Citra Lembaga Pendidikan

Oleh : Uriah Albar

0

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian citra merupakan kata benda: gambar, rupa, gambaran. Gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi atau produk. Ardianto & Soemirat, mengemukakan bahwa citra merupakan “bagaimana pihak lain memandang sebuah perusahaan atau lembaga pendidikan, suatu komite, atau suatu aktivitas.” Setiap perusahaan mempunyai citra sebanyak jumlah orang yang memandangnya. Berbagai citra perusahaan datang dari pelanggan perusahaan, pelanggan potensial, banker, staf perusahaan, pesaing, distributor, asosiasi dagang, dan gerakan pelanggan disektor perdagangan yang mempunyai pandangan terhadap perusahaan. Beberapa ahli berpendapat mengenai citra sebagaimana Frank Jeffkins dalam bukunya public relations Technique, menyimpulkan bahwa secara umum citra diartikan sebagai kesan seseorang tentang suatu yang muncul sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalamannya. Menurut David A. Arker dan John G. Mayer, citra adalah seperangkat anggapan, impresi atau gambaran sekelompok orang mengenai suatu objek bersangkutan. Kemudian menurut Kotler, citra adalah persepsi masyarakat terhadap perusahaan atau produknya. Menururt Djaslim Saladin, citra merupakan salah satu perbedaan yang dapat dibanggakan oleh pelanggan, baik citra produk maupun citra perusahaan atau pendidikan .
Citra yang baik dari suatu organisasi atau lembaga pendidikan merupakan aset yang sangat penting karena citra mempunyai suatu dampak persepsi publik dan operasi organisasi dalam berbagai hal. Sebagaimana Firsan Nova mengatakan citra perusahaan atau pendidikan yang baik dan kuat mempunyai manfaat-manfaat sebagai berikut : a). Daya saing jangka menengah dan jangka panjang (mid and long term sustainable competitive position). b). Menjadi perisai selama masa krisis (an insurance for a adverse times). c). Menjadi daya tarik eksekutif handal (attraction the best executives available). d). Meningkatkan efektivitas strategi pemasaran (increasing effectiveness of marketing instrument). e). Penghematan biaya operasional (cost saving).
Citra positif mengandung arti kredibilitas suatu organisasi/lembaga pendidikan dimata publik. Kredibel ini mencakup pada 2 hal, yakni: a). Kemampuan (expertise) dalam memenuhi kebutuhan, harapan, maupun kepentingan publik. b). Kepercayaan (trustworty) untuk tetap komitmen menjaga kepentingan bersama untuk mewujudkan investasi sosial (social invesment), yaitu program-program yang ditunjukkan untuk mendukung kesejahteraan sosial.
Citra suatu lembaga, terutama lembaga pendidikan bisa dilihat mulai dari identitas lembaga yang tercermin melalui pemimpinnya, nama lembaga, dan tampilan lainnya seperti pemanfaatan media publitas baik yang visual, audio maupun audio visual. Identitas dan citra lembaga juga dalam bentuk non fisik seperti nilai-nilai dan filosofis yang dibangun, pelayanan, gaya kerja dan konunikasi internal maupun eksternal. Identitas lembaga akan memancarkan citra (image) kepada publik, antara lain dimata user (pengguna), komunitas, media, penyumbang dana, staff, dan juga pemerintah sehingga jadilah citra lembaga. Karena itu, citra lembaga pendidikan dibangun dari 4 area , yaitu: a). produk/service (termasuk kualitas output, dan costemer care) b). Social responsibility, institution citizenship, etnical behaviour, dan community affair. c). Environments (ruang kantor, ruang informasi, laborat, dan sebagainya) d). Communication, (iklan, publishing, personal communication, brosur, dan program-program identitas lembaga).
Dengan demikian, berdasarkan hal diatas, peran stakeholder dalam lembaga pendidikan sangatlah penting. Semuanya mempunyai peran dalam membangun citra (image) lembaga. Tidak ada satu lebih penting dari yang lainnya. Hal ini didasarkan bahwa citra suatu lembaga merupakan tanggung jawab bersama untuk membangunnya. Peran yang diambil oleh masing-masing elemen dalam stakeholder harus mendasarkan pada peningkatan kualitas output, tanggung jawab sosial, lingkungan yang religius, serta komunikasi konstruktif antar anggota internal maupun eksternal.
Citra juga merupakan daya magnet bagi sebuah produk. Image positif terhadap sesuatu akan muncul jika publik percaya dan selanjutnya yakin bahwa suatu produk bisa memenuhi tuntutan emosional mereka, karena dalam ilmu sosial merupakan social capital yang paling dominan dalam mempengaruhi perilaku masyarakat.
Masyarakat dan sekolah atau istitusi lainnya, kususnya lembaga pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat antara satu dengan yang lainnya. Masyarakat akan mengalami stagnasi jika tidak didukung dengan adanya lembaga pendidikan dan lembaga pendidikanpun juga tidak bisa berkembang bila tidak didukung oleh masyarakat, sehingga agar tercapai tujuan bersama perlu adanya komunikasi yang baik antara pengelola lembaga pendidikan dengan masyarakat yang berkompeten dengan lembaga pendidikan tersebut. Apalagi jika dilihat dari sejarah pertumbuhan lembaga pendidikan Islam yang pada mulanya merupakan inisiatif dari masyarakat, maka sudah merupakan hal yang sangat wajar, sebagai sebuah institusi, lembaga pendidikan dikembalikan untuk kepentingan masyarakat.
Sebagai konsekuensi dari hal tersebut diatas, merupakan suatu keharusan bagi para pengelola lembaga pendidikan untuk: a). Mampu menghimpun potensi masyarakat untuk perkembangan sekolah secara optimal b). Selalu bekerjasama dengan masyarakat dalam setiap aktifitas pendidikan dan pembelajaran (kolaboratif) c). Mampu memenuhi kebutuhan riil masyarakat secara luas. Lembaga pendidikan diharapkan mampu menjadi centre of learning society, yaitu mampu menjadi perekat masyarakat dalam melaksanakan aktifitas pendidikan. Lingga Anggoro menyebutkan ada beberpa jenis citra (image) antara lain: a). Citra bayangan, citra ini melekat pada orang dalam atau anggota-anggota organisasi biasanya adalah pemimpinnya mengenai anggapan pihak luar tentang organisasinya. Dalam kalimat lain, citra bayangan adalah citra yang dianut oleh orang dalam mengenai pandangan luar terhadap organisasinya. Citra ini sering kali tidak tepat bahkan hanya ilusi. b).Citra yang berlaku kebalikan dari citra bayangan, citra yang berlaku ini adalah suatu citra atau pandangan yang melakat pada pihak-pihak luar mengenai suatu organisasi. Namun sama halnya dengan citra bayangan, citra yang berlaku tidak selamanya, bahkan jarang, sesuai dengan kenyataannya karena semata-mata hanya padangan pengalaman dan pengetahuan orang-orang luar yang tidak memadai sehingga citra ini sering kali cenderung kepada hal yang negatif.

 

Referensi

Ardianto, Elvinaro Dan Soemirat, Soleh. Dasar-Dasar Public Relations. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya 2004

Linggar Anggoro, Teori Dan Profesi Kehumasan Serta Aplikasi Di Indonesia, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2000

Risa Agustin, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Serba Jaya, 2003

Nova, Firsan. Crisis Public Relations. Jakarta: Rajawali Pers, 2011

Rachmat Kriyantono, Public Relations Writing: Membangun Public Relations Membangun Citra Korporat, Jakarta: Kencana, 2008

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.