Pengelolaan Keuangan yang Sehat Bersama Koperasi Jasa Keuangan Syari’ah (KJKS)

Oleh : Al Afif Muzakir (Bid.Jaringan SDM Syari’ah ISNET)

0

Pada tulisan sebelumnya ISNET telah memaparkan bagaimana fenomena dan realitas gaya hidup konsumtif masyarakat Indonesia. Sesi kali ini akan memberikan solusi yang efektif untuk meredam masalah tersebut dengan membenahi pola keuangan yang sehat. Karena permasalahan keuangan ini bisa menjadi penyebab kehancuran dalam kehidupan rumah tangga, bahkan dalam suatu Negara.

Lai dan Tan (2009) menyatakan bahwa kesuksesan, kesejahteraan atau kebahagiaan keuangan dapat dicapai melalui perencanaan keuangan pribadi atau keluarga yang baik. Perencanaan keuangan pribadi merupakan proses pengelolaan uang untuk mencapai kepuasan ekonomi pribadi Kapoor et al (2004). Perencanaan keuangan ini telah menjadi kajian penelitian yang dinamis yang sangat penting. Seperti yang dielaskan oleh Altfest (2004) bahwa disiplin ini sebagai penelitian tambahan keuangan dan sentra spesial yang sangat dibutuhkan.

Seperti halnnya perputaran ekonomi di suatu Negara yang harus seimbang, kegiatan ekonomi pribadi juga harus diatur dengan baik. Maka perencanaan keuangan merupakan cara yang efektif untuk dilakukan. Sehingga dalam sudut pandang ekonomi, Tujuan dan kebutuhan pribadi berubah sejalan dengan tahap kehidupan yang berbeda, oleh karenanya perencanaan keuangan merupakan suatu proses dinamis Gitman dan Joehnk (2005). Sayangnya pada saat ini, banyaknya buku dan kajian yang beredar hanya focus pada uang, kekayaan dan mengumpulkan harta. Padahal, penyebab rusaknya ekonomi pribadi diantaranya adalah karena adanya rasa selalu kurang dan takut kehilangan, yang obatnya hanya : wara’, qana’ah, syukur dan ikhtiar (www.sakinahfinance.com, 2018).

Pada dasarnya, pengelolaan keuangan yang baik harus memenuhi lima aspek, yaitu (Seminar Internasional Sakinah finance 2015):

  1. Managing Income yaitu halal, niat yang lurus.
  2. Managing Needs yaitu skala prioritas sesuai maqasid shariah.
  3. Managing Dreams yaitu mengelola keinginan yang tidak terbatas.
  4. Managing Surplus/Deficit yaitu mengelola tabungan, hutang, investasi.
  5. Managing Uncertainty yaitu Mempersiapkan diri dari hal yang tidak diinginkan, dengan asuransi/takaful, dana emergensi, dana pensiun.

Dalam menunjang ke-lima aspek tersebut, Koperasi jasa keuangan syari’ah (KJKS) mampu memberikan jawaban dan solusi kepada masyarakat dalam memenuhhi ke-lima aspek tersebut. KJKS adalah Koperasi yang mengkhususkan diri pada usaha jasa keuangan syariah melalui kegiatan maal dan tamwil. KJKS melaksanakan kegiatan maal, yaitu menghimpun dana ziswaf untuk disalurkan dan didayagunakan bagi para mustahiq/mauquf alaih. Kegiatan sosial (baitul maal) yang dilakukan oleh KJKS merupakan upaya proteksi, atau jaminan sosial untuk menjaga proses pembangunan masyarakat miskin anggota/calon anggota KJKS melalui usaha produktif menjadi pelaku usaha mikro. Jika KJKS sebagai baitul maal berfungsi sebagai lembaga sosial, maka KJKS sebagai baitul tamwil berfungsi sebagai lembaga bisnis yang mencari keuntungan dengan konsep syariah (bagi hasil).

Selanjutnya, sebagai lembaga Koperasi yang merupakan wadah usaha bersama yang memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai alat perjuangan ekonomi, alat pendidikan, efisiensi usaha dan kemandirian anggota Pritiyanto et al (2013). Dalam upaya pembangunan ekonomi terutama pada sektor mikro, KJKS memiliki kemampuan yang unik dalam manajemen pendapatan anggota (managing income). Kegiatan yang dilakukan dalam KJKS bukan hanya sebatas simpan pinjam, melainkan juga bergerak dalam sektor rill melalui berbagai macam akad (kontrak) pembiayaan usaha anggota dengan menggunakan prinsip-prinsip islam seperti pembelian barang-barang modal dengan sistem murabahah (Jual-beli), Mudharabah (bagi hasil usaha), musyarakah (penggabungan modal usaha) dan masih banyak lagi. Sehingga dalam pemenuhan pendapatan anggota dapat terhindar dari pendapatan yang tidak jelas (syubhat) dan dilarang (haram).

Adapun dalam manajemen kebutuhan (managing needs), KJKS memiliki berbagai macam produk yang dapat disesuaikan dengan skala prioritas anggota. Mengenai prioritas kebutuhan, dalam perekonomian islam merujuk pada tujuan akhir yaitu untk mencapai fallah (kesejahterahan) yang dikenal dengan maqasid syari’ah. Prinsip maqasid syari’ah ini menurut Iman Al Ghazali diataranya untuk melindungi keimanan (dien) mereka, manusia (nafs), akal mereka (aqal), keturunan mereka (nasl), dan kekayaan mereka (maal). Skala kebutuhan ini dapat dikelompokkan dalam berbagai kebutuhan, seperti kebutuhan dharuriyyat (sangat mendesak, tanpanya akan binasa), Hajiyyat (sesuatu yang dibutuhkan dalam kehidupan) dan Tahsiniyyat (sesuatu yang melengkapi hidup). Kebutuhan tersebut dapat diwujudkan dengan mengajukan program pembiayaan untuk barang-barang kebutuhan, pendidikan ataupun jasa dan program layanan umum seperti kebutuhan sehari-hari serta layanan sosial seperti pembayaran zakat, infak dan sedekah untuk disalurkan anggota atau calon anggota yang membutuhkan.

Kemudian dalam mengelola kebutuhan yang tidak terbatas (managing dreams). Dalam mencapai impian atau keinginan harus dibarengi dengan sikap qana’ah. Menerima apa yang telah diberikan oleh sang pencipta dan meletakkan kedudukan harta sebagai alat untuk bergerak, bukan untuk kesenagan hati dan hawa nafsu. Sehingga dalam prosesnya, impian harus sesuai dengan kebutuhan dan bukan keinginan serta harus berlandaskan prinsip Maqasid Syari’ah. Hal utama yang bisa dilakukan dalam manajemen impian ini adalah dengan membuat perencanaan keuangan.

Dalam KJKS, selain produk pembiayaan juga terdapat produk pendanaan anggota. Kedua produk ini dapat dikolaborasikan dalam melakukan perencanaan keuangan. Seperti keinginan aggota dalam memiliki rumah dapat terwujud dengan melakukan perencanaan pembelian rumah pada tahun tertentu dengan menggunakan produk pembiayaan murabahah (jual-beli) dan produk pendanaan tabungan yang ada di KJKS. Sehingga impian untuk mendapatkan rumah yang menjadi kebutuhan dharuriyyat bagi setiap orang bisa terpenuhi. Begitu juga dengan yang lainnya seperti pendidikan, Qurban, Haji dan kebutuhan lainnya.

Selanjutnya dalam pengelolaan tabungan, hutang dan investasi (managing Surplus/deficit). Rendahnya pendapatan atau banyaknya kebutuhan disebabkan gaya hidup dapat menjadi masalah dan menyebabkan deficit dalam keuangan. Pengaturan keuangan seperti ini dapat dilakukan di KJKS melalui layanan social bagi permasalahan ekonomi seperti pendapatan yang tidak mencukupi kebutuhan melalui program ZIS (Zakat, Infak dan Sedekah). Sementara untuk permasalahan hutang dapat menggunakan pembiayaan dengan menggunakan akad hawalah (pengalihan hutang) atau akad rhan (gadai). Sehingga anggota yang memiliki hutang dapat dengan cepat menyelesaikan muamalahnya. Kemudian untuk kelebihan dana atau surplus dalam keuangan dapat disalurkan melalui produk pendanaan berupa tabungan, deposito dan investasi dengan prinsip mudharabah (bagi hasil). Pengaturan keuangan yang baik akan menghindari dari perilaku boros dan mubazir.

Terakhir, pengelolaan keuangan untuk hal-hal yang tidak terduga (Managing Uncertainty). Mengelola resiko keuangan juga harus dilakukan, karena manusia tidak dapat mengetahui bagaimana kejadian dimasa yang akan datang. Melalui program takaful (asuransi) pada produk pendanaan dapat membantu anggota dalam mempersiapkan kondisi keuangan pada hal-hal yang tidak terduga seperti jaminan kesehatan, kecelakaan, kebakaran, meninggal dunia dan sebagainya.

Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) memiliki manfaat yang sangat besar untuk masyarakat, terutama dalam membangun pola keuangan yang sehat. Sehingga partisipasi dan sosialisasi kepada masyarakat sangat dibutuhkan agar KJKS dapat hadir disetiap daerah di Indonesia.

 

Daftar Pustaka

Altfest, L. (2004), “Personal Financial Planning: Origins, Development, And A Plan For Future Direction”, American Economist, Vol. 48 (2) (Fall), pp. 53-60

Gitman, L.J. and Joehnk, M.D. (2005), Personal Financial Planning, Thomson South-Western, New York, NY.

Lai, M.M. and Tan, W. 2009. An Empirical Analysis of Personal Finance Planning in an Emerging Market. European Journal of Economics, Finance and Administrative Sciences, 16, pp. 102 -115

Pristiyanto, Hasjim, B.M dan Tjokro, S.S, “Strategi Pengembangan Koperasi Jasa Keuangan Syariah  Dalam Pembiayaan Usaha Mikro di Kecamatan Tanjungsari, Sumedang”, Vol. 8 No. 1

Kapoor, J.R., Dlabay, L.D. and Hughes, R.J. (2004), Personal Finance, McGraw-Hill, New York, NY

www.sakinahfinance.com

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.