Anaerobic Digestion: Teknologi Pengolahan Food Waste sebagai Solusi Ketahanan Pangan dan Energi

0

Oleh: Khusnul Khotimah

Ketahanan pangan adalah isu yang sangat komplek dan multidimensi. Membahas ketahanann pangan artinya kita perlu juga membahas aspek sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan. Pengertian ketahanan pangan telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi Negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Berbagai upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia telah dilakukan. Namun demikian upaya-upaya tersebut belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. Upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah sejauh ini lebih terfokuskan pada peningkatan produksi melalui berbagai peningkatan produktivitas dan perluasan areal panen. Sedangkan upaya-upaya tersebut selalu terbenturkan dengan hal-hal yang menjadi kendala seperti semakin berkurangnya lahan pertanian produktif dan faktor iklim yang tidak menentu. Kedua faktor tersebut secara simultan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan pangan dan budidaya pertanian.

Di Indonesia alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian seperti perumahan, industri, perkantoran, jalan serta sarana publik lainnya rata-rata sebesar 60.000 sampai 100.000 hektar pertahun. Selanjutnya adalah dampak perubahan iklim yang tidak menentu. Fenomena iklim ekstrem menjadi kendala bagi petani dalam mengatur pola atau jadwal bertanam dan memanen. Adanya kenaikan temperatur udara, pola dan intensitas curah hujan yang tidak normal, kekeringan, ataupun serangan hama yang tidak terkendali tentu mempengaruhi produksi pangan. Hal-hal ini lah yang akhirnya menjadikan upaya peningkatan ketahanan melalui jalur peningkatan produktivitas dan perluasan lahan pertanian menjadi sulit untuk terealisasi sesuai harapan. 

Dari berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan ketahanan pangan belum banyak upaya yang ditujukan untuk mengatasi permasalahan kehilangan pangan (food loss) dan pemborosan pangan (food waste) yang terbilang masih cukup tinggi dan tentunya berpengaruh terhadap ketahanan pangan. Namun kedua isu ini sepertinya belum banyak dilirik dan terus menerus terjadi peningkatan seiring dengan semakin dinamisnya perkembangan gaya hidup dan jumlah manusia. Data FAO menyebutkan sekitar 1,3 miliar ton/tahun makanan yang di produksi tidak dapat dikonsumsi karena hilang, rusak, tidak memenuhi standar kualitas, bahkan terbuang karena kedaluwarsa.

Proses terjadinya kehilangan pangan dan pemborosan pangan terjadi pada proses produksi hingga pada tahap konsumsi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemborosan pangan (food waste) yang terjadi di Negara maju jauh lebih tinggi dibandingkan di Negara  berkembang. Jumlah pemborosan pangan di Negara maju rata-rata mencapai 95-115 kg per kapita pertahun pada tahap konsumsi. Sedangkan di Negara berkembang, termasuk Indonesia adalah sekitar 6-11 kg per kapita pertahun. Pada penelitian lainnya disebutkan bahwa rata-rata limbah makanan yang dihasilkan oleh generasi muda di Indonesia adalah 564,62 gram per orang dalam satu tahun.

Pemborosan pangan umumnya terjadi hanya pada tingkat pangan yang siap diolah maupun yang disajikan untuk dikonsumsi. Beberapa kegiatan yang berpeluang menimbulkan pemborosan pangan adalah ketika jual beli di tingkat pasar, distribusi dari pengecer hingga tiba di rumah konsumen, saat penyimpanan di rumah, atau bahan pangan yang tersisa di piring karena tidak dimakan (tersisa). FAO melaporkan bahwa sepertiga dari bagian pangan yang dapat dikonsumsi terbuang percuma atau terboroskan. Jumlah tersebut tentunya tidak sedikit dan memiliki kemungkinan untuk terus meningkat jika tidak ada upaya untuk mengatasinya.

Perubahan gaya hidup terutama dalam hal pola konsumsi pangan memberikan dampak pada peningkatan food waste yang dihasilkan. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya food waste diantaranya yaitu faktor jenis kelamin, frekuensi makan di luar (restoran atau rumah makan), biaya hidup, dan frekuensi belanja makanan. Hasil penelitian baru-baru ini menyebutkan bahwa  faktor yang paling signifikan mempengaruhi terjadinya food waste adalah jenis kelamin konsumen dan frekuensi makan di luar.

Pemborosan pangan atau food waste pada tahap konsumsi banyak terjadi di tempat-tempat makan dan keramaian seperti di sekolah, asrama, restoran, maupun di acara-acara perayaan pesta. Dimana pada tempat-tempat tersebut tidak ada regulasi penanganan pangan berlebih. Sehingga pangan sisa hanya terbuang tanpa adanya pengelolaan lebih lanjut. Perlu adanya penanganan lebih lanjut untuk mengatasi makanan sisa layak makan agar tidak terbuang dan juga pemanfaatan makanan sisa yang tidak layak makan menjadi suatu material yang dapat bermanfaat.

Salah satu teknologi pengolahan food waste adalah dengan anaerobic digestion (AD). AD merupakan serangkaian proses biologis di mana mikroorganisme mencerna tanaman dan atau bahan hewan yang merupakan sisa bahan makanan yang terbuang. Proses biologis tersebut dilakukan dalam sebuah wadah tertutup yang kemudian akan menghasilkan biogas. Biogas tersebut merupakan campuran antara metana, karbon dioksida, dan gas lainnya. Sedangkan hasil sampingnya adalah digestate yang kaya akan bahan organik dan nutrisi seperti nitrogen, fosfat, dan kalium. Biogas dan digestate  merupakan hasil dari anaerobic digestion yang sangat penting dan bermanfaat.

Teknologi AD terbilang mudah dilakukan di rumah. Kita hanya perlu memisahkan antara sampah organik dan non-organik. Kemudian menyiapkan tangki kedap udara untuk menampung sampah organik tersebut dan sebagai wadah untuk memprosesnya sehingga menghasilkan biogas dan hasil sampingnya. Namun dalam kapasitas yang lebih besar dan agar output yang dihasilkan pun lebih maksimal. Maka teknologi AD perlu dirancang menjadi sebuah pabrik biogas yang terkontrol dan terkendalikan.

Pabrik biogas berteknologi AD terdiri dari area penerimaan, di mana limbah makanan dari berbagai sumber akan ditampung. Kemudian limbah memasuki tahap pre-treatment. Pada tahap ini akan dilakukan maserasi, penyaringan, dan pengepresan. Bahan-bahan non-organik akan dipisahkan. Setelah pre-treatment, tahap selanjutnya adalah memasukan limbah makanan ke dalam wadah digester di mana limbah akan didekomposisi tanpa menggunakan oksigen. Biogas yang dihasilkan akan ditampung dalam tangki penyimpanan. Lalu disalurkan ke dalam unit desulfurisasi untuk mengurangi kandungan sulfur. Selanjutnya, biogas akan diproses lebih lanjut sesuai penggunaan akhir yang diinginkan seperti sebagai sumber listrik, panas, pendingin, atau bahan bakar kendaraan.

Beberapa manfaat yang dihasilkan dari teknologi anaerobic digestion adalah memproduksi energi terbarukan, mitigasi perubahan iklim, kontribusi menuju ekonomi sirkuler, meningkatkan kualitas udara perkotaan, kontribusi menuju ketahanan pangan. meningkatkan kesehatan dan sanitasi melalui pengelolaan sampah yang baik, mengembangkan ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan, serta meningkatkan penggunaan biogas. Selain manfaat-manfaat yang telah disebutkan di atas, hal yang paling mendasar dari penggunaan teknologi AD adalah mengurangi limbah makanan sisa dan menjadikannya sebagai sesuatu yang bermanfaat. Sehingga terciptanya sebuah sistem penanganan food waste yang terpadu dan berkelanjutan.

Selain penanggulangan food waste dengan teknologi AD, hal lainnya yang dapat dilakukan adalah upaya preventif untuk mengurangi food waste. Upaya preventif tersebut diantaranya adalah sosialisasi dan pencerdasan kepada seluruh elemen masyarakat mengenai dampak negatif atau kerugian yang disebabkan dari pemborosan pangan atau food waste agar dapat mengurangi jumlah pangan terbuang. Ketahanan pangan berkelanjutan bisa menjadi ujung road maps dari kerangka penanggulangan food waste. Sehingga semua orang akan tersadar betapa pentingnya menghabiskan makanan, tidak membuang makanan, dan efisien dalam penggunaan bahan pangan. semua hal tersebut dilakukan dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan.

Namun dari berbagai upaya yang telah diuraikan diatas, ada hal yang lebih penting untuk dilakukan yaitu adalah menumbuhkan kesadaran diri untuk mulai mengurangi pemborosan pangan. beberapa langkah yang harus mulai dilakukan sebagai seorang konsumen pangan diantaranya adalah dengan membuat perencanaan makanan baik dalam hal jenis dan jumlah, lakukan FIFO (First In, First Out) ketika membongkar makanan dari tempat penyimpanan, mulailah untuk peduli dan catat tanggal kedaluwarsa makanan, pelajari cara menyimpan makanan yang baik sesuai dengan jenis dan karakteristik bahan, dan mulailah membiasakan diri untuk tidak menyisakkan makanan di piring.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Jain, Sarika dan Newman David. 2018. Global Food Waste Management: An Implementation Guide for Cities. Dapat diakses di: http://www.worldbiogasassociation.org/Global-Food-Waste

[2] Kariyasa, K. dan A. Suryana. 2012. Memperkuat ketahanan pangan melalui pengurangan pemborosan pangan. Analisis Kebijakan Pertanian vol. 10(3), hal. 269-288.

[3] Mandasari, P. 2018. Quantifying and analyzing food waste generated by Indonesian undergraduate students. International Conference on Green Agro-industry and Bioeconomy 131, hal. 1-5.

[4] Nurchamidah, L. dan Djauhari. 2017. Pengalih fungsian lahan pertanian ke non pertanian di Kabupaten Tegal. Jurnal Akta vol. 4(4), hal.  699-706

[5] Saragih, B. 2016. Revolusi kehilangan dan pemborosan pangan untuk kemandirian pangan. Universitas Mulawarman.

[6] Suryana, A. 2014. Menuju ketahanan pangan Indonesia berkelanjutan 2025: tantangan dan penanganannya. Forum Penelitian Agro Ekonomi vol. 32(2), hal. 123-135.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.