Percepatan Eliminasi Tuberkulosis (TB) sebagai Salah Satu Upaya untuk Mewujudkan Universal Health Coverage (UHC)

Oleh : Arnild Augina Mekarisce

0

Pada Maret 1993, WHO (World Health Organization) mendeklarasikan Tuberkulosis (TB) sebagai global health emergency. TB merupakan masalah kesehatan dunia yang penting karena sekitar 1/3 penduduk dunia terinfeksi oleh mycobacterium tuberculosis yang sebagian besar terjadi di negara berkembang. Berdasarkan studi Global Burden of Disease, TB menjadi penyebab kematian ke-2 di dunia.

Menurut WHO Global Tuberculosis Report 2016, Indonesia menempati posisi ke-2 dengan beban TB tertinggi di dunia. Tren insiden kasus TB di Indonesia tidak pernah menurun, disertau masih banyak kasus yang belum terjangkau dan terdeteksi, dan kalaupun terdeteksi  dan telah diobati, namun belum dilaporkan.

Angka TB di Indonesia berdasarkan mikroskopik yaitu sebanyak 759 per 100.000 penduduk untuk usia 15 tahun ke atas dengan jumlah laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan dan jumlah di perkotaan lebih tinggi dibanding di pedesaan, pernyataan tersebut disampaikan berdasarkan Analisis Data Percepatan Eliminasi Tuberculosis pada Pra-Rakerkesnas (Rapat Kerja Kesehatan Nasional) yang diselenggarakan pada 5 Maret 2018.

Penderita TB paru tertinggi berada pada usia produktif yaitu usia 15-50 tahun sekitar 75%. Seseorang yang terkena tuberkulosis terlebih usia dewasa diperkirakan dapat kehilangan waktu kerja rata-rata 3-4 bulan yang dapat mengakibatkan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 20-30%. Sedangkan orang yang meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain membuat rugi secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya, yaitu dikucilkan dari masyarakat (WHO, 2013).

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam Rakerkesnas pada 5-8 Maret 2018 menyatakan bahwa salah satu diantara tiga cara untuk mewujudkan UHC (Universal Health Coverage) yaitu dengan percepatan eliminasi TB.

TB merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dimana sebagian besar penyakit ini menyerang organ paru, namun tidak menutup kemungkinan juga dapat menyerang organ tubuh yang lainnya. Gejala TB pada orang dewasa umumnya penderita mengalami batuk dan berdahak terus-menerus selama 3 (tiga) minggu atau lebih, batuk darah atau pernah batuk darah. Adapun gejala dari TB pada orang dewasa adalah sesak nafas dan nyeri dada, badan lemah, nafsu makan dan berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, dan demam meriang lebih dari sebulan.

Pada anak-anak gejala TB terbagi 2 (dua), yakni gejala umum dan gejala khusus. Gejala umum, meliputi :

  1. Berat badan turun selama 3 (tiga) bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas dan tidak naik dalam 1 (satu) bulan meskipun telah mendapatkan penanganan gizi yang baik.
  2. Demam dalam waktu yang lama atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria atau infeksi saluran nafas akut) yang dapat disertai dengan keringat malam.
  3. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit, paling sering di daerah leher, ketiak dan lipatan paha.
  4. Gejala dari saluran nafas, misalnya batuk lebih dari 30 hari (selain disebabkan oleh batuk), tanda cairan di dada dan nyeri dada.
  5. Gejala dari saluran cerna, misalnya diare berulang yang tidak sembuh dengan pengobatan diare, benjolan (massa) di abdomen, dan tanda-tanda cairan dalam abdomen.

Gejala Khusus, sesuai dengan bagian tubuh yang diserang, misalnya :

1.TB kulit atau skrofuloderma

2. TB tulang dan sendi, meliputi :

  • Tulang punggung (spondilitis): gibbus
  • Tulang panggul (koksitis): pincang, pembengkakan di pinggul
  • Tulang lutut: pincang dan atau bengkak

3. TB otak dan saraf: Meningitis dengan gejala kaku kuduk, muntah-muntah dan kesadaran menurun.

4. Gejala mata

  • Conjunctivitis phlyctenularis
  • Tuburkel koroid (hanya terlihat dengan funduskopi)

Seorang anak juga dapat dicurigai menderita TB apabila mempunyai sejarah kontak erat (serumah) dengan penderita TB BTA (Basil Tahan Asam) positif dan terdapat reaksi kemerahan cepat setelah penyuntikkan BCG (Bacillus Calmette-Guerin) dalam 3-7 hari.

Pada awal tahun 1995, WHO dan IUATLD (International Union Againts TB and Lung Disease) telah merekomendasikan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) sebagai strategi dalam penanggulangan TB dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). Strategi ini dikembangkan dari berbagai studi, uji coba klinik (clinical trials), pengalaman terbaik (best practices), dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade (Depkes RI, 2008). Strategi DOTS ini juga merupakan strategi nasional yang diterapkan di Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) di Indonesia.

Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) yang disediakan secara gratis melalui institusi pelayanan kesehatan milik pemerintah, terutama melalui Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat), Balai Pengobatan TB Paru, dan Rumah Sakit Umum. Pengobatan dengan OAT ini juga perlu dilakukannya pengawasan langsung untuk menjamin keteraturan minum obat, yaitu dapat dilakukan oleh PMO (Pengawas Menelan Obat) yang biasanya adalah keluarga pasien. Adapun tugas dari PMO yaitu mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai, memberi dorongan kepada pasien untuk berobat teratur, mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak, dan memberi penyuluhan keluarga tentang penyakit TB. Diharapkan dengan adanya PMO, pasien dapat menelan obat secara teratur selama enam bulan, karena jika penderita berhenti ditengah pengobatan, maka harus diulangi dari awal.

Penanggulangan TB yang terbaik adalah mencegah terjadinya penularan. Pencegahan TB pada dasarnya yaitu:

  1. Mencegah penularan kuman dari penderita yang terinfeksi, yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, terutama dalam memberikan obat anti TB yang benar dengan tingkat kepatuhan yang sesuai dengan ketentuan penggunaan obat. Kegagalan pengobatan penderita TB salah satunya disebabkan oleh berhentinya pengobatan sebelum waktunya (drop outI), dan penyebab ini merupakan faktor terbesar dalam kegagalan pengobatan penderita TB di Indonesia, yaitu sebesar 50%. Drop out adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat dua bulan atau lebih dengan BTA positif. Masalah yang ditimbulkan oleh drop out tuberkulosis adalah resistensi obat/multidrug-resistant tuberculosis (MDR TB) yaitu terjadinya resisten obat selama pengobatan, dan penderita tersebut merupakan sumber infeksi untuk individu yang tidak terinfeksi. Angka drop out tidak boleh lebih dari 10%, karena akan menghasilkan proporsi kasus retreatment yang tinggi di masa yang akan datang yang disebabkan ketidakefektivan dari penanggulangan TB. Menurunnya angka drop out karena peningkatan kualitas penanggulangan TB akan menurunkan proporsi kasus pengobatan ulang antara 10-20% dalam beberapa tahun (Depkes RI, 2008).
  2. Menghilangkan atau mengurangi faktor risiko yang menyebabkan terjadinya penularan, yaitu mengupayakan kesehatan perilaku dan lingkungan, antara lain dengan pengaturan rumah agar memperoleh cahaya matahari, mengurangi kepadatan anggota keluarga, mengatur kepadatan penduduk, menghindari meludah sembarangan, batuk sembarangan, mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang. Upaya ini dapat dilakukan dengan penyuluhan yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan usia masyarakat serta dapat melibatkan lintas sektor seperti sektor pendidikan, tokoh masyarakat, maupun tokoh agama yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah masing-masing. Adapun penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan peran serta masyarakat dalam penanggulangan TB. Diantara metode penyuluhan antara lain:

a. Penyuluhan langsung perorangan maupun berkelompok. (1) Penyuluhan langsung perorangan lebih berpeluang berhasil dibanding secara berkelompok. Penyuluhan ini dapat dilakukan di rumah sakit, Puskesmas, Posyandu, apotek ataupun di rumah. (2) Penyuluhan langsung berkelompok yaitu penyuluhan yang dilakukan kepada sekelompok orang yang dapat terdiri dari penderita TB dan keluarganya, dan sebaiknya dilengkapi dengan alat bantu penyuluhan seperti komputer dengan layar proyektor, gambar, video, ataupun flip chart. Penyuluhan langsung ini sebaiknya dilakukan secara dua arah.

b. Penyuluhan tidak langsung dengan menggunakan media dalam bentuk: (1) Media cetak, seperti leaflet, poster, koran, spanduk, majalah, ataupun media masa. (2) Media elektronik, seperti radio, televisi, media sosial.

Referensi:

  1. Rakerkesnas 2018, Kemenkes Percepat Atasi 3 Masalah Kesehatan diunduh dari http://www.depkes.go.id/article/view/18030700005/rakerkesnas-2018-kemenkes-percepat-atasi-3-masalah-kesehatan.html
  2. Nugroho, RA. Studi Kualitatif Faktor yang Melatarbelakangi Drop Out Pengobatan Tuberkulosis Paru. Jurnal Kesehatan Masyarakat: Kemas 7 (1) (2011) 83-90.
  3. Yanti, NLPE. Pengendalian Kasus Tuberkulosis melalui Kelompok Kader Peduli TB (KKP-TB). Jurnal Keperawatan: Community of Publishing in Nursing (Coping) Edisi Januari-April 2016.
  4. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Tuberkulosis. 2015.
  5. Arivany, PF. Pengetahuan Suspek TB Paru dalam Melakukan Pemeriksaan Sputum di Puskesmas Kamoning. Jurnal Berkala Epidemiologi, Volume 5 Nomor 1, Januari 2017, hlm. 75-84.
  6. Yuni, IDAMA. Hubungan Fase Pengobatan TB  dan Pengetahuan tentang MDR TB dengan Kepatuhan Pengobatan Pasien TB (Studi di Puskesmas Perak Timur). Jurnal Berkala Epidemiologi, Volume 4 Nomor 3, September 2016, hlm. 301-312.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.