factor%20normally/ (10 Juni 2020).

Kachroo, S., & Gowder, S. J. T. 2016. Gene therapy: An overview. Gene Technology, 5,1.

Kiswari, Rukman. 2014. Hematologi dan Transfusi. Jakarta:Erlangga.

Misra, S. 2013. Human gene therapy: a brief overview of the genetic revolution. Journal of the Association of Physicians of India, 61, 41-47.

Murphy, SL and High, KA. 2008. Gene therapy for haemophilia. British Journal of Haematology, 140, 479–487.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.