Pendampingan Psikososial untuk Korban Kekerasan

Oleh : Rena Kinnara Arlotas (Psikolog Pendidikan, Staf Pengajar UIN Imam Bonjol Padang)

0

Beberapa waktu yang lalu, saya diminta untuk menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan sosialisasi anti kekerasan pada perempuan dan anak yang diadakan oleh P2TP2A Dinas Sosial di salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan ini dilaksanakan karena maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di daerah tersebut. Adapun yang menjadi peserta adalah murid-murid SMA (Sekolah Menengah Atas) dari 2 (dua) sekolah yang berbeda.

Sebagai psikolog, saya diminta untuk menyampaikan sosialisasi anti kekerasan dari sudut pandang psikologi. Misalnya, bagaimana dampak kasus kekerasan terhadap korban, bagaimana menyembuhkan luka psikologis korban, apa yang seharusnya dilakukan oleh korban agar lepas dari jerat kekerasan, bagaimana pendampingan lingkungan sekitar terhadap korban, dan sebagainya.

Pada awal penyampaian materi, saya bertanya pada peserta, “Apakah Anda merupakan korban kekerasan?”, Dengan serempak dan penuh semangat mereka menjawab “Tidak…”. Saya kemudian menjelaskan beberapa kriteria korban kekerasan. Secara umum, seseorang merupakan korban kekerasan jika mendapatkan perilaku negatif (tidak menyenangkan dan menyakitkan) baik fisik maupun emosional, seperti aksi verbal, agresi fisik, ancaman, atau penyebaran rumors, yang dilakukan dengan sadar, disengaja, intensif, oleh satu atau lebih individu lainnya, yang bertujuan untuk mengintimidasi, mempertahankan dominasi, mengganggu atau menimbulkan ketakutan pada korban, yang dalam kondisi ini korban sulit untuk mempertahankan dirinya.

Dari kriteria-kriteria tersebut, mereka baru menyadari bahwa ternyata selama ini mereka telah menjadi korban kekerasan. Pada umumnya mereka merupakan korban kekerasan verbal dan relasional, yang dilakukan oleh teman maupun keluarga. Kekerasan verbal dapat berupa panggilan nama yang tidak pantas, ejekan, celaan, diremehkan, kritikan kejam, fitnah, hinaan terhadap ras tertentu, kata-kata bernada seksual atau penghinaan secara seksual, penghinaan melalui panggilan telepon, tuduhan yang tidak benar, rumor yang salah dan kejam, dan sebagainya. Adapun kekerasan relasional misalnya pengabaian, tidak diikutsertakan dalam hubungan sosial, dan sebagainya.

Kondisi peserta yang tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi korban kekerasan sebenarnya sangat berbahaya, karena mereka akan menganggap wajar, menerima saja dan tidak berusaha untuk keluar dari zona korban mereka. Padahal jauh di lubuk hati terdalam mereka merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut. Hal ini terbukti dari curahan hati peserta bahwa sebenarnya mereka sangat sakit hati, benci dan tidak ingin diperlakukan seperti itu lagi. Kata-kata yang diungkapkan peserta juga penuh tekanan emosional. Bahkan terdapat peserta yang ternyata merasa sangat benci pada keluarganya, merasa sangat membutuhkan kasih sayang tulus dari keluarga, dan terdapat peserta yang telah merasa helpless, putus asa dengan keadaan yang dialaminya. Ia mengaku membutuhkan kekuatan dari luar karena merasa tidak sanggup lagi menanggung segala beban hidupnya.

Luka psikologis ini, jika tidak segera disembuhkan akan menimbulkan dampak yang juga berbahaya. Pada umumnya, pelaku kekerasan dulunya merupakan korban-korban kekerasan juga, yang tidak mampu menyembuhkan luka hatinya, tidak mampu bangkit dari zona korbannya, yang selanjutnya akan mencari korban-korban baru untuk melampiaskan luka hatinya. Siklus korban-pelaku-korban ini, jika tidak segera diputus tentu akan menjadi semakin liar.

Jika seseorang telah menyadari bahwa dirinya adalah korban, maka langkah yang selanjutnya dilakukan adalah membantu korban untuk mengenali perasaan yang mereka miliki berkaitan dengan kekerasan yang dialami. Umumnya, korban merasa sedih, malu, harga diri rendah, kesepian, cemas, takut, marah dan benci pada pelaku, ingin menjauh dari pelaku, bahkan dapat saja muncul pikiran untuk mengakhiri hidupnya. Setelah mengenali perasaan negatif yang dimiliki, diharapkan korban semakin menyadari kondisinya dan benar-benar ingin keluar dari kondisi tersebut.

Saya kemudian menjelaskan ciri-ciri individu yang rentan menjadi korban kekerasan, yaitu lemah secara fisik, pemalu, memiliki penilaian dan kepercayaan diri yang rendah, kurangnya dukungan dan komunikasi dengan keluarga, tidak memiliki keinginan untuk berespon secara agresif atau memperlihatkan perilaku yang agresif, cemas dan takut terhadap kekerasan, kurang memiliki kontrol diri dan kesulitan dalam keterampilan sosial. Dengan mengenali ciri tersebut, diharapkan agar peserta dapat meningkatkan kompetensi dirinya agar tidak memiliki kriteria tersebut. Dalam hal ini, saya membantu peserta untuk lebih meningkatkan keberanian dan kepercayaan dirinya, melalui sugesti positif dan modifikasi kognitif dan perilaku.

Selanjutnya, saya mengajak peserta untuk memaafkan kondisi yang terjadi, karena pemaafan dapat membebaskan emosi negatif dan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Peserta juga diajak untuk senantiasa berpikir positif, meningkatkan kapasitas diri, mengembangkan potensi yang dimiliki agar tidak larut dalam kesedihan, mampu bangkit dan berfungsi positif di lingkungannya.

Jika korban telah berusaha untuk bangkit dan berfungsi positif, maka selanjutnya sangatlah dibutuhkan peran lingkungan dalam memberi pendampingan untuk melindungi, memotivasi dan menguatkan korban. Jika ada korban yang mengadu dan membutuhkan bantuan, diharapkan agar lingkungan segera merespon dan memberikan perlindungan. Selama ini, banyak korban yang tidak berusaha untuk melaporkan kekerasaan yang dialaminya karena kurang mendapat respon yang positif dan berpikir bahwa lingkungan akan menilai mereka terlalu cengeng dan suka mengadu hal-hal sepele, sehingga korban merasa tidak ada gunanya untuk melapor.  Hal ini tentu sangat disayangkan.

Oleh karena itu, untuk membantu korban kekerasan agar keluar dari zona korbannya, dibutuhkan komitmen dari korban itu sendiri dan perlindungan dari lingkungan agar korban tidak merasa sendiri dan tetap mampu berfungsi positif di lingkungannya. Sehingga, korban menjadi resilien dan rantai kekerasan dapat diputus (dikurangi).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.