Distribusi Tumbuhan Amorphophallus sp. Berdasarkan Ketinggian di Kawasan Hutan Adat Wonosadi, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Oleh : Anes Devy Anggraeni

0

Hutan Adat Wonosadi adalah salah satu Hutan Adat yang terdapat di kawasan Taman  Keanekaragaman Hayati (Kehati) Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul. Hutan Adat Wonosadi memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Menurut Ganasari (2011:140) di Hutan Adat Wonosadi terdapat lebih dari 107 pohon, 8 jenis anggrek alam yang hanya dapat ditemukan di hutan ini, 30 jenis tanaman obat-obatan dan berbagai jenis reptil, burung, primata dan mamalia.  Jenis tumbuhan lain yang khas antara lain pohon Asam Jawa tua yang dengan usia lebih dari 200 tahun, bunga bangkai (Amorphophallus sp) putih serta anggrek tanah. Keanekaragaman hayati yang tinggi di Hutan Adat Wonosadi ini memunculkan permasalahan biologi yang dapat dikaji, salah satunya adalah deskripsi pola distribusi tumbuhan Amorphophallus sp berdasarkan ketinggian.

Marga Amorphophallus termasuk ke dalam suku Araceae (talas-talasan). Marga ini terdiri dari sekitar 176 jenis yang tersebar di seluruh dunia, 25 jenis diantara­nya atau sekitar 14,2 % terdapat di Indonesia. Dari 25 jenis yang terdapat di Indonesia, 18 jenis (72%) di antaranya merupakan jenis-jenis endemik, yaitu 8 jenis di Sumatera, 6 jenis di Jawa, 3 jenis di Kalimantan dan 1 jenis di Sulawesi (Hetterscheid and Ittenbach, 1996).

Bunga dan tumbuhan vegetatifnya (daun) tumbuh bergantian. Bunganya pada waktu-waktu tertenu mengeluarkan bau bangkai yang keras. Tumbuhan terna dengan umbi dibawah tanah. Beberapa jenis berukuran kecil, namun  beberapa yang lain tumbuh meraksasa. Umbi bulat gepeng atau agak gepeng, ada juga yang silindris memanjang tak beraturan menyerupai wortel. Daun biasanya soliter pada tumbuhan dewasa, jarang-jarang 2-3, meskipun kadang-kadang 2-3 helai pada yang muda. Helai daun kurang lebih membulat  dan majemuk (Yuzami, 2009).

Kingdom         : Plantae

Class                : Angiospermae

Ordo                : Alismatales

Familly            : Araceae

Genus              : Amorphophallus

Spesies            : Amorphophallus sp. (Yuzami, 2009)

Amorphophallus merupakan tanaman herba dan menchun. Batang tegak, lunak, batang halus berwarna hijau atau hitam belang-belang (totol-totol) putih. Batang tunggal memecah menjadi tiga bagian batang sekunder dan akan memecah lagi sekaligus menjadi tangkai daun. Pada setiap pertemuan batang akan tumbuh bintil  berwarna coklat kehitam-hitaman sebagai alat perkembangbiakan tanaman. Tinggi dapat mencapai 1,5 meter sangat tergantung umur dan kesuburan tanah (Yuzami, 2009).

Amorphophallus ini merupakan kelompok herba yang menghasilkan umbi dan berbunga sempurna yang berbau busuk. Tumbuhan ini dapat tumbuh di daerah dataran rendah sampai dataran tinggi, di hutan primer sampai ladang penduduk, serta di pinggiran sungai sampai tanah berkapur.Amorphophallus ini tersebar di seluruh daerah Asia Tropik, Afrika, Kepulauan Pasifik dan di beberapa daerah subtropik (Hetterscheid and Ittenbach, 1996).

Penelitian ini menggunakan metode survey, dengan teknik pengambilan data menggunakan teknik jelajah, purposive sampling. Pengamatan tumbuhan talas-talasan dilakukan dengan menggunakan petak. Penentuan stasiun berdasarkan topografi atau ketinggian. Stasiun pertama pada ketinggian 290 mdpl, stasiun kedua pada ketinggian 310 mdpl dan stasiun ketiga pada ketinggian 330  mdpl. Ketinggian diukur dengan menggunakan alat altimeter pada masing-masing stasiun yang dibuat menjadi 2 plot.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan Biologi FMIPA UNY (Anes Devy, Dwi Astuti, Ajeng Narulita, Setya Ambar, dan Yosi Titrisari), pola penyebaran  tumbuhan Amorphopallus pada ketiga stasiun yaitu pola penyebaran berkelompok, hal ini terjadi karena adanya kebutuhan yang sama akan faktor lingkungan berupa kelembaban,  intensitas cahaya dan faktor lingkungan lain yang tergolong sebagai faktor bioekologi pada masing-masing ketinggian. Pola penyebaran atau distribusi kelompok merupakan pola penyebaran yang sering terjadi di alam. Lebih lanjut, menurut Indriyanto (2008) distribusi berkelompok pada suatu populasi merupakan distribusi yang umum terjadi di alam, baik bagi tumbuhan maupun bagi hewan.

Pengamatan yang dilakukan pada stasiun I dengan ketinggian 290 mdpl, ditemukan 38 tumbuhan Amorphophallus sp., pada stasiun kedua dengan ketinggian 310 mdpl ditemukan 15 tumbuhan Amorphophallus sp., dan pada stasiun ketiga dengan ketinggian 330  mdpl ditemukan 7 tumbuhan Amorphopallus sp. Secara umum, masing-masing ketinggian memiliki faktor bioekologi yang berbeda dan terbagi atas dua faktor yakni faktor biotik (tumbuhan lain, dan hewan) serta faktor abiotik yang terdiri atas faktor-faktor lingkungan yang bersifat non biologis seperti iklim (suhu udara, kelembaban udara, intensitas cahaya), tanah dan kondisi fisik lingkungan lainnya.

Tumbuhan Amorphophallus sp. dapat tumbuh pada ketinggian 0-900 m dpl tetapi ketinggian optimalnya pada 200-600 mdpl.  Tumbuhan Amorphophallus sp.  yang diamati  di Hutan Adat Wonosadi pada ketinggian 290-330 mdpl memiliki pola persebaran berkelompok atau clumped. Hal ini diketahui berdasarkan perhitungan indeks persebaran yang nilainya lebih dari 0 yaitu 1, 43. Semakin tinggi stasiun pengamatan, semakin sedikit tumbuhan Amorphophallus sp. yang ditemukan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.