Diskusi ISNet dengan Founder Indonesian Silicon Valley, M.Yusuf Efendi M.Eng “Move To Hightech Country: A challenge”

Oleh : Anes, Qoyum, Anisah dan Alan

0

Sebagai sebuah lembaga yang fokus dalam pembinaan SDM mahasiswa, kali ini ISNet cabang Yogyakarta, pada hari Kamis, 26 Juli 2018, menyelenggarakan sebuah acara diskusi ilmiah dengan mahasiswa diseluruh wilayah Yogyakarta dengan menghadirkan pembicara langka, seorang Founder Indonesia Silicon Valley yang berbasis di Amerika Serikat, Muhammad Yusuf Efendi. Kesuksesan dan pengalaman beliau sebagai seorang diaspora Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat, tanpa mengesampingkan aktifitas community service seperti aktif di organisasi IMSA (Indonesian Moslem Society in America), membuat acara diksusi ilmiah yang bertemakan “Move To Hightech Country: A challenge” berjalan sukses.

Diskusi diawali dengan pembahasan perkembangan Ilmu Teknologi Dan Komunikasi (IPTEK) yang berpengaruh di luar negeri seperti yang ada di Israel, India, dan China. Ketiga negara ini merupakan negara-negara yang menggerakkan Silicon Valley sebagai pusat pengembangan information technology (IT) di dunia.  Teknologi dan ilmu pengetahuan merupakan elemen penting yang menjadi visi dan perhatian negara-negara yang ada di dunia. Mereka bahkan memiliki semboyan “Move To Hightech Country” sebagai visi pembangunannya.

Ada beberapa hal yang perlu dibahas untuk mengetahui bagaimana dan mengapa ketiga negara tersebut mampu berkontribusi besar terhadap perkembangan IPTEK saat ini. Bahkan kini Negara Korea pun perlahan mulai mengikuti perkembangan IPTEK dengan begitu pesat. Diskusi kemudian dilanjutkan dengan membahas satu persatu negara tersebut untuk mengetahui rahasianya. Pertama adalah Israel. Israel mampu mengisi bagian di Silicon Valley dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Hal ini sudah menjadi rahasia umum, dimana Israel menjadi negara yang lebih unggul dan maju di dalam bidang IPTEK.

Beberapa keunggulan Israel di antaranya adalah:

  1. Negara kecil dengan penduduk yang sedikit yakni 8,4 juta jiwa. Jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan total penduduk Jakarta saat ini yang mencapai 9 juta jiwa. Bahkan sangat jauh jika dibandingkan dengan total penduduk Indonesia
  2. Memiliki perusahaan yang sudah terdaftar di Silicon Valley
  3. Negara yang paling besar pertumbuhan startup-nya, hal ini terjadi karena mereka sadar negaranya tidak memiliki sumber daya alam. Oleh karena itu, ada dukungan besar dari pemerintah untuk memberikan perhatian khusus terhadap bidang ilmu pengetahuan dan teknologinya, bukan menitikberatkan pada sumber daya alamnya
  4. Negara yang jumlah perbedaan pegawai dan engineer sangat timpang, dimana kuantitas engineer jauh lebih banyak dibandingkan pegawai
  5. Tahun 2016 terdapat 2500 startup yang berkembang. Salah satu indikasi berkembangnya suatu negara adalah semakin banyaknya startup yang berkembang di negara tersebut.
  6. Facebook, Google, dan sebagainya merupakan beberapa contoh perusahaan besar yang memiliki cabang pengelolaan di Israel.

Yang menjadi dilema adalah sikap diplomatik negara Israel yang selalu kontroversial dalam beberapa isu internasional. Namun, selalu ada baiknya untuk tetap mempelajari ide-ide yang mereka bangun dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Salah satu ciri keberhasilan dari negara ini yakni adanya “Circle cluster” yakni hubungan yang baik antara universitas, pihak swasta, dan pemerintah. Kemudian jumlah engineer di Israel merupakan nomor satu di dunia, hal ini dikarenakan indikator pertumbuhan dan keberhasilan suatu negara dilihat dari banyaknya engineer. Salah satu dampak riil yang dirasakan adalah Israel menjadi salah satu negara yang memiliki industri persenjataan yang besar.

Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di Israel mendapatkan perhatian oleh China, dimana China saat ini sedang kebanjiran dana yang akan didistribusikan di negara-negara maju dan negara-negara berkembang termasuk salah satunya adalah Indonesia. Secara khusus Pak Yusuf menekankan sebuah tagline yang seharusnya menjadi perhatian kita bersama adalah jangan sampai kita terlalu sibuk dengan hal yang kecil, karena tidak ingin bermimpi mencapai hal yang besar. Keluarlah dari comfort zone guna memacu diri kita agar selalu positive thinking. Banyak contoh hampir kolapsnya suatu perusahaan adalah karena mereka tidak siap keluar dari comfort zone. Yahoo pada tahun 1995 menjadi sebuah perusahaan yang sangat besar di bidang Search Engine saat itu. Tapi pada akhirnya, ia dijual ke Freezeen karena tidak siap menghadapi tantangan besar, dan sekarang justru Google yang menjadi perusahaan search engine terbesar di dunia.

Setelah Israel, negara yang kedua yang menarik perkembangan Iptek nya adalah India. India merupakan negara yang luar biasa dari sisi kebudayaan dan karakter, dimana mereka melakukan segala hal untuk bisa mendapatkan sesuatu yang ditargetkan. Sehingga, orang-orang India hampir bisa  ditemui dengan mudah di perusahaan selevel Apple atau Google. Mereka memiliki jaringan diaspora yang sangat luas. Hal ini menjadi salah satu teguran bagi orang Indonesia yang lemah dan belum bisa selihai mereka. Dalam membangun jaringan atau koneksi, masih suka tidak enakan. Berbeda dengan bangsa India, mereka tetap fokus dalam mencapai tujuan, dan merupakan tipe bangsa yang suka belajar dan tidak mau kalah dari yang lain.  Hal ini bisa kita perhatikan dari CEO Google yang sekarang adalah orang India, dimana Apple pun mau di closing oleh orang India. Jadi sangat banyak upaya yang dilakukan oleh orang-orang India, terutama di bidang Start Up.

Lebih lanjut Pak Yusuf, menggugah kita,  Mengapa India bisa maju? karena mereka mau keluar dari zona nyamannya. Itulah alasan mengapa kita harus memiliki visi misi untuk membangun lapangan kerja bagi masyarakat, bukan hanya tergantung pada institusi penyedia lapangan kerja. Hampir 80% negara maju tergantung pada bidang teknologi bukan hanya resources. Pertumbuhan ekonomi menurut Gross Domestic Product (GDP) menyatakan bahwa India ternyata merupakan negara top ke 10 dibidang ekonomi, ini adalah angka yang cukup luar biasa.

Perhatian negara terhadap pengembangan Start Up yang besar sebenarnya sudah sangat dipersiapkan, bahkan sejak dari Sumber Daya Manusia (SDM)-nya duduk di bangku tingkat S1 Universitas. Mereka sebagai mahasiswa atau bibit-bibit unggul dibidik dan dipetakan untuk mampu melakukan trobosan dalam membangun startup. Inilah yang dilakukan oleh China, sehingga investasi di bidang IPTEK di China mengalami kenaikan yang sangat pesat, dimana mereka memiliki kelebihan dollar dan menginvestasikannya ke luar negeri.

Namun dari sekian banyak fakta dan informasi menarik terkait perkembangan Iptek beberapa negara, pertanyaan paling signifikan adalah, bagaimana dengan Indonesia, dimana posisi kita sekarang dan siapkah kita menjadi bagian penting dari kemajuan-kemajuan yang tengah diciptakan,….inilah yang menjadi PR, kita, mahasiswa, ISNet, dan semua unsur bangsa ini…untuk menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang kuat dan  tangguh Ipteknya untuk menyongsong era disruptive dan revolusi jilid 4.0.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.