Agar Kuliah Bernilai Ibadah

0

Oleh : Rahmat Mulyawan, MT, Msc, D.Phil*

DPhil in Engineering Science (University of Oxford, United Kingdom)

Publikasi:  ISNet Syari’ah Forum  

“So high (above all) is Allah, the Sovereign, the Truth. And, (O Muhammad), do not hasten with (recitation of) the Qur’an before its revelation is completed to you, and say, “My Lord, increase me in knowledge.” (Thaha : 114)”

Berbicara mengenai kuliah dan ibadah, hal ini akan menjadi pembahasan yang sangat menarik. Apalagi memasuki awal semester baru bagi mahasiswa. Dalam acara yang diadakan jum’at tanggal 23 agustus ini, Bidang Sumber Daya Syari’ah ISNet launching program unggulan  kedua yaitu ISNet Syari’ah Forum. Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk forum tempat bertemunya akademisi, praktisi dan entrepreneur yang aktif bergerak dibidang syari’ah secara offline maupun online. Pembahasan kali ini dalam bentuk kuliah online di telegram yang mengangkat tema “Agar Kuliah Bernilai Ibadah”.

Melalui pemaparannya, pemateri memulai dengan menjelaskan tentang mengapa penting untuk berkuliah atau lebih tepatnya menuntut ilmu. Banyak dalil – dalil dalam Al Qur’an yang menjelaskan tentang keutamaan menuntut ilmu. Diantaranya terdapat dalam surat Fathir ayat 28 yaitu “ Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba – hambanya, hanyalah ulama”. Kemudian berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh ibn Majah “Dari Abi Darda r.a berkata, saya mendengar Rasululah Saw bersabda : “ Bagi siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya (memayungkan sayapnya) kepada penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang  ia tuntut”.

Dalam hal ini, para ulama berpendapat bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama. Namun bagaimanakah kedudukan ilmu yang lain? Seperti ilmu sains : matematika, fisika, ekonomi, social-politik dsb. Sebagai seorang penuntut ilmu, tetap harus diniatkan yang paling utama dan paling penting adalah ilmu agama. Karena pada dasarnya, semua ilmu yang tidak di dasari pemahaman agama akan sia – sia dan berpotensi untuk disalahgunakan.

Kemudian untuk mendalami sebuah ilmu harus mengambil kata kuncinya, yaitu pada konteksnya. Belajar apapun itu, bahkan harus menjadi ahli dan pada akhirnya harus mengantarkan pada pemahaman yang tertinggi. Disini mungkin akan banyak pertanyaan mengenai pemahaman tertinggi dalam ilmu. Puncak tertinggi sebuah ilmu akan mengantarkan kembali kepada Al Qur’an. Untuk merenung, mengenali pencipta, diri dan untuk apa ilmu digunakan. Jika suatu ilmu masih belum sampai membawa seseorang kembali kepada Al qur’an, kemungkinan ilmu tersebut belum cukup dalam.

Lalu apakah setiap orang harus menuntut ilmu sampai jenjang yang tertinggi ?. Sekolah merupakan salah satu jalan untuk menuntut ilmu. Sebagian orang mengatakan bahwa sekolah itu pilihan dan sebagian yang lain menjadikan kebutuhan. Hal ini bisa disebabkan oleh cara belajar setiap orang yang berbeda-beda. Dalam konteks yg memilih pendidikan formal seperti sekolah atau kuliah, perlu berhati – hati. Karena jalur ini cukup “mainstream”, sehingga tidak terlalu jelas apakah keinginan bersekolah karena ingin mencari ilmu ataukah hanya ikut – ikutan.

Selanjutnya, dalam menuntut ilmu harus punya konsep yang jelas. Pertama, bahwa menuntut ilmu itu lillahi ta’ala (perjalanan mencari ilmu itu harus mengantarkan seseorang lebih dekat kepada Allah), kemudian harus menyadari bahwa ilmu itu harus di pertanggungjawabkan, yaitu dengan mengajarkan atau membagikan manfaatnya. Hal – hal tersebut perlu diingat agar ilmu tidak sia – sia.

Di zaman yang semakin dinamis dan terus berubah, terkadang masih banyak yang terbawa arus. Perubahan harus dilakukan dengan cara sistematis dan tidak asal cepat bergerak.

orang yg berenang dan orang yg hanyut terbawa arus, bisa memiliki kecepatan yg sama. namun hakikatnya jauh berbeda

Dalam hal ini pemateri memberikan penjelasan yang menarik dan menggugah. “Jadi kalau kembali ke pertanyaan tadi, buat apa menuntut ilmu tinggi – tinggi?, jawaban saya, untuk mengenal Allah dan membagi manfaat kepada sebanyak mungkin orang. (Syarat awalnya ikhlas dulu) semakin tinggi ilmunya maka akan semakin mengenal Allah dan semakin banyak orang yg bisa merasakan manfaatnya”.

Kemudian dalam memberikan manfaat, tidak harus langsung kelihatan/ berdampak terhadap perubahan. Bisa jadi di antara peserta yang ada di forum ISNet ini, ada yg menemukan metode matematika. Kemudian metodenya itu dikembangkan lagi oleh orang lain, dan misalkan akhirnya 50 tahun kemudian dipakai untuk melakukan ‘protein folding’ sehingga bisa mengobati kanker. Itu manfaatnya sangat banyak, akhirnya, walaupun mungkin si penemu aslinya sudah wafat. Ilmu yg tinggi biasanya jangka panjang manfaatnya.

Selanjutnya, Bagaimana dengan pendapat yg membedakan/dikotomi ilmu akhirat/syar’i dan ilmu duniawi?. Keduanya tidak harus dipertentangkan, Ilmu Syar’I adalah dasar untuk hidup, ilmu duniawi adalah dasar untuk bermanfaat. Tidak ada gunanya juga dipertentangkan, seperti bertanya mana yg lebih baik arah timur atau arah barat?

Berikut beberapa tips agar ada keseimbangan (Tawazun) dalam menuntut ilmu (termasuk sekolah/kuliah), dan ibadah serta berprestasi.

1.Selalu perbaharui niat kita dalam menuntut ilmu.

Semangat datangnya dari niat, dan semangat bisa luntur, niat awal bisa nantinya dilupakan, makanya harus diperbaharui. Lebih bagus lagi kalau ada komunitas yg bisa sama2 saling mengingatkan kita dalam perjalanan menuntut ilmu.

2. Meyakini bahwa berprestasi adalah bentuk kesyukuran kita atas nikmat ilmu yg diberikan Allah.

Kita tidak akan pernah cukup bersyukur kepada Allah, sebagai orang yg menuntut ilmu, rasa syukur kita minimal diwujudkan dalam bentuk penguasaan ilmu yg kita pelajari, yg diniatkan untuk bisa mengenal Allah. Allah ada di mana – mana, ada di matematika, ada di pertanian, ada di ekonomi/perdagangan, ada di tata kota. Ada 1001 jalan yg akan membuat kita takjub bagaimana cara Allah mencipatakan alam semesta ini.

3. Ingat bahwa kita punya tanggung jawab terhadap ummat.

Mmasalah ummat saat ini sangat banyak, tidak perlu dicari, tidak perlu di-list sudah ada di depan mata dan banyak sekali. Kemiskinan, kerusuhan, perilaku anak muda yg tidak bertanggung jawab dsb. Belum lagi masalah terkait bencana alam, masalah terkait kerusakan lingkungan dsb. Pada akhirnya pusat masalah itu adanya di manusia, bukan di alam. kalau masalah yg datang dari alam pun, yg merasa itu adalah masalah hanya manusia, mahluk lain seperti pohon dan hewan tidak merasa itu masalah.

Oleh karena itu,  ilmu harus berorientasi memanusiakan manusia, dari segala bidang apapun yg di tekuni. Sehingga memiliki arah dan punya tujuan akhir. “Apa yg ingin saya capai sebelum saya dipanggil Allah SWT?”. Masalah nanti tercapai atau tidak bukan tanggung jawab diri, namun tanggung jawab diri adalah merencanakan dan berusaha menuntut ilmu sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan. Yakinlah bahwa setiap manusia memiliki keunikan, tidak ada bandingannya setiap orang diciptakan dengan kelebihan dan misi untuk melakukan sesuatu yg hanya dia yg bisa

“Jadikanlah itu makna hidup, insya Allah akan bisa lebih semangat dalam berjuang menuntut ilmu

*sedang menyelesaikan tahap akhir S3

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.