Cara Mengaktifkan DNA Inovator dalam Diri Anak

Oleh: Nurhasanah (staf JLI IsNet Wilayah KalBar)

0

Di Indonesia pada tahun 2011 hadir buku karya tiga pakar inovasi yaitu Jeff Dyer, profesor strategi dari Brigham Young University; Hal Gregersen, profesor kepemimpinan dari INSEAD; dan Clayton M. Christensen, profesor administrasi bisnis di Harvard Business School dengan judul DNA Inovator. Merupakan hasil penelitan selama delapan tahun yang melibatkan lebih dari 100 pemimpin perusahaan inovatif dunia untuk merumuskan apa itu DNA inovator.

Disusul dengan hadirnya kurikulum baru di Indonesia yang kita kenal dengan kurikulum 2013 (K-13) beberapa tahun kemudian. Dalam K-13 dikenal istilah langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan saintifik yang langkahnya mengadopsi lima keahlian penemuan dari Jeff Dyer dkk. Lima keahlian yang wajib dimiliki para inovator maupun secara sudut pandang sekolah, wajib dimiliki siswa itu adalah keahlian kognitif (associating), keahlian bertanya (questioning), keahlian melakukan pengamatan (observing), keahlian melakukan jejaring (networking), dan keahlian melakukan eksperimen (experimenting).

Keahlian kognitif (associating) yaitu kemampuan menghubungkan satu kejadian ke kejadian lainnya (mencoba mensintesis) dan membuat masukan-masukan baru. Keahlian ini membantu para inovator menemukan arah baru dengan membuat hubungan-hubungan melintasi pertanyaan, permasalahan, ataupun ide yang sepertinya tidak terhubung.

Keahlian bertanya (questioning), para inovator merupakan para penanya yang sempurna yang menunjukan gairah pada penyelidikan. Penyelidikan yang dilakukan sering menentang status quo. Seperti yang dilakukan Steve Jobs ketika dia menanyakan, “Mengapa komputer memerlukan kipas?” dari pertanyaan itu kita temui komputer Apple yang luar biasa itu. Jeff Dyer dkk, menemukan bahwa mereka menunjukan secara konsisten rasio Q/A yang tinngi, dimana pertanyaan (Q) tidak hanya melebihi jawaban (A) dalam percakapan biasa, namun dinilai sama tinggi atau sama baiknya dengan jawaban yang baik.

Para inovator juga merupakan para pengamat yang hebat (observing). Mereka secara hati-hati melihat dunia di sekeliling mereka. Pengamatan membantu mereka memperoleh pemahaman dan ide-ide mengenai cara baru untuk melakukan sesuatu.

Kemudian networking, para innovator menghabiskan banyak waktu dan energi untuk melakukan dan menguji ide-ide melalui berbagai jejaring individu yang berbeda latar belakang dan perspektif. Tidak hanya melakukan jejaring sosial dan jejaring sumber daya, mereka juga mencari secara aktif ide-ide baru dengan berbincang dengan orang yang memberi pandangan tentang sesuatu yang secara radikal berbeda.

Keahlian melakukan eksperimen (experimenting), para inovator mencoba pengalaman baru dan mengemudikan ide-ide baru. Para eskprimenter tidak henti-hentinya menyelidiki dunia baik secara intelektual maupun pengalaman, memegang kuat keyakinan dan menguji hipotesis sepanjang jalan. Mereka mengunjungi tempat-tempat baru dan belajar hal-hal baru.

Lima keahlian ini bukanlah sifat genetik yang diwariskan dari orang tua kepada anak sejak lahir sebagimana DNA pada umumnya, tetapi dapat ditumbuhkembangkan sejalan dengan proses pembelajaran di rumah maupun di sekolah. Caranya dengan membiasakan aktivitas-aktivitas berikut ini sebagaimana dituliskan dalam buku DNA Inovator karya Jeff Dyer dkk.

Orang tua dapat memainkan game “Apa hubunganya?” diwaktu bersantai bersama anak, yang mana ayah dan ibu masing-masing memikirkan satu kata sedangkan anak sebagai pemain. Setelah ayah dan ibu menetapkan kata secara acak lalu mereka mengumumkan kata-katanya. Sang anak harus menciptakan kata logis antara kedua kata tersebut. Contoh anggaplah dua kata tersebut adalah rumah dan air, jika dibuat kalimat menjadi “Setiap orang di dunia ini pasti memerlukan air meski tidak memiliki rumah” atau bentuk kalimat lainnya.

Jika dalam bentuk aplikasi berupa game TriBond yang memberikan tiga petunjuk kata dan meminta kita untuk memahami apa persamaan kata-kata tersebut. Lalu mencarikan dan atau membacakan buku-buku yang mengembangkan pemikiran. Main game seperti disampaikan sebelumnya dan membaca buku dapat mengaktifkan keahlian kognitif (associating) pada anak.

Kemudian untuk mengaktifkan keahlian bertanya (questioning) dapat dilakukan dengan QuestionStroming yang sudah dimodifikasi untuk anak muda. Contoh pertanyaan sederhana yang biasa dilakukan orang tua kepada anak sepulang mereka dari sekolah adalah “Bagimana  harimu?” atau “Apakah kamu mempelajari sesuatu hari ini?” pertanyaan kedua lebih baik dari yang pertama dalam hal menambah wawasan. Namun, cobalah diubah pertanyaan tersebut menjadi “Pertanyaan apa yang kamu tanyakan hari ini disekolah Nak?” “Pertanyaan apa yang ditanyakan kawan-kawanmu di sekolah hari ini?” “Pertanyaan apa yang tidak sempat kamu tanyakan hari ini di sekolah?” kemudian dengankanlah jawaban mereka. Kita mungkin akan terkejut dengan apa yang kita temukan.

Selanjutnya keahlian melakukan pengamatan (observing) dapat dilakukan dengan mengajak anak untuk melihat tempat kita berkerja. Kita tidak akan mengetahui kejutan-kejutan apa yang mungkin terjadi selama bersama kita seharian. Seringkanlah ajak anak-anak kita berjalan-jalan ke tempat kuno maupun yang baru. Lihatlah penglaman melalui mata mereka. Apa yang mereka lihat? Rasa? Dengar? Sentuh? Bau? Kita akan terkejut dengan apa yang belum pernah kita perhatikan sebelumnya.

Lalu keahlian melakukan jejaring (networking) dapat diaktifkan dengan sesekali membawa masalah kepada mereka dan menanyai pendapat mereka. Jelaskan bahwa masalah akan terselesai dengan baik bila kita mendapatkan pelbagai orang melihat masalah tersebut dari banyak perspektif. Ketika mereka menyatakan tertarik dengan masalah tesebut, kita dapat mengajak mereka bergabung ketika kita memberikan masalah yang sama kepada orang lain dengan latar belakang berbeda. Aktivitas ini akan menjadi contoh yang kuat akan pentingnya melakukan jejaring ide dan menunjukkan suatu proses untuk melakukannya.

Terakhir, keahlian melakukan eksperimen (experimenting) dapat diaktifkan dengan melakukan percobaan dirumah dan mendiskusikan hasilnya dengan anak-anak. Percobaan yang dilakukan bisa dalam bentuk apapun yang tujuannya untuk menumbuhkan sikap-sikap positif untuk kebaikan kehidupan anak kedepannya. Kita dapat pula mengaktifkan keahlian eksperimen dengan mengajak anak-anak ke pasar loak atau barang bekas untuk mendaptkan sesuatu yang dapat dipisah-pisahkan bagiannya.

Selain itu libatkan mereka dalam upaya-upaya melakukan prototipe dalam menciptakan hal-hal baru di lingkungan keluarga. Kemudian membawa mereka melakukan perjalanan keluar negeri (atau tempat ‘asing’ dari kota kita) dengan tujuan melakukan percobaan yang jelas di lingkungan baru yang akan memberikan banyak pengalaman bagi anak untuk mengembangkan keahlian para inovator dalam diri mereka.

Demikian beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua di lingkungan keluarga untuk mengaktifkan lima keahlian tersebut pada diri anak dalam upaya mendukung proses pembelajaran anak di sekolah. Tentunya masih banyak lagi yang bisa dilakukan orang tua selain dengan cara-cara yang sudah disebutkan. Intinya sebagai orang tua adalah jangan pernah berhenti untuk belajar dan terus berupaya agar generasi penerusnya kelak adalah mereka-mereka yang inovatif. Karena inovasi adalah sebuah investasi untuk kesuksesan masa depan, dalam upaya meperkayanya, perbanyaklah pula membaca. Semoga bermanfaat!

 

Referensi:

Anggoro, Yudo. 2011. Resensi Buku DNA Inovator Dunia. (Online).  (http://www.sbm.itb.ac.id/id/resensi-buku-dna-para-inovator-dunia.html, diakses 22 September 2018 pukul 10.37 pm).

Dyer, Jeff dkk. 2011. DNA Inovator. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Paparan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I Bidang Pendidikan. 2014. Konsep dan Implementasi Kurikulum 2013. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta, Indonesia.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.