Pemuda Indonesia : Secercah Cahaya Perubahan Bangsa

Oleh : Darul Hamim

0

Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia” (dikutip dari Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia).

Pernyataan di atas merupakan ungkapan yang disampaikan oleh Bung Karno tentang pemuda dan potensi besar yang dimilikinya. Potensi hebat sebagai generasi penerus bangsa. Hal yang luar biasa, apalagi mengaitkan pemuda dengan realita yang ada. Di suatu negara impian katanya, yang bernama Indonesia. Melihat bagaimana kondisi negara ini dengan krisis-krisis yang ada, kontribusi pemuda seperti apakah yang harus tercipta? Atau pemuda yang dapat mengubah dunia hanyalah sebatas mimpi Sang Proklamator tercinta?

Indonesia Kini

Sudah tujuh puluh satu tahun Bangsa Indonesia bebas di negeri sendiri. Tidak ada lagi kisah rodi dan romusha yang menyakiti. Kolonialisasi, revolusi, hingga reformasi pun sudah dilewati. Hingga akhirnya bertransformasi menjadi sebuah negara yang mampu berdiri sendiri. Negara yang lahir untuk cita-cita yang tinggi.

Sampai tibalah masa sekarang, negara yang lantang meneriakkan merdeka pun mati suri. Krisis multidimensi menampakkan diri. Berbagai krisis terjadi di pelosok negeri, mulai dari krisis politik, ekonomi, budaya, pendidikan, sosial, juga moral mulai menghantui.

Indonesia memang sudah merdeka. Namun, mari kita berdiri di depan cermin untuk berkaca. Sembari merenung dan berpikir tentang realita yang ada. Penjajah memang tidak lagi berada di negara ini. Namun, tragedi pertikaian antar sesama masih saja terus terjadi. Tanam Paksa memang tinggal cerita. Tapi, kemiskinan dan kemelaratan sudah menjadi hal yang biasa. Negara yang merdeka karena pengorbanan para pejuang. Namun, simbol-simbol negara dan pahlawan masih saja dilecehkan oleh generasi sekarang.

Jika melihat ke belakang, ada ungkapan bagus untuk jadi bahan rujukan. “Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat. Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sanggup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita: hidup bahagia dan makmur dalam pengertian jasmani maupun rohani. Maka dengan tercapainya penyerahan kedaulatan, perjuangan belum selesai. Malahan kita berada pada permulaan perjuangan yang jauh lebih berat dan lebih mulia, yaitu perjuangan untuk mencapai kemerdekaan daripada segala macam penindasan…” Itulah pesan pesan yang disampaikan oleh Muhammad Hatta (dikutip dari buku  Doorstoot naar Djokja, Pertikaian Pemimpin-Sipil Militer).

Muhammad Hatta yang memproklamasikan kemerdekaan bersama dengan Bung Karno pun menyadari, bahwa kata “merdeka” bukanlah akhir perjuangan kita, namun merdeka hanyalah jalan untuk mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat. Merdeka tidak ada gunanya jika kemerdekaan yang sebenarnya hanya dirasakan oleh segelintir orang. Merdeka yang sebenarnya adalah keadaan dimana tidak terjadinya krisis multidimensi di negara ini.

Pendidikan dan Pemuda Indonesia

Negara  ini adalah  negara  dengan  cita-cita  yang  tinggi.  Cita-cita  luhur bangsa  Indonesia sebenarnya sudah tercantum dalam pembukaan UUD tahun 1945 alenia ketiga. “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Salah satu cita-citanya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Bicara tentang mercerdaskan kehidupan bangsa berarti bicara tentang pendidikan. “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” (UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1). Hal ini membuktikan bahwa pendidikan merupakan unsur penting dalam mendirikan negara yang bermoral, sejahtera, makmur, dan berkarakter.

Jika berbicara soal kualitas pendidikan, maka tingkat negara ini masih sangat jauh dari harapan, bahkan bisa dibilang sangat memprihatinkan. Hal ini dibuktikan dengan data yang dilansir dari Kompasiana.com bahwa pada tahun 2000, UNESCO menunjukkan tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Diantara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Sedangkan menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survey dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia. Padahal pendidikan dianggap sebagai penawar krisis muldidimensi di negara ini. Dengan demikian, sudah seharusnya negara ini lebih memperhatikan pendidikan. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tidak hanya sampai pada konsep semata, melainkan dijalani dalam ruang kehidupan yang nyata.

Ketika krisis multidimensi terus menghantui, sedangkan pendidikan yang dianggap sebagai penawar krisis nyatanya belum memadai, Lantas kepada siapakah kita berharap? Jika kita melihat kebelakang, melihat kembali potensi seorang pemuda seperti yang disampaikan Bung Karno, tidak ada salahnya jika kita berharap kepada sosok pemuda. Pemuda sudah selayaknya mengambil peran dalam kehidupan berbangsa, karena setiap perubahan yang terjadi selalu dikaitkan dengan campur tangan pemuda. Demi mengatasi krisis multidimensi yang ada, seorang pemuda harus bisa mengisi perannya untuk mengembangkan pendidikan.

Banyak kontribusi yang bisa dilakukan pemuda untuk mengembangkan pendidikan sesuai dengan ranahnya masing-masing. Pemuda yang menjadi bagian dari civitas akademika (mahasiwa) bisa berperan sebagai pendobrak setiap kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yang tidak sesuai melalui gerakan mahasiswa, atau dengan melakukan penelitian/riset yang bermanfaat bagi kepentingan orang banyak. Dalam bidang pertanian, pemuda bisa menggali potensi lokalnya dalam hal pangan, sesuai dengan lingkungan alam dan masyarakatnya. Pemuda juga harus melakukan berbagai terobosan di dunia pertanian agar sektor ini semakin berkembang. Dalam bidang kependidikan, seorang pemuda (pemuda yang berprofesi sebagai guru) berperan untuk mendidik dan menanamkan karakter kepada peserta didiknya. Selain itu, bisa mengembangkan sekolah alternatif di lingkungan tempat tinggalnya. Sekolah alternatif tentu berbeda dengan lembaga formal, sekolah ini sebagai lembaga alternatif bagi masyarakat untuk meraih pendidikan. Dalam bidang kebudayaan, seorang pemuda harus meningkatkan kepedulian dan rasa cinta terhadap kearifan kebudayaan lokal. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengintegrasikan kegiatan pembelajaran dengan kearifan budaya lokal, karena dalam kearifan kebudayaan lokal sarat akan makna bagi kehidupan kita. Berbagai peran yang bisa dilakukan pemuda diatas, diharapkan bisa menjadi sebuah solusi dalam menghadapi krisis multidimensi di Indonesia.

Memang, beberapa hal diatas merupakan kontribusi yang minim. Namun, ketika kehidupan rakyat mulai tidak layak, itulah pertanda bahwa seorang pemuda harus bergerak. Bukankah setiap perubahan besar selalu diawali oleh sebuah langkah kecil? Pemudalah yang akan mengawali langkah kecil itu dan membawanya menjadi perubahan yang besar. Hidup pemuda Indonesia!

 

Daftar Pustaka

Adams, Cindy. 2001 Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Ketut Masagung Corporation-PT. Tema Baru.

Anonim. 2015. Isi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. [online]. Tersedia : http://www.kuliah.info/2015/10/Isi-Pembukaan-Undang-undang-Dasar-1945-UUD.html diakses pada tanggal 5 September 2016.

Anonim. 2015. UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. [online]. Tersedia : http://www.komnasham.go.id/instrumen-ham-nasional/uu-no-20-tahun-2003-tentang-sistem- pendidikan-nasional diakses pada tanggal 5 September 2016.

Pour, Julious. 2009. Doorstoot naar Djokja, Pertikaian Pemimpin-Sipil Militer. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara

Zico  Hadi  Zulkarnaen.  2014.  Rendahnya  Kualitas  Pendidikan  di  Indonesia.  [online].  Tersedia  : http://www.kompasiana.com/zicohadi/rendahnya-kualitas-pendidikan-di- indonesia_54f5f924a3331184118b45e6 diakses pada tanggal 5 September 2016.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.