Kuliah itu Cita-Cita Keren yang Perlu Kamu Perjuangkan

Oleh: Anes Devy Anggraeni

0

Mimpi itu hak bagi setiap manusia, mengutip kalimat dari sebuah novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”.  Untuk itulah setiap manusia harus memiliki sebuah mimpi untuk diperjuangkan, termasuk dalam hal melanjutkan study ke perguruan tinggi. Banyak sekali pemuda di negeri ini yang berpotensi mengubah negeri ini ke arah yang lebih baik dan tidak menutup kemungkinan diri kitalah pemuda itu. Itulah kenapa kita berperan sebagai agent of change. Sudah terlalu lama bangsa ini terpuruk dalam keadaan tertinggal, dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial bahkan bisa jadi suatu saat nanti moral kita pun ikut-ikutan tertinggal, Na’udzubillahi min dzalik.

Tugas kita sebagai anak bangsa bukanlah sekadar bertanya dan menyesali keadaan yang telah terjadi, tetapi berusaha berpikir out of the box mencari solusi dan jalan keluar untuk masalah yang telah sekian lama membelenggu. Bisakah? Tentu saja bisa, bahkan ketika halangan dan rintangan itu seolah-olah menghadang di depan mata, bulatkan tekad dan satukan niat bahwa usaha kita untuk menuju kebaikan itu semata-mata untuk ibadah kepada-Nya. Implikasinya adalah keberkahan dan kemudahan itu pasti akan kita raih, InsyaAllah.

Muda karya raya, itulah seruan yang seharusnya bergema di tiap kalbu anak muda jaman sekarang. Selagi masih duduk di bangku sekolah menengah atas sudah sepantasnya kita harus menentukan kemana kita akan berlabuh esok hari? Mau Kuliahkah? Bekerjakah? Atau malah mau langsung nikah? Semua pilihan ada di tangan kalian. Tidak ada yang salah, selagi pilihan itu diniatkan untuk mencari ridho Allah SWT. Sekarang, marilah sejenak kita renungkan. Bangsa ini membutuhkan generasi-generasi penerus yang berkualitas baik secara intelektual maupun akhlak, intelektual yang baik akan menjadikan negeri ini mandiri, sedangkan akhlak yang sempurna akan membawa negeri ini menjadi negeri yang InsyaAllah di rahmati oleh-Nya.

Lalu pertanyaan itu muncul lagi, apakah mungkin impian itu akan terwujud ketika kita terhenti pada fase pendidikan menengah? Ada keraguan yang muncul ketika hal itu terjadi. Seperti yang kita tahu, persaingan di dunia kerja dan karir yang ada di luar sana jelas lebih memprioritaskan lulusan perguruan tinggi. Jadi, sangat mungkin terjadi ketika seorang memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, hal itu akan menciptakan pekerja dengan kualifikasi kinerja menengah ke bawah, mungkin terdengar sarkas tapi hal itulah yang mendukung sistem ekonomi kapitalis semakin tumbuh subur di masyarakat kita. Jadi, jangan heran jika masih banyak tenaga kerja kita yang dibayar dengan upah yang relatif rendah. Akibatnya, bisa kita lihat dari taraf hidup masyarakat kita yang masih jauh dari kata sejahtera.

Hal ini semakin menegaskan bahwa rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengakses ilmu pengetahuan akan menjadikan masyarakat itu tertinggal, bukankah Allah telah berfirman bahwa Allah akan meningkatkan derajat orang-orang yang berilmu? Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi setelah lulus SMA nanti.

So, what’s next? Mulai dari awal lagi, ingatlah rumus DNA (Dream and Action) bermimpilah, lalu wujudkan mimpi itu. Kita perlu menyiapakan kiat-kiat sukses untuk menempuh pendidikan tinggi. Kuliah membutuhkan mahasiswa yang mandiri, kritis dan aktif, kuliah adalah untuk dia yang tak mau tinggal diam dalam segala apapun dan begitu bersemangat mengerjakan hal-hal baru. Dari situlah kita mampu memberikan konstribusi untuk negara ini, melalui riset dan penelitian yang kita lakukan diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena ilmu tanpa amal adalah suatu kesia-siaan. Namun lagi-lagi, ketika sudah banyak sekali alasan yang mengharuskan kita untuk kuliah, masih saja ada yang mengeluh bahwa kuliah itu menyusahkan. Banyak biaya yang harus dikeluarkanlah, buang-buang waktulah dan bermacam-macam alasan lain yang menjejali isi hati. Rasa-rasanya sudah tidak ada lagi jalan untuk kuliah, ia lumpuh untuk bergerak dan jatuh dalam lubang pesimis yang ia gali sendiri.

Itulah kenapa mimpi harus diperjuangkan,  kapal yang berlabuh di samudra untuk menempuh suatu tujuan pasti mengarungi ganasnya ombak demi mencapai tujuan itu. Sama seperti kita, di situlah tantangannya, hanya ada dua pilihan. Bisakah kita menaklukkan ombak tersebut? Atau justru tenggelam di dalamnya?. Pilihan itu kita yang menentukan. Jadi, kalau mau sukses taklukkanlah halangan yang merintang dan gapailah pencapaian tertinggi. Jika kita merasa tidak mampu kuliah karena terkendala biaya, bukankah banyak sekali beasiswa yang disediakan di luar sana? Kita bisa mengambil beasiswa itu, tapi ingat! Beasiswa itu ditujukan untuk mereka yang pantas, jadi tugas kita saat ini tinggal satu, yaitu memantaskan diri untuk mendapatkannya. Misalnya, syarat yang harus dipenuhi adalah berprestasi dalam hal akademik, maka belajarlah dengan giat agar prestasi akademik kita semakin meningkat.  Penerima mahasiswa pun memiliki tanggung jawab atas beasiswa yang ia terima.

Ada lagi yang berkeluh kesah bahwa ujian masuk perguruan tinggi itu susah, sudah mencoba beberapa kali, tetap tidak diterima. Jangan pesimis, teruslah berusaha. Jadikan hal itu menjadi semacam muhasabah diri agar kita lebih meningkatkan ikhtiar kepada Allah. Yakinlah bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong. Dan siapa yang menolong agama Allah maka, Allah akan menolongnya. Berlomba-lomba menolong agama Allah bisa menjadi stimulus agar Allah senantiasa memudahkan segala urusan kita. Selain itu jangan lupakan do’a sebagai komponen utama setelah berusaha. Serahkan semua hasil terbaik hanya kepada Allah SWT, karena hanya Allah Yang Maha Mengabulkan do’a dan permohonan hamba-Nya. So, tunggu apa lagi? Masih ragu untuk kuliah?

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.