Diet Ketogenik, Amankah ?

Oleh : dr. Nanda Eka

0

Assalamualaikum. Selamat pagi sahabat sehat. Kali ini kita akan sedikit membahas mengenai satu topik yang lagi ngetren dikalangan para dieters , yakni diet ketogenik / diet atkin / diet low carb yang terbukti ampuh menurunkan BB hanya dalam hitungan bulan. Namun sahabat, kita juga perlu tahu, apakah protokol diet seperti ini aman atau tidak

Diet ketogenik  sudah dikenal sejak tahun 1920 untuk  manajemen pasien epilepsi. Diet ini kemudian mengalami revolusi dan dipopulerkan oleh dr Atkin pada tahun 90an , oleh karenanya disebut dengan diet Atkin. Prinsipnya sederhana, yakni mengurangi intake karbohidrat menjadi kurang dari 20 gram/hari. Sebagai gantinya, dieter bisa menambah jumlah asupan lemak maupun protein.

Sebagaimana kita tahu, pola diet ideal yang direkomendasikan adalah dikisaran  50 % karbohidrat, 30 % lemak dan 20 % protein. Pola diet ini secara evidence based sudah terbukti stabil untuk kebutuhan metabolisme kita. Artinya semua proses metabolisme akan berjalan seimbang. Ketika kita merubah komposisi ini, maka secara otomatis juga akan mengubah proses dan prioritas metabolisme itu sendiri.

Seperti yang terjadi pada diet ketogenik, pada dasarnya kita mengubah secara manual pola metabolisme kita dengan pola makan. Sumber energi utama dalam tubuh kita adalah glukosa. Glukosa melalui glikolisis akan diubah menjadi atp dan atp inilah yang akan digunakan untuk energi sehari hari. Sementara itu, sumber utama glukosa adalah karbohidrat. Dalam kondisi kekurangan glukosa, respon pertama tubuh adalah meningkatkan glukoneogenesis atau pembentukan glukosa. Ada banyak sekali jalur yang digunakan oleh tubuh untuk menghasilkan glukosa ini. Dua diantaranya adalah dengan mengubah asam lemak dan asam amino menjadi glukosa.

Apabila proses ini berlangsung terus-menerus, maka tubuh akan membentuk benda keton sebagai sumber energi alternatif. Nah konsumsi karbohidrat yang rendah akan memaksa tubuh kita menggunakan lemak sebagai sumber energi utama. Lemak yang tersimpan dalam tubuh kita (trigliserid) akan dipecah menjadi asam lemak agar bisa diubah menjadi energi. Inilah yang akan menyebabkan cadangan trigliserid kita menurun dan tubuh menjadi kurus.

Yang menjadi permasalahan adalah, apakah yang kurus selalu lebih baik dari yang tidak ? konsep umum menyatakan berat badan yang ideal tentu lebih baik dibanding overweight atau obesitas. Namun pada kondisi tertentu, yang kurus tidak selalu lebih sehat dibanding yang gemuk.

Yancy dkk (2004) meneliti perbandingan antara diet rendah karbohidrat dengan diet rendah lemak. Dari hasil penelitian selama 6 bulan menunjukan, pasien yang menjalani diet rendah karbohidrat mengalami reduksi berat badan yang lebih banyak dibanding diet rendah lemak dengan profil lipid yang relatif baik. Namun dalam jumlah kecil, terdapat beberapa pasien pada grup diet rendah karbohidrat yang mengalami efek samping . Efek samping paling sering adalah konstipasi, bau mulut, kram otot, nyeri kepala, diare dan general weakness. Mereka menyimpulkan, diet rendah karbohidrat dalam kurun waktu 6 bulan memiliki efek yang cukup positif untuk penurunan berat badan dan perbaikan profil lipid. Akan tetapi mereka tidak dapat memastikan manfaat dan keamanan apabila diet ini dilanjutkan lebih dari 6 bulan.

So, sahabat, bagi yang ingin menjalani diet rendah karbohidrat ini, pastikan tubuh anda siap, mulai dengan perlahan, dan jangan lebih dari 6 bulan.

 

Referensi :

Yancy dkk. 2004. A Low-Carbohydrate, Ketogenic Diet versus a Low-Fat Diet To Treat

Obesity and Hyperlipidemia. Ann Intern Med ;140:769-777.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.