Efektifkah Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Tanpa Media?

Oleh: Tika Sari

0

Peranan media dalam proses pendidikan adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan proses belajar mengajar dapat tercapai dengan sempurna. Apapun yang disampaikan oleh pendidik mesti menggunakan media, paling tidak yang digunakan adalah media verbal yang berupa kata-kata yang diucapkan dihadapan peserta didik. Dalam pengajaran, media sangat diperlukan untuk membantu efektivitas dan efisiensi pengajaran. Karenanya, pendidik harus dapat memilih media pengajaran yang tepat guna dan tepat sasaran.

Perolehan pengetahuan siswa seperti digambarkan Edgar Dale menunjukkan bahwa pengetahuan akan semakin abstrak apabila hanya disampaikan melalui bahasa verbal. Hal ini memungkinkan terjadinya verbalisme, artinya siswa hanya mengetahui tentang kata tanpa memahami dan mengerti makna yang terkandung dalam kata tersebut. Hal semacam ini dapat menimbulkan kesalahan persepsi siswa. Oleh sebab itu, sebaiknya diusahakan agar pemahaman siswa menjadi lebih konkrit, pesan yang ingin disampaikan benar-benar dapat mencapai sasaran dan tujuan yang ingin dicapai, yang dapat dilakukan melalui kegiatan yang mendekatkan siswa dengan kondisi yang sebenarnya.[1]

Dalam pembelajaran kreatif Bahasa Indonesia, media pembelajaran tidaklah harus mahal, tetapi bisa dengan memanfaatkan segala benda yang ada di sekitar untuk dijadikan media pembelajaran. Media pembelajaran yang bisa digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah media artefak konkrit,  audio, visual, dan audiovisual. Media-media ini bisa berwujud media artifisial, yaitu buatan guru atau natural (asli diambil dari alam). Hal pentingnya adalah dalam setiap pembelajaran harus menggunakan media pembelajaran.[2]

Selama ini banyak pembelajaran yang hanya mengandalkan papan tulis dan kapur untuk mengantarkan pemahaman pembelajar atas informasi ilmiah yang harus dimiliki pembelajar. Akibatnya, daya serap pembelajar pada umumnya rendah karena pembelajar lebih banyak pasif. Padahal pada aktifitas belajar pembelajar yang kurang aktif, setiap informasi yang diterima cenderung mudah dilupakan.

Media pembelajaran harus mampu membantu memudahkan penyerapan informasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang. Jika setiap informasi penting yang berkaitan dengan pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik dapat diserap dengan baik oleh pembelajar, kompetensi pembelajar akan mudah berkembang dengan baik juga. Hal inilah yang menyebabkan pentingnya pemanfaatan media pembelajaran.

Hanya saja media pembelajaran manakah yang harus dipilih oleh guru untuk memudahkan penyerapan informasi? Idealnya, semakin canggih karakteristik media pembelajaran akan semakin mudah membantu meningkatkan daya serap pembelajar. Bagi guru yang bekerja di daerah perkotaan, media berbasis teknologi informasi (TI) sangat mudah disediakan dan dimanfaatkan oleh guru. oleh karena itu, para guru setidaknya harus memulai membiasakan diri dengan berbagai program yang ada di komputer. Ada beberapa cara yang seharusnya mulai dikembangkan oleh para guru untuk mengembangkan media pembelajaran. Dengan berbasis TI, guru dapat menyiapkan materi pembelajaran melalui program power point. Setiap materi pembelajaran disiapkan dalam bentuk ide pokok kemudian dimasukkan ke dalam power point. Program pembelajaran yang dirancang dalam power point dapat ditayangkan melalui LCD di kelas atau dapat diunggah melalui website agar dapat diakses oleh pembelajar setiap saat. Hal ini akan sangat membantu memudahkan pembelajar menyerap informasi yang disampaikan oleh guru.

Agar para pembelajar berada dalam situasi yang sama dengan guru, sejak dini pembelajar juga harus dibiasakan dapat memanfaatkan TI sebagai media pembelajaran. Dengan demikian, interaksi belajar-mengajar antara guru dengan pembelajar akan semakin efektif sehingga daya serap pembelajar akan semakin meningkat. Namun, bagi sekolah yang belum memiliki fasilitas komputer atau internet, media pembelajaran dapat dibuat oleh guru sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah yang ada. Misalnya, seorang guru yang akan menyampaikan materi pembelajaran pada siswa agar mampu menguasai kesantunan berbahasa, dapat memilih dan mengembangkan media visual, seperti menggunakan tokoh wayang antara “ayah” dan “anak”  (Werkudara dengan Gatotkaca) yang didialogkan sesuai dengan tingkat kesantunan tertentu.

Langkah konkret yang mudah untuk mempersiapkan media pembelajaran adalah sebagai berikut.

a. Persiapkan materi yang akan dimediakan (memilih materi dan menentukan topik-topik inti materi).

b. Tentukan jenis media yang akan digunakan (visual, auditif, audio visual).

  1. Bila media visual: buatlah ringkasan materi dalam bentuk bagan, skema, atau deskripsi.
  2. Bila media auditif: siapkan teks yang akan direkam, siapkan narator yang akan direkam suaranya, lakukanlah perekaman di studio agar suara dapat jernih.
  3. Bila media audio audio visual diam: siapkan berbagai gambar yang akan divisualkan, siapkan narator yang akan membacakan teks sebagai isian suara, padukan antara isian suara dengan tampilan gambar.
  4. Bila audio visual gerak: buat skenario materi yang akan dimediakan, siapkan pelaku-pelaku yang akan memerankan tokoh pembawa pesan materi, lakukan pelatihan pemeranan pembawa pesan, pilih lokasi shooting (indoor atau outdoor), siapkan kameramen lengkap dengan peralatannya, lakukan shooting, lakukan editing hasil shooting sesuai dengan tujuan pembelajaran).

c. Gunakanlah hasil pengembangan media untuk melakukan pembelajaran di kelas.

d. Evaluasikan efektifitas penerapan media dalam mengembangkan kompetensi pembelajar.[3]

Media pembelajaran adalah salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar. Melalui media, proses penyampaian materi akan lebih terinternalisasikan di dalam diri siswa. Untuk itu pengadaan media pembelajaran terlebih dalam pembelajaran bahasa Indonesia semestinya adalah hal yang harus ada dalam rangka tercapainya tujuan pembelajaran. Pengembangan media pembelajaran bahasa Indonesia oleh guru harus terus dikembangkan dengan mengembangkan media yang kreatif sesuai dengan kriteria dan tujuan pembelajaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kurniawan,Heru. 2015, Pembelajaran Kreatif Bahasa Indonesia, Jakarta: Kencana.

Pranowo.2014,Teori Belajar Bahasa,Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sanjaya,Wina. 2012,Media Komunikasi Pembelajaran, Jakarta: Kencana.

 

[1]Wina Sanjaya, Media Komunikasi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2012), 69

[2]Heru Kurniawan, Pembelajaran Kreatif Bahasa Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2015), hal 86-87

[3]Pranowo, Teori Belajar Bahasa, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), hal , 288-291

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.