Pemuda Muslim, Jangan Biarkan Dirimu Hancur

Oleh : Anes Devy Anggraeni (Yayasan Bina Remaja Bantul)

0

Dunia ini memang makin sekarat dan makin tak nyaman untuk dihuni. Di tengah polemik dunia politik, yang kini mulai di tumpangi oleh kepentingan-kepentingan partai politik yang berpandangan semakin pragmatis dalam meraup keuntungan yang sebesar-besarnya untuk menggemukan rekening para tersohornya, pemuda yang tak sigap kebanyakan justru hanya menjadi penonton dalam pertandingan perebutan kekuasaan itu. Diam, acuh, tak mau tau dan ambil pusing. Bahkan ada yang ekstrem mengatakan peduli apa pemuda saat ini dengan situasi sosial di sekitar mereka. Sebegitu menyedihkankah kondisi mereka saat ini?

Pola hidup hedonis yang sedikit demi sedikit bersarang pada diri pemuda, tak jarang menjadikan mereka apatis dengan berita seputar “krisis moral” yang mulai menjangkiti bangsa ini. Dunia politik yang dihiasi dengan penipuan, janji palsu, dan korupsi adalah satu dari sekian banyak indikator yang menunjukan begitu kisruhnya pelaksaan politik bangsa ini. Peran pemuda sebagai agent who make a real movement sepertinya perlu di kaji ulang, melihat konstribusinya saat ini yang masih belum bisa dikatakan total.

Jika kita tengok kembali pemuda bangsa ini, angan-angan untuk menyaksikan Indonesia yang terbebas dari segala segi penyimpangan sosial rasanya makin kabur. Pola hidup yang mulai dijejali model kapitalis menjalar hampir di setiap lini kehidupan pemuda kita, mulai dari pemikiran, makanan, pakaian, hingga gaya hidup yang serba instan. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap tindakan, sikap, dan perilaku mereka pasti mendapat pengaruh dari lingkungannya. Jika lingkungannya baik maka, baik pulalah, tindakan, sikap, dan perilakunya. Tapi sayangnya, para pemuda tidak sadar bahwa sebenarnya keadaan mereka tengah terpasung dalam lingkungan yang kurang baik, yang menjadikan pemikiran dan hawa nafsu mereka sebagai penguasa dalam dirinya.

Mereka luput serta lalai dari rasa empati, simpati dan perhatian terhadap perkembangan bangsa dan agama Islam ini beberapa tahun yang akan datang, tapi justru begitu mengagumi berbagai pemikiran kapitalis, liberalis bahkan zionis. Pada akhirnya memang pengaruh modernisasi di era gloal ini telah merebak luas disekitar pemuda Indonesia melalui media masa yang seolah tak bisa dibendung lagi, seperti televisi, koran, majalah dan internet. Menurut lembaga riset pasar e-Marketer, populasi pengguna internet di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 83,7 juta orang pada 2014 dan diperkirakan pada tahun 2017 ini, pertambahan netter din Indonesia mencapai 112 juta orang. Dengan angka ini Indonesia menduduki peringkat pertama penguasa Internet di Asia Tenggara dan ke-6 sedunia. (www.kominfo.go.id)

Permasalahannya bukanlah pada jumlah pengakses internet tersebut yang mencapai 16,5% dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237.556.363 orang (sensus 2010) melainkan, aktivitas apa saja yang dilakukan para pemuda selama memanfaat internet?. Karena sayangnya penelitian lain membuktikan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama sedunia untuk pengakses situs porno. Hal ini merupakan realita yang amat pahit, mengingat bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar sedunia. Secara gamblang dapat disimpulkan bahwa dari sekian banyak orang yang mengakses situs itu, merekalah saudara seiman kita. Na’udzubillahi min dzalik. Ahmad, Lc, mengatakan bahwa orang cenderung melihat hal-hal yang negatif saja dari internet.

Kenyataan ini seharusnya ada di dalam benak tiap pemuda muslim agar tumbuh menjadi aksi nyata untuk merubah keadaan ini. Bukan malah ikut ambil bagian dalam meningkatkan rangking negara terbesar pengakses situs porno. Perubahan hidup harus diikuti dengan aktualiasasi diri pada hal yang sesuai dengan porsi masing-masing. Jika seorang pemuda muslim  memiliki ruhiyah yang mantab, secanggih dan secepat apapun perubahan yang terjadi, ukuran kualitas dirinya dan orang lain dilihat dari bagaimana ia mengaplikasikan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah. Bukan seberapa cepat ia mengikuti perkembangan teknologi.

Seperti dikatakan Ketua Departemen Psikiatri FKUI-RSCUPNCM, Dr. Irmansyah Sp.Kj. dalam “Physical and Mental Healthy Across The Life Spend” perilaku buruk (hasil dari buruknya ruhiyah) menjadi penyebab penting timbulnya penyakit fisik. Keterkaitan ini menjadi penyebab penting dalam timbulnya berbagai penyakit kronis. Ini dapat dilihat jelas pada para penderita penyakit. Penderita diabetes millitus, kanker, HIV/AIDS, akan mengalami masalah emosi dan psikis seperti kegelisahan, kecemasan, dan depresi. Sayangnya gangguan mental emosional ini jarang dikenali dan di obati dengan baik. Sebaliknya mereka yang mengalami gangguan mental sering terlihat menderita beberapa gangguan fisik yang juga jarang mendapat perhatian dan diobati dengan baik. Jadi, dengan memperbaiki perilaku mental, banyak masalah kesehatan fisik bisa diatasi dan dihindari”.

Pemuda yang mampu menyeimbangkan antara ruhiyah dengan jasmani, maka akan dengan mudah menerima bahkan menyebarkan kebaikan dan terhindar dari kebathilan yang membahayakan jiwa. Konstribusi pemuda dalam hal menyebarkan kebaikan dapat diwujudkan dengan perilaku hidup yang dilandasi dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mengajak orang lain dalam kebaikan adalah satu dari sekian banyak hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan saat ini. Dakwah kaum muda melalui jaringan internet yang sangat efektif dan potensial. Sasaran dakwah para pemuda saat ini tidak lagi terbatas ruang dan waktu. Tapi, mampu menembus batas-batas wilayah yang dulunya sulit untuk ditempuh.

Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi, mengatakan, “Ternyata jaringan internet yang hampir menelan seluruh penjuru  dunia merupakan lahan dakwah yang luas. Di situ bertebaran podium-podium yang menyuarakan kepentingan Islam, dengan memperkenalkan, mengajak (dakwah), membela dan memecahkan berbagai problemanya”.

Umat Islam, utamanya pemuda harus mampu untuk mengusai teknologi informasi yang kini mulai dikuasai oleh musuh-musuh Islam. Kebutuhan ini menjadi masalah penting yang harus diperjuangkan, karena bukan tidak mungkin, Umat Islam ternacam hanya akan dijadikan umat yang diperbudak, dikuasai, dan dijajah dari segala lini kehidupan. Baik itu moral, ekonomi, sosial, maupun peradaban. Tentunya harus benar-benar ada persiapan yang matang dari seluruh aspek pelaksanaannya. Konstribusi yang terorganisir, dan pendidikan yang benar serta tepat perlu diterapkan untuk menyiapkan para calon pemimpin bangsa dan umat ini, agar tercipta generasi yang matang dalam memperbaiki situasi bangsa Indonesia yang makin gamang menatap masa depan.  So what? Harus ada perubahan yang dilakukan oleh kita para pemuda bangsa ini. Seperti kata Aa’ Gym, mulai dari yang dekat, mulai dari yang paling dekat, mulai saat ini juga. Tidak mungkin kita mengharapkan konstribusi kaum tua lagi untuk menyelamatkan bangsa dan agama ini dari keterpurukan.

Dari uraian yang telah tergambar diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, pemuda yang berani menantang dunia adalah ia yang berani berjuang untuk kejayaan Islam. Oleh karena itu, untuk menyikapi perkembangan teknologi informasi maupun dunia global yang mulai merambah perdaban umat ini. Al-Qur’an dan Sunnah adalah tuntunan yang tak boleh dikesampingkan. Sesuai dengan perintah Allah SWT, dalam Q.S Al-Maidah:2 “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kenajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalahkamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha berat siksa-Nya. Penumbuhan generasi baru bertumpu pada pemuda saat ini. Mewujudkan generasi rabbani yang tangguh, tanggap dan sigap adalah hal utama yang harus dilakukan oleh penantang dunia.

 

Referensi:

Al-Qur’anul Kariim dan terjemahannya

Syarif Hidayatullah. 2004. Islam Virtual Keberadaan Dunia Islam di Internet., MIFTA, hlm. 127

www.kominfo.go.id

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.