Penanaman Karakter Pada Generasi Z Melalui Pembelajaran Fisika Di SMA

Oleh : Intan Nurfianty Amalia, M.Pd. (Alumni Universitas Sebelas Maret)

0

Saat ini pendidikan karakter menjadi perhatian yang serius untuk digarap dalam dunia pendidikan. Para pendidik dari jenjang Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi berpikir dengan berbagai cara untuk menanamkan pendidikan karakter bagi para siswa maupun mahasiswanya. Suparno (2012) menyampaikan bahwa penanaman pendidikan karakter bertujuan agar generasi muda Indonesia memiliki karakter yang kuat, sehingga karakter bangsa Indonesia semakin kokoh sehingga Bangsa Indonesia menjadi semakin maju untuk kedepannya. Pendidikan karakter merupakan pengejawantahan dari ajaran agama untuk membangun karakter mulia bagi setiap umat manusia khususnya Indonesia (Sudarmadi : 2011). Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Nasional adalah membentuk manusia Indonesia yang berakhlak mulia, jujur, cerdas, terampil, kreatif, takwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Upaya menjaga dan membina kualitas karakter yang baik sudah dilakukan oleh berbagai pihak. Pemerintah melalui Kemendikbud telah memasukkan pembinaan karakter melalui semua mata pelajaran dengan memasukkan unsur-unsur karakter ke dalam rencana pembelajaran guru-guru. Dengan demikian, pendidikan Fisika juga memiliki andil dalam menjaga dan mengarahkan karakter pelajar. Mata pelajaran Fisika di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dipandang penting untuk diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri dengan berbagai pertimbangan. Pertama, memberikan bekal ilmu kepada peserta didik, Fisika dimaksudkan sebagai wahana untuk menumbuhkan kemampuan berpikir untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, pelajaran Fisika bisa membekali peserta didik mengenai pengetahuan, pemahaman, serta kemampuan yang dijadikan syarat untuk memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi serta mengembangkan ilmu dan teknologi. Pembelajaran Fisika dilaksanakan secara ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup (Depdikbud, 2006).

Para pendidik sebaiknya terlebih dahulu mengetahui karakter yang dimiliki oleh siswa SMA untuk memberikan arahan yang sesuai. Bencsik (2016) dalam penelitiannya mengkategorikan siswa SMA saat ini termasuk generasi Z. Generasi Z merupakan generasi yang dilahirkan pada tahun 1995-2010. Generasi Z, yaitu anak yang sangat melek teknologi atau net generation. Mereka lebih menyenangi berinteraksi dengan komputer dan berkomunikasi dengan sistem online sehingga mereka memiliki kecenderungan untuk tidak bertemu dengan teman-temannya (John, 2012). Generasi ini mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu (multi tasking). Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil generasi ini sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gatget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian (Yanuar, 2016).

Marthin (1991) menyampaikan bahwa Pendidikan Fisika sebagai bagian dari pendidikan sains meliputi tiga aspek, yaitu pengetahuan, proses, dan sikap. Aspek yang pertama yaitu pengetahuan. Pemahaman tentang Hukum Newton dan Hukum Fisika yang lain dapat membantu siswa menyadari keteraturan alam dan ketaatan pada hukum alam. Dengan demikian, siswa dapat mengagumi Sang Pencipta yang mengatur semuanya. Pemahaman mengenai sistem tata surya dengan segala hukum dan teorinya dapat membantu siswa semakin mengakui kebesaran Tuhan Sang Pencipta. Maka nilai religiusitas dapat dikembangkan melalui pengertian dan kekaguman tentang sistem alam semesta. Siswa juga terbantu untuk lebih taat pada hukum dan aturan hidup yang ada. Guru perlu membantu siswa berefleksi untuk menemukan nilai itu. Tanpa bantuan guru dalam refleksi, sering siswa tidak menangkap nilai dibalik pengetahuan fisika tersebut. Melalui topik ketidakpastian dan relativitas, siswa dapat dibantu untuk memahami bahwa ada ketidakmutlakan dalam hidup ini. Siswa dapat lebih menghargai orang lain, lebih toleransi dengan gagasan orang lain yang berbeda setelah mendapatkan pengertian mengenai ini.

Aspek kedua yaitu proses pembelajaran Fisika. Siswa dibantu untuk mengetahui bagaimana fisikawan melakukan percobaan dan mengambil kesimpulan. Hal inilah yang disebut dengan metode ilmiah. Siswa diajak untuk membuat hipotesa, mengumpulkan data, menganalisa, dan menyimpulkan apakah hipotesanya benar atau tidak melalui proses ilmiah. Siswa dilatih untuk berpikir dan mengambil keputusan secara rasional berdasarkan data obyektif yang ditemukan. Proses ini akan membantu siswa dalam menghadapi berbagai persoalan lebih rasional, tidak emosional. Bila mereka tersinggung atau dikritik orang lain, tidak emosional langsung membalas, tetapi dapat menghadapi dengan tenang dan mencari penyebabnya secara bijak. Dengan demikian kemungkinan terlibat tawuran akan berkurang.

Aspek ketiga yaitu sikap dalam belajar Fisika. Pendidikan Fisika membantu siswa mengembangkan sikap belajar Fisika seperti jujur, disiplin, teliti, obyektif, setia pada data, daya tahan dalam menghadapi persoalan yang sulit, dan kerjasama dengan orang lain. Sikap ini diterapkan oleh para fisikawan dalam penelitian dan pengembangan ilmu mereka.

Proses dan sikap inilah yang bisa mengubah cara hidup orang (Martin 1991). Dari aspek proses dan sikap, siswa bisa menggunakan apa yang diketahui dan didapatkan dalam belajar fisika untuk beradaptasi dengan kondisi yang dihadapi. Sebagai contoh, siswa yang biasa jujur dalam praktikum diharapkan juga bersikap jujur di manapun; siswa yang terbiasa untuk bekerja dengan teliti, diharapkan juga teliti dalam menyelesaikan pekerjaan yang dihadapinya.

Agar pendidikan karakter melalui pelajaran Fisika berlangsung dengan baik, silabus dan RPP harus direncanakan dengan baik. Ada dua model penyusunan silabus dan RPP yang menekankan pendidikan karakter, yaitu memasukkan nilai karakter pada silabus da RPP Fisika atau menggali nilai karakter yang mungkin ada dalam topik fisika yang tertera di silabus. Suparno (2012) menyampaikan dalam penelitian beberapa guru IPA SMA, mereka menyatakan bahwa melalui pelajaran Fisika, terutama dalam praktikum dan pengerjaan proyek, siswa terbantu bersikap jujur, disiplin, dan punya daya tahan. Ini ditunjukkan dengan tindakan siswa yang tidak memanipulasi data praktikum, serta mengumpulkan laporan tepat waktu.

Pendidikan karakter menjadi bagian tidak terpisahkan dari tujuan Nasional Bangsa Indonesia. Pendidik Fisika mempunyai peluang yang besar untuk menanamkan pendidikan karakter melalui pembelajaran Fisika yang diintegrasikan dalam proses belajar mengajar. Generasi Z yang sejak kecil sudah mengenal teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik. Hal ini dikarenakan secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kepribadian siswa. Melalui pembelajaran fisika yang meliputi tiga aspek, yaitu pengetahuan, proses, dan sikap diharapkan bisa memberikan sumbangan besar untukmenanamkan pendidikan karakter pada generasi Z saat ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bencsik, A., Csikos, G., & Juhaz, T. (2016). Y and Z Generation at Workplace. Journal of Competitiveness, 8 (3), 90-106.

Depdikbud. 2006. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 Tentang Standarisasi Sekolah Dasar dan Menengah. Ditjen Dikdasmen: Jakarta.

John Fredy Bobby Saragih. 2012. Fenomena Bermain Generasi Z dan Hubungannya dengan Eksistensi Ruang Bermain Terbuka di Lingkungan Perumahan Sederhana. ComTech. Vol 3 No. 1 Juni 2012: 8-14.

Martin, Michael. 1991. Science Education and Moral Educationn. Dalam History, Philosopphy, and Science Teaching. Hal 102-113. Toronto & NY : OISE Press, Teacher College Press.

Suparno, Paul. 2012. Sumbangan Pendidikan Fisika terhadap Pembangunan Karakter Bangsa. Yogyakarta: USD.

Sudarmadi. 2011. Implementasi Pendidikan Karakter pada Pembelajaran Fisika di SMA/SMK. Prosiding Seminar Nasional penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA. Fakultas MIPA, Universitas negeri Yogyakarta, 14 Mei 2011.

Yanuar Surya Putra. 2016. Theoritical Review: Teori Perbedaan Generasi. Among Makarti Vol. 9 No 18, Desember 2016.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.