Tsunami dan Resiliensi Komunitas di Pedesaan

Oleh: Nulwita Maliati (Universitas Malikussaleh - Aceh)

0

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bencana tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang terjadi di negara-negara di Asia Selatan dan Tenggara menimbulkan dampak yang sangat parah di Aceh, yaitu berupa kerusakan sarana dan prasarana kehidupan dan juga kehilangan ratusan ribu nyawa..  Hal itu berakibat pada perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan mereka, terutama mereka yang tinggal di wilayah pesisir karena rusak dan terbengkalainya sumberdaya alam yang ada sehingga berdampak pada kondisi perekonomian masyarakat.  Perubahan tersebut meliputi struktur sosial-ekonomi, rendahnya kemampuan masyarakat akibat lemahnya institusi lokal, keterbatasan aksesibilitas terhadap sumberdaya alam, perubahan kebijakan pemerintah, kurang efektifnya program  penyuluhan pertanian, rendahnya nilai tukar produktivitas pertanian, dan lain-lain. Berbagai program  dan intervensi kebijakan pasca tsunami dilaksanakan untuk membantu mengatasi kondisi kehilangan sumber nafkah yang berimplikasi pada terjadinya kondisi ketidakamanan pangan pada masyarakat korban tsunami.  Pasca tsunami, terdapat banyak lembaga yang fokus memberikan bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi sumberdaya yang ada, memberikan bantuan dana dan kesempatan kerja (cash for work), dan juga membantu mengatasi masalah ketersediaan dan akses pangan bagi masyarakat.  Akan tetapi, setelah masa rehabilitasi dan rekonstruksi dinyatakan berakhir, maka masyarakat diharapkan mampu mengatasi masalah ketersediaan pangan tanpa bergantung pada bantuan lagi.

Pada dasarnya, masyarakat yang hidup di pedesaan memiliki mekanisme tersendiri dalam beradaptasi dengan lingkungannya dalam upaya untuk dapat tetap menjaga kelangsungan dan memenuhi kebutuhan pokok komunitasnya.  Demikian juga yang terjadi pada masyarakat di pedesaan Aceh pasca bencana tsunami Tahun 2004.  Meskipun bencana itu menimbulkan dampak yang sangat signifikan terhadap kehidupan ekonomi masyarakat, namun ketahanan sosial-ekologi merupakan faktor penentu penting dalam melakukan reorganisasi dalam masyarakat setelah bencana. Individu dan masyarakat melakukan strategi adaptif yang melibatkan mobilisasi aset, jaringan, dan modal sosial baik untuk mengantisipasi dan bereaksi terhadap dampak bencana.  Dengan demikian, walaupun kondisi sumberdaya alam sebagai sumber kehidupan masyarakat belum sepenuhnya normal pasca tsunami, namun tidak diperoleh informasi yang menunjukkan bahwa terjadi bencana kelaparan yang kronis pada masyarakat di yang megalami dampak tsunami.

Perubahan yang signifikan akibat rusaknya sumber pendapatan dan infrastruktur yang ada pasca konflik dan tsunami menuntut kemampuan adaptasi masyarakat agar tetap dapat menjaga kelangsungan hidup mereka.  Diperlukan upaya untuk memperbaiki sumberdaya alam dan interaksi dengan lingkungan sosialnya agar keberlanjutan komunitas tetap terjaga.  Pola kehidupan masyarakat di pedesaan Aceh masih sangat tergantung pada sumberdaya alam yang tersedia di sekitar mereka.  Kerusakan dan terbengkalainya sumber penghidupan mereka akibat konflik dan tsunami memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap kehidupan masyarakat.  Mereka harus melakukan strategi adaptasi untuk dapat melanjutkan kehidupannya agar terhindar dari situasi rawan pangan yang kritis.

Konsep Resiliensi Komunitas

Resiliensi didefinisikan sebagai kemampuan kelompok atau masyarakat untuk mengatasi tekanan eksternal dan gangguan sebagai akibat dari perubahan sosial, politik dan lingkungan.  Definisi ini menyoroti ketahanan sosial dalam kaitannya dengan konsep ketahanan ekologi yang merupakan karakteristik ekosistem untuk mempertahankan diri dalam menghadapi gangguan. Ada hubungan yang jelas antara ketahanan sosial dan ekologi, terutama untuk kelompok sosial atau komunitas yang bergantung pada sumber daya ekologi dan lingkungan untuk mata pencaharian mereka. Tetapi tidak jelas apakah ekosistem yang tangguh memungkinkan masyarakat juga tangguh dalam situasi seperti itu. Resiliensi merupakan karakteristik yang berguna untuk menggambarkan situasi sosial dan ekonomi kelompok-kelompok sosial dan mengeksplorasi hubungan potensial antara ketahanan sosial dan ketahanan (A CARRY Report, 2013). Menurut Adger (2005), resiliensi mencerminkan sejauh mana sistem adaptif komunitas mampu mengelola anggotanya komunitasnya dan sejauh mana sistem dapat membangun kapasitas untuk belajar dan beradaptasi.  Kapasitas ini terletak pada kemampuan regeneratif ekosistem dan kemampuan mereka dalam menghadapi perubahan yang penting untuk kehidupan manusia dan pembangunan masyarakat. Konsep resiliensi adalah pergeseran besar dalam perspektif tradisional, yang mencoba untuk mengontrol perubahan sistem yang diasumsikan stabil, untuk sudut pandang yang lebih realistis bertujuan mempertahankan dan meningkatkan kapasitas sistem sosial-ekologi untuk beradaptasi dengan ketidakpastian lingkungan. Dengan demikian, resiliensi komunitas adalah kemampuan untuk mengantisipasi resiko, membatasi dampak, dan bangkit kembali dengan cepat melalui strategi bertahan hidup, adaptasi, evolusi, dan pertumbuhan dalam menghadapi perubahan yang bergejolak.  Definisi tersebut mengandung konsep inti sebagaimana telah diidentifikasi di atas, yaitu: resiliensi sebagai ciri atau identitas, dengan kemampuan beradaptasi pada intinya. Hal ini menunjukkan perkembangan yang terjadi dan memungkinkan masyarakat untuk menentukan seberapa tangguhnya mereka dan kemampuan melakukan tindakan untuk meningkatkan resiliensi mereka.

Berdasarkan definisi yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa resiliensi komunitas terhadap bencana adalah kemampuan adaptasi komunitas dalam mengantisipasi dan atau mengatasi bencana dengan mengelola potensi dan sumberdaya yang ada sehingga mampu mempertahankan keberadaan dan fungsi komunitas tersebut.  Hal itu tidak berarti tidak terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi yang ada di masyarakat, namun komunitas memiliki kemampuan untuk  beradaptasi terhadap bencana atau gangguan yang terjadi.  Walaupun terjadi perubahan struktur atau fungsi yang dapat disebabkan oleh faktor internal atau eksternal komunitas, namun masyarakat memiliki kemampuan untuk menjadikan struktur dan fungsi tersebut mampu menjalankan peran memenuhi kebutuhan anggota komunitas sehingga komunitas itu dapat tetap berlanjut keberadaannya.

Atribut Resiliensi Komunitas

Sebuah komunitas adalah sekelompok orang yang berbagi bersama dalam suatu lingkungan fisik, sumber daya, dan layanan, serta risiko dan ancaman. Hal itu suatu kesatuan kolektif yang memiliki batas-batas (geografis), faktor internal dan eksternal serta nasib bersama.  Oleh karena itu, masyarakat adalah sistem fisik dan sosial yang kompleks terdiri dari banyak sub-sistem.  Walaupun merupakan sebuat sistem yang memiliki ciri khas tersendiri, tetapi tetap terdapat interaksi antara komunitas di suatu wilayah dengan pihak lain di luar komunitas, seperti dengan pemerintah, perusahaan dan pihak-pihak terkait lainnya (Longstaff, 2010).

Masyarakat yang memiliki sumberdaya yang dan kapasitas adaptif yang tinggi maka menunjukkan bahwa masyarakat itu memiliki resiliensi komuntas yang tangguh.  Namun, masyarakat yang memiliki sumber daya yang kurang dan juga kapasitas adaptif yang rendah, maka mereka akan kurang resilein. Jadi, sebuah komunitas yang kurang menguasai sumber daya, maka harus berkonsentrasi pada upaya membangun kapasitas adaptasinya sehingga dapat melakukan fungsi yang diinginkan. Dengan demikian ada dua atribut yang mempengaruhi resiliensi komunitas, yaitu (Longstaff, 2010):

  1. Kekokohan sumber daya

Sumber daya sangat penting untuk berfungsinya berkelanjutan masyarakat dan penyediaan layanan publik di bawah berbagai kondisi, di saat normal atau krisis. Masyarakat dapat mengevaluasi ketahanan sumber daya mereka dengan melihat kinerja, keragaman, dan redundansi dari apa yang tersedia untuk mereka. Sumberdaya didefinisikan sebagai objek, kondisi, karakteristik, dan energi bernilai bagi komunitas.  Definisi ini menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap  sumberdaya yang dianggap bernilai berdasarkan kondisi dan budaya masyarakat. Sumberdaya dianggap berharga untuk satu komunitas mungkin tidak memiliki nilai sama dengan komunitas yang lain, terutama jika terdapat perbedaan kondisi alam budaya.  Bagi komunitas pertanian padi sawah, maka sumberdaya yang dianggap bernilai adalah sawah sebagai asset utama untuk bercocoktanam.  Akan tetapi, bagi masyarakat nelayan, sumberdaya laut dan peralatan tangkap merupakan sumberdaya yang bernilai tinggi bagi mereka.

Kekokohan sumberdaya merupakan fungsi dari (a) Kinerja Sumberdaya, (b) Sumberdaya Pendukung sumberdaya, dan (c) Keragaman sumberdaya.  Kinerja menggambarkan tingkat umum kapasitas dan kualitas di mana unsur atau elemen dari suatu sistem melakukan peran penting. Kinerja menjawab pertanyaan, “ketersediaan dan kualitas sumber daya ini dalam mencapai fungsi tertentu?” Kinerja dari suatu obyek atau kondisi juga mencakup kualitas relatif terhadap orang-orang yang sifatnya serupa. Ketika melihat fungsi distribusi air dalam komunitas itu akan penting untuk mengetahui seberapa baik sistem air bekerja di bawah kondisi rata-rata dan apa yang mungkin membuatnya rentan.

Sumberdaya pendukung adalah jenis sumber daya lain yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan tertentu.   Sumberdaya pendukung diperlukan agar sumberdaya utama dapat menjalankan fungsinya. Selain itu sumberdaya pendukung juga merupakan bentuk penyangga dari guncangan eksternal. Tabungan darurat adalah bentuk dukungan dalam hal keuangan dan memungkinkan untuk kelanjutan hidup keluarga dalam hal kehilangan pekerjaan atau peristiwa tak terduga. Ini berarti bahwa ada sumber daya cadangan di mana masyarakat harus melakukan pengorbanan untuk memperolehnya.

Keanekaragaman adalah ukuran dari berbagai jenis sumber daya yang tersedia yang pada komunitas. Keragaman sumber daya yang tersedia akan memberikan banyak pilihan bagi komunitas untuk mencapai tujuannya. Keanekaragaman juga bisa datang dalam bentuk informasi dan ide-ide untuk mencapai fungsi tertentu, karena akan lebih banyak pilihan untuk mengatasi masalah.

Ketika dikombinasikan, kinerja, pendukung dan keragaman dari sumber daya yang tersedia menentukan sistem kekokohan sumberdaya secara keseluruhan Artinya, kemampuannya untuk menyediakan fungsi kritis di bawah berbagai kondisi. Misalnya, kekokohan sistem air akan maksimal terbesar ketika sistem memiliki kinerja tinggi (yaitu: pipa, pompa, dll), sumberdaya pendukung (yaitu, saluran air), dan keragaman sumber air (yaitu, beberapa sumber seperti sungai, danau, sumber air, dan limpasan). Setiap komunitas, dan masing-masing sistem dalam masyarakat, harus memutuskan bagaimana mengalokasikan waktu dan uang antara kinerja, pendukung, dan keanekaragaman sumberdaya air.

  1. Kapasitas Adaptasi

Kapasitas adaptasi komunitas adalah fungsi dari kemampuan individu dan kelompok untuk: a) menyimpan dan mengingat pengalaman; 2) menggunakan memori dan pengalaman belajar, berinovasi, dan mereorganisasi sumber daya untuk beradaptasi dengan tuntutan perubahan lingkungan; dan 3) terhubung dengan orang lain di dalam dan di luar komunitas untuk berkomunikasi dan mengalami proses belajar, mengatur dirinya sendiri atau mereorganisasi arah komunitas, atau untuk mendapatkan sumber daya dari luar.  Dengan demikian, memori kelembagaan, pembelajaran yang inovatif, dan keterhubungan menentukan kemampuan adaptasi komunitas.

Memori kelembagaan adalah akumulasi pengalaman bersama dan pengetahuan lokal dari sekelompok orang.  Seiring berjalannya waktu, memori kelembagaan terakumulasi melalui pengamatan dan tersimpan dalam berbagai cara seperti catatan yang didokumentasikan atau ritual berulang yang dilakukan sebagai keanggotaan komunitas. Ritual memperkuat memori kelembagaan dengan memfasilitasi dan memperkuat ingatan tentang aturan dan kebijakan serta interpretasi perubahan atau gangguan dalam lingkungan. Upaya dalam mempertahankan memori kelembagaan perlu dilakukan tetapi hanya dapat diakses oleh orang-orang yang membutuhkannya, ketika mereka membutuhkannya.

Belajar inovatif adalah kemampuan kelompok untuk menggunakan informasi dan pengalaman untuk melakukan adaptasi terhadap perubahan lingkungan atau untuk menghindari mengulangi kesalahan lama. Inovasi adalah bentuk pembelajaran yang dinamis yang menekankan pada kemampuan untuk mengidentifikasi dan “membuat tanggapan atau pengaturan baru. Lembaga inovatif kadang-kadang mendorong uji coba dan kemungkinan terjadinya kesalahan belajar kemampuan pengambilan risiko. Inovasi dan pembelajaran saling ditingkatkan melalui praktek “adaptif co-manajemen” yang menggabungkan budaya manajemen yang menempatkan pengalaman belajar dengan hubungan dan kemitraan yang terkait dengan manajemen kerjasama. Kepemimpinan juga memegang peran penting dalam membangun budaya seperti itu.  Penciptaan ide-ide baru, sumber daya, proses, dan bentuk organisasi adalah semua hasil dari pembelajaran inovatif.  Sebuah komunitas berada dalam posisi untuk belajar dan berinovasi ketika individu dan kelompok dapat bereksperimen melalui trial and error. Pada akhirnya, pembelajaran inovatif memungkinkan kemampuan kelompok sosial untuk mengantisipasi kedua peluang masa depan dan bahaya masa depan.

Hubungan interpersonal dan keterkaitan kelompok sangat penting untuk difusi memori kelembagaan dan pembelajaran inovatif di seluruh masyarakat. Sistem masyarakat dan subsistem biasanya memiliki berbagai link internal dan eksternal antara berbagai komponen mereka dari sistem dan tingkat yang lebih tinggi atau lebih rendah dari sistem. Link ini biasanya ditandai sebagai hubungan sosial (informal) dan jaringan organisasi (formal).  Jaringan ini berkontribusi terhadap kemampuan sistem masyarakat untuk bertukar, menyimpan, dan mengiingat pengetahuan, serta mengambil tindakan kolektif dalam antisipasi terhadap perubahan.

Ketika masyarakat memiliki tingkat tinggi dari ketiga sifat kapasitas adaptif, yaitu memori kelembagaan, pembelajaran inovatif, dan keterhubungan, pada gilirannya, memiliki kapasitas yang tinggi untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Jika memiliki tingkat yang relatif rendah pada salah satu sifat, maka dapat dilakukan dengan mengatasi secara langsung atau meningkatkan dua sifat lainnya.

 

PENUTUP

Pasca bencana tsunami di Aceh, masyarakat menghadapi situasi yang sulit dan permasalahan yang kompleks secara fisik dan sosial, terutama bagi rumahtangga di pedesaan yang memiliki keterbatasan aksesibilitas terhadap sumberdaya dan ketergantungan masyarakat yang tinggi terhadap sumberdaya alam. Masyarakat pedesaan di Aceh pada umumnya masih sangat tergantung pada sumberdaya alam dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka.  Rusaknya sumberdaya dan berbagai sarana serta prasarana pendukung kehidupan mereka akibat bencana menyebabkan terjadinya kesulitan dalam menjalani kehidupan.

Akan tetapi, masyarakat yang hidup di pedesaan umumnya memiliki mekanisme tersendiri dalam beradaptasi dengan lingkungannya dalam upaya untuk dapat tetap menjaga kelangsungan hidup dan komunitasnya.  Meskipun bencana tsunami di Aceh menimbulkan dampak yang sangat signifikan terhadap kehidupan ekonomi masyarakat di sana, namun masyarakat dapat melakukan strategi adaptif dengan melakukan mobilisasi aset, jaringan, dan modal sosial yang ada.  Dengan demikian, ada banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat pasca tsunami, tetapi kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan cara memperbaiki sumberdaya yang ada serta membangun kerjasama antar anggota komunitas dan dengan warga di luar komunitas dapat membantu masyarakat tetap bertahan dan melanjutkan kehidupannya dengan sistem atau kelembagaan yang berbasis pada budaya lokal dan berorientasi pada pemecahan masalah.   Namun perlu penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk adaptasi masyarakat yang mendukung resiliensi komunitas di pedesaan pasca bencana.

 

DAFTAR PUSTAKA

A CARRI.  2013.  Definitions of Community Resilience: An Analysis.  A CARRI Report.

Adger, W. Neil, et all.  2005.  Social-Ecological Resilience to Coastal Disasters.  Science  12 Vol. 309, Issue 5737, pp. 1036-1039

Longstaff, et.al.  2010.  Building Resilient Communities: A Preliminary Framework for Assessment.  Homeland Security Affairs, Volume VI, No. 3.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.