Fenomena dan Realitas Gaya Hidup Konsumtif Masyarakat Indonesia

Oleh : Al Afif Muzakir

0

Tahun 2017 kembali terdengar peristiwa gizi buruk dan wabah campak akibat kelaparan dan terbatasnya akses kesehatan. Berdasarkan informasi dari BBC Indonesia bulan februari lalu, penyakit campak di daerah Papua yang merenggut nyawa hampir 100 orang, diantaranya banyak dari kalangan anak-anak1. Hal ini sangat memilukan ditengah negara yang kaya dengan sumber daya alamnya, ternyata masih terjadi bencana rawan pangan.

Beranjak dari pemberitaan tersebut, ternyata masih banyak masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. disatu sisi pemerintah sedang melakukan pembangunan, namun disisi lain masih banyak permasalahan sosial yang belum terselesaikan. Rendahnya distribusi dan pemerataan dari hak-hak sebagai warga negara telah terjadi sejak dulu. Terbukti dengan adanya ketimpangan ekonomi di Indonesia. Peristiwa ini menjadi catatan merah kembali bagi pemerintahan di era rezim Jokowi dan Jusuf kalla.

Ketimpangan yang terjadi di Indonesia dalam penelitian lembaga INDEF tahun 2017 menyebutkan bahwa resiko tingkat pertumbuhan ekonomi yang tidak mampu meredam ketimpangan sangat besar. Selain dapat memicu instabilitas sosial, politik dan keamanan, juga berpotensi menjadi ancaman. Jika terus dibiarkan, revolusi bisa melanda Indonesia2.

Kemudian, jika dilihat dari pola hidup manusia yang semakin kompleks dan dinamis, akan menyebabkan  kegiatan ekonomi menjadi sebuah simbol diferensiasi sosial. Dimana, pengaruh globalisasi akan menggiring kebutuhan semakin meningkat dan menyebabkan pola hidup yang semakin matrealistis. Hal ini akan menimbulkan jurang  yang curam sebagai pemisah antara golongan kaya dan miskin

Berdasarkan hasil survey kompas tahun 2012 menyatakan di enam kota besar (Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar). Kelas menengah berjumlah 50,3 persen dan kelas menengah atas 3,6 persen, sisanya merupakan kelas atas (1 persen), bawah (39,6 persen), dan sangat bawah atau kelas yang betul-betul miskin (5,6 persen). Peningkatan jumlah kalangan menengah pada waktu itu dibarengi dengan meningkatnya konsumsi berupa pembelian kendaraan bermotor dan larisnya barang-barang elektronik seperti ponsel3.

Salah satu penyebab permasalahan ini adalah pola ekonomi yang tidak sehat masih dijalankan masyarakat. Seperti halnya perubahan konsumsi masyarakat yang semakin meningkat. Perubahan tersebut disebabkan karena adanya dorongan kebutuhan dari dalam diri manusia, sehingga berusaha untuk mendapatkannya. Namun, disisi lain perubahan yang terjadi bisa menyebabkan munculnya ideologi baru yang dikenal dengan konsumerisme.

Kegiatan konsumsi tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Pergantian zaman yang dinamis menyebabkan perubahan disegala aspek kehidupan. Perubahan ini memiliki arti penting dalam mempertahankan hidup dan menjaga eksistensi manusia di muka bumi. Walaupun sebenarnya konsumsi juga membantu dalam mendorong ekonomi agar bertumbuh. Namun pola konsumsi yang terbentuk sekarang menjadi gaya hidup yang mendorong perilaku berlebihan di semua kalangan.

Gaya hidup konsumtif semakin terdorong dengan berkembangnya teknologi dan informasi saat ini. Mulai dari makanan, fashion, teknologi, hiburan dan beberapa sektor lainnya. Kemudahanpun semakin ditawarkan dalam memenuhi keinginan konsumsi dengan berkembangnya layanan online shopping, kurir online dan jasa-jasa lainnya yang mempermudah akses konsumsi. Bahkan, sosial media yang sekarang ini berkembang seperti Whatsapp, Instagram, Facebook dan lainnya, menjadi objek untuk narcissus atau mengagumi diri dari hal-hal yang digunakan dan kegiatan yang dilakukan.

Jika diperhatikan dalam gaya hidup konsumtif, sangat mudah berkembang dinegara-negara berkembang seperti Indonesia. Target market yang besar dan perilaku masyarakat yang mudah mengikuti dan meniru, menjadikan Indonesia sebagai negara yang dituju oleh produsen dunia.

Perubahan gaya hidup masyarakat ini tidak hanya berdampak pada perbedaan status ekonomi. Namun juga akan mengakibatkan pola perilaku masyarakat yang semakin tidak toleran dan bahkan juga akan berdampak pada kerusakan lingkungan4.

Akhirnya, gaya hidup konsumtif ini akan terus terjadi jika masyarakat tidak mampu memahami bagaimana cara mengendalikan keinginan, manajemen keuangan dan memperahankan pola hidup seimbang. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai bagaimana cara menghindari gaya hidup konsumtif yang berlebihan, Insya Allah akan dibahas pada artikel berikutnya.

 

Referensi

1.      http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43363665 diakses 15/03/2018 pukul 16:29 WIB

2.  Hartati, sri Enny dkk (2017). Proyeksi Ekonomi 2017 : MENGUJI KETANGGUHAN EKONOMI INDONESIA, INDEF, Jakarta

3. https://nasional.kompas.com/read/2012/06/08/11204529/Kelas.Menengah.Konsumtif.dan.Intoleran. diakses 15/03/2018 pukul 16:28 WIB

 

4. http://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/09/29/nvei0c346-walhi-ekonomi-bisa-tergerus-karena-kerusakan-lingkungan. Diakses 15/03/2018 pukul 16:29 WIB

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.