Kurikulum Fisika Terstruktur untuk Memahami Fisika secara Komprehensif

Oleh : Achmad Prayogi (Fisika FMIPA Universitas Indonesia)

0

Setiap jurusan yang ada di perguruan tinggi dibuka dan selalu menawarkan prospek kerja kepada calon mahasiswa yang akan menentukan pilihan. Kalau diperhatikan, secara garis besar jurusan di perguruan tinggi tersebut memiliki 2 orientasi, yakni pada bidang keprofesian dan keilmuan.

Bidang keprofesian secara jelas akan menentukan carrier path seseorang yakni setelah lulus dari jurusan tersebut akan bekerja. Beberapa contoh jurusan yang berorientasi pada keprofesian adalah kedokteran,akuntansi, keperawatan,dan teknik. Seseorang yang mengambil jurusan teknik elektro misalnya,secara jelas orientasi kerja yang ditawarkan adalah pada berbagai posisi teknisi kelistrikan baik di perusahaan negeri maupun swasta, dari skala kecil hingga besar. Dengan dibekali teori dan eksperimen saat kuliah, lulusan jurusan bidang keprofesian ini diharapkan mampu bersaing dan siap memenuhi kebutuhan yang ada di dunia kerja.

Bagian yang kedua adalah pendidikan yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Pendidikan jenis ini biasanya adalah jurusan MIPA yakni Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Astronomi. Di Indonesia sendiri, yang ada di bayangan dan pengamatan penulis jurusan yang berorientasi pada bidang keilmuan ini masih kalah diminati oleh calon mahasiswa mengingat terbatasnya peluang kerja yang sesuai, kesulitan untuk menghadapi tantangan agar terus berkembang di bidang tersebut,serta iklim dan fasilitas yang kurang mendukung.

Jika menilik silabus mata kuliah yang sudah diambil saat di kampus sangatlah kompleks dan cukup rumit. Bahan-bahan teks bacaan sudah standar perguruan tinggi luar negeri, belum lagi tugas akhir terkadang memerlukan perjuangan ekstra keras untuk bisa lulus. Di satu sisi, pendidikan ilmu dasar/ilmu murni seperti ini akan selalu dibutuhkan di lembaga-lembaga pendidikan, penelitian,serta kompetensi dasarnya akan terpakai di dunia kerja meskipun tidak secara langsung.

Sebagai orang yang mengambil jurusan dengan berorientasi pada keilmuan, yakni Fisika, disini penulis mencoba untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai susunan kurikulum matakuliah di level sarjana hingga magister. Dari sini nantinya kita akan mengetahui bahwa ternyata susunan matakuliah yang ada setelah dipertimbangkan ternyata cukup komprehensif sebagai bekal untuk memahami fisika asalkan bisa dipelajari dan dipergunakan secara ideal. Dalam hal ini penulis akan membatasi pada bagian fisika murni karena bagian inilah yang membutuhkan pemahaman fisika yang cukup komprehensif.

Mulai dari susunan kurikulum tingkat sarjana, di semester awal mahasiswa akan dibekali dengan mata kuliah dasar seperti kalkulus, aljabar linear, fisika dasar, metodologi penelitian, dan statistika dasar. Dasar-dasar ilmu tersebut merupakan lanjutan materi sekolah menengah atas  dengan tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Diharapkan setelah mengambil matakuliah tersebut mahasiswa akan siap membangun kerangka berpikir terhadap matakuliah yang akan diambil pada level berikutnya.

Naik ke level berikutnya adalah mata kuliah dengan mengembangkan dasar kalkulus,aljabar linear, dan fisika dasar. Matakuliah tersebut antara lain adalah: Fisika Matematika, getaran dan gelombang, Mekanika Klasik, Termodinamika, fisika statistik,Teori medan elektromagnetik, Fisika Modern (kualitatif), dan analisis numerik. Yang menjadi kunci keberhasilan di mata kuliah tersebut adalah Fisika Matematika. Karena fisika matematika ini merupakan tool utama untuk memahami materi-materi fisika tingkat lanjut.

Adapun di level berikutnya adalah materi fisika tingkat lanjut yang terfokuskan pada fisika murni. Disini penulis memfokuskan pada bahasan fisika partikel, nuklir, kosmologi, dan fisika zat padat. Kalau ditarik dari benang merahnya adalah fisika kuantum (mekanika kuantum) dan teori medan kuantum. Mekanika kuantum membahas mengenai benda-benda kecil yang memiliki perilaku berbeda dengan mekanika Newtonian. Untuk benda yangbergerak mendekati kecepatan cahaya disini dibutuhkan teori relativitas khusus. Sedangkan teori medan kuantum merupakan teori yang menjelaskan bahwa keberadaan partikel merupakan medan yang terkuantisasi.

Ada hal menarik mengapa disini kosmologi juga memiliki kaitan dengan fisika partikel. Secara umum, kosmologi memerlukan pemahaman terhadap teori relativitas umum. Kosmologi mempelajari asal-usul alam semesta beserta evolusinya. Sehingga ada kaitannya dengan fase awal terbentuknya partikel yang merupakan bahasan fisika energy tinggi. Berikut diagram hierarki kurikulum fisika untuk standar sarjana.

Sejatinya, untuk program magister fisika murni juga memiliki kemiripan konten materi pembelajaran. Yang membedakan adalah waktu yanglebih singkat sehingga materi yang dipelajari dalam satu semester cukup padat. Selain itu untuk level magister, standar buku teks yang digunakannya lebih tinggi daripada program sarjana. Secara kualitatif dalam hal ini mengharapkan program magister merupakan lanjutan dan penguatan materi yang sudah dipelajari di level sarjana.

Yang menjadi target lulusan magister disini adalah mampu memahami mata kuliah standar sarjana dan mengajarkannya, serta diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dengan cara aktif meneliti.

Ilmu fisika sangat kompleks. Mempelajari interaksi fundamental, partikel dasar penyusun materi, sampai pada hal yang sifatnya makro, termasuk juga dinamika benda langit dan jagat raya. Sehingga perlu adanya peminatan di jurusan fisika agar mahasiswa memiliki kompetensi spesifik. Peminatan lainnya seperti instrumentasi elektronika, fisika medis, fisika material, dan geofisika. Matakuliah yang menjadi basic peminatan tersebut juga memiliki konsentrasi sendiri disesuaikan dengan kebutuhan dan target kompetensi yang ingin dicapai.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.