Fenomena ‘Laut Terbelah’ di Pantai Lariti, Bima Ditinjau dari Kacamata Oseanografi

Oleh : Nuri Yati

0

Anda pasti familiar dengan cerita tentang tongkat Nabi Musa yang bisa membelah Laut Merah di Mesir. Tak perlu jauh-jauh sampai ke Timur Tengah, ternyata fenomena laut terbelah juga terjadi di Indonesia. Tepatnya di Pantai Lariti yang terletak di wilayah selatan Kabupaten Bima, tepatnya di Desa Soro, Kecamatan Lambu Sape, Nusa Tenggara Barat. Fenomena laut terbelah juga terjadi di Pulau Jindo, Korea Selatan dan Kanada.

Lalu bagaimana fenomena itu bisa terjadi? Bagaimana pendapat pakar oseanografi tentang fenomena ini?. Berikut penjelasannya.

Faktor Penyebab Laut Terbelah

Ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya fenomena  Laut Terbelah di Bima, Jindo dan Kanada yaitu struktur geomorfologi dan pasang surut.

1. Struktur Geomorfologi dari Daratan

Geomorfologi Pantai Lariti yang terbelah dulunya adalah sebuah daratan yang menyatu. Namun karena proses pengikisan menyebabkan struktur daratan mengalami penurunan sehingga terlihat tidak menyambung atau terpisah.

2. Pasang Surut

Pasang surut (pasut) adalah naik turunnya muka air laut disebabkan oleh gaya tarik (gravitasi) bulan matahari dimana gaya tarik bulan lebih besar pengaruhnya dibanding gaya tarik matahari. Ketika air laut mengalami surut, daratan yang tadinya tidak terlihat akan terlihat muncul ke permukaan.

Bagaimana dengan Laut Terbelah dalam Kisah Nabi Musa AS?

Menurut para ilmuwan, fenomena laut terbelah dalam kisah Nabi Musa AS disebabkan karena adanya tiupan angin dari arah timur yang lurus dan sangat kencang yang menyeret air dari permukaan hingga dasar. Sehingga air terdorong hingga dasar lautnya menjadi kering. Fenomena ini diperkirakan berlangsung selama 12 jam. Hingga saat ini fenomena Laut Terbelah di jaman Nabi Musa AS belum pernah terjadi lagi.

Perbedaan Karakteristik Pasang Surut di Bima, Jindo dan Kanada

 

Karakteristik

 

Tipe Pasang Surut

Tunggang Pasut

(Beda Pasang Tertinggi & Surut Terendah)

Pantai Lariti, Bima, NTB Campuran Cenderung Semi Diurnal

(Dalam sehari terjadi minimal 2x pasang dan 2x surut, namun tinggi pasang/ surut tidak sama persis)

 

 

 

2,2 meter

Pulau Jindo, Korea Selatan Semi Diurnal

(Dalam sehari terjadi 2x pasang dan 2x surut)

 

6,7 meter

Pulau Minister, Brunswick, Kanada Semi Diurnal

(Dalam sehari terjadi 2x pasang dan 2x surut)

 

6,98 meter

Sumbe: MCDL KKP, 2018

 

Narasumber :

Dr.-Ing. Widodo S. Pranowo

(Peneliti Madya Bidang Oseanografi Terapan, Pusat Riset Kelautan KKP)

Sumber Gambar : Tribunnews.com

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.