Efektivitas Hutan Mangrove dalam Meredam Tsunami

Oleh : Onrizal, PhD*

0

Pendahuluan

Pantai Indonesia merupakan kawasan yang rawan diterjang tsunami karena letaknya yang berada pada pertemuan lempeng-lempeng tektonik aktif. Hamzah dkk. (2000) melaporkan dalam kurun 1600-1999 terdapat 105 tsunami yang melanda pantai Indonesia. Pada periode 1991 – 2012 telah terjadi 27 gempa bumi yang memicu tsunami (Pribadi dkk., 2013). Oleh karena itu, kejadian tsunami telah meningkat hampir 5 kali menerjang pantai-pantai di Indonesia pada periode 1991-2012 dibandingkan dengan periode 1600-1999.

Salah satu bencana tsunami yang tidak saja melanda pantai Indonesia, namun juga pantai-pantai di 13 negara di Asia dan Afrika adalah tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang oleh masyarakat dunia dikenal dengan Indian Ocean Tsunami. Tsunami tersebut dipicu oleh gempa bumi besar (9,1-9,3 SR) yang berpusat di sebelah barat Meulaboh atau sebelah utara pulau Simeulue, Aceh. Energi yang dilepas oleh gempa dahsyat di penghujung tahun 2004 tersebut sangat besar, yakni sekitar 1,1 x 1018 joule (Lay dkk., 2005) atau sekitar 80.000 kali bom yang dijatuhkan sekutu di Hiroshima, Jepang tahun 1945 (Halif dan Sabki, 2005) yang mengakhiri Perang Dunia ke-2. Energi yang sangat dahsyat. Tsunami tersebut tidak saja menyebabkan kerusakan pantai dan infrastruktur yang sangat besar, namun juga korban jiwa yang sangat banyak. Bencana tsunami ini juga yang kemudian “mengakhiri” konflik/perang antara Pemerintah Indonesia dan GAM.

Berdasarkan penelitian oleh Monecke dkk. (2008), 3 tsunami besar juga telah melanda pantai Aceh sebelum tsunami besar tahun 2004 yang terjadi dalam kisaran 780-990, 1290-1400 dan 1907 atau dikenal dengan tsunami purba. Dengan demikian, terdapat potensi bencana tsunami besar pada masa-masa mendatang.

Fakta-fakta lapangan

Hasil analisis spasial pantai Aceh oleh Iverson dan Prasad (2007) diketahui bahwa kerusakan pada kawasan terbangun 2,5 kali lebih besar dibandingkan dengan kawasan berhutan. Danielsen dkk. (2005) juga melaporkan bahwa kawasan pantai berhutan di Tamil Nadu, India tidak mengalami kerusakan atau hanya mengalami kerusakan ringan, sementara kerusakan berat terjadi pada pantai tak berhutan. Hal ini menunjukan bahwa hutan mampu meredam atau mengurangi dampak tsunami.

Tsunami dengan ketinggian gelombang sampai 5 m tidak menyebabkan kerusakan yang berarti pada kawasan yang terlindung oleh hutan mangrove yang lebat, sebagaimana penulis jumpai di Singkil, Simeulue dan Lahewa (Nias). Namun, tsunami dengan ketinggian yang sama menyebabkan kerusakan berat pada kawasan yang tidak memiliki hutan mangrove atau hutan mangrovenya telah rusak sebelum tsunami menerjang, seperti di Sirombu (Nias), Kuala Pekanbaro (Aceh Pidie) dan Kuala Keureutou (Aceh Utara).

Kerusakan berat infrastruktur dan sumberdayanya terjadi di sepanjang pantai barat dan utara Aceh. Berdasarkan berbagai hasil penelitian, seperti Borrero (2005), Borrero dkk. (2006a), Jaffe dkk. (2006), Matsutomi dkk. (2006), Lavigne dkk. (2009), dan Prasetya (2011), pantai barat Aceh dari Ujung Pulot sampai Lhok Nga diterjang tsunami dengan ketinggian rata-rata 30 m dan maksium mencapai 51 m. Selanjutnya pantai utara Aceh, termasuk pantai Banda Aceh, ketinggian gelombang tsunami sebagian besar berkisar 15-20 m dan maksimum 25 m. Perlu dicatat bahwa, hutan mangrove dan hutan pantai pada kawasan tersebut sebagian besar telah dikonversi menjadi tambak atau penggunaan lainnya sebelum tsunami tiba. Ketika tsunami menerjang, hutan mangrove yang tersisa telah terfragmentasi dengan luasan yang kecil. Namun, sungguh ajaib banyak pepohonan mangrove dijumpai tetap tegak meski diterjang tsunami besar (Gambar 1). Hutan mangrove dengan tegakan pepohonan besar juga dijumpai tidak tumbang karena tsunami dengan ketinggian lebih dari 15 m, namun beberapa bulan kemudian pepohonan mangrove tersebut mati karena tanahnya turun sekitar 1 m di Kuala Rigaih, Aceh Jaya (Gambar 2) sebagai dampak lain dari gempa bumi.

Hasil serupa juga dilaporkan terlihat di Pantai Sri Langka seperti dilaporkan Dahdouh-Guebas dkk. (2005), dimana hutan mangrove primer mampu melindungi Pantai dari tsunami 2004. Dahdouh-Guebas dkk. (2005) juga menyatakan bahwa hutan mangrove memiliki kapasitas sebagai pelindung pantai dari tsunami.

Kathiresan dan Rejendran (2005) menemukan hubungan terbalik antara korban jiwa dengan luas hutan mangrove di pantai tenggara India, semakin luas hutan mangrove semakin sedikit korban jiwanya. Ketinggian tsunami rata-rata yang melanda pantai tersebut adalah 2.8 m (Kathiresan dan Rejendran, 2006). Selanjutnya, Vermaat dan Thampanya (2006) mendukung hasil kajian Kathiresan dan Rejendran (2005) bahwa kematian dan kehilangan properti lebih rendah pada kawasan di belakang hutan mangrove.

Dahdouh-Guebas (2006) melaporkan bahwa sekitar 93% dari 418 perkampungan yang terlindung oleh hutan mangrove primer di sepanjang pantai Andaman selamat dari terjangan tsunami. Sementara itu, perkampungan yang hutan mangrovenya telah rusak sebelum tsunami tiba, diperkirakan 80-100% mengalami kerusakan berat. Hasil serupa juga dilaporkan oleh Chang dkk. (2006).

Faktor-faktor efektivitas mangrove sebagai pelindung

Mazda dkk. (1997a, 1997b), Massel dkk. (1999), Dahdouh-Guebas dkk. (2005), Kathiresan dan Rejendran (2005), MSSRF (2005), Alongi (2008), Bahuguna dkk (2008), Osti dkk. (2009) dan Bao (2011) menyatakan bahwa hutan mangrove di sepanjang pantai mampu mengurangi ketinggian gelombang tsunami setelah melewati hutan mangrove tersebut. Selain mengurangi ketinggian gelombang tsunami, energi tsunami juga berkurang setelah melewati hutan mangrove. MSSRF (2005) menjelaskan bahwa kecepatan gelombang tsunami berkurang akibat terhalang oleh tegakan hutan, dan volume air juga berkurang dan terpecah, sehingga gelombang yang mencapai daratan juga jauh berkurang.

Quartel dkk. (2007) dan Alongi (2008) menyatakan bahwa peredaman energi gelombang tsunami tergantung pada struktur hutan mangrove, seperti konfigurasi batang, perakaran dan diameter cabang. Hasil-hasil penelitian oleh Mazda dkk. (1997a, 1997b, 1999), Massel dkk. (1999), Hiraishi dan Harada (2003), Quartel dkk. (2007), Tanaka dkk. (2007, 2009, 2011), Onrizal dkk (2009), Teh dkk. (2009), Yanagisawa dkk. (2009a, 2009b, 2010), Bao (2011) dan Onrizal dan Mansor (2016) antara lain menyatakan bahwa hutan mangrove yang lebat lebih efektif dalam mengurangi gelombang tsunami dibandingkan hutan mangrove yang memiliki kerapatan jarang.

Hasil studi Yanagisawa dkk. (2009a, 2009b, 2010) in pantai Thailand dan Banda Aceh setelah tsunami 2004 melaporkan bahwa tingkat survive pohon mangrove meningkat seiring dengan meningkatnya diameter. Mazda dkk. (2006) melaporkan bahwa hutan mangrove pada zonasi Sonneratia spp. lebih besar kemampuannya dalam mengurangi gelombang tsunami dibandingkan pada zonasi Kandelia candel dengan perbandingan kemampuan 3:1. Hal ini diduga karena kehadiran akar-akar pensil yang kokoh pada Sonneratia spp. (Gambar 2) yang tidak dimiliki oleh K. candel. Mazda dkk. (1997a) juga melaporkan bahwa kemampuan mengurangi gelombang tsunami K. candel juga lebih rendah dibandingkan dengan Bruguiera spp. dan Rhizophora spp. karena K. candel tidak memiliki akar di atas permukaan tanah yakni pneumatophora berupa akar lutut pada Bruguiera spp. dan akar tunjang pada Rhizophora spp. Selanjutnya Mazda dkk. (1997b) menyatakan bahwa hidrodinamika rawa mangrove berubah dengan perubahan spesies, kerapatan tegakan dan kondisi pasang surut.

Quartel dkk. (2007) melaporkan bahwa pengurangan ketinggian tsunami oleh hutan mangrove yang memiliki tegakan campuran (umur dan spesies) lebih besar antara 5,0-7,5 kali lebih besar dari pantai berpasir saja. Berdasarkan hasil penelitian lapang di banda Aceh, Yanagisawa dkk. (2010) menghasilkan model numerik dimana sekitar 80% dari hutan mangrove berumur 30 tahun dengan diameter 20 cm akan survive dari tsunami dengan tinggi gelombang 5 m dan mengurangi sekitar 50% energi hidrodinamika tsunami.

Mazda dkk. (1997a, 1997b), Dahdouh-Guebas dkk. (2005), Tanaka dkk. (2007), Alongi (2008), Koch dkk. (2009), Tanaka (2009), Yanagisawa (2009a, 2009b, 2010) melaporkan bahwa komposisi jenis hutan mangrove berkorelasi dengan kapasitasnya dalam mengurangi energi tsunami. Pasca bencana tsunami 2004, berdasarkan penelitian di Andaman Tanaka dkk. (2007) menemukan bahwa Rhizophora apiculata dan Rhizophora mucronata secara khusus efektif dalam menyediakan perlindungan dari tsunami sebagai akibat dari ketersedian struktur perakarannya yang kompleks. Hal yang sama juga penulis temui di pantai-pantai Aceh dan Sumatera Utara yang terdampak tsunami 2004 (Gambar 3).

Penutup

Efektivitas hutan mangrove sebagai pelindung pantai dari tsunami dapat disarikan sebagai berikut (a) hutan mangrove dengan jenis campuran lebih efektif dibandingkan dengan hutan mangrove sejenis (monokultur), (b) hutan mangrove yang lebat lebih efektif dibandingkan dengan hutan mangrove yang jarang, (c) pepohonan mangrove dengan akar nafas yang komplek lebih efektif pepohonan mangrove tanpa akar nafas, (d) hutan mangrove dengan struktur campuran lebih efektif dibandingkan dengan struktur tunggal, (e) hutan mangrove yang lebarnya tebal lebih efektif dibandingkan hutan mangrove yang lebarnya tipis, dan (f) hutan mangrove dengan multi-tajuk lebih efektif dibandingkan hutan mangrove yang hanya memiliki tajuk tunggal. Pada akhirnya, hal-hal tersebut semoga menjadi perhatian dan pertimbangan dalam merancang kegiatan pengelolaan dan rehabilitasi hutan mangrove yang secara khusus ditujukan sebagai pelindung pantai dari tsunami.

 

Daftar Pustaka

Alongi (2008), Estuarine, Coastal and Shelf Science, 76 (1), 1-13.

Bahuguna dkk. (2008), Int. J. App. Earth Obs. 10, 229-237

Bao (2011), Oceanologia, 53 (3), 807-818

Borrero (2005), Science308 (5728), 1596-1596.

Borrero dkk. (2006a), Earthquake Spectra22 (S3), 93-104.

Chang  dkk. (2006), Earthquake Spectra22(S3), 863-887.

Dahdouh-Guebas (2006), In : 2006 McGraw-Hill Yearbook of Science and Technology, McGraw-Hill Professional, New York, USA: 187-191

Dahdouh-Guebas dkk. (2005), Current biology15 (12), R443-R447

Danielsen dkk. (2005), Science 310 (5748), 643

Halif dan Sabki (2005), American Journal of Applied Sciences 2 (8), 1187-1192

Hamzah dkk. (2000), Journal of Natural Disaster Science22(1), 25-43

Hiraishi dan Harada (2003), Report of the Port and Airport Research Institute42 (2), 1-23

Iverson dan Prasad (2007), Landscape Ecology22(3), 323-331

Jaffe dkk. (2006), Earthquake Spectra 22 (S3), 105–135

Kathiresan dan Rejendran (2005), Estuarine, Coastal and Shelf Science 65, 601-606

Kathiresan dan Rejendran (2006), Estuarine, Coastal and Shelf Science67 (3), 542

Koch dkk. (2009), Frontiers in Ecology and the Environment7 (1), 29-37

Lavigne dkk. (2009), Pure Applied Geophysics 166, 259-281

Lay dkk (2005), Science308 (5725), 1127-1133

Massel dkk. (1999), Fluid Dynamics Research 24(4), 219-249

Matsutomi dkk. (2006), Coast Eng J 48(2):167–195

Mazda dkk. (1997a), Mangroves and Salt marshes1 (2), 127-135

Mazda dkk. (1997b), Mangroves and Salt Marshes1 (3), 193-199

Mazda dkk. (1999), Mangroves and Salt Marshes 3(1), 59-66

Mazda dkk. (2006), Wetlands Ecology and Management14 (4), 365-378

Monecke dkk. (2008), Nature455 (7217), 1232-1234

MSSRF (2005), Appropriate Technology, 32 (1), 16-17

Onrizal dkk. (2009), Wetland Science, 7 (2), 130-134

Onrizal dan Mansor (2016), Biodiversitas 17(1), 44-54

Osti dkk. (2009), Disasters33 (2), 203-213

Prasetya (2011), Natural hazards58 (3), 1029-1055

Pribadi dkk., 2013). Journal of Mathematical & Fundamental Sciences45 (2), 189-207

Quartel dkk. (2007), Journal of Asian Earth Sciences29 (4), 576-584

Tanaka (2009), Landscape and Ecological Engineering5 (1), 71-79

Tanaka dkk. (2007), Landscape and Ecological Engineering3 (1), 33-45

Tanaka dkk. (2009), Civil Engineering and Environmental Systems26 (2), 163-180

Tanaka dkk. (2011), Landscape and Ecological Engineering, 7, 127–135

Teh dkk. (2009), Journal of Asian Earth Sciences36 (1), 38-46

Vermaat dan Thampanya (2006), Estuarine, Coastal and Shelf Science69 (1), 1-3

Yanagisawa dkk. (2009a), Estuarine, Coastal and Shelf Science81(1), 27-37

Yanagisawa dkk. (2009b), Polish Journal of Environmental Studies18 (1), 35-42

Yanagisawa dkk. (2010), Journal of Geophysical Research, 115, C06032, 1–11

 

Gambar 1. Berbagai kondisi hutan mangrove di sekitar areal tambak yang hancur di Tibang, Syiah Kuala, Banda Aceh beberapa saat setelah tsunami 2004. Sebagian besar pohon mangrove yang besar tetap survive (atas), dan mangrove yang tumbuh soliter tumbang karena tsunami (bawah, kiri) dan tegakan muda mangrove yang rapat yang tetap bertahan meski dilanda tsunami (bawah, kanan).

Gambar 2. Tegakan mangrove yang mampu bertahan dari terjangan tsunami dengan tinggi gelombang lebih dari 15 m di Kuala Rigaih, pantai barat Aceh yang berhadapan langsung dengan pusat gempa dan tsunami 2004. Foto diambil beberapa bulan setelah tsunami dimana pepohonan mangrove telah mati yang diduga akibat turunnya tanah sekitar 1 m akibat gempa.

Gambar 3. Akar nafas yang kokoh dari Sonneratia alba (A) yang diameter pangkal akar dapat mencapai 10 cm (A, insert), dan akar tunjang yang kompleks dari Rhizophora spp. (B) berperan penting dalam mengurangi energi gelobang tsunami. Gambar diambil di Nias 3 bulan setelah tsunami 2004.

 

*Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan

Bidang Pertanian, Kehutanan dan Kelautan, ISNET

Blog: onrizal.wordpress.com; Email: onrizal@usu.ac.id

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.