Mengintip Kenyamanan Guru Finlandia dalam Mengajar dari Buku Teach Like Finlandia

1

by : Rinita Istiqomah

 

Menjadi guru bukanlah suatu profesi yang dengan mudah dapat disandang oleh siapa saja, bahkan jika bisa dikritisi tidak semua yang mengajar di kelas adalah seorang guru. Seperti profesi lainnya, seorang guru harus memiliki kualifikasi, kompetensi dan keterampilan tertentu untuk menjadi pendidik yang professional.  Permen No.19 Tahun 2017 Tentang Guru Pasal 1 (1) menjelaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Berat dan besarnya peran seorang guru harus dibarengi dengan pendampingan, pelatihan dan motivasi untuk para guru agar dapat menyelesaikan tugasnya tidak hanya dengan baik, namun juga memberikan kenyamanan bagi para guru ketika menjalankan tugasnya.

Kebijakan kurikulum pendidikan di Indonesia yang berganti-ganti dan tuntutan guru untuk terus meningkatkan kompetensinya terutama dalam menghadapi tantangan abad 21, membuat guru harus mampu bergerak dinamis menyesuaikan perubahan dan perkembangan. Disisi lain kesejahteraan guru masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dalam wawancaranya dengan tim Republika (2017) menyebutkan bahwa kesejahteraan guru di Indonesia masih banyak masalah.  Ada sekitar satu juta guru yang hidup di bawah kata sejahtera. Angka yang cukup besar terhadap suatu profesi yang memegang peran penting dalam pembentukkan generasi bangsa.

Buku karangan Timothy D. Walker dapat menjadi salah satu motivasi dan inspirasi bagi para guru dan pemangku kebijakan terutama untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Meskipun secara kultur, budaya, dan suasana Indonesia dan Finlandia berbeda, strategi peningkatan kesejahteraan dalam  buku karya Timothy ini dapat menjadi tambahan ilmu bagi para guru untuk membangun suasana yang tidak hanya kondusif ketika mengajar namun juga akan menumbuhkan motivasi dan rasa sejahtera secara internal pada guru untuk memaksimalkan perannya.

 You never do the best if you didn’t take a rest enough. Bekerja disaat waktu bekerja dan beristirahat disaat waktu istirahat. Beberapa penelitian dalam buku tersebut memperlihatkan bagaimana kelompok yang bekerja dibawah  tekanan, kelelahan, dan tampak tidak sehat, dibandingkan dengan kolompok lainnya yang bekerja dengan senang, energik dan berkembang, sama-sama dapat menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Sepala (Walker, 2017) menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan dari dekade demi dekade telah menunjukkan bahwa kebahagiaan bukanlah hasil dari kesuksesan namun kunci kesuksesan. Kesehatan fisik, emosi dan mental baik guru maupun siswa merupakan hal dasar untuk memperbaiki kualitas belajar mengajar dan membuat kelas menjadi lebih menyenangkan. Hal inilah yang menjadikan kesejahteraan sebagai faktor utama yang harus dipertimbangkan di sekolah. Guru-guru di Finlandia sangat memahami kebutuhan istirahat, yang tentu saja tidak untuk dirinya sendiri namun juga untuk siswanya. Belajar dari jadwal istirahat otak, siswa di Finlandia mendapatkan istirahat 5 menit setiap 45 menit pelajaran, serta 15 menit untuk jam istirahat.  Levitin (Walker, 2017) menyatakan bahwa memberikan otak waktu untuk beristirahat, melalui jeda yang teratur akan mengarah pada produktivitas dan kreativitas yang lebih besar.

Alih-alih beristirahat tidak membuat para guru Finlandia membuat siswanya pasif. Para guru memahami tentang kebutuhan gerak pada diri siswanya, dengan mengkreasikan metode pembelajaran yang membuat siswa aktif seperti galeri berjalan bahkan membuat program seperti Finnish School on The Move, yang merupakan program nasional untuk membangkitkan aktivitas gerak siswa yang dilakukan oleh sekolah. Dengan adanya program dan pemahaman terkait kebutuhan gerak, para guru mampu meningkatkan aktivitas kinestetik siswanya, serta membuat kelas tidak membosankan namun menyenangkan dan aktif. Program Finnish School on The Move dapat dilihat di website resminya pada https://liikkuvakoulu.fi/english.

Mitos terkenal terkait tidak ada pekerjaan rumah di Finlandia dalam buku ini jelaskan tidak benar adanya, hanya saja pekerjaan rumah yang diberikan para guru cendrung lebih sedikit dan sederhana sehingga siswa mampu mengerjakannya tanpa bantuan dari orang dewasa. Guru tidak ingin menambah beban siswanya dan memahami bahwa pentingnya waktu luang untuk me-recharge diri. Recharge sepulang sekolah dengan berbagai kegiatan santai dengan keluarga atau teman sejawat sering dilakukan oleh para guru di Finlandia. Sekali lagi, mereka bijaksana dalam membatasi waktu bekerja mereka dengan waktu untuk kebutuhan dirinya sendiri.

Strategi selanjutnya dalam pasal kesejahteraan ini adalah menyederhanakan ruang. Faktor lingkungan tidak pernah dapat dipisahkan dari kenyamanan dan kesehatan mental seseorang. Sudut pandang orang Finlandia bahwa kenyamanan sangat  tergantung pada bagaimana membuat ruang tinggal sesorang sesederhana mungkin. Di kelas-kelas Finlandia, para guru cendrung untuk tidak banyak menempelkan sesuatu pada dinding kelasnya. Mereka mempercayai bahwa mengurangi rangsangan eksternal di dalam kelas sebagai upaya untuk membuat para siswa dapat lebih fokus. Menyederhanakan ruangan mampu membuat nyaman penghuninya.

Tidak sekadar pada penyusunan ornament dan komponen dalam ruangan, para guru dan siswa di Finlandia juga memahami tentang kebutuhan menghirup udara segar terutama untuk meningkatkan kesejahteraan dan proses belajar yang lebih baik di dalam kelas. Oleh sebab itu  peraturan mengenai jumlah siswa dalam suatu ruangan juga diatur di Finlandia. Salah satu cara yang dilakukan guru untuk mendapatkan udara segar adalah masuk ke alam liar. Richard Louv yang sangat terkenal dengan istilah nature-defict disorder (kurangnya bersentuh dengan alam), menyatakan bahwa terdapat gap yang besar antara anak-anak dan alam. Padahal menurutmya meningkatnya fungsi kognitif erat hubungannya dengan pembelajaran berbasis lingkungan. Ada pernyataan menarik oleh Walker yakni terdapat beberapa indikasi bahwa alam memainkan peran untuk mengurangi bullying. Alam juga dapat menjadi penangkal obesitas dan kelebihan berat pada anak, serta memberi manfaat psikologis dan kesehatan fisik lainnya. Bermain-main di alam sambil belajar tidak hanya membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna, namun guru juga dapat menjadikannya sebagai sarana rekreasi dan memulihkan tenaga.

Kenyamanan sekolah juga harus didukung oleh rasa damai yang dirasakan guru dan siswanya. Di Finlandia, sekolah berusaha untuk menciptakan suasana damai tersebut dengan memberikan rasa aman kepada seluruh warga di sekolah. Itulah kenapa proses belajar terlihat begitu tenang dan bebas dari tekanan. Anak-anak memiliki waktu yang cukup lama –sambil menyelesaikan tugas perseorangan- untuk belajar dengan tenang, meskipun disisi pedagogis pembelajaran aktif dilaksanakan dikelas tersebut. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh guru untuk membuat suasana tetap kondusif, yakni membuat Anchor charts (Aturan Pokok), yaitu sebuah aturan kelas yang dibuat oleh guru dan siswa yang disepakati bersama. Pada awal tahun para guru akan membimbing siswa untuk membuat aturan kelas yang pada umumnya terdiri dari 3 hal pokok yakni hormati diri sendiri, hormati orang lain, dan hormati lingkungan. Dari ketiga hal pokok tersebut siswa akan menurunkan menjadi aktivitas-aktivitas dikelas seperti kelas nyaman, tenang, tidak berantakan, dsb.

Peraturan bersama yang disepakati akan menimbulkan mindfulness (kesadaran penuh), suatu tren yang sedang masif di seluruh dunia. Kesadaran penuh tersebut akan menciptakan sebuah keseimbangan dimana anak mampu mengkondisikan diri ketika berada dalam sebuah lingkungan. Amanda Moreno (Walker, 2017) menyatakan bahwa dengan kesadaran penuh tidak hanya membantu anak-anak untuk menaruh perhatian, namun juga membuat anak-anak lebih cepat pulih jika mereka merasa kurang tenang dan menjadi lebih mudah bertansisi. Kesadaran penuh pada anak akan membuat pekerjaan guru lebih ringan dalam mengkondisikan kelas.

Finlandia mengajarkan bahwa bekerja keras tanpa mempertimbangkan kesejahteraan diri merupakan sesuatu yang keliru. Memperhatikan kesejateraan diri, kesejahteraan siswa, serta kesejahteraan teman seprofesi akan mampu menciptakan harmoni yang baik dalam suatu sekolah. Finlandia juga memperlihatkan bagaimana guru berusaha untuk mengurangi kompetisi dan memaksimalkan kolaborasi. Dari 15 menit waktu istirahat yang mereka gunakan untuk saling bercengkrama menghasilkan padangan bahwa  kolaborasi bukan sebagai sesuatu yang mewah, namun kolaborasi adalah kebutuhan. Dari Finlandia kita juga dapat belajar bahwa, kesejahteraan bukanlah sekadar gaji namun keadaan yang membuat para guru merasa aman, nyaman dan “diopeni” kebutuhan psikologisnya.

Daftar Pustaka

Walker, D. Timothy. 2017. Teach Like Finlandia. Jakarta: Grasindo

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/11/25/ozxtz5384-pgri-kesejahteraan-guru-masih-banyak-masalah (diakses 21 Desember 2017)

1 Komen
  1. Rina berkata

    kemarin saya juga baru membeli buku ini dari teman yang juga seorang guru,hal yang menjadi perhatian dari sekolah finlandia adalah kenyamanan, perasaan tidak tertekan pada diri seorang guru dan siswanya. sementara kalau di sini, beberapa siswa merasa bahwa sekolah itu sebuah rutinitas yang membosankan dan membuat tertekan karena banyaknya tugas dan PR yang menyita waktu istirahat mereka




    0



    0

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.