Metode Internalisasi Nilai Anti Korupsi pada Anak

Oleh : Radhiatul Fitri

0

Korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crime) karena korupsi tidak hanya berdampak terhadap satu aspek kehidupan saja. Korupsi menimbulkan efek domino yang meluas terhadap eksistensi bangsa dan negara. Korupsi berdampak pada berbagai sektor seperti ekonomi, sosial dan kemiskinan masyarakat, runtuhnya otoritas pemerintah, politik dan demokrasi, penegakan hukum, ketahanan dan keamanan serta dampak kerusakan lingkungan termasuk menurunnya kualitas lingkungan dan kualitas hidup

Penyebab korupsi dapat terjadi dikarenakan faktor internal maupun eksternal. Faktor internal merupakan penyebab korupsi yang datangnya dari diri pribadi atau individu, sedangkan faktor eksternal berasal dari lingkungan atau sistem. Upaya pencegahan korupsi pada dasarnya dapat dilakukan dengan menghilangkan, atau setidaknya mengurangi, kedua faktor penyebab korupsi tersebut. Faktor internal sangat ditentukan oleh kuat tidaknya nilai-nilai anti korupsi tertanam dalam diri setiap individu. Nilai-nilai anti korupsi tersebut antara lain meliputi kejujuran, kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan. Internalisasi nilai anti korupsi dalam diri anak dengan menggunakan metode cerita dan teknik afirmasi positif merupakan salah satu cara dalam upaya pencegahan perilaku korupsi yang menyasar pada pembentukan perilaku bawah sadar individu.

Masa kanak-kanak merupakan basis utama dalam menanamkan dan menumbuhkan nilai anti korupsi yang dapat dibentuk sejak masuk usia 3 tahun.  Anak –anak adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Masa ini biasa disebut dengan masa the golden age, dimana anak  mampu  menyerap  informasi secara cepat (Hurlock, 1978).  Dalam  masa perkembangannya, anak usia 3 tahun sudah mulai mampu mengembangkan kemandirian, determinasi diri, dan internalisasi dari standar perilaku. Kendali menahan diri merupakan mekanisme regulasi diri yang muncul sepanjang masa kanak-kanak (Papalia dkk, 2009). Internalisasi dari standar perilaku inilah yang kemudian membentuk karakter dan kepribadian anak termasuk nilai-nilai yang akan dianut selama hidupnya.

Metode cerita yang kaya akan imajinasi dan sangat dekat dengan kehidupan anak merupakan metode internalisasi yang efektif. Anak-anak memiliki ketertarikan yang tinggi pada tokoh-tokoh animasi, binatang, dan simbol-simbol yang merepresentasikan dunia mereka. Hal ini dikarenakan tahap perkembangan kognitif anak yang belum siap untuk melakukan operasi mental yang logis sehingga materi-materi dan nilai-nilai yang diajarkan akan lebih mudah diserap oleh anak bila dimainkan dalam bentuk imajinasi. Pada usia ini, anak-anak menunjukkan fungsi simbolis melalui tumbuhnya peniruan tertunda (deffered imitation), bermain pura-pura, dan bahasa. Pada bermain pura-pura atau disebut juga bermain fantasi, bermain dramatis atau bermain imajinasi, anak mungkin membuat sebuah objek seperti boneka, melambangkan atau merepresentasikan hal lain (Papalia dkk, 2009). Oleh karena itu, kesempatan untuk memasukkan nilai-nilai moral khususnya anti korupsi pada diri anak dalam bentuk cerita yang menarik, imajinatif dan sesuai dengan dunia mereka merupakan hal yang sangat penting dalam internalisasi nilai anti korupsi. Hal yang perlu diingat sebelum bercerita, orangtua/pengasuh harus memahami terlebih dahulu tentang cerita apa yang hendak disampaikannya (Badko, 2010). Hal tersebut disesuaikan dengan karakteristik anak. Agar dapat bercerita dengan tepat, orangtua/pengasuh harus mempertimbangkan usia anak, waktu penyajian, situasi & kondisi, serta materi cerita.

Upaya internalisasi nilai antikorupsi dapat pula dikombinasikan dengan teknik afirmasi positif yakni dengan memberikan kalimat ringkas yang bersifat positif sarat nilai anti koruptif dalam keadaan anak menjelang tidur. Dengan menggunakan kata-kata dorongan untuk mengubah pandangan atau menumbuhkan suatu sikap dalam diri anak adalah dengan menanamkan dalam pikiran bawah sadar mengenai hal positif yang diinginkan atau dirubah, sehingga afirmasi-afirmasi yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan dapat menggantikan keyakinan-keyakinan negatif dan menumbuhkan pikiran positif dalam diri anak.

Prinsip penerapan teknik afirmasi ini adalah dengan memprogram pikiran subconscious dan memberdayakan gelombang alfa yang terjadi dalam proses tahapan tidur sebagai sarana efektif memasukkan nilai anti korupsi pada anak. Afirmasi positif yang efektif diterapkan oleh orangtua/pengasuh atau guru di sekolah saat mendampingi anak menjelang tidur. Hal tersebut dikarenakan otak manusia berada pada gelombang alfa, dimana amplitudo/ketinggian gelombang sedikit lebih tinggi tetapi periode gelombang mulai melambat. Gelombang alfa menyebabkan manusia secara fisik dan mental masuk dalam keadaaan rileks dan tenang (Kolb & Whishaw, 2001). Otak manusia yang berada dalam kondisi rileks dapat mengaktifkan sistem serotonin dan hal tersebut efektif untuk memasukkan informasi baru (Jensen, 2008). Oleh karena itu, afirmasi nilai anti korupsi dapat di internalisasikan ke dalam diri anak dengan memanfaatkan kondisi tersebut secara efektif.

Setelah memberikan cerita yang berkenaan dengan nilai-nilai kejujuran dan moralitas maka, disaat keadaan anak antara yang mulai terlelap namun masih menyahut/mengangguk ketika dipanggil walau dalam keadaan mata tertutup disaat itulah kondisi yang paling baik untuk menerapkan afirmasi positif. Kata-kata seperti “Nak, kamu adalah anak yang jujur dan bertanggung jawab” atau kalimat “Dirimu adalah pribadi yang mandiri dan peduli., ibu mencintaimu” merupakan kalimat afirmasi positif yang merefleksikan nilai-nilai anti korupsi. Dengan pengulangan kalimat yang pendek, positif dan dilakukan secara konsisten akan membantu anak dalam menginternalisasikan nilai-nilai tersebut kedalam dirinya secara tidak sadar.

Dengan demikian, penggunaan metode cerita yang sarat nilai anti korupsi dan teknik afirmasi positif sebagai upaya internalisasi nilai anti korupsi dalam diri anak diharapkan mampu membentuk karakter dan watak pribadi bermoral sebagai bentuk pencegahan tindakan koruptif di masa mendatang. Hal tersebut juga harus didorong dengan memberikan teladan dimana orangtua, pengasuh, dan guru sebagai role model dari nilai-nilai anti korupsi yang patut dicontoh oleh anak.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.