Islam Di Barat: Antara Moderasi Dan Ekstremisme

Oleh: Ika Novira Trisna, M.Pd.I

0

 A. Pendahuluan

Islam adalah agama (ad-dîn) yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, diri dan sesamanya. Dengan demikian, Islam bukan hanya mengatur masalah akidah, ibadah dan akhlak; tetapi juga mengatur masalah ekonomi, pemerintahan, sosial, pendidikan, peradilan dan sanksi hukum serta politik luar negeri. Inilah yang dimaksud dengan Islam kâffah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah dalam al-Quran (QS al-Baqarah [2]: 208).

Karena itu, Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna sehingga Islam tidak lagi membutuhkan agama atau ajaran lain (QS al-Maidah [5]: 3). Bahkan jika ada yang merasa perlu untuk mengambil dari agama atau ajaran lain, dengan tegas Allah menolaknya, dan apa yang diambilnya itu tidak akan pernah diterima (QS Ali Imran [3]: 85).

Karena itu pula, Islam—sebagai agama dan ajaran—harus dibedakan dengan pemeluknya. Sebagai agama dan ajaran, Islam tidak pernah berubah. Islam sudah lengkap dan sempurna. Hanya saja, pemahaman pemeluknya terhadap Islam itulah yang berbeda-beda; ada yang lengkap dan tidak, ada yang memahami Islam dari satu aspek, sementara aspek yang lain ditinggalkan. Misalnya, Islam hanya dipahami dengan tasâmuh (toleransi)-nya saja, sementara ajaran Islam yang lain, yang justru melarang tasâmuh tidak dipakai. Dari sini, seolah-olah Islam hanya mengajarkan tasâmuh sehingga Islam terkesan permissif. Padahal kenyataannya ada yang boleh di-tasâmuh dan ada yang tidak. Dengan demikian, tetap harus dipilah antara Islam dan orangnya.

Adapun kategorisasi Islam—Moderat, Liberal, Ekstrem, Radikal, Fundamentalis, dan sebagainya (meminjam istilah Jalaluddin Rakhmat)—adalah mapping (pemetaan) yang berfungsi untuk memudahkan peneliti dalam memahami Islam. Memang, kategorisasi seperti ini merupakan bagian dari pemetaan yang dilakukan untuk memilah-milah Islam berdasarkan kecenderungan orangnya dan Memandang Islam dari aspek ini saja sudah sangat keliru. Sebab, Islam hanya dinilai dengan menilai orangnya, bukan Islamnya itu sendiri. Tentu ini bukan dari orang Islam. Karena orang Islam tidak mempunyai kepentingan untuk melakukan itu. Pemilahan atau pemetaan itu sengaja dilakukan oleh orang yang berada di luar Islam dalam rangka mendekati orang Islam untuk kepentingan mereka. Lalu apa kepentingan mereka? Jelas, yaitu: devide et impera; belah bambu; satu diinjak, yang lain dirangkul. Tujuan akhirnya, agar orang Islam bisa dijinakkan dan dikuasai oleh penjajah dengan cara memecah belahkan umat islam dari dalam karena mereka berpendapat bahwa umat Islam tidak bisa dikalahkan oleh orang luar, kecuali oleh orang Islam sendiri [1].

Maka walaupun sebenarnya sudah ada sejak lama pemetaan dalam Islam namun pemetaan tersebut hanya sebatas pada pemikirannya saja tanpa adanya istilah tertentu yang membedakannya. Namun pihak luar muslimlah yang berusaha memberikan istilah tetentu dan sejak saat itu pertentangan dan pemetaan dalam tubuh Islam semakin masyhur apalagi sejak kejadian 11 September 2001 (Pengeboman gedung WTC) di Amerika serikat yang mana pada waktu itu umat Islam radikal yang diklaim sebagai dalang dari kejadian tersebut sehingga muncullah beberapa pemetaan islam.

B. Pengertian Istilah

  1. Muslim Moderasi

Moderasi dari kata “ Moderat “ dalam kamus KBBI diartikan kelompok yang  selalu menghindari perilaku atau menghindari pengungkapan ekstrim dan Kecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah. Dari pengertian diatas maka “ Islam moderat “ adalah Islam yang mengambil garis tengah. Tetapi terdapat beberapa pengertian lain dari sudut pandang tokoh-tokoh yang pro dan kontra terhadap “ Islam Moderat “.

  1. Islam Moderat menurut pandangan politisi dan intelektual Barat adalah Islam yang tidak anti Barat (baca: anti Kapitalisme); Islam yang tidak bertentangan dengan sekularisme Barat, serta tidak menolak berbagai kepentingan Barat. Substansinya, ‘Islam Moderat’ adalah Islam sekular, yang mau menerima nilai-nilai Barat seperti demokrasi dan HAM, serta mau berkompromi dengan imperialisme Barat dan tidak menentangnya. Kelompok yang disebut ‘Islam Moderat’ ini mereka anggap sebagai ‘Islam yang ramah’ dan bisa jadi mitra Barat. Sebaliknya, menurut Barat, yang disebut ‘Islam radikal’ atau ‘ekstrimis’ adalah Islam yang menolak ideologi Kapitalisme-Sekular, anti demokrasi, dan tidak mau berkompromi dengan Barat. Karena itu, Noam Chomsky dalam Pirates and Emperors, Old and New International Terorism in The Real World(new edition, 2002), mengatakan: “We note another pair of Newspeak concepts: ‘extremist’ and ‘moderate,’ the latter referring to those who accept the position of the United States, the former to those who do not.” (Kita mencatat sepasang konsep bahasa baru: ‘ekstrimis’ dan ‘moderat’; predikat ‘moderat’ disandangkan pada pihak-pihak yang mendukung kebijakan AS dan sekutunya. Sementara predikat ‘ekstrimis’ disandangkan pada pihak-pihak yang menantang, mengancam, mengusik kebijakan AS dan sekutunya)[2]. Klasifikasi demikian menggambarkan cara pandang Barat terhadap Islam dan kaum Muslim sesuai ideologi mereka. Karena itu, umat Islam wajib menyadari, pemilahan Islam menjadi moderat dan radikal adalah demi kepentingan Barat, yakni untuk memunculkan satu kelompok Islam dan menekan kelompok Islam yang lain. Dengan begitu, Barat berambisi, hanya ada satu Islam, yakni Islam yang mau menerima ideologi, nilai-nilai, dan peradaban Barat serta berbagai kepentingan mereka.
  2. Islam Moderat menurut Ustadz H. lutfi Bashori pengasuh Ribath Ali Murtadho berpendapat bahwa moderat diistilahkan dengan konsisten, sebagai terjemahan dari istilah istiqamah yaitu umat islam yang masih konsisten berpegang teguh terhadap ajaran syariat islam dalam pemahaman ulama salaf Jadi Kelompok Konsisten adalah mayoritas umat Islam yang masih mengikuti ajaran syariat yang telah diterima secara estafet dengan panduan kitab yg standar yang diterima secara estafet pula dari para ulama dan selalu berupaya untuk menerapkan syariat Islam secara utuh, namun tetap disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang secara riil dihadapi [3].
  3. Islam Moderat menurut Yusuf Qardhawi tidak sama dengan versi Islam moderat negara-negara barat atau agama liberal, karena beliau tidak ekstrim dalam berfiqih. Beliau pun tidak fanatik madzhab. Beliau lebih mementingkan hujah-hujah yang sahih dalam menilai suatu perkara. Oleh karena itu sering dikatakan bahwa beliau menggabungkan kaedah ushul fiqih dan ushul hadist. dan moderatnya Qardhawi dalam berfiqih tetap dalam koridor Al-Quran dan Sunnah. Contohnya dalam masalah aqidah, Qardhawi tegas dalam masalah syirik. Atau contoh lain, jangan harap menemukan ucapan beliau yang mengharamkan poligami atau menghinakan orang yang melakukan poligami.
  4. Islam moderat menurut Khaled abou el fadl (tokoh islam moderat) dalam bukunya “Selamatkan Islam dari muslim puritan“ menyatakan bahwa Al-Qur’an sebagai kitab suci Islam telah memerintahkan umat Islam untuk menjadi orang yang moderat, bahkan terdapat hadits Nabi yang meriwayatkan bahwa manakala Nabi dihadapkan pada dua pilihan yang sama ekstrimnya maka Nabi selalu memilih garis tengah. Dari beberapa keterangan itulah beliau menyatakan bahwa Nabi adalah sosok moderat.[4]

Dari pengertian diatas pemakalah menyimpulkan bahwa menurut sudut pandangan barat, Islam moderat adalah golongan yang berada ditengah-tengah antara Kristen dan Islam, Maka Islam garis Kiri (Liberal) juga termasuk dalam Islam moderat karena pada hakikatnya orang barat berpendapat bahwa Islam adalah Radikal, Puritan dan Ekstrim. Sedangkan menurut orang Islam sendiri, Islam Moderat adalah golongan yang berada ditengah-tengah diantara Islam garis kanan (Ekstrim) dan Islam garis Kiri (Liberal). Sebagaimana dalam salah satu maqolah

“خير الأمور أوساطه” perkara yang paling bagus adalah perkara yang tengah-tengah.

Moderat dalam bahasa Indonesia berarti pertengahan atau mudah diterima di semua kalangan. Kata moderat yang dimaksud dalam istilah ini di-claim sebagai penafsiran dari kata ‘alwashotiyah’. Kata ini terdapat dalam hadits yang mengatakan bahwa islam itu adalah al-washatiyah atau Islam itu adalah pertengahan. Namun, ternyata makna pertengahan antara kedua bahasa ini sebenarnya sangat berbeda. Tidak seperti yang dimaknai secara biasa,yaitu pertengahan.

Memaknai kata pertengan dari kata moderat dan makna kata pertengahan dari bahasa agama sangatlah berbeda. Al-washotyah atau petengahan dalam bahasa agama berarti mengambil jalan tengah yaitu mempertimbangkan segala sesuatunya tanpa ada kehendak mengikuti hawa nafsu disana. Jadi, Islam adalah agama pertengahan yaitu agama yang terbebas daripada mengikuti kehendak hawa nafsu lawwamah, tetapi Islam adalah agama yang dituntun oleh ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

  1. Muslim Ekstremisme

Secara bahasa kata “ekstrem” adalah lawan kata dari “moderasi” . Dan kata ekstrem disinonimkan dengan radikal, fundamental, fanatik, militan, puritan dan lain sebagainya, karena adanya kemiripan dalam defenisi antara satu dengan yang lainnya. Sebagaimana Khaled Abou El Fadl mendeskripsikan puritan dengan istilah fundamentalis, militant, ekstrimis, radikal, fanatik, jahidis, dan bahkan cukup dengan istilah Islamis.[5]

Dalam kamus bahasa Indonesia kata ekstrem dapat diartikan sebagai yang paling ujung (paling tinggi, paling keras, dsb); keras dalam pendirian; fanatik.[6]

Istilah radikal diartikan: secara menyeluruh; habis-habisan: perubahan  yang amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan, dan sebagainya); serta perubahan yang maju dalam berpikir atau bertindak.[7]

Sedangkan Fundamentalis/ n adalah penganut gerakan keagamaan yang bersifat kolot dan reaksioner yang merasa terancam oleh ajaran agama yang modern dan liberal sehingga merasa perlu kembali ke ajaran agama yang asli seperti yang tersurat dalam kitab suci.[8]

Fanatik adalah teramat sangat kuat kepercayaannya (keyakinannya) terhadap ajaran (politik, agama, dsb); sedangkan kefanatikan diartikan dengan kesangatan dalam  hal memegang  (menjalankan dsb) keyakinannya (kepercayaannya dsb).[9] Dan defenisi militan adalah sangat bersemangat; penuh gairah; berkemauan keras. Kemudian puritan diartikan dengan orang yang hidup sholeh dan yang menganggap kemewahan dan kesenangan sebagai dosa.[10]

Martin E.Marty dan R. Scott Appleby mengatakan bahwa semua fundamentalis memiliki pola-pola tertentu. Fundamentalisme-fundamentalisme itu merupakan mekanisme pertahanan yang muncul sebagai reaksi atas kritis yang mengancam. Fundamentalisme melawan orang-orang yang kebijakan dan kepercayaan sekulernya memusuhi agama. Kaum fundamentalisme tidak menganggap pertarungan politik biasa, melainkan lebih sebagai peperangan kosmis antara kebaikan dan kejahatan. Mereka sangat mencemaskan ancaman permusuhan, sehingga mereka membentengi identitas mereka dengan cara membangkitkan kembali doktrin-doktrin dan praktek-praktek masa lampau. Untuk menghindari pencemaran, kaum fundamentalis sering kali mengasingkan diri dari masyarakat umum, sebagai upaya perlawanan budaya. Meskipun demikian, orang-orang fundamentalis bukanlah kaum pemimpi. Mereka sedikit banyak telah menyerap rasionalisme modern. Dengan tambahan bimbingan pemimpin kharismatik mereka, aspek fundamental diasah sehingga mampu menciptakan suatu ideologi yang member pengikutnya suatu manual tindakan. Pada akhirnya, mereka melawan dan berusaha mensakralkan kembali dunia yang dari ke hari semakin skeptis.[11]

Namun fundamentalis Islam kini lebih mengarah kepada gerakan-gerakan Islam yang bergerak dalam bidang politik, yang berupaya menekankan pemberlakuan syari’at Islam dalam system pemerintahan Negara, menentang pemerintahan sekuler ala Barat dan rezim pro-Barat, dan tentu saja menentang hegemoni Barat dalam kancah politik dan ekonomi internasional.[12]

Muhammad Rasyid Ridho memiliki ide-ide pembaruan yang tidak jauh berbeda dengan pendahulunya – Al-Afghani dan Abduh – ia berpendapat bahwa umat Islam mundur karena meninggalkan ajaran Islam yang murni. Menurutnya ajaran Islam yang murni itulah yang membawa kemajuan bagi umat Islam.[13]

C. Muslim Moderasi Dan Ektremisme Di Barat

Pangeran Charles menilai – dengan kejujurannya- Ekstremisme yang oleh Barat selama ini dikesankan hanya terjadi di kalangan Islam dan bahkan menganggap bahwa ekstremisme adalah inti ajaran Islam. Padahal sikap itu didapati di semua pemeluk agama, faham dan ideology. Oleh karena itu, ada ekstremisme Kristen, ekstremisme Hindu, dan ada pula ekstremisme sekuler. Barat hanya mampu melihat pelaku peristiwa Lockerbi, peledakan gedung WTC, dan sejenisnya. Padahal kasus-kasus itu masih belum sepenuhnya dapat dibuktikan, bahkan keterlibatan Mossad dapat dibongkar dalam kasus WTC. Intervensi Amerika di Somalia dengan dalih mendamaikan pihak-pihak yang bertikai. Tekanan Barat lewat “tangan” PBB untuk memusnahkan bangsa Irak dengan alasan ancaman bahaya nuklir dan senjata kimia yang dikembangkan Irak. Pada saat yang sama Amerika memberikan hadiah pesawat tempur paling canggih kepada Israel. Akan tetapi di pihak lain Barat menutup matanya dari perlakuan terorisme Israel, baik dalam skop organisasi rahasia maupun Negara yang membantai bangsa Palestina dari Shabra dan Chatila, penculikan dan pembunuhan imuwan-ilmuwan Palestina oleh tangan Mossad, pembantaian Muslim Bosnia oleh tentara Serbia dan Kroatia. Belakangan dibantu oleh tentara PBB dengan kedok pemelihara perdamaian dan keamanan. Bila dilihat dari sisi ini, sebenarnya dengan segala kejujuran kita akan mengatakan tanpa ada niat justifikasi bahwa ekstremitas sekelompok orang adalah reaksi logis dari perlakuan Barat terhadap dunia Islam. Dengan kata lain, Barat sesungguhnya bertanggungjawab atas tindakan-tindakan itu. Akan tetapi, Islam tidak menghendaki cara yang tiak berkesudahan itu.[14]

Di sebagian besar negara-negara Barat, pandangan yang berlaku di kalangan non-Muslim adalah bahwa ada konflik antara seorang Muslim ekstrimis dan masyarakat moderis. Tapi Muslim pada umumnya tidak setuju – termasuk Muslim yang tinggal di negara-negara besar Eropa- dengan pernyataan mengenai adanya konflik antara dua kubu tersebut. Pandangan-pandangan yang sangat kontras di Jerman dan Spanyol. 70% masyarakat umum di Jerman mengatakan bahwasanya ada konflik antara seorang Muslim ekstrimis dan masyarakat moderis, namun 57% Muslim Jerman tidak melihat konflik tersebut. Di Prancis, mayoritas besar masyarakat umum (74%) dan Perancis Muslim (72%) mengatakan tidak ada konflik antara Muslim ekstrimis dan masyarakat moderis. Ini adalah salah satu indikator yang menunjukkan belum ada reaksi antara kerusuhan pemuda Muslim di pinggiran kota Paris dan tempat lain di negara tersebut pada akhir tahun.[15]

Dalam hal yang sama, survei Pew Global Attitudes meminta orang-orang di lima negara mayoritas Muslim apakah mereka percaya ada perjuangan antara kelompok-kelompok yang ingin memodernisasi negara mereka dan fundamentalis Islam. Di Turki, 58% mengatakan bahwa adanya perjuangan antara modernisasi dan fundamentalis Islam, dan hampir sama banyak orang Indonesia (50%) setuju. Tapi mayoritas di Yordania dan Mesir tidak melihat perjuangan tersebut; di Pakistan, jumlah yang relatif besar (50%) menolak untuk memberikan pendapat.

Di antara mereka yang percaya dengan adanya perjuangan, dan hasilnya menunjukkan bahwa lebih banyak orang yang menganut modernisasi daripada fundamentalis Islam. Di Turki, misalnya 39% masyarakat menganut modernisasi, dan hanya 9% menganut fundamentalis Islam. Pada umumnya, para publik Muslim yang disurvei juga mengungkapkan keprihatinan yang cukup luas atas ekstremisme Islam. Kecuali Turki dalam hal ini – hanya 39% dari Turki mengatakan mereka sangat atau agak khawatir tentang hal ini. Mayoritas Muslim di empat negara Eropa Barat juga mengungkapkan setidaknya beberapa kekhawatiran tentang ekstremisme Islam. Namun kekhawatiran yang paling intens di Inggris, di mana 52% dari Muslim di sana mengatakan mereka sangat prihatin tentang penyebaran ekstrimisme Islam.[16]

Kita ambil beberapa contoh pendapat Muslim Amerika akibat 11 September. Othman, supir Taksi, berasal dari Mesir, adalah Muslim taat, karena peristiwa 11 September, merasa agak takut, namun seiring dengan waktu, karena sikapnya tidak berubah, kehidupannya tidak banyak berubah sejak serangan teroris itu.  Muslim lain bernama Tariq, broker stok sukses, berasal dari Pakistan dan tinggal di Los Angeles, senang film, dan membawa 13 keluarganya tinggal di rumahnya yang mewah. Dia merasa nyaman bekerja di Amerika, lebih nyaman daripada tinggal di Pakistan. Dia berusaha menjadi ‘pedagang’ seperti Muhammad, dan tidak melanggar nilai-nilai agama, seperti tidak berhubungan dengan alkohol, alat senjata, dan yang menurutnya dilarang Islam. Akibat peristiwa 11 September, Tariq merasa berbeda: orang melihatnya agak berbeda, banyak orang tampak ingin tahu pikirannya, kepercayaannya. Yang lain lagi, Ali, tinggal dan bekerja di pabrik di Detroit, berasal dari Libanon, tidak kelihatan berwajah Arab, namun berkata:”saya orang Islam, saya Arab seratus persen, saya juga orang Amerika.” Terhadap kejadian 11 September, Ali sangat sedih karena warga sipil tewas, terlepas dari agama mereka: “Tidak ada alasan pembenaran apapun. Namun, Islam menjadi dianggap negatif, padahal seharusnya mereka tidak boleh menilai suatu agama karena aksi itu. Islam bukan agama balas dendam dan kebencian. Islam agama toleran.”[17]

Begitu pula, banyak Muslim Afrikan-Amerikan, seperti Divine, atau yang tinggal di Brooklyn, New York, merasa bahwa Islam sangat penting baginya, mengganti namanya jadi Sadiq Safillah, setelah dulu nama budaknya Mark Richardson yang diberikan tuannya. Melalui lagu-lagu dan musik-musiknya, Divine ingin mendidik tentang baik dan buruk, bukan untuk menganjurkan maksiat. Setelah 11 September, keislamannya tidak luntur, dia akui. Bahkan ketika FBI dan bahkan President George W. Bush mencoba bicara mengenai rukun Islam, dia sangat tersentuh. Islam sudah menjadi begitu populer di Amerika, katanya.  Bagi seorang pengacara Muslim asal Pakistan seperi Hazah, gambar-gambar peristiwa 11 September yang terus menerus di media massa sangat kuat dampaknya bagi persepsi orang yang tidak punya cukup ilmu tentang Islam. Banyak pertanyaan apakah Islam membenarkan tindakan teror itu, namun Hazah merasakan takut ada balas dendam terhadap Muslim, ketika di kereta api, atau di jalan. Meskipun keprihatinan terhadap aksi teroris terungkap, tanggapan mereka itu cukup beragam, berdasarkan apa yang mereka lihat dan alami, seperti beragamnya persepsi sarjadan dan masyarakat Amerika yang cukup beragam terhadap Islam dan umat Islam.[18]

Perbedaan respons kaum Muslim di Amerika terhadap peristiwa 11 September 2001 menunjukkan perbedaan pengetahuan dan posisi mereka dalam masyarakat Amerika. Pemikiran-pemikiran yang muncul dipengaruhi banyak faktor internal dan eksternal, faktor-faktor sejarah dan sosiologis. Secara pendidikan, kebanyakan Muslim di Amerika, agak berbeda dengan di Negara-negara Eropa, adalah kalangan menengah terdidik, dan secara politik mayoritas berpartisipasi politik, sebagian besar sebagai pendukung Partai Demokrat (63%), dan ada yang mendukung Partai Republik (26%), dan sebagian lainnya tidak berafiliasi atau non-partisan. Menurut survey Pew Research Center yang dilaporkan tahun 2007, sebagian besar Muslim di AS (51%) menolak ‘ekstremisme Islam’ di dunia, dan sekitar 36 % mereka menyatakan kekhawatiran meningkatnya ekstremisme Islam di AS. meskipun sebagian kecil mendukung. Banyak anak muda Muslim memiliki identitas Islam yang kuat ketimbang orang tua. Banyak mereka (26%) tidak suka dengan cara AS memerangi terorisme. Sebagian besar Muslim Amerika (75%) menentang perang Iraq. Sangat sedikit (1%) Muslim Amerika membenarkan bom bunuh diri dengan sasaran orang sipil, dan agak sedikit (7%) yang menyetujui bom bunuh diri dalam situasi tertentu. Hanya 5% Muslim AS memiliki pendapat positif terhadap Al-Qaeda. Sebagian besar Muslim (53%)  berpendapat kehidupan sebagai Muslim makin sulit setelah peristiwa 11 September. Mereka sangat prihatin dengan potensi meningkatnya pengawasan dan diskriminasi terhadap keturunan Arab dan Muslim. Seperempat Muslim Amerika berkata mereka menjadi korban diskriminasi di AS, sementara 73 % berkata mereka tidak pernah mengalami diskriminasi di AS. Lebih banyak Muslim yang lahir di AS (native-born) daripada Muslim imigran berkata mereka mengalami diskriminasi itu. Meski demikian, dalam kehidupan sehari-hari, sebagian masyarakat Muslim menyatu dengan masyarakat Amerika pada umumnya. Banyak mereka memiliki teman dekat non-Muslim.Kebanyakan Muslim (63%) tidak melihat adanya konflik antara menjadi Muslim yang patuh dan menjadi warga moderen sebagai orang Amerika. Mengenai kehidupan publik, sebagian Muslim Amerika (49%) berpendapat masjid harus jauh dari urusan politik, sementara 43% berpendapat masjid harus mengekpresikan pandangan-pandangan sosial dan politik mereka. Menariknya, survey ini tidak mengkategorikan Muslim kedalam liberal, moderat, atau radikal. Dari hasil survey ini, kata mainstream digunakan untuk menunjukkan bahwa secara politik dan sosial ekonomi, Muslim di Amerika tidak jauh berbeda dengan orang Amerika lain. Penentangan sebagian besar Muslim Amerika atas ekstremisme dan terorisme menunjukkan tidak uniknya umat Islam dibandingkan umat-umat lain –mereka adalah warga Negara yang bekerja, belajar, beragama, dan ingin hidup layak dan sejahtera. Kejadian diskriminasi memang dirasakan sebagian mereka, tapi sebagian besar Muslim Amerika tidak mengalami itu, dan mereka menjalankan pekerjaan dan aktifitas mereka tanpa hambatan berarti.[19]

Menurut survey itu, lebih dari separuh Muslim Amerika tidak mempertentangkan Islam, demokrasi, dan pluralisme. Banyak organisasi advokasi bekerja sama dengan Gedung Putih dan penegak hukum dalam menciptakan strategi di bidang kebijakan publik, hak-hak sipil, dan isu-isu publik lainnya. Banyak warga Muslim terlibat dalam pemerintahan lokal dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat Islam maupun antaragama. Semakin Muslim berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik, semakin moderat dan selaras pemikiran dan sikap mereka terhadap mainstream publik AS.[20]

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Hafidz, Khayalan Barat, Majalah Al-Wa‘ie

Bashori, Lutfi, Tiga Kelompok Islam Liberal, Moderat dan Radikal, www. Pejuang Islam.com, 01/03/2015, 09.30

El Fadl, Khaled M. Abou, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, 2005, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta

Husaini, Adian, Wajah Peradaban Barat- Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal, 2005, Jakarta: Gema Insani Press

Irawan, Islam Puritan dalam Pandangan Khaled M. Abou El Fadl, Tesis Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2009

Leuwalang, Kaidir Maha, Islam Modernitas dan Terorisme, www.kamipaeduli.blogspot.com, 06/04/2015, 20.00

Prasetiadi, Yan S, Islam Moderat: Sebuah Distorsi Istilah, www. alhikmah.ac.id, 01/03/2015, 09.35

Qardhawi, Yusuf, Membedah Islam Ekstrem, 2001, Bandung: Mizan

Rasyid, Daud, Islam dalam Berbagai Dimensi, 1998, Jakarta: Gema Insani

Romli, Asep Syamsul M, Demonologi Islam: Upaya Barat Membasmi Kekuatan Islam, 2000, Jakarta: Gema Insani

Shihab, Alwi, Membedah Islam di Barat: Menepis Tudingan Meluruskan Kesalahpahaman, 2004, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Tim Penyusun, Kamus Bahasa Indonesia, 2008, Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional

www.pcim-northamerica.org/2013/09/dinamika-islam-dan-amerika.html

 

[1] Abdurrahman, Hafidz, Khayalan Barat, Majalah Al-Wa‘ie

[2] Prasetiadi, Yan S, Islam Moderat: Sebuah Distorsi Istilah, www. alhikmah.ac.id, 01/03/2015, 09.35

[3] Bashori, Lutfi, Tiga Kelompok Islam Liberal, Moderat dan Radikal, www. Pejuang Islam.com, 01/03/2015, 09.30

[4] El Fadl, Khaled M. Abou, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, 2005, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, Hal 27

[5] El Fadl, Khaled M. Abou, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, 2005, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, hal. 29

[6] Tim Penyusun, Kamus Bahasa Indonesia, 2008, Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, hal .400

[7] Ibid, hal. 1246

[8] Ibid, hal. 443

[9] Ibid, hal. 407

[10] Ibid, hal. 1232

[11] Irawan, Islam Puritan dalam Pandangan Khaled M. Abou El Fadl, Tesis Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2009

[12] Romli, Asep Syamsul M, Demonologi Islam: Upaya Barat Membasmi Kekuatan Islam, 2000, Jakarta: Gema Insani, hal. 34

[13] Romli, Asep Syamsul M, Demonologi Islam: Upaya Barat Membasmi Kekuatan Islam, 2000, Jakarta: Gema Insani, hal. 34

[14] Rasyid, Daud, Islam dalam Berbagai Dimensi, 1998, Jakarta: Gema Insani, hal. 149

[15] Leuwalang, Kaidir Maha, Islam Modernitas dan Terorisme, www.kamipaeduli.blogspot.com, 06/04/2015, 20.00

[16] Ibid,.

[17] http://www.pcim-northamerica.org/2013/09/dinamika-islam-dan-amerika.html

[18] Ibid,.

[19] Ibid,.

[20] Ibid,.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.