Kemandirian Berpikir, Masalah dalam Pembelajaran Matematika

Oleh: Jamilah, M. Pd

0

Menjadi negara yang maju, unggul dalam segala bidang adalah impian setiap negara, tak terkecuali Indonesia. Untuk menjadi negara yang unggul, negara tidak bisa melepaskan fokus perhatian dari dunia pendidikan. Seperti halnya negara-negara maju, mereka selalu menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. Sebagai contoh Amerika. Pada tahun 1957, Amerika terkejut ketika mengetahui bahwa Rusia berhasil meluncurkan Sputnik, satelit buatan manusia pertama, keluar angkasa. Kondisi ini menjadikan Amerika tidak lagi mendominasi teknologi.

Banyak pihak kemudian menyalahkan sekolah karena inferioritas teknologi. Selain itu, banyak peneliti mengatakan pendidikan di Amerika sebagai pendidikan yang biasa-biasa saja. Beberapa peneliti mendapati bahwa pendidikan di Amerika, khususnya pendidikan sains masih bersifat prosedural melalui proses menghapal dan belum bersifat konseptual. Karena dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan di Amerika lebih difokuskan pada bidang militer. Kondisi ini berbanding terbalik dengan pendidikan di Rusia, dimana Rusia lebih memfokuskan pendidikan pada matematika dan sains. Lebih menekankan konseptual daripada prosedural (Starks, 2015).

Melihat kesuksesan dan pola pendidikan di Rusia, Amerika kemudian melakukan revolusi pendidikan. Segala upaya perbaikan standar kurikulum, perbaikan profesionalisme mengajar guru, serta perbaikan dalam sistem penilaian terus dilakukan dari tahun ketahun hingga akhirnya Amerika berhasil menunjukkan kemajuan. Bahkan pola pendidikan Amerika menjadi rujukan pendidikan bagi negara lain, termasuk Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hingga saat ini pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan matematika masih banyak mengacu kepada pendidikan yang diterapkan oleh Amerika. Meski demikian, hasil pendidikan yang didapat di Indonesia belum mampu menyamai hasil pendidikan di Amerika pada khususnya atau negara-negara maju pada umumnya. Mengapa demikian?

Disadari atau tidak, pembelajaran yang terjadi saat ini umumnya merupakan transfer pengetahuan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Peristiwa transfer terjadi secara turun temurun sehingga membentuk suatu keyakinan pendidik, bahwa pengetahuan yang diajarkan tersebur sepertinya bersifat permanen. Peran seorang pendidik seolah hanya sebagai pengajar yang menjadi perantara proses pewarisan pengetahuan. Sebagai contoh, dalam pembelajaran matematika, guru seringkali menjadikan dokumen bahan ajar (buku paket atau buku-buku referensi) sebagai acuan persiapan pembelajaran untuk disampaikan kembali didepan kelas. Proses ini menunjukkan adanya imitasi pemikiran tentang matematika yang dilakukan oleh guru dan juga ssiwa (Suryadi, 2015).

Hakekatnya sebuah pembelajaran harus mampu menjadi sarana untuk memunculkan kemandirian siswa. Jika kemandirian menjadi kata kunci, maka sudah semestinya setiap proses pembelajaran, khusunya pembelajaran matematika mampu memberikan luaran berupa kemandirian, khususnya kemandirian berpikir. Namun, suasana pembelajaran matematika yang tersedia belum mampu menjadi sarana untuk memunculkan kemandirian berpikir siswa. Sebagai contoh, bagaimana mungkin siswa selaku peserta didik akan memiliki kemandirian berpikir, jika guru selaku fasilitator tidak memberikan contoh bagaimana mandiri dalam berpikir atau tidak menghadirkan suasana belajar yang dapat memunculkan kemandirian belajar siswa.

Prestasi belajar dalam bentuk angka yang diperoleh siswa merupakan salah satu hasil dari suatu proses pembelajaran. Hal ini seringkali menjadi indikator untuk mengukur keberhasilan suatu proses belajar mengajar dan mengukur sejauh mana sebuah pengetahuan berhasil dimiliki siswa. Akibatnya, fokus utama dalam proses pembelajaran itu sendiri terletak pada hasil akhirnya. Namun, ada hal yang seringkali terabaikan atau tidak menjadi fokus perhatian, yakni proses siswa dalam memperoleh pengetahuan itu sendiri. Sehingga proses pembelajaran ini menjadi pembelajaran yang bermakna.

Penting bagi setiap pendidik baik itu guru maupun dosen melakukan revolusi pembelajaran matematika dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri yakni mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Harapannya adalah proses belajar mengajar yang bermakna akan menjadi hal yang membekas dalam diri siswa. Oleh karenanya, perlu dilakukan upaya-upaya perbaikan, dan semua ini menuntut setiap pendidik untuk terus berinovasi.

 

Referensi

Starks, Michael E. 2015. A Comparison of Fifth Grade Curriculum Materials. Dissertation. Liden Wood University

Suryadi, Didi. 2015. Penelitian Desain Didaktis (DDR) dan Kemandirian Berpikir. Disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika UAD Yogyakarta.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.