Memelihara Tubuh yang Prima Saat Berpuasa

Oleh: Eko Fuji Ariyanto, dosen di Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

0

Alhamdulillah, beberapa hari lagi Ramadan akan kembali menyapa kita. Bagi umat Islam, Ramadan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu karena besarnya ganjaran yang diberikan Allah SWT kepada seorang Muslim yang melakukan amal kebaikan. Salah satu amalan yang hanya ada di bulan Ramadan dan memiliki ganjaran yang sangat besar adalah puasa.

Kondisi puasa, tidak mengonsumsi makanan dan minuman sejak waktu Shubuh hingga terbenamnya matahari, menyebabkan perubahan metabolisme di dalam tubuh. Untuk memelihara agar kondisi tubuh tetap prima, alangkah baiknya jika kita mampu menyikapi perubahan metabolisme tersebut dengan strategi yang tepat.

Tips yang paling utama adalah sebisa mungkin kita usahakan agar menu makanan saat sahur dan malam hari memiliki gizi seimbang dan komposisi yang lengkap, yaitu terdiri dari karbohidrat (seperti nasi), protein hewani (seperti ikan, ayam, daging sapi, telur), protein nabati (seperti tahu, tempe), serta vitamin dan mineral (yang dapat diperoleh dari buah-buahan dan sayuran).

Pada saat sahur biasanya kita agak enggan menyantap makanan karena rasa kantuk yang sangat. Jika kita mengalami rasa enggan tersebut, kembali kita ingatkan diri kita bahwa sahur adalah suatu ibadah dan makanan yang kita konsumsi saat sahur adalah “modal” kita untuk melakukan aktivitas selama satu hari penuh hingga tiba waktu Maghrib. Oleh sebab itu, sahur harus kita jadikan sebagai “raja” dengan cara memenuhi kebutuhan tubuh akan zat gizi secara lengkap. Di saat sahur, selain mengonsumsi makanan dengan komposisi lengkap seperti yang telah disebutkan di atas, kebutuhan tubuh akan air juga harus kita penuhi dengan mengonsumsi air sebanyak 3 – 4 gelas. Jangan lupa untuk mengonsumsi juga buah-buahan untuk membantu pemenuhan kebutuhan vitamin dan mineral tubuh kita.

Pada siang hari, kita dianjurkan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Mungkin rasa kantuk akan datang menyapa di tengah hari, namun tidak perlu khawatir karena tidur terlelap sejenak di sela-sela waktu istirahat siang akan mampu menyegarkan kembali tubuh kita. Salah satu alasan mengapa menjaga aktivitas ketika berpuasa penting adalah karena bergeraknya tubuh kita dapat memicu terjadinya glukoneogenesis, suatu proses pembentukan glukosa di dalam sel tubuh dengan memanfaatkan bahan baku selain karbohidrat. Hal ini menjadi penting karena glukosa di dalam tubuh merupakan sumber energi yang akan membantu kita terhindar dari rasa lelah karena berpuasa. Ternyata ada tradisi masyarakat kita yang sejalan dengan konsep ini. Di Jawa Barat misalnya, masyarakat terbiasa melakukan aktivitas berjalan di sore hari sambil menunggu waktu berbuka, yang disebut dengan istilah ngabuburit.

Waktu berbuka adalah salah satu waktu yang harus kita waspadai. Rasa lapar dan haus selalu menggoda untuk langsung menyantap berbagai makanan dan minuman sebanyak-banyaknya. Tidak jarang ada yang sampai sakit perut karena terlalu kenyang. Di sinilah nafsu kita kembali diuji. Berbuka sebaiknya dilakukan secara bertahap, dimulai dengan membatalkan puasa dengan buah berair banyak (seperti semangka, jeruk, apel, dan lain-lain) yang dikunyah secara perlahan atau di-blender, lalu meminum air secukupnya. Setelah itu, berilah jeda dengan melaksanakan shalat Maghrib terlebih dahulu. Setelah shalat, kita dapat mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan komposisi yang lengkap. Santap makan malam kita tutup dengan meminum air sebanyak 4 – 5 gelas.

Ramadan adalah bulan yang agung, bulan latihan, bulan dimana setiap kebaikan yang kita lakukan di dalamnya akan dilipatgandakan ganjarannya. Alangkah baiknya, jika di bulan ini, kita juga berlatih untuk menjaga pola makan yang sehat, yaitu jadwal makan yang teratur dan memenuhi zat gizi yang seimbang.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.